NovelToon NovelToon
BOSKU MENGINGINKAN TUBUHKU

BOSKU MENGINGINKAN TUBUHKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nesakoto

Demi melunasi utang orang tuanya, Kinara rela mengorbankan dirinya daripada dipaksa menikah dengan pria tua. Dikhianati oleh pria yang dicintainya dan adik tirinya sendiri, ia memilih meninggalkan rumah untuk memulai hidup baru. Namun satu keputusan nekat mengubah segalanya, menyeretnya ke dalam takdir yang mengikatnya dengan pria paling berkuasa yang tak pernah ia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mencoba Mengajak

“Nah gimana, Pa? Rencana Mama berhasil, kan?!” seru Rani sambil langsung memeluk Arbian yang sedang duduk di sampingnya.

Arbian terkekeh, menepuk-nepuk pinggang istrinya. “Hebat juga rencana Mama. Kok Papa nggak kepikiran dari awal, ya?” Ia menghela napas kecil, merasa bangga sekaligus kesal pada dirinya sendiri.

Rani mengerling manja. “Mama nggak mau dipuji doang, Pa…” ucapnya, sambil tangannya mengusap dada bidang Arbian.

Arbian menatapnya dengan senyum nakal. “Papa paham, Ma. Nanti Papa transfer, ya. Tapi…” ia mendekat, berbisik di telinga Rani, “puaskan Papa dulu sebelum berangkat ke kantor.”

“Ah, Papa… tadi malam kan sudah…” Rani merona, ucapannya terhenti begitu saja.

Suasana kamar mereka penuh tawa dan bisikan nakal. Berbeda jauh dengan putri kesayangan mereka, Diana, yang sedang termenung di kamarnya.

Sejak kejadian di Geranium Resto, Diana berusaha menghubungi Bayu. Berkali-kali menelepon, tapi tak sekali pun diangkat. Ia tahu kejadian di restoran itu pasti membuat Bayu cukup malu. Tapi Diana semakin tak tahan, ia ingin tahu bagaimana keadaan Bayu.

Akhirnya, dengan sedikit strategi licik, ia mengirim pesan: “Nanti malam keluargaku mengundangmu makan malam di rumah. Kinara dan Renald juga akan hadir.”

Padahal, Diana sendiri belum tahu apakah Kinara dan Renald benar-benar datang. Pesan itu hanya pancingan. Jika Bayu langsung balas, berarti pikiran pria itu memang masih sibuk memikirkan Kinara.

Dan benar saja. Tak lama setelah pesan terkirim, balasan dari Bayu muncul. “Aku akan datang.”

Seketika wajah Diana berubah. Bukan lega yang ia rasakan, melainkan api cemburu. Semakin jelas baginya bahwa Bayu masih menaruh hati pada Kinara.

“Kalau gitu…” gumamnya, jemarinya mengepal. “Aku harus rebut Renald. Apapun yang Kinara punya, aku juga bisa punya.”

Sejak kecil Diana memang selalu begitu. Apa pun yang dimiliki Kinara selalu ingin ia miliki. Dan kali ini, Renald yang akan menjadi target selanjutnya.

Sementara itu di ruang kerja Renald, Kinara duduk sambil memandangi layar ponselnya yang baru saja mati setelah dirinya menutup panggilan dari Mama tirinya.

Hatinya penuh dilema. Bagaimana cara membuat Renald mau ikut makan malam bersama keluarganya? Apalagi sejak tadi Renald tak merespon pesan maupun telepon darinya.

“Duh… gimana ini…” Kinara menggerutu, lalu berjalan ke arah sofa yang ada di sudut ruangan dengan menbawa ponselnya. Selanjutnya ia pun mencoba mengalihkan pikiran dengan bermain game di ponselnya.

Tapi saat asyik bermain, sebuah iklan lowongan kerja muncul. Ia langsung teringat dengan lowongan semalam: Club Malam Harmos. Salah satu club terkenal di kota.

Tanpa pikir panjang, ia pun menelepon nomor yang tertera. Beberapa menit berbincang, akhirnya ia menyetujui tawaran itu.

“Baik, Pak. Terima kasih banyak. Besok malam saya akan kesana—”

Saat itu sebuah suara berat memotong kalimatnya. “Bekerja? Kau akan bekerja pada siapa?”

Kinara langsung terlonjak. Suara itu jelas suara Renald. Entah sejak kapan Renald datang, dan Kinara sama sekali tak menyadari kehadirannya sejak tadi.

“Haa… oh, anda sudah datang,” jawabnya gugup, mencoba menutup telepon cepat-cepat.

Renald melangkah mendekat, matanya tajam menusuk. “Katakan! Kau akan pergi bekerja pada siapa?!”

Nada suaranya terdengar keras dan dingin, membuat Kinara semakin panik. Ia tak mungkin jujur.

“Eh… anda salah dengar, Pak. Saya cuma mau mengantar teman besok malam. Dia baru pertama kali kerja, jadi dia meminta saya untuk menemaninya interview kerja." Ujarnya gugup.

Renald menyipitkan mata. “Tapi aku jelas mendengar kau memanggil dengan kata ‘Pak’ tadi.”

“Oh itu…” Kinara nyengir kikuk. “Panggilan akrab aja. Namanya panjang… Cukkpakkai.” Jawabnya asal-asalan.

Renald mengangkat alis, suaranya sarkastik. “Ada nama orang seperti itu?”

