Alina Mahendra, pengacara berhijab sukses dan berprinsip, akhirnya siap mengikat janji suci dengan Farhan Adhitama—pemuda cerdas, gagah, ahli karate, dan pemilik hati yang ia tunggu bertahun‑tahun lamanya. Namun di tengah persiapan bahagia itu, musuh lama kembali muncul dengan wajah baru. Raka Haris kini bersembunyi di balik nama dan topeng pengusaha terhormat, menjalankan bisnis jauh lebih jahat dari ayahnya dulu, dengan satu tujuan tunggal. Menghancurkan Alina sehancur‑hancurnya tepat sebelum pernikahannya berlangsung.
Kebenaran tampak begitu jelas di mata hukum, namun siapa sangka di baliknya tersimpan kebohongan yang dirancang sedemikian rupa. Akankah cinta dan keteguhan mereka cukup menyingkap DI BALIK TOPENG KEBENARAN itu sebelum semuanya terlambat?
Bantu dukung karya ini dengan subscribe, like, komentar dan beri hadiah dan bintang jika suka ya... Terimakasih banyak 🙏😇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 : DIAM SAMBIL MERAJUT JARING BALIK
...BAB 23...
...DIAM SAMBIL MERAJUT JARING BALIK...
Keheningan tebal menyelimuti ruang tengah cukup lama setelah deretan angka asing di layar ponsel Farhan menjadi bukti nyata pertama yang berhasil mereka temukan. Napas keempat orang di ruangan itu terasa sama beratnya. Di satu sisi ada rasa lega luar biasa karena akhirnya ada satu celah kecil yang membongkar kepalsuan Arka, tapi di sisi lain kesadaran dingin mulai merayap pelan, dia terlalu cerdik, terlalu hati‑hati, dan terlalu lama merencanakan segalanya untuk bisa dijatuhkan hanya dengan satu serangan mendadak.
Farhan yang pertama kali memecah kebisuan itu, suaranya dikecilkan sampai hampir berbisik, matanya melirik sekilas ke segala sudut ruangan termasuk ke arah langit‑langit dan sudut dinding yang tersembunyi.
“Dengar baik‑baik semuanya. Apa pun yang akan kita bicarakan mulai detik ini, ingat satu hal mutlak. Dia pasti sedang mendengar. Selama bertahun‑tahun dia ada di mana‑mana, tahu hal‑hal yang mustahil dia tahu kecuali lewat alat ini. Kalau malam ini kita berteriak, kita ancam, kita putuskan besok pagi langsung konfrontasi terbuka atau lapor polisi dengan bukti seadanya… percayalah, sebelum matahari terbit sepenuhnya, bukti kecil ini akan lenyap tanpa sisa, dia akan berbalik menuduh kita fitnah, dan dialah yang akan keluar sebagai korban. Dia sudah menyiapkan skenario itu bertahun‑tahun lamanya.”
Alina mengangguk pelan sambil memeluk lengannya sendiri. Ingatannya kembali melayang ke sepuluh tahun silam, saat dia dan Farhan masih duduk di bangku kelas 12 SMA, berjuang mengumpulkan bukti kejahatan Haris dan anaknya Raka, sementara Dimas yang saat itu baru berusia 15 tahun, kelas 9 SMP, hanya bisa berdiri di balik pagar menyaksikan semuanya dengan mata berapi‑api. Mereka tahu betul betapa liciknya darah daging keluarga itu. Kalau dulu saja mereka sudah sulit mengikat jejaknya, apalagi sekarang setelah dia menghilang satu dekade penuh, mengubah nama menjadi Arka, menghapus seluruh data masa lalunya sampai nyaris tidak ada di sistem resmi mana pun, dan kembali dengan kedok malaikat penolong yang disayang semua orang.
