Hidup bersama dengan orang terkasih, tentunya membuat banyak orang membayangkan betapa bahagianya itu.
Namun, kenyataannya, setelah menikah dan hidup bersama bukanlah akhir dari kebahagiaan, itu adalah awal di mana akan dituntut untuk saling mengerti, saling menjaga, saling menyayangi dan mencintai sampai akhir.
Hidupku setelah menikah menceritakan lika-liku dari seorang Zakira. Zakira, gadis sederhana yang tak memandang harta pada suaminya, ia berusia 22 tahun.
Jangan lupa like dan komen, beri bintang lima untuk karya ini.
Suka dengan ceritanya mohon untuk vote/gift. Terimakasih 🤍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mala Cyphierily BHae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pacaran
Selagi mereka berada di Bogor, Zakira dan Pras pun pergi ke tempat wisata yang paling dekat dengan rumahnya.
Mar dan Jalen tidak ikut serta karena tidak ingin mengganggu keharmonisan anak dan menantunya.
Pras dan Zakira pergi ke taman xxx, di sana, Pras mengajak Zakira untuk bermain arum jeram, tetapi, Zakira yang penakut itu menolak.
"Aku tunggu kamu di sini aja," kata Zakira dan Pras merasa tak tega apabila Zakira menunggu sendirian.
"Kalau gitu, kita naik wahana lain aja, gimana? Biar bisa berdua," usul Pras dan Zakira pun mengiyakan.
Sekarang, keduanya menaiki wahana bebek air, Pras dan Zakira sama-sama mengayuh bebek tersebut.
Tidak lupa, keduanya mengambil gambar. Dari tempatnya, Zakira melihat keluarga kecil yang terlihat bahagia, dengan satu anak yang masih balita dan itu membuat Zakira membayangkan.
"Mas, nanti kalau kita udah punya anak, makin seru kali, ya. Aku jadi enggak sabar!" kata Rara seraya menatap suaminya.
Cup! Pras menjawab dengan mengecup kening istrinya dan saat itu juga, Pras merasa ada kedamaian.
Pras menggenggam tangan istrinya dan Rara menatap Pras dengan senyum yang merekah.
Setelah lelah bermain, sekarang, Pras mengajak Zakira untuk pulang.
"Besok kita mulai kerja lagi, kalau bisa jangan kemaleman kita pulang!" kata Pras dan Zakira pun mengiyakan.
Zakira sendiri melupakan sakitnya, bertemu Mar dan Jalen, juga perlakuan baik dari Pras seolah menjadi penawarnya.
Sekarang, Pras dan Zakira sudah sampai di rumah Mar.
Keduanya beristirahat sebentar sebelum pamit pada orang tuanya.
Setelah itu, Zakira pun bersiap dan Zakira juga Pras pamit pada Ibu dan Bapaknya.
Tidak lupa, Mar membawakan oleh-oleh untuk besannya, itu perintah dari Jalen karena sebenarnya, Mar merasa sungkan pada Norma.
Mar membawakan talas bogor, moci dan dodol garut.
"Terimakasih, Ma," kata Pras dan Zakira.
Mar dan Jalen mengangguk, keduanya juga mendoakan untuk keselamatan anak dan menantunya.
Hari ini, kebahagiaan masih berpihak pada Zakira. Keduanya seolah mengalami flashback di mana keduanya masih berstatus pacar.
"Udah lama kita enggak jalan-jalan ya, Mas!"
"Iya, tapi kita enggak bisa sering-sering, kita harus nabung!" kata Pras dan Zakira mengiyakan.
Zakira sendiri akan membantu Pras sampai dirinya mengandung nanti. Begitulah rencana Zakira.
Tetapi, Zakira tak kunjung hamil.
Baru saja sampai di rumah, Zakira sudah mendapatkan tamu bulanan.
"ayah, Mas. Tamunya datang," lirih Zakira dan Zakira yang tidak memiliki pembalut itu meminta pada suaminya untuk membelikan.
Pras menurutinya, Pras membelikan pembalut untuk Zakira di warung terdekat. Di sana, Pras mendapat godaan dari orang-orang yang melihat.
"Cie, pengantin baru bakal puasa!" begitulah salah satu godaan yang Pras Terima sore ini.
Pras hanya tersenyum, sedikit malu dan ia merasa tidak akan mau lagi untuk membelikan pembalut.
Sesampainya di rumah, Pras memberikan pembalut itu pada Zakira yang menunggu di kamar mandi.
"Lain kali beli sendiri, malu aku diledekin tetangga!" kata Pras dan Zakira menjawab dengan tersenyum.
Selesai dengan bersih-bersih. Zakira mulai membagikan oleh-oleh yang dibawanya. Zakira memberikan sebagian untuk Ninik dan sebagian untuk Norma.
