NovelToon NovelToon
Suamiku Musuh Bebuyutanku

Suamiku Musuh Bebuyutanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Bad Boy
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Initial Be

Di SMA Nusantara, Kirei dan Arka adalah dua kutub yang tak pernah bisa bersatu. Kirei—ketua OSIS yang disiplin—membenci Arka, bad boy bertato temporer yang langganan mendapat surat teguran guru. Bagi murid lain, permusuhan sengit mereka di koridor sekolah adalah pemandangan biasa.

Namun, di balik seragam abu-abu yang mereka kenakan, ada rahasia besar yang tersembunyi. Demi janji keluarga dan menyelamatkan bisnis, Kirei dan Arka terpaksa menandatangani surat pernikahan rahasia di usia muda. Kini, dua musuh abadi ini harus tinggal di bawah satu atap yang sama dengan aturan ketat: tak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu hubungan mereka. Permusuhan, rahasia, dan kepura-puraan baru saja dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31

Seminggu berlalu dengan cepat, membawa hembusan angin sejuk yang menandai berakhirnya masa-masa putih abu-abu di SMA Nusantara. Aula besar sekolah disulap menjadi tempat perayaan yang megah. Buquet bunga, dekorasi lampu kristal, dan alunan musik instrumental lembut memenuhi sudut ruangan.

Di ruang ganti panitia yang sedikit sepi, Kirei berdiri di depan cermin besar. Balutan kebaya modern berwarna biru keemasan dipadu kain batik membuat penampilannya nampak amat anggun. Rambutnya disanggul rapi dengan beberapa helai rambut dibiarkan jatuh lembut menyentuh lehernya.

"Bu Ketua..."

Suara berat yang familiar mengetuk pendengarannya. Kirei menoleh melalui pantulan cermin dan mendapati Arka melangkah masuk.

Arka mengenakan setelan jas hitam fitted yang melekat sempurna di tubuh tegapnya. Dasi biru yang senada dengan warna kebaya Kirei terpasang rapi di kerahnya. Ketampanan cowok itu mendadak membuat Kirei lupa cara bernapas sejenak.

Arka berjalan mendekat, menghentikan langkah tepat di belakang Kirei. Matanya yang pekat terkunci pada pantulan wajah istrinya di cermin.

"Lo cantik banget hari ini, Kirei," bisik Arka rendah, menyunggingkan senyum hangat.

Pipi Kirei langsung memerah merona. "L-lo juga... kelihatan beda kalau gak pakai seragam berantakan."

Arka terkekeh rendah. Tangan tegapnya terulur, mengambil kotak beludru kecil di saku jasnya. Saat kotak itu dibuka, sebuah liontin perak berbentuk bintang kecil berkilau lembut di bawah cahaya lampu.

"Ini apa, Arka?" tanya Kirei heran.

Arka tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mengambil kalung itu, memiringkan kepala Kirei sedikit, lalu melingkarkan kalung tersebut di leher halus Kirei. Sentuhan hangat jemari Arka di tengkuknya membuat pendar listrik halus menyengat dada Kirei.

"Hadiah kelulusan... sekaligus simbol kalau lo bakal selalu jadi bintang penunjuk jalan buat gue," bisik Arka tepat di dekat telinga Kirei, membuat napas Kirei tertahan.

Kirei menyentuh liontin dingin itu di dadanya, lalu berbalik menghadap Arka. Matanya berbinar haru. "Makasih, Arka. Gue suka banget."

Arka memajukan tubuhnya, mendaratkan kecupan hangat di dahi Kirei cukup lama, menyalurkan seluruh ketulusan dan cinta yang ia simpan. Saat ia mengurai pelukannya, Arka menggenggam tangan Kirei rapat-rapat.

"Acara pengumuman lulusan terbaik sebentar lagi mulai. Yuk," ajak Arka.

Pukul 10.00 WIB.

Aula sekolah riuh oleh tepuk tangan ratusan wali murid dan siswa. Di jajaran kursi depan, Tuan Wijaya duduk didampingi Farhan dan beberapa pengurus OSIS, tersenyum bangga menyaksikan cucu kesayangannya berdiri di podium utama.

"Dan peraih predikat Lulusan Terbaik SMA Nusantara tahun ini... jatuh kepada KIREI WIJAYA!" seru Kepala Sekolah melalui mik.

Tepuk tangan bergemuruh hebat. Kirei melangkah maju menerima piagam penghargaan. Di barisan depan murid, Arka menatapnya dengan senyum miring yang penuh kebanggaan, bersedekap dada.

Namun, di tengah kemeriahan itu, ponsel Arka di dalam saku jasnya bergetar kencang. Tiga kali berturut-turut.

Arka merogoh ponselnya, menggeser layar. Sebuah pesan dari saluran rahasia Farhan masuk:

Farhan: [Ka, gawat! Sistem penerangan aula dan proyektor utama baru saja di-hack dari server luar! Seseorang memasang file otomatis yang bakal tayang pas sambutan Kirei lima menit lagi!]

Darah Arka mendadak berdesir dingin. File otomatis?

