Bagi Kirana, kesetiaan dalam pernikahan adalah impian mutlak. Namun, kebahagiaan yang ia bangun bertahun-tahun runtuh seketika saat sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa suaminya, Rendra. Di saat yang sama, rahasia besar terungkap, Rendra meninggal bersama istri keduanya, meninggalkan seorang putri berusia dua tahun bernama Aura.
Melalui pesan terakhirnya, Rendra memohon agar Kirana sudi mengasuh Aura sebagai anak sendiri. Kirana hancur dan berada di persimpangan jalan yang menyiksa batin. Di satu sisi, ia sangat terluka oleh pengkhianatan suaminya. Di sisi lain, ia sudah memiliki seorang putri kandung berusia empat tahun yang harus ia jaga perasaannya dari kehadiran anak madunya tersebut.
Kini, di bawah satu atap, Kirana harus berjuang menekan rasa sakit hati demi membesarkan dua anak perempuan yang hanya terpaut usia dua tahun tersebut.
Mampukah Kirana berdamai dengan masa lalu dan bersikap adil, ataukah kehadiran Aura justru menjadi luka abadi yang terus mengingatkann
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 2- Berkhianat
Dentang musik komedi putar yang riang mendadak terdengar bagai melodi sumbang di telinga Kirana. Tatapan matanya terkunci rapat, tak mampu lepas dari sosok pria yang selama tujuh tahun ini dipujanya sebagai suami teladan.
Rendra yang saat itu tengah tertawa lepas sambil membetulkan posisi gendongan anak perempuan di tangannya, secara tidak sengaja mengedarkan pandangan ke arah kerumunan pengunjung hingga tatapan mereka bertemu.
Seketika, tawa Rendra terhenti. Wajahnya pucat pasi, matanya membelalak lebar, dan tubuhnya terlonjak kaget seolah baru saja dihantam petir di siang bolong.
"Ki... Kirana?" gumam Rendra. Bibirnya gemetar, nama istrinya tercekat di tenggorokannya.
Melihat perubahan raut wajah suaminya, Kirana tersadar dari kebekuannya. Rasa sakit yang menghantam dadanya begitu hebat, tetapi naluri seorang ibu dengan cepat mengambil alih. Ia tidak boleh membiarkan Keisya menyaksikan kehancuran ini.
Dengan cepat, Kirana setengah berlutut. Tangan kirinya yang gemetar langsung menutupi kedua mata Keisya hingga menghalangi pandangan putri kecilnya dari pemandangan Rendra yang sedang bersama wanita lain dan anak perempuan kecil.
"Mama? Kenapa mata Keisya ditutup? Itu Papa, 'kan, Ma?" tanya Keisya bingung, sementara jemari kecilnya memegang pergelangan tangan Kirana.
Kirana berusaha keras menahan tangis yang mendesak di pangkal tenggorokannya. Ia menarik napas panjang dan menelan bulat-bulat rasa pahit yang memenuhi mulutnya.
"Sayang... hari ini Mama tiba-tiba lelah sekali," bisik Kirana dengan suara yang bergetar. "Kita pulang sekarang, ya? Kita beli es krim yang banyak di dekat rumah."
"Tapi Papa—"
"Yuk, Nak." Kirana langsung menggenggam erat tangan Keisya, membalikkan badan, dan menuntun putrinya melangkah cepat meninggalkan area wahana tersebut.
Namun, belum sempat Kirana melangkah lebih dari lima pijakan, sebuah cengkraman kuat meremas pergelangan tangannya dari belakang hingga membuat langkahnya terhenti seketika.
"Kirana, tunggu dulu! Tolong, aku bisa jelaskan semuanya!" seru Rendra panik.
Namun Kirana tidak bergeming. Ia hanya berdiri membelakangi Rendra, sementara tubuhnya kaku bagaikan patung. Cengkeraman Rendra di tangannya terasa bagai besi panas yang membakar kulitnya.
