NovelToon NovelToon
Garis Yang Tak Kupilih

Garis Yang Tak Kupilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Impian Puja untuk melangkah ke bangku kuliah dan menjadi seorang psikolog seketika sirna tepat di hari kelulusannya. Tanpa persetujuannya, Abi memintanya menikah dengan Ustadz Jeffry, putra dari sahabatnya, Kyai Ali. Tekanan kian berat ketika Umi Mina, ibu tirinya, terus mendesak Puja demi hadiah yang dijanjikan keluarga Kyai Ali, memanfaatkan kepatuhan mutlak Abi terhadap setiap kata-katanya.
Di sisi lain, Ustadz Jeffry memegang teguh prinsip berbakti dan memilih patuh pada keinginan orang tuanya untuk menyegerakan pernikahan. Ketika dua insan dengan rasa yang bertolak belakang ini disatukan—Puja yang terpaksa melipat mimpinya dan Jeffry yang pasrah pada titah sang ayah—pernikahan tersebut menjadi awal dari pergolakan batin dan kepasrahan atas takdir yang tak pernah Puja inginkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Puja melangkah menyusuri koridor kampus hingga ia berhasil menemukan Andy yang sedang berdiri di dekat selasar gedung.

Tanpa membuang waktu, Puja menghampiri kakak kelasnya itu dengan membawa kotak bekal berwarna biru tersebut.

"Mas Andy," panggil Puja dengan nada tegas namun tetap sopan.

Andy berbalik, tersenyum lebar menyambut kehadiran Puja.

"Eh, Puja. Kenapa? Bekal dariku kurang sreg ya? Atau kamu mau nambah?"

"Bukannya begitu, Mas Andy. Terima kasih banyak atas tawarannya, tapi aku benar-benar tidak bisa menerimanya," ujar Puja seraya menyodorkan wadah bekal itu.

"Lagi pula, suamiku melarangku menerima makanan atau pemberian dari pria lain."

Andy mengerutkan keningnya, tawanya seketika surut.

Pria itu menatap Puja dengan pandangan heran bercampur tidak percaya.

"Suami? Kamu ini ngomong apa sih, Ja?" cibir Andy dengan nada mengejek yang disembunyikan dibalik tawa kecil.

"Jangan becanda ah. Kamu itu baru masuk kuliah, masih muda, masa iya sudah punya suami? Lagian waktu SMA kamu jomblo terus. Paling-paling itu cuma pacar kamu atau kakak sepupu yang kamu sebut kemarin, kan?"

"Aku tidak bercanda, Mas Andy," sanggah Puja dengan raut serius.

"Aku sudah menikah sah. Suamiku melarangku menerima pemberian seperti ini, jadi tolong hargai."

Andy menggeleng-gelengkan kepala, sama sekali tidak mempercayai perkataan Puja.

Ia menganggap ucapan Puja hanya alasan klise karena malu atau sekadar menolak secara halus.

"Udah, nggak usah mengada-ada gitu buat nolak aku," kata Andy santai sembari menepis pelan kotak bekal yang disodorkan Puja.

"Daripada kamu sibuk mikirin hal yang nggak-nggak, ayo aku antar pulang sekarang. Kebetulan kulihat supir atau sepupumu itu belum jemput kan?"

"Tidak usah, Mas! Aku bisa pulang sendiri!" tolak Puja tegas, mulai merasa tidak nyaman dengan sikap memaksa Andy.

"Ayolah, jangan sungkan begitu," desak Andy.

Tanpa mendengarkan penolakan Puja, pria itu langsung menarik pergelangan tangan Puja secara paksa untuk membimbingnya menuju area parkiran motor.

"Mas Andy, lepaskan! Aku bisa jalan sendiri!" protes Puja sambil meronta, berusaha melepaskan genggaman tangan Andy yang cukup erat.

Namun Andy tetap nekat menariknya hingga mendekati motor matic miliknya dan memaksa Puja naik ke atas jok belakang.

Sementara itu, di lingkungan Pondok Pesantren Al-Hidayah, Jeffry baru saja menyelesaikan sesi mengajarnya di hadapan para santri.

Setelah melepas peci dan meletakkan kitab di atas meja kantor pondok, pria itu lantas merogoh saku celananya untuk memeriksa ponsel.

Layar ponselnya masih bersih dari pesan maupun panggilan masuk.

Jeffry menatap layar benda pipih itu dengan alis yang sedikit bertaut.

Ia memperkirakan jam kuliah Puja seharusnya sudah selesai sejak beberapa menit yang lalu.

"Belum ngabari juga ya..." gumam Jeffry pelan, ada sedikit rasa cemas dan penasaran yang mulai merambati hatinya, menunggu kabar dari sang istri yang baru saja menjalani hari pertamanya di kampus.

Andy menghentikan motor maticnya tepat di depan halaman rumah baru Jeffry dan Puja.

Pria itu melepas helmnya lalu menatap rumah minimalis di hadapannya dengan ekspresi terkejut yang dibuat-buat.

"Kamu pindah ke sini?" tanya Andy dengan alis terangkat.

"Berarti dekat banget sama perumahan tempat aku baru pindah."

Puja segera turun dari motor dengan wajah tegang. Ia buru-buru melangkah menjauh dari kendaraan Andy.

"Maksud Mas Andy apa? Jangan macam-macam, ya."

"Serius, Ja. Aku baru saja pindah di sekitar daerah sini juga minggu lalu," jawab Andy santai seraya menyunggingkan senyum penuh arti.

