⚠️ PERINGATAN
Cerita ini mengandung unsur Dark Romance & Visualisasi Horor.
Bagaimana jadinya jika seorang gadis bermata batin harus terikat dalam pernikahan dengan mafia berdarah dingin?
Aiko Kurogawa sudah cukup tersiksa dengan "kutukan" Indigo yang mengalir di darahnya. Namun, demi terhindar dari dunia kelam keluarganya, ia terpaksa menerima perjodohan dengan Ren Tachibana. Pria kejam yang hidupnya hanya didorong oleh dendam.
Awalnya, Aiko hanya ingin bertahan hidup. Namun, tinggal di sisi Ren membuat hidupnya kian mencekam. arwah-arwah penasaran tak pernah berhenti berbisik di sekitar pria itu, mengungkap satu per satu rahasia kelam dari masa lalu.
Kini, Aiko dihadapkan pada pilihan sulit.
Tetap diam demi menyelamatkan nyawanya sendiri, atau menggali kebenaran yang ternyata mengikat takdir mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 34
Ren sedang duduk di kursi kayu dekat jendela. Dengan matanya yang menatap tajam ke arah Aiko yang masih terpaku di ambang pintu kamar.
"Aku memintamu pulang untuk beristirahat, bukan pergi ke tempat lain," lanjut Ren.
Jantung Aiko berdegup kencang. Napasnya tertahan di tenggorokan saat menatap pria di hadapannya. "Ren... kenapa kau..."
"Jelaskan padaku," potong Ren tanpa memberi celah. Pria itu menegakkan tubuhnya perlahan, melangkah mendekat ke arah istrinya. "Apa yang kau cari di kuil itu sampai kau berani berbohong pada pengawalku?"
Ia memaksa matanya menatap ke arah pria itu, meski pandangannya mulai sedikit kabur dengan suhu tubuh yang terus naik.
"Aku hanya merindukan Ibuku, Ren," balas Aiko pelan. "Bukankah kau sendiri yang bilang kalau Ibuku pernah diisolasi di sana? Aku hanya ingin mampir sebentar... merasakan tempat yang pernah ditinggali Ibuku."
Ren terdiam. Mendengar alasan itu, ia sangat mengerti bagaimana rasanya merindukan sosok ibu yang telah tiada.
Aiko mengembuskan napas panjang, mengabaikan pening yang ia rasakan. Pandangan Aiko yang sayu perlahan turun, meneliti luka-luka di tubuh suaminya.
Aiko mengambil satu langkah mendekat.
"Harusnya kau masih di rumah sakit, Ren..." bisik Aiko pelan, suaranya sedikit bergetar. "Bagaimana keadaanmu? Bahumu... apa masih sangat sakit? Kau bahkan belum makan malam, kan?"
Pertanyaan lembut dan perhatian tulus itu meluncur begitu saja dari bibir Aiko, membuat seluruh amarah Ren menguap tanpa sisa.
Ada rasa hangat yang terasa di dada Ren karena diperhatikan seperti itu. Gestur tubuhnya reflek memalingkan wajahnya ke arah jendela demi menutupi senyum yang hampir lolos di bibirnya, disusul dengan dehaman pelan.
"Kau pikir luka seperti ini bisa membunuhku?" sahut Ren ketus seraya membalikkan kembali wajahnya. "Lagi pula, pertanyaanmu sangat aneh. Mana mungkin aku membiarkan tubuhku sendiri kelaparan."
Ren melangkah perlahan menuju tepi ranjangnya, lalu mendudukkan dirinya. Dengan sengaja ia memperlihatkan ketidaknyamanannya, dengan erangan pelan. lalu menatap Aiko dengan pandangan sok menyuruh.
"Daripada kau berdiri mematung di sana, lebih baik bantu aku," ujar Ren ketus. "Perban ini sudah sangat tidak nyaman."
Aiko mengedipkan matanya yang terasa makin berat, lalu mengangguk pelan. "Baiklah..."
Ia melangkah mendekat, meraih kotak obat di atas meja samping ranjang, lalu mendudukkan dirinya di hadapan pria itu. Dengan jemari yang sedikit bergetar, ia mulai melepas perban di pelipis Ren dengan hati-hati.
Jarak mereka kini sangat dekat. Hawa panas dari tubuh Aiko bahkan terasa mengusap lembut kulit leher pria itu.
Ren mengerutkan keningnya. Saat jemari Aiko tanpa sengaja menyentuh kulitnya, jemari itu justru terasa sangat dingin.
Sebelum Aiko sempat menempelkan kasa baru, Ren mendadak menahannya. Pria itu mengulurkan tangan satunya dan menempelkan punggung jemarinya di dahi Aiko.
Mata Ren membelalak merasakan suhu tubuh istrinya yang sangat panas.
"Aiko... kau demam?" desis Ren.
Aiko menggeleng dengan mata yang terlihat kian redup. "Tidak apa-apa, aku hanya... sedikit lelah..."
Pria itu mengambil ponselnya dan mengetikkan sesuatu. Selang beberapa menit...
