NovelToon NovelToon
Ikrar Cinta Sehidup Sesurga

Ikrar Cinta Sehidup Sesurga

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Tamat
Popularitas:59.1k
Nilai: 5
Nama Author: ayuwidia

Cinta tanpa syarat ... itulah yang diharapkan oleh seorang gadis bernama Aninda Sukma. Cinta pertamanya kandas karena ujian hidup yang teramat berat.

Disetiap malam, Aninda melangitkan pinta dan merayu pada-Nya agar dipertemukan dengan seseorang yang benar-benar tulus mencintanya.

Sehidup ... sesurga, ikrar cinta yang ingin ia dengar dari bibir kekasih yang kelak menjadi imamnya.

Akankah Aninda bertemu dengan seorang calon imam yang mencintainya dengan ketulusan hati? Ikuti kisahnya 😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Awal Pertemuan Yang Berkesan

Happy Reading 😘😘😘

"Silahkan duduk! Maaf, gubugku hanya seperti ini," ucapku seraya mempersilahkan Reyhan dan teman-temannya untuk duduk.

"Akh, sama seperti gubugku Nin," sahut Reyhan sambil mendaratkan tubuhnya di atas tikar, diikuti oleh kelima temannya.

"Di mana Asti?"

"Asti sedang keluar, Rey. Kamu mencarinya?"

"Nggak, Nin. Yang aku cari, mbakyunya Asti."

DEG DEG DEG

Ya Allah, pegangi hatiku ....

"Oh ya ... mmm, sebentar ... aku buatin minuman dulu Rey," sahutku dengan menunduk, menyembunyikan rona merah yang tercetak jelas di wajah.

Reyhan tersenyum dan mengangguk samar. " Iya Nin."

Aku berjalan ke dapur, diikuti oleh Azizah.

"Mbak, mas Rey mirip Lee Min Ho ya?"

Pfffftt ... hhhahhaha, aku tergelak di dalam hati ketika mendengar ucapan Azizah yang berlebihan. Dipandang dari sudut manapun, Reyhan tidak mirip dengan aktor Korea idola kami.

"Nggak mirip blas Dek," jawabku disertai tawa yang tertahan.

"Tapi wajahnya cakep lho Mbak. Seperti orang Korea beneran. Kulitnya lumayan putih, matanya sipit, badannya tinggi ...."

"Hmmm, masih SD ... sudah ngerti cowo cakep, Zah," sahutku sambil mencubit pipi Azizah.

Azizah, dia adik bungsuku yang masih berusia 8 tahun. Saat Azizah berusia 3 bulan di dalam kandungan ibu, bapak meninggalkan kami untuk selamanya. Beliau meninggal karena pendarahan di otak setelah terpeleset di warung.

Terbayang kembali saat-saat menyedihkan itu ....

"Bapak kenapa?" tanya yang disertai kecemasan terlontar dari bibirku, sesaat bapak terpeleset.

"Bapak hanya terpeleset, Nin." Bapak memberi jawaban tanpa menatap wajahku. Seolah ada sesuatu yang beliau sembunyikan dari putrinya ini.

"Pak, wajah Bapak pucat. Lebih baik, Bapak istirahat dulu. Kita tutup warungnya."

"Bapak baik-baik saja Nin. Sudah ada pembeli yang mengantri, kasihan mereka."

"Tapi Pak--"

"Sudahlah. Lebih baik, bantu Bapak ... melayani pembeli!" titah Bapak. Beliau mulai memasak pesanan ... Chinese food.

Entah mengapa, hatiku terasa perih ketika melihat punggung Bapak. Seolah, ada sesuatu yang akan terjadi pada beliau.

Aku pulang ke rumah pukul sebelas malam, sedangkan bapak dan ibu ... mereka masih berada di warung sampai pukul 3 pagi.

"Nin ... Anin." Teriakan seseorang memecah kekhusyukan dikala aku melangitkan pinta di sepertiga malam.

Gegas aku beranjak dari atas sajadah, kemudian membuka daun pintu.

"Simbah ...."