"Wah, takdir kita rupanya lumayan dekat."

"Aku sudah sampai. Makasih tumpangannya, Mas... sudah dulu ya, aku mau masuk ke dalam rumah dulu," pamit Puja cepat, tak ingin memperpanjang obrolan yang membuat jantungnya berdegup cemas.

"Eh, tunggu dulu. Besok aku jemput ya, biar kita barengan lagi ke kampus," tawar Andy cepat sambil menyalakan kembali mesin motornya.

"Nggak usah, Mas! Terima kasih!" tolak Puja mentah-mentah.

"Sudah, nggak apa-apa, santai saja!" seru Andy sebelum akhirnya memutar balik motornya dan melaju pergi meninggalkan halaman rumah Puja.

Puja menghela napas panjang penuh kelegaan. Ia buru-buru membuka pintu pagar, melangkah masuk ke dalam rumah, lalu dengan cepat merogoh tasnya untuk mengirim pesan kepada sang suami demi menghindari salah paham.

[Mas, maaf... aku sudah di rumah, ketik Puja di layar ponselnya lalu menekan tombol kirim.]

Tak sampai satu menit, ponsel di tangan Puja berdering nyaring.

Nama Jeffry terpampang di layar. Tanpa menunggu lama, Puja langsung mengangkat panggilan tersebut.

"Halo, Mas..." sapa Puja hati-hati.

"Kamu pulang diantar siapa, Puja?!" suara Jeffry langsung menyambar dari seberang telepon, terdengar begitu dingin, tegas, dan sarat akan kemarahan yang tertahan.

Puja menelan ludahnya susah payah, mendadak lidahnya terasa kelu.

"Mas... nanti aku ceritakan semuanya di rumah..."

"Jawab sekarang, Puja!" bentak Jeffry ringan, memotong ucapan istrinya.

Emosinya mendadak tersulut mengingat ia baru saja pulang ke rumah dan mendapati istrinya belum juga memberi kabar, lalu tiba-tiba mendengar kabar kepulangan yang mencurigakan.

"Siapa yang mengantar kamu pulang?!"

Puja semakin ketakutan. Dengan suara bergetar dan nyaris menangis, ia akhirnya mengaku,

"M-Mas Andy..."

Tut... tut... tut...

Panggilan langsung terputus begitu saja. Jeffry menutup sambungan telepon secara sepihak, meninggalkan dengung sunyi di telinga Puja yang kini semakin pucat pasi dihantui rasa bersalah dan cemas luar biasa.

Lima belas menit kemudian, suara decitan ban mobil yang berhenti mendadak terdengar dari luar halaman rumah.

Pintu mobil terbanting dengan suara keras, disusul langkah kaki tergesa-gesa yang menghantam lantai teras.

Ceklek!

Pintu rumah terbuka lebar. Jeffry berdiri di ambang pintu dengan dada naik turun menahan amarah.

Wajahnya yang biasa teduh kini tampak mengeras, rahangnya terkatup rapat, dan sorot matanya menyiratkan kekecewaan serta kecemburuan yang sudah di ujung tanduk.

Puja yang berdiri di ruang tamu langsung menciut ketakutan melihat kedatangan suaminya yang begitu murka.

"Mas..." panggil Puja lirih, air matanya langsung menggenang di pelupuk mata.

Jeffry melangkah mendekat dengan langkah berat.

Pria itu menatap tajam ke arah istrinya, melampiaskan segala rasa sesak yang sejak tadi membakar dadanya di pondok.

"Ini yang aku takutkan kalau kamu kuliah!" suara Jeffry menggelegar di dalam ruangan, memecah keheningan rumah baru mereka.

"Baru hari pertama, Puja! Baru hari pertama kamu masuk kampus, tapi kamu sudah berani diantar pulang oleh laki-laki lain!"

"Mas, dengar dulu penjelasan aku..." Puja mencoba membela diri, suaranya bergetar hebat.

"Penjelasan apa lagi?!" potong Jeffry dengan nada tinggi, menunjuk ke arah luar pintu.

"an kemarin! Jelas-jelas kamu dengan sengaja mengatakan kepada laki-laki itu kalau aku ini cuma sepupumu! Apa tujuanku kamu tutupi, hah? Supaya kamu bebas didekati dia?!"

Bentakan itu terasa bagaikan hantaman keras di dada Puja.

Isak tangisnya akhirnya pecah, runtuh seketika di hadapan suaminya yang sedang dikuasai api cemburu dan rasa kecewa yang mendalam.

1
Manis
mohon koreksi biar nggak bingung
my name is pho: sudah kak
terima kasih koreksinya
total 1 replies
Manis
Ningsih jg kayanya bukan istri keduanya abah Ali deh, tapi ibunya ningrum
Manis
Ningrum di awal2 kan sepupu Jefry bukan adik tiri
Nha_A
ini yg mantunya siapa sih sebenarnya? si laki bangun menyambut mertua, si perempuan mau bangkit dari t4 tidur nyambut mertua,gimana konsepnya itu?
Manis
aslinya berjilbab nggak sih? paragraf bawah katanya berhijab
my name is pho: berhijab kak
terima saja koreksinya 🙏
total 1 replies
LIANI LA BUNGA YANI
lanjuuttttttttt kak
LIANI LA BUNGA YANI
aku suka noveeelnyaaa😍
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
sri hastuti
jangan keras kepala puja, siapa tau jefry bisa mau mengerti dan sayang sm km , hrs ada keterbukaan, blm tentu kl km gak menikah ibu tirimu setuju km kuliah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!