NovelToon NovelToon
PACAR PALSU, JODOH ASLI

PACAR PALSU, JODOH ASLI

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Romansa / Perjodohan
Popularitas:954
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

Pacar Palsu, Jodoh Asli

Almira Valencia Pradipta, pewaris Pradipta Corporation, selalu menolak gagasan perjodohan. Baginya, cinta harus dipilih sendiri. Namun hidupnya berubah ketika ia terus-menerus dipertemukan dengan Reynard Arsenio Mahardika, pewaris Mahardika Holdings yang arogan, menyebalkan, dan selalu berhasil memancing emosinya. Lelah menghadapi tekanan keluarga dan gosip yang beredar, mereka sepakat berpura-pura menjadi pasangan agar semua orang berhenti ikut campur. Awalnya hanya sandiwara tanpa perasaan, tetapi semakin lama bersama, batas antara pura-pura dan kenyataan mulai menghilang. Saat benih cinta tumbuh, sebuah rahasia besar terungkap: keluarga mereka ternyata telah menjodohkan mereka sejak lahir. Kini Almira dan Reynard harus memilih, melawan takdir yang telah diatur atau mengikuti suara hati yang tak lagi bisa berbohong.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33. Pria yang Hadir di Pemakamannya Sendiri

Kalimat itu terus bergema di kepala Reynard.

"Aku sendiri yang menghadiri pemakamannya."

Untuk pertama kalinya sejak investigasi ini dimulai, ia melihat Arman Mahardika benar-benar kehilangan ketenangannya.

Bukan terkejut.

Bukan bingung.

Melainkan terguncang.

Dan itu jauh lebih mengkhawatirkan.

"Ayah yakin?"

tanya Reynard.

Arman tidak langsung menjawab.

Tatapannya masih tertuju pada foto yang dikirim Almira.

Foto yang menunjukkan sosok Raka Pranegara pada tahun 2004.

Empat tahun setelah kematiannya diumumkan.

"Aku tidak mungkin lupa."

kata Arman pelan.

"Raka adalah sahabatku."

Hening.

"Aku ikut mengangkat petinya."

Kalimat itu membuat suasana semakin berat.

Karena itu berarti Arman tidak hanya mendengar kabar kematian tersebut.

Ia benar-benar hadir.

Melihat semuanya sendiri.

Atau setidaknya berpikir bahwa ia melihat semuanya sendiri.

Ponsel Reynard kembali bergetar.

Kali ini panggilan masuk dari Almira.

Ia segera mengangkatnya.

"Reynard?"

suara Almira terdengar tegang.

"Kami menemukan sesuatu."

"Aku tahu. Aku sudah melihat fotonya."

"Bukan cuma itu."

Jantung Reynard langsung berdegup lebih cepat.

"Apa lagi?"

"Pemilik kafe mengenali nama Raka."

Hening.

"Apa?"

"Katanya pria itu pernah datang ke sini beberapa kali."

"Kapan?"

"Terakhir sekitar tiga tahun lalu."

Reynard langsung berdiri dari kursinya.

Tiga tahun lalu.

Bukan dua puluh tahun.

Bukan lima belas tahun.

Tiga tahun.

Artinya jika informasi itu benar...

Raka mungkin masih hidup sampai sekarang.

"Aku akan ke sana."

kata Reynard.

"Reynard—"

Namun ia sudah menutup telepon.

Dan menoleh ke arah ayahnya.

"Kita harus menemukan dia."

Arman tampak ragu.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Reynard merasa dirinya lebih yakin daripada sang ayah.

Karena Arman tidak hanya menghadapi misteri.

Ia menghadapi masa lalu.

Dan terkadang masa lalu jauh lebih menakutkan daripada masa depan.

Empat puluh menit kemudian.

Reynard tiba di kafe tempat Almira dan Dimas menunggu.

Begitu masuk, ia langsung menemukan mereka.

Almira sedang berdiri di dekat foto yang tergantung di dinding.

Entah kenapa, melihatnya di sana membuat ketegangan dalam dada Reynard sedikit berkurang.

Sangat sedikit.

Namun cukup untuk disadari.

"Kamu baik-baik saja?"

tanya Almira.

Pertanyaan itu keluar begitu alami hingga mereka berdua sama-sama terdiam sesaat.

Karena beberapa bulan lalu, tidak ada satu pun dari mereka yang akan mengajukan pertanyaan seperti itu.

"Aku baik."

jawab Reynard.

"Kamu?"

"Aku masih hidup."

"Itu bukan jawaban."

"Itu jawaban terbaik yang kumiliki."

Reynard tersenyum tipis.

Dan tanpa sadar, suasana yang tadinya tegang menjadi sedikit lebih ringan.

Dimas yang memperhatikan mereka hanya menggeleng pelan.

"Aku benar-benar merasa seperti figuran sekarang."

gumamnya.

Mereka segera menemui pemilik kafe.

Seorang pria tua bernama Pak Hasan.

Pak Hasan tampak bingung melihat tiga orang yang begitu tertarik pada foto lama di dindingnya.

"Jadi kalian mengenal Pak Raka?"

tanyanya.

Ketiga orang itu saling berpandangan.

"Sedikit."

jawab Dimas hati-hati.

Pak Hasan mengangguk.

"Orangnya baik."

"Kapan terakhir kali Anda bertemu dengannya?"

tanya Almira.

Pria tua itu berpikir beberapa saat.

"Mungkin tiga tahun lalu."

"Anda yakin?"

"Kurang lebih."

"Dia sering datang?"

"Tidak terlalu."

"Lalu kenapa Anda mengingatnya?"

Pak Hasan tersenyum kecil.

"Karena dia selalu duduk di meja yang sama."

Ia menunjuk meja di dekat jendela.

