(Season dua dari novel Broken Marriage)
Menikah lagi bukan prioritas untuk Alana yang sudah menjanda dua kali, penderitaan yang dialami menyisakan trauma mendalam baginya yang merasa tak akan pernah bahagia dalam ikatan tersebut. Banyak pria yang datang mendekat, namun Alana mengacuhkannya.
Lalu bagaimana jika kedua mantan suaminya kembali datang menawarkan cinta dan sebuah ikatan pernikahan.
"Kali ini biarkan aku berjuang demi cintaku, dan jangan pernah tinggalkan aku." (Gabriel Askara)
"Maafkan aku, aku menyesal telah menyiakanmu di masa lalu, betapa bodohnya aku." (Bayu Adiyaksa)
"ALANA, MENIKAHLAH LAGI DENGANKU!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nenah adja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: (Pertemuan 3)
Mata Alana fokus pada layar yang menampilkan cctv beberapa jam lalu, di area hilangnya Joana, nampak sekali jika mata itu sudah lelah, dari lingkaran hitam di kedua kelopak mata, dan merah di bola matanya akibat terus menangis.
"Berhenti disana, ya itu ..." polisi menunjuk nomer plat nomer mobil yang membawa Joana "Catat nomernya, dan segera cari tahu siapa pemiliknya!" perintah petugas kepolisian pada anak buahnya.
Disaat yang sama ponsel Alana berdering, dan Alana mengeryit melihat nama Junot Aldi yang tersimpan di ponselnya.
Lain halnya dengan Junot yang tidak menyimpan kontak Joana, kontak Junot justru tersimpan di ponsel Alana yang sengaja memintanya dari administrasi rumah sakit.
"Hallo?" ucap Alana serak, sungguh Alana sudah merasa tenaganya begitu terkuras saat ini, mengingat Joana yang juga belum di temukan, membuat Alana kehilangan semangat hidupnya.
"Hallo Nyonya, aku Junot. Kau ingat?" Alana mengangguk dia tahu itu Junot, tapi ada apa pria itu menghubunginya.
Sadar jika anggukannya sia- sia Alana kembali bicara "Ya, aku ingat. Ada apa kau menghubungiku?" Alana pikir Junot menyesal karena menolak ganti rugi darinya hingga dia kini menyesal dan hendak meminta ganti rugi darinya.
"Maaf nyonya apa kau kehilangan putrimu?" Alana mengerutkan keningnya, dari mana pria itu tahu Joana hilang?
"Darimana kau tahu?"
"Aku ... menemukan putrimu di sekitaran musium seni."
Alana bangkit berdiri "Lalu dimana kalian sekarang?" tanyanya dengan jantung berdebar kencang.
"Putrimu tersesat, lalu mengikutiku karena mungkin merasa mengenalku, dan kami sekarang ada di restoran family, bisakah kau datang kemari?"
"Ah, ya ... Aku .... aku akan kesana." Alana menegakan tubuhnya, lalu berjalan dengan linglung seolah dia bingung apa yang harus dia lakukan.
Daniel melihat Alana yang berjalan dengan panik pun segera menahan wanita itu "Ada apa Kak?"
Alana menatap Daniel, lalu tersenyum tanpa menghiraukan Daniel Alana kembali bicara "Tuan Junot aku akan segera kesana, bisakah kau menunggu disana?"
"Tentu nyonya," ucapan Junot menenangkan Alana.
"Dan terimakasih sudah menjaga Joana." Alana mematikan ponselnya lalu menatap Daniel yang masih menunggu jawaban Alana tentang pertanyaannya.
"Dan, Joana sudah ketemu," ucapnya penuh haru, "Pak polisi putriku ditemukan." Alana memeluk Daniel, kini semangatnya sudah kembali "Ayo, ayo kita kesana," ajaknya. Daniel mengangguk lalu bergegas pergi untuk menemui Joana.
...
"Bagaimana apa mamaku marah?" tanya Joana setelah Junot mematikan teleponnya.
"Tidak, dia tidak marah, tapi sepertinya dia sangat bersedih kehilanganmu." Joana menunduk sedih.
"Jadi sudah tahu kesalahanmu?" Joana mendongak menatap Gabriel yang bicara dengan raut wajah tenangnya.
"Jangan melakukan hal yang membuat mamamu khawatir," katanya lagi. "Jadilah anak baik, dan menurut pada Mama dan Papamu."
Mendengar kata Papa, Joana kembali menunduk "Aku akan menurut pada Mama, tapi tidak dengan Papa," lirihnya.
Gabriel tertegun "Kenapa?" dengan perasaan tak nyaman Gabriel kembali bertanya.
"Karena aku tidak tahu dimana Papaku." suara Joana semakin mencicit kecil, sepertinya bocah itu sangat sedih.
Gabriel tak bisa melanjutkan pertanyaannya meski dalam hati dia sangat penasaran apa papa Joana sudah meninggal, hingga bocah itu nampak bersedih.
"Ehm, Joana kau mau eskrim?" tanya Junot memecah keheningan, dia tak mau disalahkan saat mama bocah itu datang dan melihat anaknya bersedih, apalagi mengingat tatapan para pengunjung yang sejak tadi memperhatikan mereka.
