Menjadi istri kedua tidak semudah mengucapkannya. Pada kenyataannya istri kedua harus punya kesabaran dan ketekunan lebih untuk menghadapi dunia.
Begitu pula dengan Winda, terlebih dengan status janda yang disandangnya tak luput dari sorot kebencian. Sebutan pelakor dan perusak rumah tangga orang seolah melekat pada dirinya, sejak ia memutuskan menikah dengan Detta, laki-laki yang telah beristri.
Namun Winda harus tetap bertahan demi anak yang didapat dari pernikahannya dengan Detta. Tetapi jika cacian dan cemoohan berpengaruh pada tubuh kembang anaknya, apa yang harus Winda lakukan? Haruskah ia bertahan? Ataukah ia justru menyerah dan mengakhiri semuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusiana Anwar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Kiriman paket
Tiga tahun berlalu, sejak kejadian pembuly an di sekolah Zara. Saat itu Zara, meminta di pindahkan ke sekolah lain, namun pihak sekolah memohon agar Zara tetap bersekolah di sana.
Namun, Zara tetap ingin pindah. Ia takut jika hal yang sama kembali terjadi. Meski tidak tersakiti secara fisik, namun psikis Zara, sedikit terganggu. Ia menjadi lebih pendiam dan jarang berinteraksi dengan orang lain. Oleh karena itu, pihak sekolah menyarankan akan mengajari Zara secara pribadi di rumah. Ide itu tentunya langsung di setujui oleh Winda. Sebab ia sangat merasakan perubahan sikap Zara, sejak kejadian itu.
Tiga tahun berlalu, kini Zara, menjadi sosok yang gadis remaja yang cantik. Sejak masuk SMA, Zara meminta untuk kembali bersekolah bergabung bersama teman-teman yang lain.
Namun ternyata, di sekolah barunya tidak berbeda jauh dengan sekolah yang lama. Perkataan yang tidak mengenakkan masih sering terdengar oleh telinganya. Tetapi kali ini ia bisa lebih dewasa dalam menyikapi perkataan-perkataan itu.
"Sebenarnya, Mama itu, nikah dengan orang seperti apa sih?" Tanya Zara heran. Ia tak pernah mengatakan pada siapapun bahwa, ibunya menjadi istri kedua. Dan teman dari sekolah lama, juga tidak ada yang satu sekolah dengannya. " Heran saja, dari mana mereka tahu Mama menikahi suami orang."
Winda tersenyum, lalu mengusap bahu Zara. "Biarkan saja, mereka berkata sesuka mereka. Toh pada kenyataannya Mama memang hanya istri kedua." Winda menenangkan Zara, dengan menunjukkan status yang sebenarnya.
"Iya, Zara, bisa mengerti. Tapi istri kedua itu belum tentu pelakor kan Mah?" Zara mengungkapkan ke tidak setujuan pada persepsi yang sering mampir di telinganya.
"Bisa iya, bisa juga tidak." Winda tersenyum.
Sementara Zara, langsung mengerutkan dahi menatap ibunya. "Termasuk Mama?"
"Kamu percaya kan sama Mama?" Winda menatap Zara.
Zara mengangguk dan langsung memeluk ibunya.
***
"Antar ini, ke rumah wanita sia lan itu!" Mesya memberikan sebuah kotak kepada seseorang yang berpakaian persis seperti seorang kurir sebuah ekspedisi berwarna biru, merah dan putih.
Orang itu mengangguk dan langsung pergi menuju alamat yang di berikan oleh Mesya.
"Paket!" Teriak orang itu, saat berada di depan pagar rumah Winda.
Mira, yang saat itu sedang menyapu di halaman, langsung menghampiri dan menerima kotak paket yang di bawa oleh kurir tersebut.
"Bu, ada paket." Mira membawa paket itu untuk di berikan pada Winda.
"Paket? Punya siapa?" Dahi Winda, berkerut. Sebab ia tak merasa memesan sesuatu melalui online.
"Tidak tahu Bu, nama penerimanya Ibu." Kata Mira mengedikkan bahu.
"Mungkin punya Zara," gumam winda, kemudian berjalan menuju kamar Zara dengan membawa paket tersebut.
Namun, Zara sedang tidak berada di kamarnya. Winda menghela napas lalu menutup pintu kamar Zara, dan membawa paket itu kembali ke kamarnya.
Winda, meletakkan paket itu di atas meja riasnya. Ia sudah berbalik akan pergi, tetapi paket itu seolah menahannya dan memohon agar Winda membuka.
"Dari siapa sih?" Winda melihat nama pengirimnya. Namun tidak ada satu keterangan pun siapa pengirimnya. "Mungkin paket nyasar. Tapi, alamatnya benar." Dahi Winda berkerut dan alis bertaut. Merasa ada kejanggalan pada paket itu.