“Mas Farhan benar,” sahut Dimas tenang, ketenangan yang dia bawa dari tanah suci Madinah justru menjadi penyeimbang paling berharga saat itu. “Orang yang berbuat salah sebesar dia, yang menutupi jejak serumit ini, paling takut bukan saat diserang, tapi saat lawannya tiba‑tiba menjadi diam dan tenang. Kalau kita marah, kalau kita buru‑buru, kita main pakai emosi… kita yang akan jatuh ke dalam perangkapnya. Tapi kalau kita diam, kita tersenyum, kita bertingkah laku persis sama seperti hari‑hari kemarin, seolah malam ini tidak terjadi apa‑apa, seolah kita sama sekali tidak tahu siapa dia sebenarnya… di situlah dia akan mulai bingung, mulai ragu, lalu karena terlalu percaya dirinya sendiri, dia akan membuat kesalahan‑kesalahan baru yang jauh lebih besar dari sekadar lupa menghapus nomor seri alat sadap di catatan router.”
Maka diambillah keputusan terberat sekaligus paling bijak malam itu juga. MEREKA TIDAK AKAN BURU‑BURU MENYERANG.
Mereka sepakat bulat untuk berpura‑pura sama sekali tidak tahu apa‑apa. Tidak ada tatapan aneh, tidak ada nada bicara berubah, tidak ada sikap menjauh sedikit pun. Arka akan tetap disambut hangat setiap kali datang, Bu Kirana tetap boleh berbicara baik tentang dia, Alina tetap akan berbicara sopan dan terbuka seperti biasa, Farhan tetap akan membantunya soal urusan hukum dan administrasi selayaknya klien, Dimas pun akan tetap menyapa dengan ramah tanpa sedikit pun menunjukkan bahwa dia baru saja mengunci identitas asli pemuda itu lewat bekas luka panjang di lengan kanannya. Semua harus berjalan sempurna, persis sandiwara yang tidak ada satu pun celanya bisa dibaca oleh siapa pun — terlebih lagi oleh pendengar diam di balik alat elektronik itu.
Setelah kesepakatan utama itu disepakati, mereka mulai menyusun rencana panjang secara perlahan, terurai satu per satu dengan sangat matang, dibagi peran sesuai kelebihan masing‑masing, dan yang paling penting, seluruh pembahasan rinciannya tidak akan pernah lagi diadakan di dalam rumah ini.
Langkah pertama, dipegang penuh Farhan. Dia akan mengamankan secepat mungkin catatan akses jaringan itu, mencadangkannya di banyak tempat terpisah sekaligus, lalu perlahan menelusuri nomor seri perangkat asing itu sampai ke akar pabriknya. Dia juga akan kembali menyisir ribuan halaman data kependudukan dan arsip lama, bukan lagi mencari nama Raka atau Arka, tapi mencari celah kecil di mana satu identitas tiba‑tiba mati dan identitas lain muncul bersamaan di waktu yang hampir berimpitan. Dia sadar betul, tidak ada manusia yang benar‑benar bisa menghapus dirinya 100 % dari muka bumi, selalu ada satu angka, satu tanggal, satu tanda tangan yang luput terhapus. Dia juga yang akan mengawasi setiap gerak‑gerik administrasi Arka, mencari di mana letak kelemahan dokumen‑dokumen baru yang dia buat selama ini.
Langkah kedua, menjadi tugas utama Dimas. Karena dia baru pulang dari Madinah, selama ini Arka menganggapnya hanya anak muda pendiam yang banyak berdoa dan tidak terlalu mengerti urusan dunia, sehingga dia adalah orang yang paling kecil dicurigai dan paling jarang diawasi ketat. Dimas yang akan bergerak pelan‑pelan menemui satu per satu saksi lama dari sepuluh tahun silam, tetangga lama, petugas yang dulu menangani kasus kecelakaan Bu Kirana, orang‑orang yang masih ingat betul ada luka gores panjang khas di lengan kanan Raka akibat besi setang motor yang bengkok saat menabrak. Bukti itu tidak bisa dihapus operasi sekalipun, tidak bisa diubah dokumen, akan menempel di tubuhnya sampai mati. Itu bukti abadi yang tidak dia siapkan pun cara menghilangkannya.
