Alena Rahmawati tidak pernah menyangka bahwa menemukan dompet seorang pria asing di tengah bioskop tengah malam yang akan akan mengubah kehidupannya.
Demi biaya sekolah adiknya Dimas, Alena menerima tawaran aneh dari Arven Alfarizi, seorang CEO muda yang tampak memiliki segalanya. Sebagai imbalan sejumlah uang, Alena harus membuat Arven jatuh cinta kepada dirinya dalam waktu tiga puluh hari.
Awalnya semua hanya kesepakatan. Namun seiring berjalannya waktu, batas antara sandiwara dan perasaan yang sesungguhnya mulai menghilang. Saat Alena benar-benar jatuh cinta, ia baru mengetahui rahasia yang selama ini Arven sembunyikan.
Mampukah Alena membuat Arven jatuh cinta ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Caramel_Machiato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 ( Tawaran Yang Aneh )
Malam tadi Alena tidak bisa tidur dengan tenang.
Ia memikirkan pesan Arven yang ia tidak jawab malam tadi
Semalaman ia terus mencari informasi tentang Arven di internet
Yang ia temui hanya Arven seorang CEO muda yang sukses, bahkan tidak terlihat berita scandal mengenai hubungan asmara.
Ia juga mengetahui sebuah fakta, sejak Arven kecil ia sudah kehilangan ibunya dan ia hanya hidup dengan sang ayah.
Alena semakin bingung, kenapa pria seperti itu menangis sendirian didalam bioskop.
" Kalau gue jadi CEO kayak dia, gue nangisnya pas saldo rekening turun satu miliar aja "
Mengingat pagi ini Alena harus ke kampusnya, segera Alena pun bersiap-siap.
...
Pagi ini Alena duduk dikantin bersama dengan sahabatnya Nabila.
Namun sejak datang tadi Nabila merasa, sahabatnya itu lebih banyak diam dibandingkan biasanya.
Nabila menyadari ada yang berbeda dari Alena pagi ini.
" Kenapa sih Len ? bengong aja perasaan " ucap Nabila
" Gue pusing Bil, gue harus cari duit kemana buat bayar sekolah Dimas "
" Sorry ya Len gue ga bisa bantuin lo disaat susah kayak gini "
Ucap Nabila dengan raut wajah sedih
" Santai kali Bil, gue juga ga mau ngerepotin orang lain "
Alena yang sedang merasa pusing saat ini, kembali mendapatkan pesan masuk dari Dimas
[Dimas : Kak, maaf ya kalau aku ini cuma jadi beban ]
Membaca pesan ini membuat Alena semakin merasa tertekan.
" Ke kelas yuk Len, tar kita telat lagi " ajak Nabila
" Iyah "
Alena benar-benar merasa frustasi karena hal ini.
Selama kelas berlangsung Alena lebih banyak melamun, mungkin saja ia tak mendengarkan apa yang dosennya sampaikan saat ini.
Nabila mencoba menegur sahabatnya itu, namun sayangnya Alena tidak juga merespon dirinya.
" ALENA " panngil dosen itu dengan tegas
Tak ada jawaban dari Alena
" Alena kalau kamu tidak fokus dengan kelas saya, keluar "
Suara keras itu membuat lamunan Alena buyar.
" Maaf pak " ucap Alena dengan menundukkan kepalanya
" Sekali lagi kamu tidak fokus, lebih baik kamu keluar dari ruangan saya "
" Baik pak "
Alena pun kali ini mencoba fokus dengan materi yang dosennya sampaikan, walaupun pikirannya terus tertuju pada Dimas
..
Selepas jam selesai, Nabila pun mengajak Alena ke kantin untuk mengisi perutnya yang sudah terasa lapar.
" Bil kayaknya gue harus pergi sekarang deh "
" Loh, lo mau kemana ? "
" Gue ada urusan nih, besok gue ceritain deh "
" Hmm yaudah deh, lo hati-hati yah Len "
Alena pun segera pergi ke cafe mentari, tempat ia dan Arven akan bertemu siang ini.
Alena menaiki ojek online untuk sampai disana.
Tepat pukul 12 siang, Alena pun sampai di cafe yang dimaksudkan
Namun Alena merasa jika dirinya salah kostum siang ini, cafe yang ia datangi terlihat cukup mewah berbeda dengan cafe yang biasa ia dan Nabila datangi.
Saat Alena hendak masuk kedalam cafe, terlihat sebuah mobil berhenti tepat didepan cafe.
Seseorang turun dari mobil itu, dan orang itu adalah Arven.
" Selamat siang Pak " sapa para pegawai disana
" Siang "
Alena mengetahui cafe itu adalah milik Arven, pantas saja semua karyawan begitu tunduk kepada Arven.
Alena semakin sadar jika Arven bukanlah orang sembarangan, ia juga semakin merasa dunia mereka berbeda.
