*** (Disarankan membaca cerita sebelumnya)
Sekuel CINTA UNTUK ARUNA
Gloria, wanita 24 tahun, yang harus menerima kepahitan hidup sejak orang tuanya meninggal dunia. Sering dijadikan suaminya sendiri sebagai wanita penghibur hanya demi uang.
Pertemuannya dengan seorang Richardo, pria 26 tahun, membuat hidupnya berubah. Tak hanya memperlakukannya dengan baik, memberinya perhatian, Richardo bahkan berani menantang badai hanya demi mendapatkan cintanya.
Bagaimanakah kisah Richardo dan Gloria selanjutnya? Akankah Richardo mampu menaklukkan wanita yang sudah menyandang status istri orang tersebut?
Ikuti kisah selengkapnya di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Ide Gila Leona
Bab 10. Ide Gila Leona
Dengan sangat hati-hati Gloria menaruh secangkir kopi yang masih mengepulkan asap itu di depan Ardo. Setelah itu ia menundukkan wajahnya, menunggu jikalau kopi buatannya lagi-lagi tidak sesuai dengan selera Ardo.
Ia menunggu dengan hati berdebar-debar saat Ardo mulai menyesap kopi itu. Pria itu terlihat santai. Bahkan setelah menyesap kopinya, ia menaruh kembali ke tatakannya tanpa reaksi ataupun ekspresi apapun. Pria itu terlihat biasa-biasa saja.
Apa itu artinya ia tidak salah membuat kopi?
Apa itu artinya kopi buatannya sudah seperti selera pria itu?
"Untuk kejadian kemarin, kamu tidak perlu merasa canggung bertemu denganku," ucap Ardo memecah hening dan suasana yang memang terasa canggung bagi Gloria.
Gloria masih saja menunduk meski kini Ardo tengah menatapnya lekat.
Jujur saja, Ardo begitu penasaran dengan kehidupan pribadi Gloria. Jika ia bertanya lebih, ia hanya tak enak hati bila sampai menyinggung perasaan Gloria. Dan lagi, hal itu sangat tak beretika meskipun Gloria adalah bawahannya. Ia tak berhak mengetahui kehidupan pribadi bawahannya.
"Jujur, aku tidak punya niatan apapun kemarin, selain hanya untuk membantumu saja," sambungnya.
Kini Gloria mengangkat wajahnya, berani membalas tatapan Ardo. Yang jujur saja, membuat sekujur tubuhnya serasa membeku. Tatapan dingin itu seakan mengandung magis. Hingga membuatnya pun kehilangan seribu bahasa dalam sekejap.
"Aku tidak tahu apa yang memotivasi kamu sampai kamu berani mengambil pekerjaan itu. Tapi, yang perlu kamu tahu, pekerjaan seperti itu sebenarnya juga berbahaya. Selain bisa menularkan penyakit berbahaya, juga ada resiko lain yang harus kamu tanggung," sambungnya lagi. Yang sukses membuat rasa malu dalam diri Gloria semakin membukit.
Serasa Gloria telah kehilangan muka di depan Ardo saat ini. Serasa harga dirinya sebagai seorang wanita dipertanyakan kini. Dan lagi-lagi Gloria hanya bisa menundukkan wajahnya kembali sedalam-dalamnya.
Suasana pun terasa semakin canggung, bahkan mencekam. Serasa saat ini ia sedang berdiri di tengah kerumunan orang yang menghakiminya bahkan menghinanya habis-habisan. Gloria hanya bisa menelan ludah yang mendadak terasa begitu sulit melewati tenggorokan.
"Tidak perlu merasa malu padaku. Aku bisa memaklumi, walaupun aku tidak tahu apa yang memotivasimu," ucap Ardo lagi yang membuat Gloria semakin tak bisa mengangkat wajahnya. Lagipula untuk apa ia memperlihatkan wajahnya yang memalukan ini.
Ardo masih menatap Gloria dengan sejumlah tanya yang memenuhi benaknya. Dari sejak pertama bertemu, wanita itu sudah merebut perhatiannya. Bukan hanya karena wajah cantiknya, tetapi karena sikap wanita itu yang begitu dingin. Bahkan di beberapa kesempatan ia sering mendapati wanita itu terlihat murung.
Hingga saat mereka bertemu di Club malam kemarin, semakin membuatnya ingin tahu lebih tentang wanita itu.
Gloria sangat berbeda dari wanita-wanita yang pernah ia temui. Malam itu, sangat jelas ia melihat ketakutan dalam diri Gloria yang diperlihatkan melalui gelagatnya. Wanita itu tampak gugup, gemetaran, bahkan berkeringat dingin.
Hingga ia mencoba mengambil kesimpulan, bahwa Gloria mungkin melakukannya karena terpaksa. Terlebih lagi jika dilihat dari cara Bary memperlakukan Gloria. Bary adalah pemilik Club tempat Gloria bekerja paruh waktu. Bisa saja Gloria mendapat ancaman dari Bary.
