Alexander pria yang dingin dan sangat susah untuk di sentuh. Dan semenjak meninggalnya sang istri, Alexander tidak lagi membuka hati untuk siapapun. Karena hati dan cintanya juga ikut mati dengan istri tercintanya.
Dan karena satu insiden membuat Alex terpaksa menikahi wanita yang bernama Kartika.
Mampukah Kartika meluluhkan hati Alex, atau malah sebaliknya?
"Cinta? Bagiku hanya ada satu cinta untuk satu wanita saja."
"Cinta? Bagiku, selama kau bisa membuat orang bahagia maka itulah yang di sebut cinta." Kartika Wijaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
"Alex." Teriak ibu Ayuning saat melihat Alex yang menapar keras pipi mulus Kartika.
"Katakan berapa yang kau minta?" Tanya Alwx dengan keras.
Kartika mengusap pipinya dan tersenyum sambil menatap Alex.
"Ada apa ini? Apa yang terjadi? Alex jelaskan pada ibu." Tanya Ayuning yang mulai panik.
"Ibu, aku tidak ingin menikah dengan wanita ini." Kata Alex sambil menunjuk Kartika.
"Apa yang kau katakan Alex. Tidak mungkin, pernikahan kalian tinggal dua hari lagi. Mana mungkin untuk di batalkan."
"Cepat katakan berapa yang kau minta.?"
"Aku hanya memintamu menjadi suamiku, tidak lebih dan tidak kurang." Jawab Kartika dengan suara yang menantang.
"Dasar.." Saat Alex ingin menampar Kartika untuk yang kedua kalinya, Kartika dengan sigap menahan tangan Alex. Lalu Kartika dengan cepat sembunyi di belakang ibu Ayuning.
"Aku hanya minta tanggung jawab, bukan meminta uang dan hartamu." Kata Kartika.
"Sini kau, sini." Alex menarik tangan Kartika agar tidak bersembunyi di belakang tubuh ibunya.
"Alex, hentikan." Ucap sang ibu.
"Kau sudah menjebakku. Kau sudah memasukkan seseuatu di minumanku." Kata Alex sambil menarik paksa lengan Kartika.
"Keluar kau dari rumah ibuku, dan jangan harap aku menikah denganmu." Alex langsung menghempaskan tubuh Kartika di lantai, sehingga membuat Kartika jatuh tersungkur.
"Apa pun yang terjadi pernikahan ini harus tetap berlanjut." Kata sang ibu.
"Tidak." Bantah Alex dengan cepat.
"Aku tidak ingin menikah dengan wanita ular."
"Ular? Yang benar saja. Aku ini manusia bukan ular. Kau buta" Gumam Kartika sambil berdiri.
"Apa kau bilang?"
"Kau dengar kan? Jadi untuk apa aku ulang." Tantang Kartika membuat Ayuning menggelengkan kepala.
Ayuning sudah tahu, siapa Kartika sebenarnya. Maka dari itu Ayuning pun langsung menyetujui untuk menikahkan Kartika dan Alex. Dan juga, Ayuning sangat menyukai sifat Kartika yang periang, memberi tawa dan kehangatan.
"Si*al." Umpat Alex
"Ibu, ayo kita masuk." Ajak Kartika sambil menggalungkan tangannya di lengan Ayuning.
"Ibu, ucapan dan teriakan anak ibu lumayan juga yah. Wah aku tidak menyangka jika door yang dulu bisa sehebat ini." Bisik Kartika namun dapat di dengan oleh Alex.
"Door?" Gumam Alex.
Door, kata itu. Kata yang selalu di gunakan untuk memanggil dirinya. Saat dirinya sering bertukar surat pada seorang wanita yang ia kagumi dan cintai. Namun kenapa kata itu bisa Kartika katakan. Padahal jelas sekali, jika hanya Sahara yang tahu kata itu. Alex terdiam sambil menatap Kartika dan juga sang ibu yang kini berjalan masuk ke dalam rumah.
"Dia licik. Pasti ada yang dia ingin kan dariku dan juga dari ibu." Ucap Alex.
•••••••
"Dimana cucu-cucuku." Kata oma saat masuk ke dalam rumah Alex.
"Ratih dimana Mora dan juga Molki?" Tanya oma kembali.
"Nona Mora ada di kamar dan juga tuan Molki. Tapi..." Ratih tidak melanjutkan ucapannya, ia langsung mengambil peperbag yang di bawa oleh Ayuning.
"Apa yang terjadi? Apa Alex menghukum Molki lagi?"
Ayuning sudah dapat menebak, jika Alex kembali menghukum Molki. Dan ini bukan untuk yang pertama kalinya Alex seperti ini. Alex mendidik anaknya dengan cara dan kemauannya sendiri tanpa tahu apa yang anak-anaknya inginkan. Karna bagi Alex uang sudah cukup bisa membuat Mora dan Molki bahagia.
"Berikan aku kunci kamar Molki." Pinta Ayuning.
"Tapi nyonya..."
"Tidak ada tapi. Kalau Alex marah, aku pun bisa ikut marah."
"rumah yang tadinya gelap, kini menjadi terang kembali. suasana yang tadinya sunyi, kini kembali diisi suara obrolan, candaan dan tak jarang terdengar tawa riang. hingga akhirnya beberapa jam kemudian kembali terdengar sunyi. tak terasa waktu bergulir, matahari kembali menampakkan diri di ufuk timur. kegiatan manusia kembali nampak di lingkungan rumah itu. termasuk truk sampah yang rutin singgah mengambil sampah dari rumah itu. ketika sang awak truk turun untuk memindahkan sampah dari dekat pagar rumah, beberapa serpihan kertas coklat jatuh dari tong sampah yang dibawa sang awak truk. ya, serpihan kertas sampul coklat yang berisi surat gugatan cerai yang kini sudah koyak hancur tak bersisa. hanya menyisakan kenangan di secuil tempat di sudut hati. untuk menjadi pelajaran menatap masa depan yang bahagia. TAMAT.