Alena segera masuk dan menemui Arven
Begitu mereka bertemu, Arven langsung bertanya mengenai dompet miliknya.
" Nih dompetnya, silahkan di periksa " ucap Alena
Arven membuka dompetnya, dan Arven melihat dompetnya yang masih lengkap seperti sebelumnya.
" Kenapa kamu tidak ambil uangnya ? bukannya kamu sedang membutuhkan uang ? "
" Saya memang sedang butuh uang, tapi saya bukan pencuri "
" Biasanya orang lain akan mengambil jika posisinya seperti kamu "
" Ya karena saya bukan orang lain "
Arven hanya mengangguk.
" Kemarin kenapa lo nangis ? "
Alena mencoba untuk terlihat santai
" Kenapa ? Ga boleh emang ? "
" Aneh aja "
Arven terdiam
" Kalau menurut lo menangis itu cuma untuk hal sedih, berarti lo belum pernah kehilangan seseorang "
" Kata siapa ? "
Alena menjeda ucapannya.
" Gue udah pernah kehilangan, gue kehilangan kedua orangtua gue secara bersamaan "
Arven tak berkomentar apapun.
" Lo udah makan belum ? "
" Udah, gue udah makan "
" Yakin ? Tapi perut lo bunyi kayaknya "
" Engga, jangan sok tau "
Arven hanya tersenyum
Arven meraih cangkir kopinya, namun Alena memperhatikan tangan Arven yang sedikit gemetar.
" Soal pesan lo semalam, lo bilang lo punya penawaran kan ? Penawaran apa ? "
Alena mencoba ke inti dari pesan Arven malam tadi
Arven tersenyum
kemudian ia mengeluarkan sebuah amplop coklatn dan memberikan kepada Alena.
" Apa ini ? " tanya Alena dengan raut wajah bingung
" Buka saja " jawab Arven
Alena pun terkejut saat melihat isi amplop tersebut.
Didalamnya berisi uang tunai puluhan juta.
Alena pun langsung mengembalikan amplop tersebut .
" Sorry gue ga jual diri " ucap Alana yang tersinggung
Arven hanya tersenyum
" Gue juga ga lagi membeli lo. "
Arven pun mulai menjelaskan mengenai tawaran malam tadi.
" Gue tau lo lagi butuh duit kan ? "
" Gue punya kerjaan buat lo, dan kalau lo setuju anggap aja ini Dp nya "
Alena pun semakin bingung
" Kerjaan apa dengan Dp sebanyak itu ? "
Alena pun merasa curiga dan waspada kepada Arven.
" Gue cuma mau lo bikin kesepakatan sama gue "
" Kesepakatan apa lagi ? jadinya kerja atau apasih ? "
Arven tersenyum singkat
" Dalam tiga puluh hari, gue mau lo bikin gue jatuh cinta sama lo "
" Kalau lo berhasil, semua masalah keuangan lo selesai "
" Kalau gagal, kita ga akan pernah ketemu lagi "
Alena tertawa..
Alena merasa jika Arven sedang bercanda, namun wajah Arven menunjukan sebaliknya
Wajah Arven nampak sangat serius.
" Gue tau lo itu banyak duit, lo itu orang kaya. Tapi lo ga bisa ngebeli apapun dengan uang lo itu "
" Lo aneh tau ga sumpah "
Alena berdiri dari duduknya
" Lo cari orang lain aja, gue ga butuh duit lo itu "
Lalu ia pun pergi meninggalkan Arven.
Alena tak percaya dengan apa yang ia dengar tadi.
" Mentang mentang banyak duit seenaknya " gumam Alena sendiri
Alena pun segera pulang kerumhnya, ia mencoba melupakan apa yang Arven tawarkan untuk dirinya.
Saat sampai dirumah Alena kembali mendapatkan pesan masuk dari adiknya.
[Dimas : Kak, sekolah cuma kasih watu satu dua hari untuk kaka bayar]
[Dimas : Kalau dua hari kaka ga bayar, Dimas ga bisa buat masuk sekolah lagi kak]
[Dimas : Tadi juga ada dua orang lagi datang ke rumah, dia marah-marah katanya kalau bulan ini kita ga bayar maka rumah ini akan disita kak ]
Rasanya kepala Alena ingin meledak saat ini juga.
Saat Alena masih syok dengan masalah yang ia hadapi saat ini, ponselnya berbunyi pesan masuk.
Pesan itu dari Arven, laki-laki yang ia temui tadi
[Arven : Kalau berubah pikiran, lo bisa hubungin gue]
[Arven : Atau lo mau liat adik lo putus sekolah?]
Alena menatap nomor Arven cukup lamaa.
Untuk pertama kalinya, tawaran gila itu tidak terdengar mustahil bagi Alena