"Nin, bapakmu ... bapakmu dibawa ke RS BTD."

Aku terkesiap tatkala mendengar ucapan simbah.

"Bapak kenapa, Mbah?" tanyaku disertai bulir bening yang tetiba jatuh tanpa permisi.

"Bapakmu pendarahan otak, Nin." Bibir simbah bergetar. Wajahnya terbingkai duka.

"Inalillahi ...." Aku berusaha menahan tubuh yang hampir luruh.

Selama satu minggu, aku menemani bapak di rumah sakit sembari melantunkan kalam cinta.

Aku tersulut emosi tatkala mendengar kalimat yang tidak sepantasnya keluar dari bibir suami budhe. "Kalau mau mati ya mati saja. Jangan menyusahkan keluarga. Biaya operasinya 'kan mahal."

Darahku mendidih, tanganku mengepal, mataku menatap nyalang. "Hehhh, asal anda tau ya ... saya pasti melakukan segala ikhtiyar untuk kesembuhan bapak. Biaya sebesar apapun, bukan anda 'kan yang menanggungnya?"

Aku mengangkat tangan yang mengepal dan bersiap mendaratkan bogeman mentah di wajah pria yang berstatus sebagai suami budheku itu. Beruntung, mbak Ajeng mencegah kucing kecil yang akan mengamuk. Dia berusaha meredam emosiku.

Andai mbak Ajeng tidak mencegahku, dapat dipastikan ... wajah pria yang tidak bisa menjaga mulutnya itu akan hancur.

Setelah dua kali menjalani operasi, bapak menghembuskan nafasnya yang terakhir. Beliau menghadap Illahi dengan lengkungan bibir yang menghiasi wajahnya. Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun' ....

Meski tanah kuburan bapak masih basah, keluargaku berkumpul untuk membicarakan biaya rumah sakit. Mereka ... budhe, mbak Ajeng beserta suaminya, dan mbak Ratna.

Mereka berencana menjual rumah kami untuk melunasi semua biaya rumah sakit. Aku teramat marah dan tidak terima jika rumah peninggalan almarhum bapak akan dijual. Gegas, aku merebut sertifikat rumah dari tangan mas Anto.

"Saya tidak setuju jika rumah ini dijual," tandasku.

"Tapi Nin--" suara Mbak Ajeng tercekat.

"Berapapun biayanya, insya Allah ... pasti ada jalan selain menjual rumah ini. Kasihan ibu dan Asti jika rumah ini dijual. Mau tinggal di mana kami ... ?"

Aku berlalu meninggalkan mereka yang tengah terkesiap tatkala mendengar ucapanku.

Alhamdulillah, wasyukurillah ... Allah benar-benar mengijabah doaku. Doa seorang anak yatim yang teramat kehilangan sosok seorang ayah. Biaya rumah sakit dapat kami lunasi berkat perjuangan mas Arjun dan suami mbak Ratna (mas Alex), tanpa mengorbankan rumah kami.

Namun, duka itu kembali menyapa. Beberapa tahun setelah bapak meninggal, mas Alex (suami mbak Ratna) menyusul beliau.

"Mbak, Anin ...." Suara Azizah membuyarkan lamunan.

"Eh ... ya."

"Mbak, mas Rey sudah menunggu lho."

"Iya, Zah."

Aku berjalan menuju ruang tamu dengan membawa nampan yang berisi tujuh cangkir teh hangat. Azizah mengekor sambil membawakan pisang untuk suguhan para tamu kami.

"Maaf menunggu lama," ucapku sambil mendaratkan tubuh dan menaruh nampan yang berisi tujuh cangkir teh hangat di atas tikar.

"Silahkan diminum!"

"Trimakasih Nin, sahut Reyhan disertai seutas senyum yang teramat manis.

"Ini Mas, pisangnya ...." Azizah menaruh setandan pisang di depan Reyhan. Seketika, kelima teman Reyhan tergelak menyaksikan tingkah polos Azizah. Entah apa yang terlintas di pikiran mereka.

