Lima tahun lalu, Indri Izanami dibuang saat hidupnya berada di titik terendah. Dikhianati, dihina, dan ditinggalkan oleh orang-orang yang pernah ia cintai, ia menghilang tanpa jejak dari Jakarta.
Kini, ia kembali.
Bukan sebagai wanita lemah yang dulu diinjak-injak,tapi sebagai sosok misterius yang memesona, berkuasa, dan berbahaya. Kehadirannya mengguncang para konglomerat yang pernah menghancurkannya.
Ardika, mantan kekasih yang dulu membuangnya, kini terobsesi untuk memilikinya kembali.
Surya Rabinson, cinta pertama yang menjadi sumber luka terdalamnya, mendadak terjebak dalam hasrat dan penyesalan yang membara.
Dan ketika Hisoka Adicambra, sang kaisar bisnis yang paling ditakuti di Jakarta, menunjukkan ketertarikan padanya, permainan balas dendam berubah menjadi perang kekuasaan yang mematikan.
Namun di balik senyum dinginnya, Indri menyimpan satu tujuan:
Membuat mereka semua berlutut di hadapannya.
Karena kali ini, yang menjadi mangsa bukan lagi dirinya.
Melainkan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-Bayang Sang Predator
Setibanya mereka di Hotel Dharmawangsa, dentuman musik orkestra menyambut mereka, bercampur dengan tawa renyah dan bisikan-bisikan riuh para sosialita. Ballroom besar itu dipenuhi dengan gemerlap lampu kristal, memantulkan kilauan perhiasan dan sutra-sutra mahal. Aroma parfum elit berbaur dengan wangi wine mahal, menciptakan suasana kemewahan yang Indri ingat betul. Dan ia benci itu.
Namun, Indri berjalan dengan kepala tegak, lengan yang bertaut pada Ardika seolah itu adalah tempatnya. Setiap langkahnya menarik pandangan, menghentikan percakapan. Para wanita menatapnya dengan campuran iri dan penasaran, sementara para pria menatapnya dengan hasrat yang terbuka. Indri bisa merasakan gelombang energi di sekelilingnya, dan ia menyerapnya, mengubahnya menjadi kekuatannya sendiri.
"Mereka semua membicarakanmu," bisik Ardika di telinganya, ada nada kepuasan dalam suaranya.
"Biarkan saja," balas Indri, suaranya tenang, tanpa emosi. "Itu yang aku inginkan."
Tentu saja mereka membicarakanku. Aku adalah hantu dari masa lalu mereka, yang kini menari di atas panggung mereka.
Ia membiarkan pandangannya menyapu kerumunan, mencari sosok yang menjadi target utamanya malam ini. Tidak butuh waktu lama. Matanya berhenti di seberang ruangan, di dekat panggung tempat band sedang bermain. Ada di sana. Berdiri tegak, gelas champagne di tangannya, mengenakan tuksedo hitam yang pas di tubuh atletisnya. Surya Rabinson.
Jantung Indri berdebar sekali, keras dan menyakitkan, seolah waktu tiba-tiba berputar kembali ke lima tahun lalu. Kenangan pahit menyeruak—pengkhianatan, kata-kata tajam yang menghancurkan, perasaan tak berdaya saat ia melihat dunianya runtuh di depan matanya. Ia merasakan sentuhan dingin penolakan dan jijik yang pernah Surya berikan padanya. Namun, ia segera menekan perasaan itu, mengunci rapat di dalam benteng yang telah ia bangun. Tidak lagi. Kali ini, akulah yang akan menghancurkan.
Surya belum melihatnya. Ia sibuk tertawa bersama sekelompok pengusaha lainnya. Pria itu tampak lebih dewasa, lebih berbahaya. Rambutnya disisir rapi, dengan rahang tajam yang kini tampak lebih keras. Ia adalah sosok yang lebih mengerikan, predator yang lebih matang.
"Ada apa?" tanya Ardika, merasakan tubuh Indri sedikit menegang.
"Bukan apa-apa," jawab Indri, menarik napas dalam, memaksakan senyum yang terlalu lebar dan terlalu dingin. "Hanya merasa sedikit asing dengan keramaian ini."
Ia memaksakan dirinya untuk mengalihkan pandangan dari Surya, berbicara dengan beberapa kenalan lama yang kini mendekat dengan tatapan ingin tahu. Ia membalas sapaan mereka dengan sopan, namun setiap kata yang keluar dari bibirnya terasa seperti kebohongan. Ia bisa merasakan tatapan Surya kini tertuju padanya. Ini dia.
Ia melirik sekilas. Mata Surya kini mengunci padanya. Bukan tatapan pengakuan, bukan pula tatapan penyesalan. Melainkan tatapan seorang pria yang melihat mangsa baru, sebuah misteri yang ingin ia pecahkan. Ketertarikan murni, yang berbahaya. Dia tidak mengenaliku. Sebuah kepuasan dingin merayap di benak Indri. Rencananya berhasil.
Surya tersenyum, sebuah senyum yang dulu bisa meluluhkan hati Indri, tapi kini hanya menimbulkan rasa jijik. Ia mengangkat gelasnya ke arah Indri, sebuah isyarat yang jelas mengundang. Ardika merasakan ketegangan dan balas mengangkat gelasnya dengan nada posesif.
