Tiga tahun lalu, Reno Wijaya dituduh melakukan kejahatan yang tidak pernah ia lakukan oleh keluarga angkatnya sendiri demi menyelamatkan putra kandung mereka. Dipaksa menjadi menantu numpang di keluarga kelas menengah, Reno diperlakukan seperti pelayan, dihina oleh ibu mertuanya, dan dianggap suami "tidak berguna" oleh orang-orang di sekitarnya. Namun, satu-satunya alasan Reno bertahan dan berpura-pura menjadi orang miskin adalah untuk melindungi istrinya, Alya, perempuan polos yang pernah menyelamatkan nyawanya.
Puncaknya terjadi ketika keluarga mertuanya memaksa Alya untuk menceraikan Reno demi menikahkan Alya dengan seorang pria kaya raya yang sombong. Di hari yang sama ketika surat cerai disodorkan ke wajahnya, organisasi rahasia terbesar di dunia—Grup Naga Hitam—akhirnya menemukan keberadaan Reno.
Ternyata, Reno bukanlah orang biasa. Dia adalah Tuan Muda Penguasa Tunggal dari keluarga terkaya di benua ini yang sengaja menghilang untuk menyelesaikan misi rahasia.
Begitu batasan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deddy kris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Tamparan Nyata di Depan Elit Kota
Suasana aula utama hotel berbintang lima itu mendadak hening total. Pintu ganda berukiran emas terdorong terbuka secara perlahan, membentangkan jalan bagi sosok pria yang melangkah masuk dengan ketenangan yang menghipnosis.
Reno mengenakan setelan jas kustom berwarna hitam pekat dengan aksen perak halus di bagian kerah. Setiap langkah kakinya yang teratur di atas karpet merah memancarkan dominasi yang begitu kuat. Di belakangnya, Bagas bersama delapan pengawal bertubuh tegap dalam balutan seragam hitam mengapitnya dengan presisi sempurna.
Seluruh elit kota, para pejabat, hingga investor papan atas yang berada di aula itu menahan napas. Aura yang dipancarkan Reno begitu menekan, seolah menandakan keberadaan seorang penguasa mutlak yang tak boleh diusik.
Maya dan Hendra melotot lebar. Mulut mereka menganga tanpa sanggup mengeluarkan kata. Pria yang dulu mereka paksa membersihkan lantai dan mereka caci maki setiap hari, kini berjalan bak seorang raja di tengah kumpulan orang terpandang.
Alya menatap Reno dengan batin yang bergetar. Di tengah kepungan hinaan dan isolasi yang baru saja menyiksanya, kehadiran Reno menjadi lentera yang menyalakan kembali harapan di dadanya.
Randy Surya, yang tadinya begitu jumawa, merasa ketegangan merayapi punggungnya. Namun, demi mempertahankan harga diri klan Surya di depan umum, ia mencoba memberanikan diri. Randy melangkah maju satu pukulan, menunjuk Reno dengan senyum sinis yang dipaksakan.
"Reno?!" seru Randy dengan suara lantang, berusaha memecah keheningan. "Untuk apa mantan menantu benalu seperti kamu datang ke pesta elit ini? Apakah kamu merayap ke sini hanya untuk melihat mantan istrimu yang tidak tahu diri ini dipermalukan?!"
Reno tidak langsung menjawab. Ia bahkan tidak melirik sedikit pun ke arah Randy. Langkah kakinya terus mengayun hingga berhenti tepat di samping Alya. Sepasang mata tajam milik Reno menatap Alya dengan kehangatan yang amat tipis namun menenangkan, seolah memberikan sinyal bahwa segalanya berada di bawah kendalinya.
Reno memutar tubuhnya perlahan, memandang Randy dengan tatapan yang dingin dan datar—tatapan seorang manusia yang melihat debu di ujung sepatunya.
"Randy Surya," suara Reno mengalun rendah, namun menggelegar menyapu seluruh sudut aula. "Kamu bicara sangat nyaring untuk seseorang yang klannya baru saja berada di ambang kehancuran total."
Wajah Randy mendadak pucat, namun ia berusaha terkekeh. "Kehancuran?! Jangan bual! Grup Surya adalah penguasa ekonomi kota ini! Kamu hanya pria tak berguna yang kebetulan beruntung memiliki modal gertakan!"
Reno memberi isyarat pelan pada Bagas.
Bagas melangkah maju, membuka map dokumen berlogo Naga Hitam emas yang amat mencolok. Ia mengarahkan pandangannya ke arah proyektor raksasa di panggung utama pesta, lalu menekan sebuah tombol remote di tangannya.
*BZZZT!*
Layar raksasa yang tadinya menampilkan logo Keluarga Surya mendadak berubah. Gambar-gambar dokumen keuangan internal, laporan transaksi gelap, manipulasi pembukuan pajak, hingga bukti pemerasan terhadap para vendor lokal terbentang dengan sangat jelas dalam resolusi tinggi.
Seluruh tamu undangan, investor, dan pejabat elit di aula berseru kaget. Kasak-kusuk liar langsung pecah bagaikan gelombang air bah.
"Apa-apaan ini?!" jerit Randy histeris, matanya melotot menatap layar raksasa itu. "Matikan! Matikan layar itu sekarang juga!"