Langkah ketiga, dan yang paling berat, di pundak Alina. Dialah pusat dari segala rencana Arka, dialah alasan pemuda itu kembali, dialah yang selama lima tahun penuh dia awasi dan dengar setiap detik hidupnya lewat alat sadap itu. Maka Alina lah yang harus menjadi akting terbaik. Dia harus tetap lembut, tetap terbuka, kadang terlihat bingung atau sedih seperti biasa, sama sekali tidak boleh menunjukkan bahwa dia sudah tahu orang yang setiap hari tersenyum di hadapannya itu adalah Raka, orang yang dulu menyakiti hatinya, yang hampir membunuh ibu tirinya, yang kini berusaha menghancurkan kebahagiaannya lagi lewat jalan berliku. Semakin Alina terlihat sama persis seperti biasanya, semakin Arka merasa masih memegang kendali penuh, semakin dia merasa menang, dan semakin besar kemungkinan dia menjadi lengah.
Langkah terakhir, mereka akan menjaga hati Bu Kirana perlahan saja. Wanita itu masih sangat percaya dan menyayangi Arka layaknya anak sendiri, syok berlebihan malah akan berbahaya bagi kesehatannya. Cukup ditanamkan sedikit demi sedikit keraguan halus, tanpa menyebut nama, sampai waktunya tiba nanti dia bisa melihat semuanya dengan mata kepalanya sendiri.
Selesai menyusun kerangka besar itu, dengan isyarat mata mereka sepakat berhenti membicarakan hal‑hal mendalam. Mereka langsung beralih membicarakan hal‑hal biasa saja, jadwal kontrol kesehatan Pak Aditya, persiapan acara pengajian bulan depan, harga kebutuhan yang makin mahal, tertawa kecil di beberapa bagian, persis seperti keluarga biasa yang baru saja mengobrol panjang lebar tanpa muatan apa pun.
Di balik pagar yang gelap, Arka yang sejak tadi berdiri kaku mencengkeram alat penerima sinyal di tangannya, sempat merasa jantungnya nyaris copas saat mendengar mereka bicara soal nomor seri dan jejak alatnya. Keringat dingin membasahi seluruh punggungnya, pikirannya berpacu cepat memikirkan cara memusnahkan bukti itu malam ini juga. Tapi makin lama dia dengar, makin tenang napasnya. Mendengar mereka beralih bahasan begitu saja, mendengar nada bicara mereka kembali biasa, mendengar tidak ada lagi rencana serangan mendadak yang dibicarakan… perlahan senyum tipis kembali terukir di bibirnya.
Hanya omong kosong belaka, batinnya meyakinkan diri sendiri, rasa percaya dirinya kembali perlahan memenuhi dadanya. Mereka cuma menebak‑nebak, curiga‑curiga saja. Tidak ada bukti sungguhan. Kalau ada, sudah pasti mereka bertindak dari tadi.
Dia sama sekali tidak sadar, bahwa keheningan dan ketenangan yang dia dengar itu, bukanlah tanda mereka menyerah atau tidak tahu apa‑apa. Itu justru awal dari jaring pembalasan yang sedang dirajut pelan‑pelan, sangat rapi, satu simpul demi satu simpul, sampai saatnya tiba nanti jaring itu tertutup rapat sekelilingnya, dan dia baru sadar bahwa sejak malam inilah, sesungguhnya kalah sudah ada di genggamannya.
Di dalam rumah, keempatnya saling berpandangan sekilas dalam diam. Tidak perlu kata‑kata lagi. Mereka mengerti semuanya. Perang baru saja benar‑benar dimulai. Dan kali ini, mereka tidak akan bergerak dengan tergesa‑gesa sampai jatuh ke lubang musuh. Mereka akan berjalan pelan, tenang, dan memastikan setiap langkah yang mereka ambil, adalah langkah yang tidak bisa lagi dibantah atau dihapus jejaknya oleh kepandaian siapa pun.
Bersambung...
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉
Tapi sayang yaaa, genre-nya nggk sesuai sama aku... 😂😂😂 di sini, genre-nya tertulis "Pembalasan Wanita" 😁😁😁🙏