Sebuah kecelakaan yang terjadi enam bulan lalu membuat Baby Corn harus kehilangan sebelah kakinya. Ia juga sempat mengalami koma selama tiga bulan. Sementara kekasihnya Lucky meregang nyawa di lokasi kecelakaan.
Seorang dokter bernama Maxime, memantau perkembangan kesehatan Baby dari mulai terapi sampai ia dinyatakan sembuh. Perlahan timbul rasa suka pada Baby. Karena berstatus duda, ia tak pernah mengakui jika dirinya jatuh cinta pada Baby.
Setelah siuman, Baby tinggal di Paris, Perancis, sebuah kota yang penuh keromantisan. Ia berharap bisa melupakan kenangan pahit setelah kehilangan sebelah kaki dan juga kekasihnya.
Cita-citanya terhenti karena fisik yang cacat, membuat Baby harus membuat kaki palsu. Di saat yang sama, perjuangan cinta dokter Maxime diuji ketika Baby memutuskan untuk masuk dunia modeling.
Bagaimana perjuangan dokter Maxime dalam meraih cintanya, apa Baby bisa menjadi supermodel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. TAK SUKA
Setelah sarapan, dr. Maxime benar-benar mengecek kondisi kesehatan Baby. Bibir Baby mengerucut sejak tadi, tapi Maxime tak memperdulikannya.
"Udah sehat, 'kan?" ucapnya dengan kesal.
"Hm."
"Kok cuma hm doang, sariawan, ya?"
"Nggak."
dr. Maxime mengemasi peralatannya dan duduk di samping Baby.
"Sudah sehat kok, tapi kamu nggak boleh kecapekan, vitamin ini jangan lupa diminum biar cepat pulih."
"Hm."
"Sariawan juga?"
"Ish, nggak. Kalau dokter bisa bilang hm, aku juga bisa!"
"Dia nggak marah, sungguh super sabar."
"Ya, sudah, ayo pergi!" Ajak Maxime.
"Kemana?" tanya Baby heran.
"Katanya mau ke agency, mau latihan?"
"Trus, emangnya dokter mau nganterin aku?"
"Iya, nggak boleh?"
"Hm, boleh sih, tapi dengan satu syarat."
Alis Maxime berkerut ketika Baby membisikkan sesuatu padanya.
"Gimana? Mau, 'kan?" tanya Baby menaik turunkan alisnya.
"Oke."
"Yeay. Kuy berangkat!"
Siang itu akhirnya Maxime benar-benar mengantar Baby. Ada hawa tidak nyaman ketika Maxime baru saja sampai di tempat itu. Untungnya, Cherry tak pernah mengenalkan dirinya pada teman-temannya, sehingga tidak akan peduli dengan kedatangannya nanti.
Bukan hanya Maxime yang terkejut, Cherry juga merasakan hal yang sama dengannya. Meski Baby tahu jika pernah ada hubungan diantara Maxime dan Cherry, tapi ia seolah acuh dan tidak tau mau tau.
"Hai Baby," sapa Cherry ramah.
"Hai Kak Cherry."
"Wah, siapa itu Baby, ganteng banget," seru model yang lainnya.
Baby menoleh ke arah Maxime lalu ia menggandeng lengan dr. Maxime.
"Kenalin, calon pacar."
Sontak saja Maxime dan Cherry terkejut.
"Bukannya tadi perjanjiannya nggak begini?" batin Maxime.
Baby mengejutkan mereka dengan mengenalkan Maxime sebagai teman dekatnya. Tapi demi menghormati Baby, Maxime mengiyakan ucapan Baby barusan dan membalas uluran tangan dari mereka yang ingin berkenalan. Termasuk bersalaman dengan Cherry, mantan istrinya.
Saat bersalaman dengan Cherry, mereka cukup lama menautkan tangannya. Hingga Baby agak kepanasan sedikit karenanya.
"Nih nenek lampir suka banget pegang tangan mantannya, kangen, 'kah?"
Hingga satu menit kemudian ....
"Ehem, udah, 'kan kenalannya?"
"Eh, udah," jawab mereka kelabakan.
Baby melirik gemas keduanya, "Giliran bilang udah aja kompak, trus kenapa kemarin cerai, dasar urusan orang dewasa bikin pusing."
"Udah, yuk latihan!" ajak Cherry.
Sesaat kemudian, Cherry menggandeng lengan Baby, lalu menoleh ke arah Maxime sebentar, "Pinjam dulu, ya."
"Hm."
Cherry lalu mengajak Baby ke tempat koreografer. Sepanjang perjalanan, Cherry terus membombardir Baby dengan banyak pertanyaan. Beruntung Baby sudah dilatih Jas Jus tentang cara menghadapi Cherry. Sesuai dugaan, Cherry benar-benar mengulang kebohongan itu padanya.
"Bukankah, kapan hari sudah aku kasih tau kamu soal dokter itu?" bisik Cherry.
"Iya, lalu kenapa?"
"Kamu nggak takut sama calon tunangannya?"
Baby menoleh, "Baru calon, 'kan? Belum jadi tunangan. Siapa aja masih boleh menikung, kok."
Cherry terlihat menggerutu. "Hm, kamu tuh, ya. Dibilangin kok ngeyel."