Tetapi mengapa?
"Maaf, Pak. Jika sudah tidak ada lagi yang Anda butuhkan, bolehkah saya kembali ke tempat saya?" pinta Gloria yang merasa kian dipermalukan. Entah apa pula sebabnya hingga Ardo membahas tentang hal ini dengannya. Bukankah hal ini adalah privasinya? Meskipun Ardo adalah atasannya, tetapi bukan hak Ardo memasuki ranah pribadinya.
Gloria memutar tubuhnya segera tanpa menunggu Ardo mengiyakan. Namun langkahnya terhenti saat seorang gadis cantik masuk ke ruangan Ardo tanpa permisi.
Leona
"Hai, Gloria," sapa Leona.
Gloria menyunggingkan senyumnya. "Hai." Kemudian bergegas mengayunkan langkah kakinya.
"Eh, Glori. Mau ke mana? Kita ngobrol dulu sebentar," cegah Leona. Namun Gloria tetap melangkahkan kakinya keluar ruangan itu setelah sempat membalas ucapan Leona.
"Maaf, lain kali saja ya. Aku masih banyak pekerjaan," ucap Gloria sebelum akhirnya benar-benar keluar dari ruangan Ardo. Lagipula, untuk apa ia berlama-lama berada di dalam ruangan Ardo yang membuat rasa malunya terhadap pria itu kian menggunung.
Ardo hanya bisa menatap punggung Gloria sampai wanita itu kembali ke kubikelnya, menyibukkan diri di depan layar komputer. Pandangan Ardo masih senantiasa memandangi Gloria. Jujur, entah mengapa hatinya selalu resah bila berada di dekat Gloria.
Wanita itu selalu saja menyisakan tanya di setiap akhir perjumpaan. Membuatnya kian merasa penasaran dan ingin bertemu lagi, dan lagi.
"Kak Ardo sedang melihat apa sih?" Leona mengikuti arah pandangan Ardo yang tertuju pada deretan kubikel paling ujung. Kubikel yang ditempati Gloria.
"Kak Ardo sedang melihat Gloria ya?" goda Leona sembari mengambil duduk di depan meja Ardo. Tas branded nya ia letakkan diatas meja itu.
"Sembarangan kamu." Ardo mengalihkan pandangannya segera. Ia terlihat salah tingkah.
Melihat tingkah Ardo seperti itu, Leona tersenyum-senyum. Ia tahu kemana arah pandangan Ardo tertuju beberapa detik lalu.
"Dia itu teman sekelasku sewaktu SMA Kak Ardo," goda Leona yang mengerti arti tatapan Ardo.
"Memang siapa yang nanya?" elak Ardo, yang sebetulnya ia ingin Leona bercerita banyak tentang Gloria. Tetapi gengsi mendominasi. Hingga lidah pun terkunci dengan sendirinya.
"Setahu aku dia itu anak orang berada. Melihat dia bekerja di tempat ini, aku sedikit tak percaya," sambung Leona. Ardo langsung memasang wajah serius dalam menyimak penuturan Leona.
"Dulu kita berdua memang pernah sekelas, tapi tidak terlalu akrab. Dia orangnya pendiam sih."
"Oh ya?" Ardo semakin penasaran. Membuat Leona pun semakin bersemangat untuk menggoda kakak sepupunya itu.
"Setahu aku Kak, dia itu anak orang mampu. Tapi kok dia malah bekerja di tempat ini? Apa orang tuanya bangkrut?" Leona mengernyit sembari melayangkan pandangannya kepada Gloria. Diikuti oleh Ardo, yang juga melayangkan pandangannya kepada wanita itu.
Jujur saja, Gloria membuat Ardo ingin sekali mengetahui kehidupan pribadinya. Entah persoalan apa yang dimiliki wanita itu hingga dia terjerumus ke dalam dunia yang penuh resiko.
Bukannya merasa ilfill ataupun bermaksud merendahkan Gloria. Tetapi ia justru merasa iba. Apakah gajinya di perusahaan ini tidak mencukupi kebutuhan hidupnya, hingga ia memilih mengambil pekerjaan sampingan beresiko seperti itu.
"Kak," Leona beralih menatap Ardo. Yang lagi-lagi kepergok sedang memandangi Gloria.
"Kak Ardo," sentak Leona lantaran Ardo tak menggubris panggilannya. Pria itu terlalu serius memandangi Gloria di seberang sana.
Hingga Leona memukul meja sampai Ardo tersentak. Lalu berpaling kepadanya cepat. Tampang lucu Ardo pun membuat Leona tergelak.
"Ayo, Kak Ardo ketahuan lagi mandangin Gloria ya?" Godaan Leona membuat Ardo salah tingkah.
"Sembarangan kamu. Jangan asal nuduh. Memangnya tidak boleh memandangi bawahan?"