"Dokumen itu adalah rekam jejak kejahatan finansial Grup Surya selama lima tahun terakhir," ujar Bagas dengan suara yang diproyeksikan melalui pengeras suara aula. "Termasuk bukti sabotase ilegal yang dilakukan Randy Surya terhadap proyek pembangunan kawasan pesisir Perusahaan Zena sore tadi."
Bagas beralih menatap para investor utama kota yang berdiri terpaku di barisan depan. "Atas nama Konsorsium Naga Hitam, kami mengumumkan bahwa seluruh aset, rekening, dan jalur distribusi Keluarga Surya telah dibekukan secara permanen oleh Otoritas Keuangan Pusat atas dugaan pencucian uang dan tindak kejahatan monopoli pasar."
*DEG!*
Kata-kata Bagas menghantam jantung Randy bagaikan godam raksasa. Tubuh pria itu gemetar hebat.
Salah seorang investor asing paling berpengaruh di kota itu melangkah maju dengan raut wajah marah. Ia mendatangi Randy dan melempar dokumen kerja sama mereka ke dada Randy. "Keluarga Surya ternyata penipu! Kami membatalkan seluruh investasi sebesar dua triliun rupiah malam ini juga!"
"Kami juga membatalkan kontrak kerja sama!" seru investor lainnya serentak. "Kami tidak sudi berasosiasi dengan klan korup yang terancam dipenjara!"
Dalam waktu kurang dari tiga menit, seluruh kredibilitas dan kejayaan Keluarga Surya yang dibangun puluhan tahun hancur berkeping-keping di depan mata seluruh elit kota. Randy memegangi kepalanya, dadanya naik turun dengan napas yang terengah-engah.
Reno kemudian memutar pandangannya ke arah Maya dan Hendra yang berdiri menyusut di belakang Randy. Tatapan dingin Reno membuat kedua orang tua itu gemetar ketakutan hingga lutut mereka berbenturan.
"Dan untuk kalian..." suara Reno terdengar begitu dalam. "Kalian menjual harga diri anak kandung kalian sendiri demi selembar cek dari klan yang bangkrut ini? Sungguh pemandangan yang sangat menjijikkan."
Maya mengatupkan bibirnya rapat-rapat, wajahnya memerah penuh penyesalan dan rasa malu yang luar biasa mendalam. Ia ingin membuka mulut untuk meminta ampun, namun aura dominasi Reno mencekik tenggorokannya hingga tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.
Reno kembali menatap para investor yang kini berdiri membungkuk hormat ke arahnya.
"Proyek pengembangan kawasan pesisir Perusahaan Zena berada di bawah pengawasan langsung Konsorsium Naga Hitam," tegas Reno penuh kewibawaan. "Dan Alya Pramudya adalah satu-satunya Manajer Proyek Utama yang memegang otoritas penuh atas dana investasi sebesar lima puluh triliun rupiah."
Para investor yang mendengar angka fantastis itu langsung membelalakkan mata. Tanpa ragu, mereka beramai-ramai mengelilingi Alya, menyodorkan kartu nama dan memohon agar diberi kesempatan untuk menanamkan modal di bawah kepemimpinan Alya.
"Nona Alya, mohon izinkan perusahaan kami ikut serta dalam proyek Anda!"
"Nona Alya, kami siap menyuplai material terbaik dengan harga terendah!"
Alya berdiri terpana di tengah kepungan para pengusaha kelas atas yang kini menatapnya dengan penuh rasa hormat dan kekaguman. Air mata haru menggenang di sudut matanya. Hinaan dan tuduhan 'wanita murah' yang dilontarkan Randy beberapa menit lalu musnah tak berbekas, digantikan oleh penghormatan tertinggi dari seluruh industri.
Alya melirik ke arah Reno. Pria itu berdiri anggun beberapa langkah di sampingnya, menatapnya dengan raut wajah bangga yang tersirat. Hati Alya bergetar hebat. Reno tidak hanya membersihkan namanya, tetapi juga mengangkat martabatnya ke puncak tertinggi dengan cara yang begitu elegan dan terstruktur.
Sementara itu, Randy Surya yang berdiri terisolasi di sudut panggung merasa otaknya mendidih. Kehancuran bisnis keluarganya, kemerosotan nama baiknya, dan tatapan hina dari seluruh tamu undangan membakar habis akal sehatnya. Dendam dan kegilaan yang membara menguasai jiwanya.
"Reno... kamu menghancurkan hidupku... kamu menghancurkan keluargaku!" pungkasan Randy serak, matanya berubah merah membara penuh kebuasan.
Tanpa disadari oleh siapa pun di tengah kerumunan yang mengerumuni Alya, Randy merogoh saku dalam jasnya. Jemari tangannya menggenggam erat gagang pisau lipat berbilah tajam yang sengaja ia bawa untuk berjaga-jaga.
Dengan jeritan histeris bagaikan binatang buas yang terluka, Randy menerobos kerumunan dan melompat maju ke arah Reno!
"Mati kamu, Reno!!!" teriak Randy histeris, mengarahkan mata pisau yang berkilat tajam itu tepat ke arah dada Reno!