Joana menggeleng "Aku tidak makan eskrim, aku sudah dewasa," katanya dengan raut wajah memelas.
Junot terdiam lalu melihat ke arah Gabriel, dan tuannya menatapnya seolah memerintahkan mencari ide lain selain eskrim.
"Coklat?" Joana kembali menggeleng "Lalu kau ingin apa?"
"Bolehkah aku minta permen Om?" Junot menghela nafasnya.
"Baiklah aku akan membelinya." Junot beranjak dan pergi ke toko sebrang restoran untuk membeli permen, sedangkan di meja restoran hanya tinggal Gabriel dan Joana.
Joana mendongak menatap Gabriel "Om tampan, kau sudah punya istri?" Gabriel mengangkat alisnya mendengar perkataan Joana.
"Apa yang akan kau lakukan jika aku belum punya?"
"Kau tampan, tapi sayang wajahmu sangar datar seperti tembok, tadinya aku mau kau menikah dengan Mamaku, tapi tidak usah, aku tak suka pria yang pemarah." Gabriel tersedak ludahnya sendiri mendengar ucapan Joana, memang siapa yang mau menikah dengan ibunya? Bahkan jika di sodorkan bidadari dari langit pun Gabriel tak akan mau, sebab hatinya tidak akan berhenti terpaut pada satu wanita, Alana.
Gabriel mendengus, lalu mereka kembali diam, hingga Junot kembali dengan sekantung permen di tangannya, tepat saat itu ponsel Gabriel berbunyi, Gabriel beranjak untuk mengangkat panggilannya beberapa saat lalu kembali ke kursi dimana Junot dan Joana sedang mengobrol sambil membuka permen yang Junot beli.
"Aku harus segera kembali," ucapnya dengan menatap Junot.
"Lalu bagaimana dengan Joana?" tanya Junot.
"Kau bisa menunggu sampai ibunya datang aku akan kembali sendiri." Junot mengangguk dan Gabriel pun mengenakan jasnya lalu mengusap rambut Joana, ada rasa hangat saat tangannya menyentuh rambut Joana, namun Gabriel lagi- lagi tak mengerti rasa apa itu.
"Jangan nakal, mulai sekarang jadilah baik!" Joana mengangguk dengan senyuman, dan lagi hati Gabriel terenyuh hanya dengan melihat senyuman Joana.
Gabriel keluar dari restoran, memasuki mobil dan melajukannya, di saat yang sama mobil yang membawa Alana baru saja tiba di parkiran restoran, dan menampakan Alana yang berlari tergesa memasuki restoran.
"Joana!"
...
Bersambung..
.
.
.
.
.
Tapi boong🤪
....
"Joana!" Alana berlari saat matanya menemukan Alana, dan memeluknya erat.
"Mama, hiks... Mama ... Maafin Ana, Ma. " Joana menangis sesegukan saat Alana memeluknya.
"Astaga, mama menemukan kamu, sayang ... Ya Tuhan, terimakasih."Alana tak hentinya mengucap syukur karena menemukan Joana kembali, Alana menciumi seluruh wajah Joana lalu kembali memeluknya, entah apa yang terjadi jika dia tak bisa menemukan Joana, dia mungkin akan mati, Joana adalah seluruh hidupnya.
Daniel baru saja tiba dan menghela nafasnya saat Joana benar- benar di temukan.
Syukurlah ...
Semua mata kini terfokus pada Alana dan Joana yang masih menangis haru, begitupun Junot yang kini terpaku melihat siapa Ibu dari Joana, bocah yang satu minggu lalu hampir dia tabrak, dan kini dia menemukannya dalam keadaan tersesat di kota asing.
Junot mengerjapkan matanya saat mengingat ucapannya pada Gabriel beberapa waktu lalu, bahwa Joana mirip dengannya, atau jangan- jangan?
Junot menutup mulutnya saat pemikiran itu terlintas, apakah benar, jika benar bukankah harusnya tuannya tahu, jika Joana benar- benar putrinya.
"Nyonya Alana?"
Alana mendongak saat mendengar seseorang memanggilnya, matanya mengabur karena air mata, namun Alana masih bisa melihat pria berjas di depannya.
Mengusap air matanya, Alana terpaku saat menemukan Junot di depannya.
"Junot," ucapnya lirih.
Ini sudah tujuh tahun tapi, Alana masih mengingat wajah asisten pribadi dari Gabriel, mantan suaminya.
Alana membeku, lalu tangannya yang memeluk Joana semakin mengerat, dimana ada Junot maka ada Gabriel.
Suasana mendadak hening, begitupun Daniel yang hanya bisa terdiam karena terkejut, saat masuk dia hanya fokus pada Joana dan Alana, hingga tak menyadari ada orang lain yang berdiri tepat di belakang Joana.
Bukan hanya itu mereka bahkan mengabaikan semua mata yang kini menatap mereka seolah mereka adalah tontonan seru
Pintu restoran terbuka, mendadak semua mata kini melihat seorang pria yang baru saja masuk lalu membeku melihat tatapannya yang kini terarah pada seorang wanita yang masih berjongkok memeluk bocah yang dia tahu bernama Joana.
"Lana ..."
....
Beneran bersambung🤭
semangat berkarya😍😍
setangkai bunga mawar untuk author 🌹