Yessi Rossalia, seorang guru muda yang menelan pil pahit kehidupan. Pernikahan sempurna yang diimpikannya harus kandas.
Di hari pernikahannya, dia terpaksa menikahi murid SMA yang berusia belia. Demi buah hati yang telah tumbuh dirahimnya.
Kisah berliku dengan konflik batin dan tatapan cemoohan dari orang-orang di sekitarnya harus siap Yessi hadapi kedepannya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kara_Sorin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Phobia
Pagi hari yang cerah. Setelah semalam diguyur hujan deras. Mentari bersinar terang. Mendendangkan keceriaan bagi makhluk hidup di bumi.
Nico masih menggeliat di tempat tidurnya. Dia terlihat malas bangun pagi. Tetapi suara alarm terus berdering. Memintanya untuk segera bangun.
“Ah, kenapa malas sekali pergi ke sekolah.” ucap Nico sembari mengucek mata.
Sungguh sayang sekali, ketampanan dan perawakan tinggi ideal tersapu dengan kebandelannya. Nico menarik selimutnya kembali. Masih ogah-ogahan beranjak dari tempat tidur. Sampai suara benda jatuh terdengar nyaring. Membuat Nico terperanjat.
Lantas dengan cepat menendang selimutnya. Berlari keluar mencari sumber suara. Nico memperhatikan sekeliling. Suara benda jatuh sepertinya berasal dari dapur. Dia begegas ke sana. Betapa terkejutnya Nico melihat Yessi tergeletak di lantai dalam keadaan tak sadarkan diri.
Nico segera mengangkat kepala Yessi dan mendekapnya.
“Bangun! Bangunlah! Ada apa ini?” tangan Nico menepuk pipi Yessi berulang kali.
Tetapi Yessi diam tak bergeming. Seraut kekhawatiran terlihat jelas terlukis di wajah Nico. Pria muda itu segera membopong Yessi.
Di ruang tunggu sebuah klinik.
Terlihat Nico mondar-mandir tak tenang. Beberapa kali dia menggosok-gosokkan tangan. Sesekali menatap ke ruang perawatan. Setelah menunggu beberapa saat, seorang dokter keluar. Nico segera menghambur menghampiri Sang Dokter.
“Ba…bagaimana keadaannya Dok?” tanya Nico harap-harap cemas.
“Anda ini siapa?” tanya dokter.
Nico diam sejenak. Bingung bagaimana mengatakannya.
“Ehm… bisa dikatakan saya suaminya.” jawab Nico.
Si dokter menatap Nico dari ujung kepala hingga ujung kaki.
“Dokter, tidak perlu memindai saya. Jaman sekarang nikah muda sudah biasa. Jadi jangan heran seperti itu.” gerutu Nico.
Si dokter menganggukkan kepala. Mengerti maksud Nico.
“Keadaan Nyonya Yessi baik-baik saja. Bayi yang ada dalam kandungannya tidak ada masalah. Nyonya Yessi hanya kecapekan saja. Jangan membuat pikirannya stress atau melakukan aktifitas yang terlalu berat dan yang paling penting cek rutin kandungan.” terang Sang Dokter.
Nico mengerti dan segera masuk ke dalam ruang perawatan. Rupanya Yessi sudah siuman.
“Kamu baik-baik saja? Aku akan menelepon orang tuamu.” ucap Nico mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Hendak menekan panggilan.
Tetapi buru-buru Yessi menahan tangan Nico.
“Tidak perlu menghubungi mereka. Aku tidak ingin membuat bapak dan ibu cemas.” kata Yessi sambil memegangi kepalanya yang masih sedikit pening. Yessi masih menundukkan kepala dan tidak ingin menatap Nico.
Nico mengerti dan tidak jadi menghubungi orang tua Yessi. Untuk beberapa saat Yessi berada di ruang perawatan. Nico pergi kebagian administrasi dan melunasi segala biayanya.
...****************...
Pasca menemukan Yessi pingsan. Membuat Nico tidak merasa tenang. Apalagi mengingat pesan dari dokter. Kebetulan hari ini adalah weekend. Hujan gerimis yang sejak semalam mengguyur juga sudah mulai reda.
Pagi itu Nico kelihatan rapi. Mengenakan jaket kulit miliknya. Dia kelihatan tampan dan gagah dengan tinggi badan kisaran 180-185 cm. Hidungnya mancung dengan bentuk wajah persegi. Dagu tidak begitu lancip. Wajahnya rupawan bak Arjuna mencari cuan eh mencari cinta. Tapi bukan Lucinta Lunay. Nico berjalan mondar-mondar seperti orang kebingungan.
Hingga suara pintu kamar terdengar dibuka. Nico buru-buru mengenakan topeng Jungkook miliknya. Yessi yang baru keluar kamar melihat ke arah Nico. Dia langsung balik badan dan hendak kembali ke kamar. Mengingat keduanya telah bersepakat untuk tidak saling bertatapan.
Tetapi buru-buru Nico menahan Yessi.
“Ayo mencari udara segar.” ajak Nico tiba-tiba.