Baby hanya tertawa menanggapi Cherry, "Jangan panggil aku Baby Corn kalau nggak bisa menghadapi kamu, Kak."
"Lu, kira aku nggak tau, jika kamu mantan istrinya?" seru Baby dalam hati.
Sementara Cherry terlihat kesal akan ucapan Baby barusan. Jika ia sudah membuang Maxime, maka tidak ada gadis lain yang bisa mendekatinya kecuali atas ijinnya.
.
.
Beberapa hari ini, Maxime memang selalu menyempatkan untuk mengantar jemput Baby latihan. Tetapi diam-diam Maxime selalu mengawasi Baby dari kejauhan. Beberapa gerak-gerik Cherry bisa terbaca oleh Maxime.
Pernah suatu ketika, saat Baby makan, tak sengaja Cherry lewat di depannya dan menumpahkan coffee-nya di atas kaki palsu Baby. Untung saja bukan kaki asli Baby yang terkena tumpahannya. Sebab kalau itu terjadi, kakinya pasti akan melepuh.
"Cherry, qu'est-ce que tu fais, c'est tellement dangereux!" tegur Alexa, salah satu model teman Baby.
(Cherry, apa yang kamu lakukan, itu sangat berbahaya)
"Désolé je ne le pensais pas."
(Maaf, aku tidak sengaja)
Coffee yang dibawa Cherry memang masih dalam keadaan panas. Tapi karena ia yang kurang fit dan oleng ketika berjalan, secara tak sengaja coffee-nya tumpah.
"Kamu nggak apa-apa, Baby?" ucap Cherry kemudian.
Baby menggeleng, lalu ia berusaha mengeringkan kaki palsunya. Sementara Maxime menatap garang ke arah Cherry. Dia bahkan berdiri tegak di belakang Cherry.
Maxime mencengkeram lengan Cherry hingga membuatnya kesakitan.
"Awh, sakit," cicitnya.
"Kamu!" Maxime tampak menahan emosinya.
Tapi ia lebih menghawatirkan Baby. Ia pun mendekatinya.
"Kamu nggak apa-apa?"
"Enggak, Dok. Cuma agak kecipratan sedikit."
"Udah selesai, 'kan latihannya? Kalau iya, ayo kita pulang."
Baby merapikan pakaiannya lalu mengikuti Maxime yang sudah lebih dulu berjalan.
Kini kecurigaan dr. Maxime terbukti. Cherry selalu saja membuat masalah pada Baby. Padahal mereka tidak pernah ada dendam, tapi bisa-bisanya Cherry berbuat jahat pada Baby.
🍂Malam itu.
Maxime sengaja datang ke apartement Cherry. Kesabarannya sudah terkikis karena Cherry selalu bertindak semaunya, tak pernah berubah sedikitpun.
Ting Tong ....
Cherry yang baru saja berganti pakaian segera menuju pintu.
Saat ia membuka pintu apartementnya ia terkejut akan kedatangan Maxime.
"Sayang, ada apa? Masuk, yuk!"
"Nggak usah bersikap manis, aku sudah muak dengan segala tingkahmu. Jauhi Baby atau aku tak akan tinggal diam!"
Cherry hanya tertawa.
"Jadi kamu lebih memilih gadis ingusan itu?"
"Baby adalah prioritasku, jadi tak akan aku biarkan kamu menyakitinya!"
"Sayang, sebaiknya kamu masuk, lagi pula, apa kamu tidak merindukan sentuhanku?" ucap Cherry tak tau malu.
"Kita sudah tidak ada hubungan lagi, kamu hanya mantan istriku, jadi aku mau berhubungan dengan siapa pun, bukan jadi urusanmu!"
Cherry tampak menggigit bibirnya. Rasanya ia muak berpura-pura. Ya, dulu memang Maxime adalah seorang pria yang lembut dan selalu memberikan supportnya pada Baby.
Tetapi, saat Cherry mulai berubah, Maxime masih sabar menunggunya untuk kembali. Sampai dimana Cherry pergi tanpa berpamitan padanya, selama beberapa hari hanya demi sebuah pagelaran fashion show.
Suami mana yang tidak geram saat harga dirinya tidak dihargai. Setelah bersabar selama satu tahun, akhirnya Maxime menggugat cerai Cherry yang langsung ditandatangi Cherry tanpa berusaha untuk mempertahankan pernikahannya.
Dari sana, Maxime baru menyadari jika Cherry tidak pernah mencintainya.
Sampai akhirnya Maxime benar-benar mengusir Cherry dari hidupnya. Membuangnya jauh tanpa mau tau lagi bagaimana kehidupannya. Bahkan Maxime hanya fokus pada kegiatannya di Rumah Sakit.
.
.
Setelah kepergian Maxime dari apartemennya, Cherry hanya tersenyum. Bagi Cherry tidak akan ada yang bisa menghentikan keinginannya kecuali atas kehendaknya sendiri. Cherry tidak akan tinggal diam, semakin dilarang ia akan semakin berbuat nekad.
.
.
Kira-kira se-nekad apa Cherry ya? Simak kisah selanjutnya ya ....
...🌹Bersambung🌹...
Kalian penasaran dengan visualnya nggak sih? Aku kasih bocoran dikit ya, semoga suka.