karya ini terdapat alur maju mundur ya, baca beberapa bab baru baru bisa mengerti jalan ceritanya.😁
Garina Jelita, gadis malang yang telah disia siakan selama 10 tahun, ia berada dititik terendahnya saat suami yang ia percaya mampu melindunginya justru mengusirnya dari kehidupannya.
percayalah penyesalan akan selalu ada bagi mereka yang berbuat kesalahan, namun waktu belum tentu memberi kesempatan bagi mereka untuk menebusnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deodoran, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Aku memaafkan kesalahan apapun, judi ,Narkoba , bahkan jika kau membunuh sekalipun aku masih akan memaafkanmu dan menanti dengan setia masa hukuman yang kau jalani.
Dan jika miskin sebagai kepala rumah tangga pun dianggap Dosa aku masih akan setia.
Satu kesalahan yang tak bisa kumaafkan.
Perselingkuhan!
Nyonya Elisa Mulya Ganendra.
Perselingkuhan yang dilakukan Tuan Besar Ganendra dimasa lalu benar benar menghancurkan Seorang Elisa hingga berkeping keping, tak ada yang lebih menyakitkan dari pada kenyataan jika pria yang ia cintai sepenuh hati ternyata diam diam menjalani biduk Rumah tangga bersama wanita lainnya,dan itu adalah Sekertarisnya Sendiri.
Nama besar Ganendra berhasil membungkam skandal itu dan menutupnya rapat rapat sampai saat ini.
Elisa merasa dirinya adalah wanita paling beruntung. Orang orang beranggapan itu adalah hasil yang ia petik karena tumbuh menjadi wanita yang baik. Elisa Mulya memang dikenal dengan keramahan dan kebaikan hatinya, ia wanita yang tak pernah membeda bedakan Kasta, Tak ada Pelayan yang pernah ia rendahkan meski ia terlahir dari keluarga kaya Raya.
Sampai akhirnya Suami yang selalu ia banggakan membawa pulang seorang anak laki laki berusia 5 tahun dengan kondisi memprihatinkan, anak kecil itu diakui Tuan Ganendra sebagai anak kandungnya dari istri keduanya yang kini sudah tiada.
Yah! Wanita muda itu tewas dalam kecelakaan tragis saat ia tengah mengemudi seorang diri dijalan Tol, sebuah balasan yang mungkin setimpal dengan rasa sakit hati Nyonya Elisa.
wanita paruh baya itu dipaksa keadaan membesarkan Anak suaminya yang sekarang tercatat sebagai putra kandungnya.
Sekuat apapun usaha Nyonya Elisa mencintai Byan sepenuh hati tapi tak pernah berhasil karena wajah Wanita penghancur rumah tangganya selalu menari disekitar putranya.
.
.
.
"Garina!"
"Eh...Tuan Jhon!" Pekik Garina kaget saat sebuah mobil berhenti tepat didepan halte bis kala hujan tengah melanda ibu kota. Wajah tampan Sagara muncul seketika ia menurunkan kaca disamping kemudi.
"Masuk! Aku antar pulang"ajak Sagara.
Garina tidak mendekat karena jika ia keluar area halte maka tubuhnya akan basah "Aku menunggu temanku Tuan " Gadis itu menolak sebab pesan Byan baru saja masuk jika ia akan segera tiba di Halte.
Namun gemuruh petir yang memekakkan telinga seketika membuat Garina takut hingga menutup kedua telinganya dan merutuki cuaca ibu kota yang terkadang tak menentu. Baru saja ia merasakan teriknya sang surya yang membakar kini ia harus merasa kedingingan lagi.
Garina mengusap lengannya.
Sagara terlihat kecewa namun ia enggan menunjukkannya didepan gadis SMA yang membuatnya sering tersenyum sendiri sejak pertemuan pertama mereka.
"Ya sudah aku duluan" pamit Sagara ia mulai menaikkan jendela samping namun terus menatap Garina yang memberikan lambaian dan senyuman terindahnya.
"Ah mengapa matanya bisa terlihat seperti bulan sabit begitu" Gumam Sagara Gemas, ia tak ingin terlalu kecewa karena sudah dengan sengaja ingin menjemput Garina.
Sagara mencari tahu semua tentang gadis itu, mulai dari alamat sekolah hingga jam pulangnya. entah Sagara hanya merasa nyaman saja bergaul dengan orang yang tak mengenalnya.