"Ehemmm ...." Reyhan berdehem. Ia memberi kode agar kelima temannya menghentikan tawa mereka.

"Maaf ya Nin."

"Nggak papa, Rey."

"Nin, katanya ... kamu jualan bakmi jawa ya? Sudah tutup atau libur?"

"Libur Rey. Seminggu sekali ... aku libur berjualan. Untuk istirahat."

"Owhhh. Iya Nin, meski semangat menjemput rejeki, tetep dijaga kesehatanmu!"

"Heem, Rey. Oya, kalian dari mana ... kog datangnya rombongan?"

"Kami dari rumah, Nin. Si kuprit minta ditemeni," sahut salah seorang teman Reyhan yang bernama Dilan sembari melirik si oppa.

Azizah terkikik geli karena mendengar suara Dilan yang kemayu.

Nggak nyangka, ternyata Reyhan memiliki teman yang sangat kemayu. Bahkan, dia menjuluki dirinya sendiri, Dilandeng. Dilan-ngondeng. 😁

Obrolan kami berakhir ketika jam dinding menunjuk pukul delapan malam.

"Kami pamit ya, Nin. Asalamu'alaikum ...," tutur Reyhan sebelum melangkah pergi.

"Wa'alaikumsalam. Trimakasih Rey ...."

"Trimakasih?"

"Hehem. Trimakasih karena sudah berkunjung ke gubugku."

"Owhhh. Kembali kasih, Nin. Nanti kita lanjut sms."

"Iya Rey," sahutku disertai seutas senyum.

Awal pertemuan yang sangat berkesan bagiku, dan mungkin ... juga baginya. Reyhan Handyka Kurniawan.

🍁🍁🍁🍁

Bersambung .....

Mohon maaf jika bertebaran typo 😊🙏

Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍

Beri komentar, gift, atau vote untuk mendukung ICSS 🙏

Klik ❤ untuk fav karya

Trimakasih 😘😘😘

1
Henym
Luar biasa
Wichan606
semangat semangat kak


aku datang lagi kak👋. jangan lupa datang Balik ke karya Forza ya kak 👋
Miss GH
baru tau ada yang baru ini, kok udah end sih tor?
Wichan606
Alhamdulillah udh tanat
Wichan606
semangat author nulisnya. jangan lupa feedback ke karya saya berjudul gadis monochrome. saya tunggu kedatangannya.
Elisabeth Ratna Susanti
keren 😍
Elisabeth Ratna Susanti
lanjut 👍
Elisabeth Ratna Susanti
boomlike sampai sini dulu 😍 plus fav rate 5 😍
Elisabeth Ratna Susanti
hadir di sini 😍
Jumadin Adin
gk enak hutang budi itu, balasnya di bayar sampai mati
Jumadin Adin
ratna yg meninggalkan manran suaminya atau alex meninggal
Ayuwidia: alex meninggal
total 1 replies
Jumadin Adin
jantungnya anin gampang sekali dag dig dug,setiap ada lelaki yg mendejati,apa mmg mudah jatuh cinta
Jumadin Adin
ya Allah kasian kamu anin,semoga ke dpnnta kamu bahagia
Jumadin Adin
visualnya anin mb ayu...apa betul juuuelekk
Ayuwidia: hhaha hiyaaa mungkin, Kak 😅
total 1 replies
Jumadin Adin
jgn terlalu GR anin....jgn gampang suka dg lawan jenis
Jumadin Adin
barokah fi umrik aninda sukma🌺🌺🌺🌺
Jumadin Adin
kayaknya fahri ada perasaan ke anin💘💘💘💘
Jumadin Adin
kok cuma di hukum 10 thn mb ayu
Ayuwidia: itu aja hukumannya nggak sampai dua tahun Kak, sungguh lucu hukum yg ditegakkan 🥺
total 1 replies
Jumadin Adin
ryan hukum seberat beratnya,dia bkn manusia,dia seperti jelmaan iblis
Jumadin Adin
kenapa laki2 pertama buat sakit hati,knp yg kedua lebih parah.knp kok mudah ratna terperosok ke jurang yg sama
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!