Tok! Tok!
Suara ketukan pintu terdengar. Pintu geser terbuka sedikit, menampilkan sosok Daichi yang berdiri di luar dengan wajah bingung sambil memegang ponselnya.
"Maaf mengganggu, Bos," ucap Daichi ragu. "Untung saja dokter Anda belum pergi jauh setelah Anda suruh pulang tadi," ujar Daichi dengan napas terengah dan wajah cemas. "Apa sekarang Anda sudah mau ditinjau ulang malam ini?"
Ren menoleh cepat ke arah Daichi dengan tatapan tajam yang membuat pengawalnya itu seketika bungkam.
"Panggil dia kembali!" perintah Ren tegas. "Bukan untukku. Tapi untuk Aiko."
Daichi berkedip beberapa kali, menatap bosnya. Tanpa berani bertanya lebih banyak, Daichi membungkuk cepat. "B-baik, Bos! Segera!"
Daichi buru-buru berbalik dan setengah berlari menuju gerbang depan untuk memanggil kembali dokter yang sempat disuruhnya pulang.
Sementara itu di dalam kamar, suasana terasa canggung bagi mereka berdua.
"Sebaiknya kau beristirahat, Aiko," perintah Ren seraya menggerakkan dagunya menuju permukaan ranjang di sebelahnya.
"Tidak...aku akan selesaikan menutup lukamu dulu, Ren," ucap Aiko dengan jemarinya yang kembali meraih kasa.
Ren merebut kasa itu, lalu memberi tatapan tajam. "Turuti perintahku, Aiko. Lagi pula, dokter jauh lebih terampil melakukan ini daripada kau."
Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki tergesa-gesa dari arah lorong luar kamar.
Daichi melangkah masuk bersama seorang dokter berambut putih. Meski terengah-engah, dokter itu langsung sigap memeriksa keadaan Aiko.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Ren, yang kini berada di samping Aiko yang sudah membaringkan tubuhnya.
"Suhu tubuh Nona Aiko mencapai 39,2 derajat Celsius, Tuan Muda," jelas sang dokter. "Saya harus memberikan suntikan penurun panas dan obat penenang agar beliau bisa beristirahat."
Saat dokter menyingkap lengan baju Aiko dan mengambil jarum suntik, Ren menangkap perubahan kecil pada Aiko. Kelopak mata Aiko terpejam rapat dengan jemari tangan yang mendadak bergetar.
Ren mengira Aiko bergetar karena takut pada jarum suntik. Secara refleks, pria itu justru meraih tangan Aiko, menggenggam jemari dingin istrinya dalam telapak tangannya yang hangat.
Aiko yang setengah sadar mencengkeram jemari Ren. Pria itu tetap bergeming, membiarkan tangannya diremas hingga jarum suntik selesai menancap dan ditarik keluar. Daichi yang memperhatikan gerakan itu hanya bisa melirik diam-diam, tak berani mengomentari gestur tubuh bosnya yang melunak.
Efek obat penurun panas dan penenang bekerja sangat cepat. Hanya dalam hitungan menit, tarikan napas Aiko perlahan memburu halus.
Melihat Aiko yang sudah lelap, mau tidak mau pria itu membiarkan sang dokter mengganti perban di pelipis dan bahunya.
"Luka di bahu Anda sedikit tertarik, Tuan Muda. Beruntung jahitannya tidak terbuka," ujar dokter seraya merapikan balutan kasa baru di tubuh Ren.
Setelah dokter dan Daichi pamit mundur serta menutup pintu geser, kamar itu kembali tenggelam dalam keheningan malam.
Ren menatap wanita yang kini tertidur pulas di sebelahnya. Dengan gerakan yang sangat pelan, ia mendekat lalu merapikan helai demi helai rambut yang menutupi sebagian pipi istrinya, disusul dengan punggung jemarinya yang menyentuh dahi Aiko.
Suhunya mulai sedikit turun, batin Ren lega.
Namun, saat matanya menatap raut wajah Aiko yang tampak lelah bahkan di dalam lelapnya, kening Ren kembali berkerut. Tatapannya berubah tajam.
Ia mengingat kembali alibi Aiko saat pergi ke kuil, ada sesuatu yang terasa janggal. Aiko memang terlihat merindukan ibunya, tetapi sorot mata ketakutan saat tiba di rumah tadi tidak bisa membohonginya.
Kau tidak hanya pergi untuk mengenang ibumu, Aiko, batin Ren penuh kecurigaan. Apa yang sebenarnya kau temukan di kuil itu... dan aku yakin kau menyembunyikan sesuatu dariku.
makanya om kenji, baek2 jadi orang.
ber partner sama orang licik ya resiko gini, ikutan dikhianati 🥴
di mana2 jadi pengkhianat 🥴
Semangat.....
harusnya ren nih yg lihat adegan ini 🥴
apa jangan2 hiroshi ngira bapaknya ren sengaja ngebunuh yumi, terus hiroshi ngebunuh pasutri tachibana?
hanya perkiraanku 🙏