Sagara masih terus memantau Garina melalui spion sampai gadis itu____
Aby memutar mobilnya dengan gusar tak peduli dengan mobil yang datang dari arah yang berlawanan, terdengar umpatan bersahutan dari dalam mobil lainya.
Sial! laju lalu lintas seketika macet namun Sagara tidak putus Asa, hujan menghalangi pengemudi lain dengan emosi didada untuk keluar menghardik langsung pada sedan mewah tak tahu aturan itu, dan memberikan kesempatan Sagara menyalip hingga akhirnya kembali tepat kedepan Halte.
Rahang Garina tak bisa mengatup rapat sesaat setelah melihat kekacauan yang ditimbulkan Sagara yang kini mulai berangsur pulih.
Sagara keluar tak peduli derasnya hujan yang menyapa setelan mahal ditubuhnya.
"Kau tidak apa apa?" Tanya Sagara mengulurkan tangannya hendak membantu Garina untuk berdiri,gadis itu terjatuh karena tidak sengaja menginjak permukaan yang tidak rata.
Plak....Garina memukul tangan Sagara lalu menghempaskannya. netranya menyorot tajam Sagara. Ia seakan lupa jika Yang berdiri dihadapannya adalah
Gadis itu tak apa apa hanya bagian roknya saja yang terlihat kotor.
"Tuan bagaimana jika tadi ada kendaraan yang melaju kencang, untung hujan jadi semua melambat, Tuan bisa mati" Kesal Garina, apalagi melihat pria itu justru langsung menyapanya.
Sagara bergeming ia baru sadar tak pernah melakukan hal ceroboh sebelumnya.
"Kau menghawatirkanku?"
"Tentu saja, bagaimana kalau tuan celaka? Siapa yang akan membantu Tuan Sagara? Tuan mau meninggalkan istri dan anak tuan seperti ibu yang meninggalkan ayah dan aku?"ujar Garina bersungut sungut dengan dada naik turun.
Sagara menggaruk alis dengan ujung telunjuknya sembari terkekeh pelan.
"Itu karena aku khawatir melihatmu terjatuh"
"Aku hanya terpleset tapi tuan hampir mati" Garina masih terdengar marah.
"Ya makanya ikut denganku aku antar pulang" Sagara mengandeng tangan Garina menuju kursi samping kemudi, dan Gadis itu menurut saja ia tidak tega menolak ajakan Sagara setelah melihat pria itu mempertaruhkan nyawanya hanya demi dirinya.
'Maaf aku pulang duluan byan'
Byan meremat kuat ponselnya setelah membaca pesan dari Garina.
Ia berdiri ditengah hujan menatap nanar mobil sedan mewah yang membawa Garina pergi.
Entah mengapa dadanya begitu sakit melihat kakaknya membawa sang sahabat, Dan Garina terlihat tidak canggung sama sekali berada didekat pria yang selalu ia sebut sebagai yang mulia itu.
Apakah mereka sudah kenal sebelumnya?
Tapi mengapa Garina selalu bertingkah seolah olah tak mengenal Sagara?
Dan hadiah tas itu?
Byan benar benar ditikam berbagai pertanyaan hingga tanpa sadar ia mengusap dadanya yang terasa semakin sesak.
Hujan semakin deras jarak pandang pun semakin buram sehingga mau tak mau Sagara melajukan kendaraannya sepelan mungkin.
"Aku belum memiliki istri dan anak" sagara membuka percakapan karena sejak tadi mereka hanya saling diam.
Garina menoleh, "lain kali jangan ceroboh seperti tadi, meski belum memilikinya tapi tuan masih punya keluarga lainnya" ketusnya lalu memalingkan wajah kesamping, Garina masih memikirkan Byan yang sama sekali tak membalas pesannya padahal sudah dibaca.
Ah bocah itu pasti kesal karena ditinggalkan!
"Maaf membuatmu khawatir" Lagi lagi Sagara mengusap kepala Garina yang basah. Ia juga tak tahu mengapa sepanik tadi.
Gadis disampingnya benar benar mencuri perhatiannya.
"Maafkan aku juga, Tuan Jhon,
karena marah marah bahkan memukul tangan anda" Garina menunduk penuh penyesalan.
"Berarti yang salah disini kamu kan?" Sagara mendelik jahil.
"Lah kenapa jadi aku yang salah?" Garina tak terima.