Tak mau kehilangan kesempatan, Rendra bergerak cepat mengitari Kirana, sehingga berdiri tepat di hadapan istri pertamanya untuk menghalangi jalan.
Sementara di belakang Rendra, seorang wanita cantik bernapas memburu, wanita yang tadi dirangkulnya, melangkah mendekat dengan raut wajah yang serba salah, sembari menggandeng anak perempuan kecil yang menatap mereka dengan bingung.
"Kirana, maafkan aku... Maaf karena aku belum sempat memberi tau kamu soal ini. Tolong dengarkan aku dulu, aku bisa jelaskan semuanya," pinta Rendra dengan mata yang berkaca-kaca.
Tanpa ragu, Rendra meraih lengan wanita itu dan menariknya maju. "Ini Ayu... dan ini Aura."
Kirana perlahan mendongak. Tatapan matanya yang dingin melirik ke arah Ayu, wanita yang tampak anggun namun menyimpan rahasia besar bersama suaminya, lalu beralih pada Aura, anak kecil berwajah polos yang tidak tau apa-apa.
Setelah itu sebuah senyum tipis terukir di bibir Kirana. Senyuman yang begitu getir, penuh kepedihan dan penghinaan atas harga dirinya yang baru saja diinjak-injak.
"Menjelaskan apa, Mas?" tanya Kirana pelan, namun setiap katanya sarat akan emosi yang siap meledak. "Menjelaskan kalau 'klien penting' yang kamu maksud tadi pagi adalah istri kedua dan anak kamu?"
"Kirana, bukan begitu maksudku—"
"Tidak perlu!" potong Kirana, suaranya menusuk tajam hingga membuat Rendra bungkam. "Semuanya sudah sangat jelas. Sangat, sangat jelas."
"Mbak Kirana, tolong... ini semua bukan seperti yang Mbak bayangkan—" Ayu mencoba menyela dengan suara yang bergetar, namun Kirana mengibaskan tangannya, dan menolak mendengarkan sepatah kata pun dari mulut wanita itu.
"Jangan bicarakan apa pun di depan anakku!" tegur Kirana seraya menatap Ayu dengan tajam hingga membuat wanita itu refleks mundur satu langkah.
Kirana menarik tangannya dengan sentakan kuat hingga terlepas dari genggaman Rendra. Tanpa memberi Rendra kesempatan lagi untuk menyentuhnya atau menghalangi jalannya, Kirana merengkuh tubuh Keisya, menggendong putri kecilnya itu rapat-rapat ke dalam dekapan, dan melangkah lebar menerobos kerumunan orang.
"Kirana! Kirana, tunggu! Kirana!"
Teriakan Rendra yang berusaha mengejarnya bergema di antara keriuhan taman bermain, namun Kirana terus berjalan tanpa sekali pun menoleh ke belakang.
Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya menetes deras membasahi pipi, jatuh tepat di pundak Keisya yang kini memeluk leher mamanya dengan erat.
**
Di dalam kabin mobil yang tertutup rapat, suara mesin berpadu dengan isak tangis yang tertahan.
Jemari Kirana mencengkram lingkar kemudi begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Penglihatan Kirana kabur, tertutup oleh lapisan air mata yang terus meleleh membasahi pipinya.
"Huhuhu... 😭😭😭 Kenapa, Mas! Kenapa kau sangat tega padaku dan Keisya!" gumam Kirana liris di antara napasnya yang memburu.
Hatinya hancur berkeping-keping. Bayangan Rendra yang tersenyum penuh kasih pada wanita lain dan anak kecil itu terus berputar di kepalanya bagai kaset rusak. Rasa sakit karena dikhianati bertahun-tahun menghantam dada Kirana tanpa ampun.