"Kak Ardo naksir ya?" Leona memicing menatap Ardo dengan senyuman menggoda.
Dan lagi-lagi Ardo malah salah tingkah saat Leona menggodanya.
"Naksir katamu? Sama wanita itu? Jangan asal ngomong. Bukan tipeku." Entah ia jujur atau tidak. Namun hatinya berdebar-debar saat mendengar kata 'naksir'.
Leona semakin tersenyum lebar. Sebab gelagat Ardo berbeda dengan kalimat yang terucap dari mulutnya. Tatapan Ardo yang berbeda serta gelagatnya yang salah tingkah saja itu sudah merupakan ciri-ciri naksir seseorang. Hanya saja, mungkin Ardo gengsi. Atau berusaha menyangkal, membohongi diri sendiri, lantaran Gloria adalah bawahannya.
"Kak Ardo jangan suka bohong deh. Setiap ada perempuan yang dekat dengan Kak Ardo, belum pernah Kak Ardo salah tingkah seperti ini. Padahal aku hanya menebak saja. Bahkan cara Kak Ardo menatapnya itu berbeda," goda Leona lagi. Membuat Ardo semakin menyangkal ucapan sepupunya itu.
"Jangan terlalu banyak berteori. Kamu itu selalu suka sembarangan ngomong. Sudah sana, jangan suka mengganggu. Aku ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan."
"Eh, Kak, mau tidak aku bantu?"
"Bantu apa? Jangan macam-macam kamu."
"Tidak akan macam-macam kok Kak. Aku hanya mau menawarkan bantuan untuk mendekatkan Kak Ardo dengan Gloria. Gimana? Mau tidak?"
Ardo terkekeh. Sungguh lucu, seorang Richardo harus meminta bantuan adiknya untuk bisa dekat dengan perempuan. Kalau urusan perempuan, ia lah ahlinya.
"Wanita seperti Gloria itu sangat mudah aku dapatkan. Aku tidak butuh bantuan kamu," Ardo sedikit menyombongkan diri. Tentu saja ia tak ingin dipandang remeh oleh adik sepupunya itu.
"Iya, aku tahu. Kalau soal perempuan, Kak Ardo ahlinya. Tapi Gloria berbeda Kak."
"Berbeda gimana?" Meski sering mengelak, bahkan menyangkal, tetapi untuk rasa penasarannya tak bisa ia menutupinya.
"Gloria orangnya rada-rada pendiam kan? Dia itu, setahu aku jarang terlihat dekat dengan laki-laki. Jadi intinya, dia itu susah didekati. Nah, aku cuma mau menantang Kak Ardo. Kita taruhan, gimana?" Timbul ide aneh dalam benak Leona tiba-tiba. Ia hanya ingin menantang jiwa penakluk Ardo yang selalu saja bisa menaklukkan wanita manapun yang ia inginkan.
"Taruhan? Taruhan apa maksud kamu?" Ardo memicing curiga.
"Aku menantang Kak Ardo untuk menaklukkan Gloria."
"Itu taruhannya?"
Leona mengangguk cepat.
"Kalau aku menang taruhan, apa yang aku dapat darimu?"
"Aku akan mengabulkan permintaan Kak Ardo."
Ardo menarik satu sudut bibirnya. Sudah lama, sedari kecil ia sangat ingin mengerjai Leona. Begitu Leona mengajaknya taruhan, dengan imbalan Leona akan mengabulkan permintaannya, ia pun merasa tertantang.
Apalagi tantangannya hanya untuk menaklukkan seorang wanita. Yang baginya sangat mudah ia lakukan. Sebab, tidak seorang wanita pun bisa menghindari pesona seorang Richardo Anggara.
"Oke. Kalau begitu, aku mau, di hari ulang tahunku nanti, kamu harus memakai kostum Mickey Mouse. Gimana?" Ardo balas menantang Leona.
"Oke. Aku setuju. Tapi, itu pun kalau Kak Ardo berhasil mendekati Gloria. Deal?" Leona mengulurkan tangannya sebagai tanda kesepakatan. Yang disambut Ardo dengan seringai tipis di wajahnya.
"Jangan mundur ya Kak. Kita sudah sepakat. Aku beritahu satu rahasia Gloria padamu." Leona mendekatkan wajahnya dengan seringai menggoda. Lalu setengah berbisik ia berkata,
"Gloria itu sudah menikah. Jadi tantanganmu adalah menaklukkan wanita yang sudah bersuami."
"APA?" Ardo terkejut bukan kepalang. Ingin protes dan membatalkan kesepakatan terlambat sudah. Leona telah menghilang dibalik pintu ruangannya yang menutup.
Ardo mende sah tak percaya sembari melayangkan pandangannya pada Gloria yang pun tanpa sengaja memandang ke arahnya. Dan anehnya hatinya malah berdebar-debar.
Akankah ia mampu menaklukkan wanita itu?
Bersambung
jangn lupa berkunjung ya