"Dan selalu memesan kopi hitam tanpa gula."

Reynard memperhatikan meja tersebut.

Entah kenapa, detail kecil itu terasa penting.

Karena seseorang yang memiliki kebiasaan tetap biasanya memiliki alasan.

"Dia pernah mengatakan sesuatu?"

tanya Reynard.

Pak Hasan kembali berpikir.

Lama.

Kemudian wajahnya berubah.

Seolah mengingat sesuatu yang terlupakan.

"Ada satu hal."

katanya.

Ketiganya langsung fokus.

"Apa?"

"Suatu hari dia berkata..."

Pak Hasan berhenti sejenak.

"...kalau suatu saat ada dua anak muda yang mencarinya, aku harus memberikan sesuatu."

Ruangan mendadak sunyi.

Almira dan Reynard saling menatap.

Dua anak muda.

Itu terlalu spesifik untuk diabaikan.

"Sesuatu?"

tanya Almira.

Pak Hasan mengangguk.

Kemudian berjalan menuju belakang meja kasir.

Ia membuka sebuah laci tua.

Mengambil sebuah amplop cokelat yang sudah menguning.

Lalu meletakkannya di atas meja.

"Saya tidak pernah membukanya."

katanya.

"Dia bilang ini hanya boleh diberikan kepada dua pewaris."

Jantung Almira dan Reynard langsung berdetak lebih cepat.

Dua pewaris.

Tidak perlu menjadi jenius untuk memahami siapa yang dimaksud.

Dengan tangan sedikit gemetar, Reynard membuka amplop tersebut.

Di dalamnya hanya ada dua benda.

Sebuah foto.

Dan secarik kertas.

Foto itu langsung membuat ketiganya membeku.

Karena foto tersebut memperlihatkan sembilan orang berdiri bersama.

Foto yang jauh lebih tua dibanding yang mereka miliki sebelumnya.

Kemungkinan diambil saat Aurora baru didirikan.

Namun ada satu hal yang berbeda.

Untuk pertama kalinya mereka melihat seluruh pendiri Aurora.

Kesembilan orang itu berdiri berdampingan.

Dan di bagian belakang foto terdapat nama masing-masing.

Arman Mahardika.

Pradipta Valencia.

Fajar Wiratama.

Raka Pranegara.

Aldebaran.

Dan empat nama lainnya.

Namun perhatian Almira tertuju pada sesuatu yang lain.

Salah satu wajah tampak sangat familiar.

Terlalu familiar.

Ia pernah melihat wajah itu.

Belum lama ini.

Sangat baru.

Jantungnya langsung berdebar.

"Dimas..."

bisiknya.

"Aku tahu."

jawab Dimas pelan.

Karena ia juga mengenal wajah itu.

Wajah yang seharusnya tidak ada di foto berusia dua puluh tahun tersebut.

Karena wajah itu milik seseorang yang masih aktif hingga sekarang.

Seseorang yang mereka kenal.

"Apa yang terjadi?"

tanya Reynard.

Almira menunjukkan foto itu.

Dan beberapa detik kemudian, wajah Reynard ikut berubah.

Karena ia akhirnya menyadari hal yang sama.

Salah satu pendiri Aurora memiliki wajah yang hampir identik dengan seseorang yang mereka temui beberapa minggu lalu.

Bukan mirip sedikit.

Hampir identik.

"Mungkin anaknya."

kata Dimas.

"Atau cucunya."

"Tidak."

gumam Almira.

"Ini terlalu mirip."

Keheningan turun.

Karena mereka semua memikirkan kemungkinan yang sama.

Kemungkinan yang sangat tidak nyaman.

Bahwa seseorang yang mereka percayai mungkin memiliki hubungan langsung dengan Aurora.

Reynard kemudian mengambil secarik kertas yang berada di dalam amplop.

Tulisan tangan tua memenuhi permukaannya.

Tulisan yang jelas dibuat oleh Raka.

Ia mulai membacanya.

Dan setiap kalimat membuat suasana semakin tegang.

Jika kalian membaca surat ini, berarti aku gagal menghentikan mereka.

Almira langsung merasakan bulu kuduknya berdiri.

Kalian mungkin mengenal Aurora sebagai organisasi.

Tapi itu bukan kebenaran.

Reynard melanjutkan membaca.

Aurora bukan organisasi.

Aurora adalah perang.

Tidak ada yang berbicara.

Perang antara mereka yang ingin mengendalikan masa depan...

dan mereka yang ingin membebaskannya.

Dimas perlahan menelan ludah.

Karena surat itu terdengar jauh lebih besar daripada yang mereka bayangkan.

Namun bagian berikutnya jauh lebih mengerikan.

Jika Aldebaran masih hidup, maka permainan belum berakhir.

Tapi jika kalian menemukan nama "Orion", larilah.

Reynard berhenti membaca.

Hening.

"Orion?"

bisik Almira.

Tidak ada yang tahu.

Tidak ada yang mengerti.

Namun mereka semua merasakan hal yang sama.

Nama itu penting.

Sangat penting.

Dan mungkin jauh lebih berbahaya daripada Aldebaran sendiri.

Di bagian paling bawah surat terdapat satu kalimat terakhir.

Kalimat yang membuat seluruh darah dalam tubuh mereka terasa dingin.

Jangan percaya siapa pun yang terlalu dekat dengan kalian.

Karena Orion sudah berada di antara kalian sejak awal.

Keheningan langsung memenuhi kafe.

Tak satu pun dari mereka bergerak.

Karena untuk pertama kalinya...

misteri itu tidak lagi berada di luar.

Mungkin selama ini misteri itu berjalan bersama mereka.

Tersenyum kepada mereka.

Berbicara dengan mereka.

Dan menunggu saat yang tepat untuk menghancurkan semuanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!