"Siapa dia?" bisik Ardika, suaranya rendah dan penuh peringatan.
"Aku tidak tahu," jawab Indri, berbohong tanpa berkedip. "Mungkin salah satu pengagum barumu, Ardika."
Surya mulai bergerak, melangkah perlahan melintasi ruangan yang ramai, matanya tidak lepas dari Indri. Setiap langkahnya terasa seperti detak jarum jam yang menghitung mundur menuju kehancuran Indri, atau kehancuran Surya sendiri. Ia adalah seekor singa yang baru saja menemukan mangsanya, dan ia akan mendekat, mencium bau darah, dan bersiap untuk menyerang.
Indri merasakan aliran adrenalin membanjiri dirinya. Ini adalah momen yang ia tunggu-tunggu, yang ia rencanakan selama lima tahun. Ia harus tetap tenang, membiarkan topengnya sempurna. Trauma masa lalu bergejolak di dalam dirinya, namun ia tidak akan membiarkannya terlihat. Ia akan menyambut Surya dengan senyum palsu, dengan mata yang tidak memancarkan apa-apa selain keindahan yang dingin.
Surya akhirnya tiba di hadapan mereka, auranya yang dominan menguasai Ardika. Ia sama sekali tidak memedulikan Ardika, matanya hanya terpaku pada Indri. Ada kilatan hasrat dan rasa ingin tahu yang membara di sana.
"Aku tidak yakin kita pernah bertemu," kata Surya, suaranya dalam dan berwibawa, namun ada nada yang nyaris seperti bisikan di akhir kalimat. "Tapi aku tidak berpikir aku akan melupakan wajah seindah ini." Ia mengulurkan tangannya, tangannya yang dulu pernah memegang Indri dengan penuh kehangatan, kini terasa seperti cengkeraman baja yang dingin. "Surya Rabinson."
Indri mengambil tangan itu, merasakan sentuhan yang membakar namun tidak membuat hatinya bergetar. Ia menatap mata Surya, melihat pantulan dirinya yang baru, yang tak ia kenali, di sana. "Senang bertemu dengan Anda, Tuan Rabinson," balas Indri, suaranya selembut sutra, namun penuh dengan lapisan racun yang tak terlihat. Ia menarik tangannya, tidak ingin berlama-lama bersentuhan dengan pria yang telah menghancurkannya. "Anda boleh memanggilku Indri."
Surya tidak memedulikan penolakan itu. Senyumnya melebar, matanya menelusuri Indri dari kepala hingga ujung kaki, seolah ingin melahapnya. Ia begitu dekat, napasnya terasa di wajah Indri, membawa aroma maskulin yang familiar namun kini terasa menjijikkan.
"Indri," ulang Surya, seolah mencicipi nama itu di lidahnya. "Nama yang indah. Tapi... aku merasa ada sesuatu yang lebih dari sekadar keindahan pada dirimu." Ia mendekatkan wajahnya sedikit, tatapan matanya mengunci mata Indri, mencoba menembus pertahanannya. "Siapa sebenarnya dirimu, Indri?"
"Siapa sebenarnya dirimu, Indri?" Surya mengulang, suaranya kini lebih pelan, sarat akan desakan. Matanya menelusuri wajah Indri, mencari celah pada topeng tanpa ekspresi yang Indri kenakan. Ada gairah yang membara di tatapannya, sebuah hasrat untuk membuka gulungan misteri yang kini berdiri di hadapannya.
Indri menatap balik, bibirnya melengkung dalam senyum tipis, nyaris tak terlihat. "Seorang wanita yang menikmati pesta, Tuan Rabinson. Seperti Anda." Ia menarik tangannya dari genggaman Surya, namun Surya tak membiarkannya pergi sepenuhnya. Jari-jarinya melingkari pergelangan tangan Indri, cengkeraman lembut namun tak terbantahkan.
"Aku rasa tidak begitu," balas Surya, suaranya merendah, mata cokelat gelapnya berkilat tajam. "Ada sesuatu tentangmu... yang membuatku penasaran." Ia melirik sekilas ke arah Ardika yang kini mulai mendekat, rahangnya mengeras. "Mari kita bicarakan di tempat yang lebih tenang, Indri."
Tanpa menunggu persetujuan Indri, Surya menarik pergelangan tangannya, mengarahkan Indri menjauh dari keramaian pesta. Langkahnya cepat, penuh otoritas. Ardika mencoba melangkah maju, namun Surya hanya memberinya tatapan tajam, sebuah peringatan tak terucap yang membuat Ardika terpaku di tempat. Indri tak menoleh, hanya mengikuti langkah Surya, membiarkan dirinya ditarik. Tepat sesuai rencana.
Surya membawa Indri menyusuri koridor panjang, berkarpet tebal yang meredam suara langkah kaki, jauh dari hingar-bingar pesta. Udara di sini lebih dingin, lebih hening, menciptakan ruang privat yang terasa mencekam. Ia berhenti di depan sebuah pintu ganda berukir, lalu membukanya dan mendorong Indri masuk. Itu adalah sebuah lounge VIP kosong, dengan sofa beludru mewah dan lampu redup, sangat terisolasi.
Silakan berkomentar untuk memberikan masukan demi meningkatnya mutu karya saya di masa yang akan datang.
Terima kasih.