Sebuah kecelakaan kapal pesiar terjadi dan membuat 7 orang terdampar di pulau kecil tidak berpenghuni. Mereka dipaksa untuk bertahan hidup sampai bantuan tiba. Ren, salah satu dari 7 orang yang terdampar memimpin mereka dengan pengetahuannya yang luas.
Dia menggunakan keterampilannya untuk bertahan hidup di pulau yang hanya berisikan dia dan 6 orang lainnya. Banyak masalah yang dia temui, namun siapa yang menduga jika dia akan menemukan jodohnya di pulau terpencil?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YatoNime Crack, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11 — Gadis Tersesat III
Setelah bersusah payah membujuk Clarissa, Ren memilih kembali ke tempat yang dia lalui sebelumnya dan pergi ke titik pertemuan untuk bertemu Zain.
Meskipun Ren sendiri cukup payah dalam mengingat jalan di hutan ini karena semua yang dia lihat hanyalah pohon, beruntungnya dia juga meninggalkan tanda di setiap pohon yang dilaluinya.
“Memang sangat disayangkan karena tidak ada jejak lebih lanjut dari hewan itu, aku hadap Zain menemukan sesuatu.” Ren bergumam dan melihat langit sore.
Ren tidak bisa mengambil resiko lebih dari ini, lagipula jika mereka memaksakan diri untuk menemukannya, tidak akan ada jaminan bisa segera menangkapnya.
‘Setidaknya telah dipastikan bahwa kijang benar adanya, aku yakin mereka sering ke pohon apel untuk memakan buah yang jatuh.’ Ren mulai memikirkan cara yang dapat dia lakukan untuk menangkap kijang.
“Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan namun jika kamu berniat melakukan hal yang tidak-tidak seperti memperkosaku, aku menjamin sesuatu yang buruk akan menimpamu.” Clarissa menatap tajam dan dingin kepada Ren.
Dia tidak memikirkan ini sebelumnya karena keberadaan Anastasia yang melindunginya namun karena pelayannya tidak ada, dia khawatir Ren melakukan sesuatu yang tidak disukainya, mengingat sikapnya kepada kelompok Ren cukup menyebalkan.
Belum lagi, Clarissa baru memahaminya bahwa dia berada di hutan sepi bersama seorang pria, perwujudan dari hawa *****.
“Aku tidak tahu apa yang kamu maksud namun izinkan aku menanyakannya, apakah keluarga konglomerat selalu memiliki pikiran mesum seperti itu?” Ren bertanya dengan polosnya yang membuat Clarissa sedikit kesal.
“Hmpf! Kau itu seorang pria udik yang pastinya dipenuhi hawa *****, terutama saat berduaan dengan gadis cantik dan lemah sepertiku, wajar bagiku memikirkan kemungkinan itu dan bukan berarti aku mesum atau semacamnya.” Clarissa mendengus kesal dan membuang muka.
Panilaian Clarissa terhadap Ren tidak berubah sedikitpun. Baginya Ren tidak jauh berbeda dengan pria lainnya, banyak yang mendekatinya hanya untuk mendapatkan kekayaan dan membangun relasi yang baik dengan keluarganya, terutamanya orang-orang miskin seperti Ren.
“Jadi begitu, kamu mengakui sendiri lemah, ya.” Ren sedikit tertawa dan menggoda Clarissa.
Ren tahu Clarissa memiliki harga diri yang tinggi, guyonan yang dia lontarkan sebelumnya pasti sedikit mencoreng harga dirinya.
“Kau ...” Clarissa berniat mengumpat namun dia memilih untuk tidak mendebatnya lebih jauh. “Why is this guy so annoying?” Clarissa bergumam kesal dan mengganti bahasanya.
“Aku tidak begitu bodoh untuk tidak memahami apa yang kamu katakan.” Ren tersenyum tipis saat Clarissa mengumpatnya dengan bahasa Inggris.
Tindakan yang cukup konyol, mengingat Ren akan belajar di negara dengan bahasa yang sama.
“Meiwakuna otok**o!” Clarissa kembali mengumpat dan mendecakan lidahnya.
“Omong-omong aku juga memahami bahasa Jepang, Russia dan Sedikit bahasa Mandarin. Jika kamu ingin mengadu kemampuan berbahasa denganku maka silahkan saja.” Ren tersenyum mengejek ke Clarissa yang membuka mulutnya lebar.
Pernyataan Ren jelas sangat mengejutkan meskipun Clarissa menganggapnya sekedar gertakan namun dia tidak berniat mengatakan apapun lagi.
Meskipun Clarissa berada dari keluarga kelas atas dan mengenal banyak orang cerdas namun ini kali pertamanya dia melihat orang seperti Ren yang nampaknya menguasai cukup banyak bahasa di usia semuda itu.