Yessi tak bergeming dan hendak melangkah masuk kembali ke kamarnya. Lagi-lagi terdengar suara Nico menahannya.
“Kata dokter, kamu tidak boleh stress atau melakukan aktifitas berlebihan. Aku melakukan ini demi kesehatan calon keponakanku.”
Mendengar ucapan Nico. Membuat Yessi diam sejenak. Sebelum dia sempat menjawab. Nico sudah menggandeng tangan Yessi. Menariknya keluar rumah.
“Apa-apaan ini?” tanya Yessi menghempas tangan Nico.
“Apa kamu tidak ingin menjaga kesehatan anak yang ada dalam kandunganmu?” bujuk Nico.
Yessi mulai menimbang baik buruknya. Benar juga apa yang dikatakan Nico. Beberapa minggu ini dirinya dilanda stress berkepanjangan. Jika terus seperti ini akan berbahaya untuk bayi dalam kandungannya.
Tanpa menunggu jawaban dari Yessi. Nico menyodorkan helm. Kali ini Yessi yang seperti kerbau dicocok hidungnya. Mengikuti apa yang dikatakan Nico.
“Tetapi sebelum pergi. Apa kamu akan terus mengenakan topeng itu? aku tidak mau menjadi pusat perhatian.” kata Yessi sembari mengenakan helm.
Nico baru menyadari dan melepas topengnya. Tidak lama berselang motor gede sport Nico ber-cc 1000 meluncur menyusuri jalanan. Kali ini, Nico tidak membawa Yessi menuju pusat kota. Akan berbahaya jika orang lain melihat mereka berduaan. Nico memilih memacu kendaraannya di pinggiran kota. Melihat pemandangan alam seperti persawahan yang menghijau. Menghirup udara segar.
Yessi terlihat menikmati suasana jalanan desa yang jauh dari polusi. Ditambah suasana sehabis hujan terasa syahdu. Nico memacu motor sportnya perlahan. Supaya Yessi bisa menikmati udara segar.
Saat melewati polisi tidur. Motor Nico sedikit bergoyang. Yessi refleks berpegangan di pinggang Nico. Saat sadar Yessi berusaha menarik tangannya kembali. Tetapi dengan cepat. Nico menarik tangan Yessi supaya melingkar di perutnya.
“Aku tidak ingin terjadi apa-apa pada calon keponakanku.” ucap Nico yang masih memegangi tangan Yessi dengan tangan kirinya.
Meski Yessi tidak ingin melakukan itu. Tetapi dia tidak menolak dan entah kenapa hatinya membiarkan saja apa yang dilakukan Nico. Matanya masih menerawang jauh. Melihat pemandangan hamparan sawah yang menghijau.
Sampai Nico menghentikan motornya di sebuah tanah lapang yang luas. Yessi turun dari motor. Melepas helm dan menghirup udara segar sebanyak mungkin.
Tak jauh dari sana, beberapa anggota TNI yang mengenakan seragam biru bebek sedang melaksanakan apel pagi. Tak sengaja mata Yessi terantuk pada seragam yang mereka kenakan. Membuat sekelebat bayangan Al menari di pelupuk matanya.
Tiba-tiba dada Yessi terasa sesak. Dia terhuyung, tubuhnya terasa lemas. Sebelum jatuh ke tanah Nico segera memegangi dari belakang.
“Ada apa?” tanya Nico cemas.
Hanya suara berdengung terdengar di telinga Yessi. Dia mulai melorot dan terduduk di bawah. Nafasnya naik turun. Rasanya sesak sekali. Yessi kesulitan bernafas.
“Ma…Mas Al…” ucap Yessi terbata.
Nico kebingungan, kenapa tiba-tiba Yessi malah memanggil Al. Nico mengikuti ke mana arah pandangan mata Yessi. Rupanya mata Yessi melihat TNI mengenakan seragam biru bebek.
“Ma…Mas Al…” rintih Yessi sembari menahan nyeri di dadanya.
Nafasnya tidak beraturan, sepertinya Yessi sedang mengalami serangan Phobia terhadap TNI berseragam biru. Nico tanggap dan mengambilkan kantong plastik supaya Yessi dapat bernafas. Nico kelihatan khawatir melihat Yessi yang masih kesulitan bernafas. Matanya masih saja menatap ke arah kawanan TNI itu.
Tanpa banyak berkata, Nico segara menutup pandangan Yessi. Lalu mendekap dalam pelukannya sambil menepuk-nepuk bahu Yessi.
“Ambil nafas perlahan dan hembuskan.” kata Nico berulang kali. Yessi mengikuti arahan Nico.
“Lalu dengarkan saja suara detak jantungku. Jangan mendengarkan apapun atau melihat yang lain. Fokus saja pada suara jantungku.” kata Nico menenangkan Yessi.
Perlahan tetapi pasti, irama denyut jantung Yessi kembali normal. Nafasnya tidak lagi tersengal-sengal. Telinganya juga sudah berhenti berdengung. Hanya ada degupan jantung yang terdengar mengalun.
Meski terasa dingin berada dalam pelukan Nico. Tetapi entah kenapa Yessi ingin memeluk Nico dengan erat.