Sementara itu di kursi belakang, Keisya duduk terpaku. Kirana sengaja menempatkan putri kecilnya di sana agar Keisya tidak bisa melihat wajahnya yang sembap dan hancur. Kirana berusaha sekuat tenaga menahan suara tangisnya agar tidak meluncur terlalu keras.
"Mama... Mama kenapa menangis?" tanya Keisya polos dari balik sandaran kursi. "Mama sakit ya? Kita mau pulang ke rumah?"
Kirana menyapu air matanya cepat-cepat lewat kaca spion tengah, lalu mencoba menyunggingkan senyum meski tenggorokannya terasa tersumbat. "Eng-tidak, Sayang... Mama cuma... mata Mama cuma kemasukan debu tadi di luar. Keisya duduk yang manis ya, sebentar lagi kita sampai rumah."
Sementara itu, di sebuah bangku taman kayu di bawah rindangnya pohon area taman hiburan, suasana terasa begitu pekat dan tegang.
Keramaian pengunjung di sekitar mereka sama sekali tak mampu mencairkan pembawaan dingin di antara Rendra dan Ayu.
Aura, putri kecil mereka, tampak sibuk bermain dengan balon kelincinya di rumput yang tak jauh dari sana.
Ayu menatap Rendra dengan raut wajah yang serba salah dan cemas yang luar biasa.
"Mas... aku 'kan sudah bilang sejak dulu," ucap Ayu, suaranya bergetar karena menahan gejolak emosi. "Lebih baik beritaukan pernikahan kita sejak awal ke Mbak Kirana. Kalau caranya mendadak dan ketauan dengan cara seperti ini... Mbak Kirana pasti sangat terluka dan bersedih, Mas."
Rendra tidak langsung menjawab. Pria itu menyandarkan kedua sikunya di atas paha dan menopangkan kedua tangan di bawah dagunya dengan tatapan kosong menatap lantai paving. Garis wajahnya jelas penuh tekanan.
"Aku tau sifat Kirana, Ayu," balas Rendra dengan nada berat dan dalam.
"Hufthhh..." Ia mengembuskan napas panjang yang terasa sesak. "Dia wanita yang sangat memegang teguh komitmen. Dia tidak akan pernah setuju atau mengizinkan kalau tau aku menikah lagi. Karena itulah... aku tidak punya pilihan selain tidak memberitaunya."
"Tapi ini tidak adil untuk Mbak Kirana, Mas! Dan tidak adil juga untukku yang terus bersalah!" seru Ayu pelan namun menekan.
Ia lalu menggenggam jemari Rendra yang terasa dingin dan melanjutkan perkataannya. "Mas, lebih baik kita susul Mbak Kirana ke rumah sekarang. Kita jelaskan semuanya baik-baik. Aku juga mau minta maaf langsung pada Mbak Kirana... hatiku benar-benar tidak tenang melihat pandangan matanya tadi."
Rendra mendongak dan menatap mata istri mudanya itu dengan lekat, lalu menggeleng pelan. Ia meremas balik jemari Ayu dan berusaha meneguhkan posisinya.
"Ini semua bukan salahmu, Ayu. Kamu tidak perlu merasa bersalah," tegas Rendra dengan nada membela diri. "Pernikahan kita sah, dan kehadiran Aura adalah anugerah. Pernikahan kita tidak salah."
"Tapi cara Mas menyembunyikannya yang salah!" potong Ayu dengan mata yang berkaca-kaca. "Mbak Kirana itu istri pertama Mas, dia berhak tau!"
Rendra terdiam. Kata-kata Ayu menusuk logikanya, namun ketakutan akan kehilangan Kirana dan kehancuran rumah tangga utamanya membuat Rendra kehilangan arah.
Ia tau betul, begitu ia menginjakkan kaki di rumah nanti, badai besar yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Bersambung...
Enak banget si Hendra sama si ayu
Yg gk sala Karina nanggung sesak seumur hidup
Tapi emang lukanya belum sembuh...🤗