Arka mengangkat pandangannya cepat ke arah panggung. Kirei sudah berdiri di depan podium mik, siap memberikan pidato sambutan lulusan terbaik. Di belakang panggung, layar proyektor raksasa berukuran delapan meter mulai berkedip-kedip aneh.

BZZZZT!

Lampu utama aula mendadak mati total! Kegelapan menyelimuti ruangan, memicu jeritan kaget dari beberapa wali murid dan siswa.

Hanya layar proyektor raksasa di belakang Kirei yang mendadak menyala terang dengan warna merah membara. Sebuah timer hitung mundur lima puluh detik muncul di layar besar tersebut, disertai garis judul tebal bertuliskan:

"RAHASIA KELUARGA WIJAYA: SKANDAL PERNIKAHAN BAWAH UMUR KETUA OSIS KIREI WIJAYA & ARKA."

Gumam kaget dan kasak-kusuk langsung meledak di dalam aula yang gelap!

"Apa-apaan itu?!" "Pernikahan rahasia?" "Kirei Wijaya sudah menikah?!"

Kirei berdiri membeku di depan podium, sorot lampu proyektor merah menerpa wajah cantiknya yang mendadak pucat pasi. Jemarinya yang memegang mikrofon bergetar hebat. Ancaman yang ia kira sudah berakhir ternyata kini dieksekusi tepat di momen puncaknya!

Tuan Wijaya di kursi depan terperanjat, memegang dadanya yang mendadak sesak. "Kirei..."

Di tengah kekacauan dan bisik-bisik yang kian liar, Arka tidak buang waktu. Tanpa ragu, cowok itu melompati pembatas area tamu dan berlari kencang menuju panggung utama!

"Timer-nya tinggal 20 detik, Arka!" teriak Farhan dari arah panel listrik samping. "Gue gak bisa matikan daya proyektor dari sini, jalurnya dikunci enkripsi!"

15 detik... 14 detik...

Layar proyektor mulai menampilkan draf foto-foto pernikahan rahasia Kirei dan Arka di rumah sakit yang perlahan makin jelas dari buram.

10 detik...

Arka tiba di panggung. Tanpa memedulikan tatapan ratusan pasang mata yang panik, Arka menerobos langsung ke belakang panggung, menghampiri panel kabel utama proyektor.

5 detik...

Foto pernikahan Kirei sudah tampak 90% jelas di layar raksasa!

"Arka!" jerit Kirei panik.

4 detik... 3 detik...

Arka menyambar sebuah tongkat besi dekorasi panggung di dekatnya, lalu dengan sekuat tenaga menghantamkan besi itu tepat ke pemancar kabel serat optik utama proyektor!

PRANG! DUUAR!

Percikan api membumbung tinggi dari kabel yang putus. Layar proyektor raksasa itu bergetar hebat sebelum akhirnya mati total dan menjadi gelap gulita!

Suasana aula mendadak hening mencengkeram.

Arka melempar tongkat besi itu ke lantai, dadanya naik turun memburu. Ia melangkah keluar dari balik bayangan panggung, berjalan lurus mendekati Kirei yang masih terpaku di depan podium.

Di tengah kegelapan aula yang hanya diterangi lampu darurat, Arka merengkuh pinggang Kirei, menarik cewek itu ke dalam pelukannya di depan seluruh murid, guru, dan wali murid!

Arka menyambar mikrofon podium di tangan Kirei, lalu berbalik menatap seluruh hadirin dengan pandangan mata yang begitu dingin, tajam, dan tidak tergerak sedikit pun.

"Foto dan tulisan di layar tadi memang benar," suara Arka bergema sangat keras dan tenang membelah keheningan aula melalui pengeras suara darurat.

Seluruh orang di aula menahan napas!

"Kirei Wijaya adalah istri sah gue," tegas Arka tanpa ada nada ragu sedikit pun. "Kami menikah secara legal atas kesepakatan dua keluarga demi melindungi aset Wijaya Corp dari penjahat bisnis. Dan siap pun orang penakut yang coba merusak hari bahagia ini dari balik layar... gue tunggu lo keluar sekarang!"

Kirei menatap profil wajah Arka dari samping, air mata harunya menetes tipis. Keberanian Arka yang begitu terbuka mengakui status mereka di depan umum meluluhudahkan seluruh ketakutannya.

Tiba-tiba, dari arah balkon lantai dua aula yang gelap, suara tepuk tangan pelan bergema berirama.

Prok... prok... prok...

Seorang cowok ber-hoodie hitam melangkah keluar dari kegelapan balkon, menyandarkan tubuhnya di pembatas besi sambil menurunkan kupluk topinya.

"Pengakuan yang sangat mengagumkan, Arka," suara cowok itu terdengar amat familiar melalui pemancar audio yang ia pegang.

Kirei dan Arka mendongak menatap balkon. Mata Arka menyipit tajam seketika saat mengenali sosok itu.

"Aditama..." bisik Arka dengan rahang mengeras hebat.

Bima Aditama—mantan Ketua OSIS yang dulu dikeluarkan dari sekolah dan menghilang—tersenyum culas dari atas balkon.

"Kalian pikir perang ini sudah selesai cuma karena Dion dan Tante Eleonora kalah?" Aditama terkekeh dingin. "Pesta yang sebenarnya baru saja dimulai, Arka."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!