Winda mambolak-balikkan paket tersebut, sebelum akhirnya memutuskan untuk membukanya.
Winda merobeknya plastik hitam pembungkus paket tersebut dan langsung mendapati kardus berwarna cokelat polos. Perlahan namun pasti, tangannya menarik pengait kardus.
Sejurus kemudian, mata Winda terbelalak. Lalu menjerit dan langsung melemparkan kardus itu hingga menghantam sisi tembok.
"Ada apa Bu?" Mira, langsung berlari masuk ke kamar Winda, saat mendengar teriakkan dari kamar Winda.
Winda tak menjawab, sebab masih berusaha menenangkan dada yang berdebar karena terkejut.
Tidak hanya Winda, bahkan Mira pun sama terkejutnya dengan Winda. Ia langsung menutup mulut dengan ekspresi wajah terkejut saat melihat sebuah boneka tergeletak di lantai dengan ikatan kuat di lehernya.
"Apa ini Bu," Mira menatap Winda penuh tanya.
Namun Winda, hanya menjawabnya dengan gelengan kepala. Sementara matanya terpejam dan sebelah tangan memegang dada.
Dengan bantuan scurity, akhirnya boneka itu bisa di singkirkan dari kamar Winda. Lalu Winda berpesan pada Mira dan scurity rumahnya, untuk berhati-hati jika ada lagi kirim yang datang ke rumahnya.
Beberapa hari berlalu sejak teror boneka, rumah kembali tenang. Keadaan terlihat biasa dan sama seperti sebelum teror paket itu datang.
Detta sama sekali tidak mengetahui tentang teror paket itu, sebab Winda melarang untuk memberi tahukan pada Detta.
Namun, hari ini, Winda justru mendapat teror melalui sebuah chat dari sebuah aplikasi berwarna hijau.
Pergi, atau mati!
Pesan pertama yang masuk dalam dalam aplikasinya chat milik Winda.
Namun Winda mengabaikan pesan tersebut. Ia menganggapnya sebagai nomor nyasar yang tak sengaja terkirim ke nomornya.
Jika ingin hidup damai, pergi lah yang jauh!
Namun, pesan kedua kembali masuk. Kali ini menggunakan nomor yang berbeda. Saat itu, Winda langsung membalas pesan itu, mengatakan bahwa orang itu salah nomor. Tetapi balasan darinya hanya bercetang satu.
Hingga tengah malam, sudah puluhan kali chat yang masuk ke nomornya. Semua pesan itu di kirim dari nomor yang berada.
Prang!
Winda langsung terjingkat saat mendengar suara hantaman keras dari pagar rumah. Namun, ia tak berani keluar dan hanya mengintip dari jendela kamarnya.
Semenjak kejadian teror chat di handphone dan hantam keras di pagar rumah, perasaan Winda menjadi tidak tenang dan selalu was-was.
"Beberapa hari ini, aku sering mendapat teror." Winda menceritakan, pada Detta tentang yang terjadi padanya saat Detta bermalam di rumahnya.
"Teror apa?" tanya Detta tanpa menatap Winda. Ia masih sibuk menatap buku di tangannya.
"Pertama, peket boneka yang lehernya di ikat kuat. Lalu beberapa hari terakhir puluhan chat yang memintaku pergi jauh." Winda menceritakan pada Detta dengan mata menerawang mengingat-ingat semua kejadian yang terjadi padanya.
Namun, Detta justeru menghela napas panjang, seolah tak percaya dengan apa yang di ceritakan oleh Winda.
"Apa mungkin ini perbuatan Mesya?" kata Winda hati-hati.
Dan benar saja, Detta langsung menutup bukunya dan menatap marah pada Winda.
"Denger ya! Aku nggak suka kamu melibatkan Mesya dalam masalah kamu!" sahut Detta dengan nada meninggi.
"Siapa yang nyalahin Mesya? Aku cuma tanya, apa mungkin kejadian ini ada hubungannya dengan Mesya, itu saja."
"Itu sama saja kamu nuduh Mesya yang melakukan." Detta tak terima jika Winda melibatkan istrinya dalam hal yang menurutnya tidak penting.
"Dengar Winda, Mesya, wanita terpelajar. Dia tidak mungkin melakukan hal murahan seperti itu." Terang Detta dengan nada penuh emosional. "Lagi pula, apa motif Mesya melakukan itu?"
Winda tersenyum sinis, kemudian menegakkan tubuhnya menatap Detta. "Tidak ada motif lain, kecuali cemburu."
Jangan lupa likenya 🤗
...----------------...
Baca juga cerita keren satu ini 👇
dimana² menang 😂