INFO! Untuk sementara ini, karya tidak akan di lanjutkan. Mohon pengertiannya dan di fokuskan ke novel sebelah. Thanks
No hate komen
#KaryaTidakDilanjutkan
#Mafia
#Komedi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Izza S.T, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep10
Mira dan Dilon berjalan berdua di minimarket mall, mereka sesekali bertanya dan mengambil barang yang diperlukan dalam list pembelajaan mereka. Setelah dari minimarket, Mira juga datang ke toko roti dan mengambil pesanan bos nya untuk karyawan nya ternyata.
Setelah semua telah usai, Dilon membantu Mira memasukkan semua ke dalam bagasi mobil.
"Maaf merepotkan. Sekali lagi terima kasih." ucap Mira.
Dilon mengangguk. "Gak usah sungkan, aku lebih suka di repoti daripada merepoti." ucap Dilon berjalan ke kursi kemudi.
Ia langsung menyalakan mesinnya dan mulai meninggalkan area mall menuju restoran tempat Mira bekerja.
Di perjalanan hanya ada suara mesin mobil saja yang terdengar. Mereka hening tanpa adanya pembicaraan. Sesekali Dilon membuat topik, namun Mira hanya menjawab seadanya sahaja.
"Kau sudah lama bekerja di restoran?" tanya Dilon.
"Tidak. Aku karyawan magang, masih 3 bulan." ucap Mira.
Dilon mengangguk. Mobil kembali hening.
"Seharusnya kau tidak perlu bekerja dan sibuk mempersiapkan diri untuk acara pernikahan mu. Lagipula 2 Minggu itu tidak lama. Sebentar lagi kan acaranya?" ucap Dilon.
"Aku tau." ucap Mira.
Lagipula jika aku tau sudah lama pasti aku akan berbicara dengan Daniel. Kenapa dia membuat keputusan sendiri? Batin Mira menghembuskan nafasnya panjang.
Perlahan mobil dihentikan tepat didepan restoran. Dilon keluar dan membantu membawa barang belanjaan Mira masuk ke dalam restoran. Awalnya Mira menolak, namun Dilon tetap memaksa hingga mau tak mau Mira membiarkan Dilon masuk dengan membawa barang belanjaannya.
"Taruh atas meja saja." ucap Mira kepada Dilon.
Viola mendekati Mira dan meraih barang belanjaannya. Sengaja lengan nya ia senggol membuat Mira melotot ke arah Viola.
"TTM baru? Ciee." Viola menggoda dan pergi meninggalkan Mira.
Dilon mendekat ke gadis kecil itu. Kemudian melirik kepergian Viola.
"Apa dia teman mu?" tanya Dilon.
Mira mengangguk. "Maaf kalau kau mendengar ucapannya tadi, dia memang seperti itu orangnya." ucap Mira.
"Tidak apa-apa." ucap Dilon tersenyum.
"Ehm.. kau mau minum dulu? tenang saja aku yang traktir." ucap Mira tiba-tiba canggung dengan keberadaan Dilon.
"Ehm baiklah." ucap Dilon.
"Baiklah tunggu sebentar." ucap Mira langsung pergi meninggalkan Dilon. Tanpa sadar rambut panjangnya mengenai Dilon membuat lelaki itu menatap ke arah Mira.
"Dasar bocah." ucap Dilon dengan tersenyum smirk kemudian duduk tak jauh dari meja kasir.
Ketika Mira membiarkan Chocolat coffee, Viola yang kebetulan berada didekatnya langsung mengerubunginya.
"Bukankah kau sudah ada kekasih, mir?" tanya Viola.
"Iya memang, kenapa?" tanya Mira masih fokus dengan gelas ditangannya.
"Lalu siapa yang kau bawa itu? tampannya." ucap Viola terpesona.
"Hush, perhatikan ucapan mu. Dia bukan siapa-siapa hanya supir." ucap Mira.
"Mana ada supir tampan seperti itu!" ucap Viola memukul lengan Mira pelan.
"Kalau tidak percaya ya sudah." ucap Mira menatap Viola dengan mengerutkan dahi tidak suka kemudian berjalan menuju Dilon.
"Ini minuman mu, oh ya tuan. Jika sudah puas duduk disini kau boleh pergi meninggalkan tempat ini. Khawatir pengunjung tidak nyaman." ucap Mira.
"Tidak perlu ku tunggu sampai kau pulang?" tanya Dilon.
"Tidak." tolaknya.
"Tidak apa-apa aku bisa menunggu mu sampai pulang. Right?" tanya Dilon.
"Tidak perlu, tuan. Apa kau pengangguran hingga menemani ku disini?" ucap Mira kesal.
"Pengangguran?" ucap Dilon menahan tawanya mendengar celotehan Mira.
"Kau sama sekali bukan tipe ku jika kau pengangguran. Jaman sekarang banyak gadis yang mendambakan pangeran tampan dari surga dan kaya raya. Lelaki pengangguran seperti mu itu.. Cih." ucap Mira berdecih menatap tampilan Dilon.
Dilon tersenyum menatap mira kemudian berdiri. "Memang ada apa dengan penampilan ku? Teman mu saja terpesona, lelaki tampan seperti ku. Itu adalah tipe para cewek, bukan gadis kecil yang suka bicara sembarangan." ucap Dilon menoyor dahi Mira membuat gadis itu mundur beberapa langkah.
Viola dari kejauhan yang menyimak walau tak dengar percakapan langsung melebarkan matanya syok. Jangan lupa kedua tangan menutupi mulutnya rapat-rapat.
"Kau-!" ucap Mira tercekat menatap Dilon.
"Miraa!!" Manager.
"Iya pak?"
"Kesini sebentar." ucap nya.
"Iya baik!" ucap Mira kemudian menatap Dilon dengan tajam
"Ingat, pulanglah. Dan terima kasih karena membantu ku." ucap Mira sekali lagi.
Dilon langsung menghindar dari kibasan rambut panjang milik Mira itu dan tersenyum.
"Semakin menarik." ucap Dilon kemudian menelepon seseorang.
"Persiapkan gaun nya." ucap Dilon tanpa menunggu jawaban langsung mematikan teleponnya.
Ia mengambil gelas coffee yang dibuatkan Mira dan menatap Viola. Ia mengangguk seolah berpamitan dan meninggalkan restoran tempat Mira bekerja.
Menuju perusahaannya. Dan terus membayangkan wajah wajah unik Mira saat bersamanya sedari pagi.