Umumnya untuk mempelajari sebuah bahasa diperlukan waktu yang tidak sedikit, bahkan Clarissa membutuhkan sekitar tiga tahun untuk menguasai bahasa Inggris.
“Kamu ini manusia atau mesin translate?” Clarissa berdecak kagum sekaligus heran, dia akui Ren berada jauh di atasnya jika itu persoalan bahasa.
“Kadang iya, kadang tidak, aku hanya pintar.” Ren tersenyum penuh arti dengan nada sedikit sombong.
Ren berani menyebut dirinya pintar namun tidak berani menyebut dirinya sendiri seorang genius. Dunia ini sangat luas sementara hanya sebagian kecil dunia yang sudah dilihat oleh Ren.
Selama dia masih ingat bahwa di atas langit masih ada langit, Ren tidak akan menjadi terlalu sombong untuk menjuluki diri sebagai sang genius.
“Kepercayaan dirimu membuatku kesal, suatu saat aku berharap melihatnya hancur di masa depan.” Clarissa menunjukkan senyuman sinis.
Clarissa yakin bahwa orang seperti Ren akan tersinggung dengan kata-kata yang menunjukkan bahwa ada orang yang jauh berada di atasnya dan dapat menghancurkan kepercayaan dirinya.
“Itu artinya kamu ingin terus bersamaku sampai saat kepercayaan diriku hancur?” Ren berniat menggoda namun Clarissa justru membuat wajah yang sangat jijik.
Ren sendiri tidak ambil pusing tentang dirinya akan dihancurkan oleh orang yang jauh lebih pintar darinya, selama akhirnya dia dapat belajar sesuatu maka bukanlah masalah.
Menyadari bahwa tidak akan ada kemajuan darinya berusaha menyulut emosi Ren, Clarissa akhirnya memilih bungkam selagi menatap punggung Ren.
Ren dan Clarissa tidak berbicara lebih lanjut. Meskipun Ren nampak biasa-biasa saja, kepalanya terasa sakit saat berdebat dengan Clarissa dan keheningan ini membuatnya bersyukur.
Tidak butuh waktu lama sampai mereka tiba di tempat yang menjadi pertemuan Ren dan Zain. Clarissa bingung dan menjadi waspada saat Ren berhenti bergerak meskipun belum ada tanda-tanda yang menunjukkan mereka tiba di tepi pantai.
Ren harus merepotkan diri dengan menjelaskan kepada Clarissa bahwa dia sedang menunggu temannya yang berpisah jalan di sini. Meskipun Clarissa masih nampak waspada dan Ren menyadari gadis itu sedikit gemetar, setidaknya dia berhasil menghindari kesalahpahaman berlanjut.
Mereka tidak menunggu begitu lama, Zain melambaikan tangan kepada Ren namun sudut matanya langsung berkedut setelah melihat keberadaan yang menyebalkan, Clarissa.
“Mengapa gadis itu ada di sini?” Ren menyipitkan matanya kepada Clarissa.
“Sangat lancang memanggilku dengan ‘gadis itu’ orang udik, panggil aku Nona Clarissa.” Clarissa melipat tangannya di bawah dadanya dan memandang rendah Zain.
Perlakuan seperti itu jelas mengusiknya namun yang membuat Zain tidak menyukai Clarissa karena dia adalah gadis yang menolak untuk bekerja sama.
Zain berpikir keberadaannya mencurigakan dan mungkin Clarissa berniat mencuri sumber makanan mereka sebelum akhirnya Ren menjelaskannya kepada Zain.
Ren memberitahu bahwa sebelumnya Clarissa tersesat di tengah hutan dan Ren tidak memiliki hati untuk meninggalkan seorang gadis sendirian di tengah hutan, alhasil dia meminta Clarissa mengikutinya untuk kembali ke perkemahannya.
Lagipula Clarissa dan Anastasia membangun Shelter tidak jauh sari tempat Ren dan kelompoknya berada, bisa dibilang perjalanan mereka searah.
Zain awalnya menentang hal tersebut namun dia menyadari meskipun Clarissa seperti hama yang menyebalkan, mau bagaimanapun dia tetaplah seorang gadis dan tidak bisa ditinggal sendirian meskipun menyebalkan.
“Sebelum kembali, kami berniat memetik beberapa apel yang kami temukan, jadi mungkin akan butuh waktu sedikit lebih lama.” Ren menjelaskannya kepada Clarissa yang masih berwaspada.
Sekarang terdapat dua orang pria di hadapannya, jelas bukan situasi yang menguntungkan baginya. Lagipula Clarissa tahu diri bahwa secara tidak langsung tindakannya membuat kelompok Ren memusuhinya, jika bukan karena keberadaan Ren maka tidak ada yang tahu apa yang akan mereka lakukan nantinya.