"Kau memukulku, aku tidak mau tahu kau harus menurutiku hari ini"
'Jhon hari ini aku tidak kembali ke kantor, pak Ahmad suruh pulang saja!' Sebuah pesan dikirim Sagara kepada sang Asisten yang menerimanya dengan raut wajah bingung.
Ada apa sebenarnya dengan atasannya itu?
Apa ia punya kekasih baru?
Tentu Jhon tak menaruh curiga dengan Garina yang akhir akhir ia selidiki, karena Sagara tak mungkin ada main dengan gadis belia itu.
Sagara membawa Garina kesebuah toko baju dipinggir jalan yang cukup berkelas, namun bukan seperti butik yang biasa ia datangi bersama ibunya.
Sagara tak ingin ambil resiko mengajak Garina ke butik mahal karena mereka mungkin akan langsung mengenali dirinya.
Garina memilih sebuah kaos dan rok payung selutut berbahan jeans untuk ia kenakan sedangkan Sagara menggunakan kaos longgar dan celana jeans persis seperti tampilan anak muda seusianya.
Sagara hampir lupa kapan terakhir kali ia berpenampilan santai seperti ini karena sejak mengambil alih Ganendra group ia senantiasa mengenakan setelan jas atau kemeja.
"Bagaimana tuan?"
"Cantik sangat cantik" Sagara tak bisa memugkiri gadis belia itu memang begitu menarik ia tak menyangka jika tidak mengenakan seragam sekolah Garina terlihat jauh lebih dewasa dari usianya, kini siapun yang melihat, mereka pasti berfikir jika Garina dan Sagara adalah sepasang kekasih hanya tinggi badan saja yang terlihat kontras bagi keduanya.
Penatnya dunia kerja membuat Sagara ingin menghabiskan waktu setengah hari ini sebagai waktu liburan, biasanya ia tak pernah sempat melakukannya bahkan hari liburpun ia masih memiliki jadwal bermain golf dengan para kolega dan pejabat pemerintah namun tidak hari ini.
"Sebenarnya kita mau kemana ?" Tanya Garina begitu selesai memasang sabuk pengamannya.
"Hari ini kita akan kencan"
"Kencan?" Bola mata Garina membulat sempurna. Ia yang sama sekali belum pernah berpacaran tiba tiba diajak kencan oleh seorang pria dewasa. Garina tahu istilah kencan hanya digunakan bagi dua orang yang memiliki ikatan.
Apa ini artinya mereka berpacaran?
Tapi tunggu!
Garina memejamkan matanya dalam mencoba menelaah lagi apa sebenarnya yang mereka lakukan ini.
"Tuan kau bercanda?"
"Tidak aku serius"
"Tapi tuan belum menembakku? Sebelum kencan harus ada tembak tembakan dulu seperti teman temanku"
"Oh...kau ingin ditembak? Baiklah"
Saat Sagara sudah bersiap dengan ucapannya Garina megibaskan kedua tangan didepan wajahnya "Bukan begitu maksudku, maksudnya tembak karna cinta bukan seperti ini " bibir Garina mengerucut kesal.
Apa pria didepannya tidak mengerti kalau cinta itu begitu sakral? Dan bukan untuk dipermainkan seperti ini.
Lagi pula Garina sama sekali tidak berharap pria itu menyatakan perasaan, Garina sama sekali belum berfikir untuk berpacaran ia menganggap dirinya masih terlalu kecil.
Sagara menghela nafas lalu mengulum senyuman gemasnya.
"Kau pernah dengar istilah pacar sehari?" Sagara lagi lagi mengusap kepala Garina guna mengembalikan suasana hati gadis kecil disampingnya.
Garina menganguk.
"Aku ingin kau menjadi teman kencanku selama setengah hari ini, sampai matahari terbenam."
"Tuan ingin aku temani? Kalau begitu tidak usah pakai kencan segala, aku bisa jadi teman atau adik tuan selama setengah hari"
"Tapi aku sudah punya adik dan teman"
"Yang tuan tidak punya pacar?"
Sagara mengangguk sembari menunjukkan wajah sedih yang sengaja ia buat buat.
"Hufht...." Garina membuang nafas kasar" kasian sekali tuan ini, tampan tampan tidak punya pacar"
"Kau punya?"
"Tidak! tapi aku tak peduli, ya sudah kita pacaran untuk setengah hari"
"Deal"
"Deal"
Semoga view, like dan komennya bertambah biar author semangat up nya 🥰
Terimakasih thor tuk karya hebatnya
Padahal novel ini udah ku baca berulang kali 😭