Zakira yang mendapati rumah sebelah sedang sepi itu pun berniat untuk ke rumah mertuanya dan di pintu, Zakira berpapasan dengan Ninik yang baru saja pulang dari mall.
"Mbak, dari mana? aku bawa-" kata Zakira yang tak sempat melanjutkan ucapannya karena Ninik memotongnya begitu saja.
"Jalan-jalan, lah. Emang kamu aja yang mau jalan-jalan!" jawab Ninik.
Dan Wisnu, ia yang baru mendapatkan mainan baru menunjukkannya pada Zakira.
"Tante, Wisnu punya mobil yang bisa jadi robot, lihat, keren, kan?" tanya Wisnu dengan begitu polosnya, Wisnu juga mulai merakit mobil itu.
"Tante, ayo main sama Wisnu," ajak Wisnu dan Ninik pun meninggalkan anak-anaknya itu di ruang tamu.
Kembali, kembali merasa tak disukai oleh kakak iparnya, Zakira ingin berkeluh kesan dengan suaminya.
Dan Zakira menjawab dengan lembut untuk Wisnu.
"Tante mau ke rumah Eyang dulu, ya!"
Wisnu pun menganggukkan kepala.
Sesampainya di rumah Norma, ia melihat kalau rumah itu sedang sepi, Zakira pun meletakkan oleh-oleh itu di meja makan, setelahnya, Zakira kembali ke rumah.
Zakira melewati Wisnu dan Damar yang sedang asik bermain dengan mainan baru mereka.
Di kamar, Pras yang sedang bermain online itu harus menyudahinya karena Zakira mengajaknya bicara serius.
"Mas, aku mau cerita," kata Zakira yang duduk di samping Pras.
"Apa?" tanya Pras yang masih menatap layar ponselnya.
Pras membuka sosial medianya.
"Kenapa, ya. Mbak Ninik kalau aku sapa atau tanya sering enggak nyaut, diem aja gitu, aku kan jadi merasa enggak hati, Mas."
Mendengar itu, Pras pun mencoba memberikan pengertian.
"Mungkin dia enggak denger," kata Pras yang masih menatap layar ponselnya.
"Masa enggak dengar," kata Zakira seraya bangun dari duduk. ia menyiapkan pakaian untuk bekerja besok.
Zakira yang belum mempunyai setrikaan itu meminjam milik Ninik.
Zakira pergi ke rumah sebelah.
"Mbak, aku pinjam setrikaan," kata Zakira yang berdiri di ruang tengah dan Ninik yang sedang bersantai di kamar itu menjawab, "Ambil di meja setrikaan!"
"Ya," jawab Zakira seraya berjalan ke samping kamar Ninik, karena meja setrikaan berada di sana.
****
Selesai dengan menyetrika, Zakira pun langsung mengembalikannya.
"Mbak, aku taruh tempat tadi lagi, ya. Makasih," kata Zakira pada Ninik yang sedang menonton televisi di ruang tengah bersama dengan yang lain dan Ninik sama sekali tak menjawab, wanita berusia 30 tahun itu seolah tak mendengar dan Zakira pun mengembalikan setrikaan itu ke tempat semula.
Kali, ini Pras melihat sendiri, apa yang diucapkan oleh istrinya itu benar.
Setelah Norma sedikit melunak karena Zakira terus berbuat baik padanya, tetapi, tidak dengan Ninik.
Wanita itu masih dengan sikap angkuh dan cueknya.
Yang diharapkan oleh Zakira, bukan berarti Ninik harus perhatian padanya, Zakira hanya mau Ninik akan menerimanya dan menganggapnya sebagai adik.
Tetapi, kembali... Ninik menyapa atau mengajak Zakira bicara apa bila ada orang lain di rumahnya.
Seperti saat ini, teman-teman arisan Ninik datang ke rumahnya dan Ninik pun berpura-pura ramah, ia mengajak Zakira untuk ikut arisan.
Tetapi, Zakira yang semakin lama semakin mengerti Ninik itu menolak dengan alasan Pras tidak menyetujui.
"Aku tau, Mbak. Mbak itu cuma pura-pura, kan. Pura-pura baik di depan orang lain!" batin Zakira, ia yang baru saja mengambil air dingin itu memilih untuk ke kamar, ia merasa tidak perlu ikut bergabung.
Setelah teman-teman Ninik pergi, Ninik pun kembali ke kamar, ia yang baru saja mendapatkan arisan itu menghitung uangnya.
"Aku bisa beli perhiasan, aku mau beli kalung!" kata Ninik seraya memeluk uangnya.
Dan Ninik pun tidak sabar untuk menunggu hari esok.
Bersambung.
Jangan lupa like dan komen ya, all.
kan aku pngen tau gmna reaksi kluarga.ny pras.. 😌
udah tamat aja
harus lanjut donk .. melihat tumbuh kembang di baby girl ..