“Tentu saja ada. Itu buktinya… teman saya.” Kinara memaksakan senyum, memperlihatkan gigi putihnya.

Tak ingin lagi memperpanjang, Renald menghela napas panjang. Ia berjalan ke meja kerjanya, duduk tenang, tapi sorot matanya jelas masih mencurigai.

Melihat Renald yang sudah berjalan ke arah kursi kerjanya, Kinara menatapnya ragu. Sekarang atau tidak sama sekali. Ia harus berani.

Dengan langkah hati-hati, ia menghampiri Renald. “Em Renald… boleh saya meminta sesuatu?”

Renald menoleh sekilas. “Apa? Uang lagi? Bukankah semalam sudah kutransfer?” Ujarnya dengan tangan terus memainkan ponselnya, tanpa melihat ke arah lawan bicaranya.

"Uang? Uang apa?”

“Perjanjian kita. Aku transfer setiap setelah aku menidurimu.” Ucapan itu meluncur begitu saja dari bibir Renald, tanpa rasa malu.

Wajah Kinara panas. Malu, kesal, marah bercampur jadi satu. Tapi ia menahan diri. “Bukan itu maksud saya. Saya cuma… mau meminta anda untuk menemani saya makan malam bersama keluarga nanti malam.”

Renald mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Kinara, “Makan malam dengan keluargamu?”

Kinara mengangguk.

“Apa yang kudapat kalau aku membantumu?” tanyanya datar.

“Tentu saja aku akan berterima kasih.” Ujarnya mantap

“Hanya itu?” bibir Renald menyeringai.

“Lalu… apa yang kau mau?” Kinara merasa sedikit gelisah.

“Aku menginginkanmu hari ini.” Sorot mata Renald menajam.

“Maksudmu…?”

“Tunggu aku di kamar.” Suaranya tegas, tanpa penjelasan.

Kinara terpaku. Tapi langkah Renald yang langsung berjalan ke kamar pribadinya membuatnya tak punya pilihan. Ia menelan ludah, lalu perlahan mengikuti.

Beberapa menit kemudian, setibanya di kamar pribadi itu, Renald menunjuk ke arah lemari yang memang berisi semua pakaian miliknya. duduk santai sambil memperhatikan Kinara yang gelisah memainkan ponselnya.

"Pilihkan pakaian yang cocok untuk makan malam nanti?”

Kinara mendongak, kaget. “Apa… anda mau ikut?”

Renald tersenyum tipis. “Tentu saja.”

Wajah Kinara berbinar. “Baiklah! Akan saya pilihkan pakaian yang terbaik.” Ia berjalan dengan semangat, membuka lemari Renald dan memeriksa satu per satu jas dan kemeja.

Karena terlalu sibuk memilih, tanpa sadar Renald kini sudah berdiri tepat di belakangnya. Saat itu juga, sebuah pelukan hangat melingkari pinggangnya dengan erat.

“Astaga!” Kinara terlonjak, berusaha melepaskan diri. “Apa yang anda lakukan?!”

Renald menunduk, bibirnya menyentuh leher halus Kinara. “Memastikan kau serius menjalankan tugas dariku."

“Pak… hentikan. Saya lagi memilihkan pakaian untuk anda…” suaranya gemetar, setengah memohon.

Tapi Renald justru semakin menekan, menarik napas dalam-dalam di lekuk lehernya. “Kenaoa masih memanggilku dengan kata 'Pak'? Karena kau tak mengikuti perintahku, maka aku akan memberikan sedikit hukuman untukmu." Bisiknya sembari menggigit kecil telinga wanita yang berada dalam dekapannya itu.

Kinara meringis geli setelah mendapat perlakuan seperti itu dari Renald.

"Kau tahu… wangi kulitmu ini lebih menarik daripada semua jas di lemari ini.” Ujar Renald kembali menggida

Kinara menggigit bibir, berusaha menahan debaran jantungnya. Ia buru-buru meraih setelan jas hitam dengan kemeja putih. “Ini… ini cocok. Pakai ini saja untuk nanti malam!”

“Ok. Seleramu tidak buruk.” Ujarnya mengambil baju itu, lalu tersenyum puas. “Karena kau sudah memilihkan pakaian untukku, jadi…”

Tanpa aba-aba, tangan kekar itu langsung menarik Kinara ke dalam pangkuannya dan mendudukkan tubuhnya sofa.

“Renald!” Kinara terperanjat, tubuhnya terhimpit di dada bidang pria itu.

“Mmm… kau terlalu manis untuk dilepaskan sekarang.”

Kinara mencoba melawan, tapi genggaman Renald terlalu kuat. Sekejap kemudian, bibirnya sudah dikuasai. Hangat, keras, memaksa.

“Renald… jangan… ahh…” suaranya tercekat di antara ciuman.

“Diam,” bisik Renald, napasnya memburu. “Aku ingin mendengar suaramu dengan cara lain.”

Kinara menutup mata, tubuhnya melemah. Kali ini, lagi-lagi ia takluk. Ruangan kamar itu pun dipenuhi desah napas, erangan, dan bisikan intim yang menggema di setiap sudut.

Hingga akhirnya, semua berhenti saat Renald mencapai kepuasannya. Ia menatap Kinara yang terbaring lelah di pelukannya.

“Nanti malam,” katanya pelan, “aku akan menemanimu ke keluargamu. Apa kau senang?”

Kinara hanya terdiam, wajahnya merah padam. Dalam hati ia sadar, dirinya lagi-lagi kalah.

1
sandi sanda
/Drool/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!