Pernikahan bukanlah akhir dari kebahagiaan. Tapi pernikahan, adalah awal dari kehidupan yang sesungguhnya.
Cinta tak selamanya indah, ketika apa yang di pertahankan dan di pertaruhkan kini menjadi alasan untuk di tinggalkan.
Bagaimana kisah kelanjutan pasangan muda mantan aktor ternama dengan seorang gadis yang selalu di manja oleh keluarganya.
Mampukah mereka menghadapi lika liku perjalanan rumah tangga yang sesungguhnya?
Ikuti terus kisah Batara dan Zefanya...
jangan lupa follow akun Noveltoon Mommy ya...
IG : Mommy_Ar29
Tiktok : Mommy_Ar95
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
...~Happy Reading~...
“Sayang, kamu kenapa sih? Perasaan dari tadi kalem banget? Gak kaya biasanya?” Batara mendudukkan dirinya di sebelah Zefanya yang sejak tadi terlihat sangat murung.
Kini, keduanya sudah tiba di Arumdalu Private Resort, dimana tempat itu juga yang dulu pernah di jadikan tempat syuting oleh Batara, hanya saja berbeda kamar dan ruangan. Menurut nya, tempat itu sangat bagus dan cocok juga rekomended untuk nya bisa menghabiskan waktu bersama sang istri, akan tetapi justru sang istri kini yang selalu nampak murung sejak kedatangan nya siang tadi.
“Hah, gak kok!A—aku gapapa!” jawab Zefanya dengan gugup, membuat Batara semakin merasa bingung.
“Kamu lapar? Mau makan dulu?”
“M—makan dulu?” gumam Zefanya berfikir, mengapa Batara menawari nya makan dulu. Memang nya setelah makan ia akan di bawa kemana, atau akan di apakan? Berbagai pikiran negatif kembali terbayang di kepala Zefanya, membuat kegugupan nya semakin sulit untuk di kendalikan.
“Aku pesenin makanan ya? Atau kamu mau makan di luar?”
“Di luar!” jawab Zefanya dengan cepat.
Benar, menurut nya kini makan di luar akan sangat aman, karena jika di luar maka Batara tidak akan bisa berbuat macam macam dengan nya. Berbeda jika ia makan di dalam kamar, yang mana pasti setelah makan, maka laki laki itu juga akan memakan nya.
“Kamu kenapa sih?” tanya Batara terkekeh, melihat sikap sang istri yang menurut nya sedikit aneh.
Memnag benar, Zefanya kali ini sangat berbeda dengan seorang zefanya biasanya. Entah mengapa, kini gadis itu terlihat sangat kalem dan sedikit panik, memang nya kenapa? Mungkinkah sebelumnya Zefanya mengalami mimpi buruk saat di perjalanan ke sana, hingga membuat gadis itu masih terbawa suasana dalam mimpi? Pikir Batara.
“Enggak, ya sudah aku ganti baju dulu kalau gitu ya?”
“Gak usah ganti baju! Kaya gini aja gapapa kok, aku tahu tempat makan yang enak disini.” Ucap Batara langsung menggandeng tangan istrinya dan mengajak nya keluar.
Dan tanpa pikir panjang, akhirnya Zefanya mengiyakan dengan pasrah, karena memang dirinya juga sudah sangat lapar akibat terus memikirkan hal yang ia takut kan hingga ia melupakan perutnya yang sudah berdemo untuk meminta di isi.
Berjalan jalan untuk mencari makan sambil menikmati sunset di pinggir pantai, benar benar membuat tubuh Zefanya sangat rileks. Gadis itu benar benar menikmati setiap waktu nya bersama Batara saat di luar. Bahkan, ia sampai melupakan ketakutan nya, terbukti sejak tadi gadis itu malah terlihat begitu enggan untuk melepaskan rangkulan nya pada lengan kekar sang suami.
Berjalan menapaki pasir putih di tepian pantai sambil bersandar di lengan sang suami, merupakan salah satu kebahagiaan yang di rasakan oleh Zefanya saat ini. Begitu pun dengan Batara yang akhirnya merasa impian nya terwujud, yakni bisa menikmati sunset di sana bersama orang terkasih. Tidak seperti beberapa tahun yang lalu, dimana ia hanya menikmati waktu bersama Ben dan beberapa crew saja.
“Kamu bahagia gak? Cup!” tanya Batara dengan di akhiri sebuah kecupan singkat di kepala zefanya.
Gadis itu mendongak dan tersenyum lalu membalas kecupan dari Batara namun di tempat yang berbeda, “Sangat bahagia.”
“Kamu bener, disini tempat nya sangat indah, dan sepertinya aku mulai betah disini,” imbuh Zefanya terkekeh.
“Kamu harus cobain di sana saat pagi hari pemandangan nya jauh lebih indah.” Ucap Batara sambil menunjuk ke arah bebatuan yang terlihat begitu banyak dan besar besar, namun lokasi nya berada cukup jauh dari tempat nya saat ini.
“Kamu udah ke sana?” tanya Zefanya memicingkan matana untuk menatap objek yang di maksud oleh suami nya.
“Sudah, makanya aku mau ajak kamu ke sana juga, Tapi gak sekarang! Karena ini sudah hampir malam, enaknya kalau ke sana pagi.”
“Ya udah besok pagi,” kata Zefanya menganggukkan kepala nya dengan cepat.
“Baiklah, besok pagi kita ke sana.” Kata Batara tersenyum lalu ia kembali memeluk tubuh istrinya dengan erat dan sesekali mengecup nya.
“Batara!” Keduanya pun langsung kompak menoleh saat mendengar suara seorang perempuan yang memanggil nama Batara dari arah belakang.
...~To be continue .......
,/Grin//Grin/