Azalea sangat menyukai novel, terkadang dia selalu ingin mengubah jalan cerita jika alur atau endingnya tidaks sesuai dengan ekspektasinya. Terkadang dia juga ingin masuk ke dunia novel supaya bisa merasakan pengalaman menjadi tokoh utama, apalagi jika tokoh utama yang di deskripsikan di kelilingi oleh pria-pria tampan. Dan keinginan Azalea menjadi kenyataan, seperti sebuah mimpi dia masuk ke dalam salah satu novel yang dia baca. Sayangnya tokoh yang dia perankan adalah gadis cantik yang malang. Akankah Azalea mampu menjalani kehidupan barunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
Jam pelajaran kedua adalah olahraga dan seperti biasa, Nayla paling membenci hari ketika pelajaran renang berlangsung, bukan karena ia tidak bisa berenang. Nayla justru sangat mahir, masalahnya adalah tatapan orang-orang. Tatapan yang selalu membuatnya merasa salah bahkan saat ia tidak melakukan apa pun.
Koridor sekolah pagi itu cukup sepi ketika Nayla berjalan menuju UKS sambil memegang perutnya. Wajahnya dibuat sedikit pucat, langkahnya diperlambat agar terlihat benar-benar sakit.
"Please percaya aja pak Dinar... please..." gumam Nayla pelan.
Ia sudah menitipkan surat izin pada Maya sejak tadi pagi dengan alasan datang bulan hari pertama. Biasanya alasan itu selalu berhasil.
Namun hari ini entah kenapa perasaannya tidak enak.
Nayla baru saja ingin membuka pintu UKS ketika seseorang tiba-tiba berdiri menghalangi jalannya.
Deviana.
Nayla langsung mendecakkan lidah malas.
Gadis itu berdiri sambil melipat tangan dengan senyum tipis yang jelas-jelas menyebalkan.
"Mau kemana?" tanyanya santai.
"Minggir," jawab Nayla cuek.
Namun Deviana tidak bergerak sedikit pun.
Nayla menghela napas panjang.
"Gue gak mood ribut pagi-pagi."
Deviana justru tersenyum makin lebar.
"Katanya sakit? Kok masih galak?"
Nayla memutar bola mata.
"Orang sakit juga bisa kesel kalau diganggu."
Karena Deviana tetap diam tak bergerak, Nayla akhirnya mendorong bahu gadis itu pelan agar menepi. Namun siapa sangka, Deviana justru menjatuhkan tubuhnya sendiri ke lantai.
"Awwh!" pekiknya keras.
Nayla langsung membeku.
"Apaan sih lo?"
Deviana meringis sambil memegang pergelangan kaki.
"Sakit banget..."
Nayla menatap tidak percaya. Tadi dorongannya bahkan nyaris tidak terasa. Dengan malas Nayla mengulurkan tangan.
"Udah, berdiri sana. Drama banget."
Namun baru saja Deviana meraih tangannya, gadis itu kembali menjatuhkan tubuhnya. Kali ini lebih heboh dan sialnya...
"Zhiva?"
Suara Devan terdengar dari ujung koridor.
Nayla langsung menutup mata sesaat.
Mampus.
Devan berlari mendekat bersama Jevan yang berjalan beberapa langkah di belakangnya.
"Lo kenapa bisa jatoh?" tanya Devan panik sambil membantu Deviana berdiri.
Deviana langsung memasang wajah memelas.
"Nayla dorong gue..."
Pandangan Devan otomatis berubah tajam pada Nayla.
"Serius lo?"
Nayla tertawa hambar.
"Kalau gue bilang enggak juga lo bakal tetep percaya dia kan?"
Deviana menunduk pura-pura sedih.
"Aku cuma mau nyapa dia tadi..."
"Terus pas gue jatoh dia malah narik gue sampai jatoh lagi," lanjutnya lirih.
Nayla memijat pelipis.
Sumpah.
Ia benar-benar ingin pulang.
"Terserah," jawab Nayla malas.
Tatapannya sempat beralih pada Jevan.Cowok itu hanya berdiri diam dengan kedua tangan di saku celana.
Tidak membela.
Tidak bertanya.
Bahkan tidak menatap Nayla.
Sikap dingin Jevan akhir-akhir ini perlahan menghancurkan sesuatu dalam diri Nayla. Padahal beberapa hari lalu hubungan mereka mulai membaik. Namun sekarang cowok itu kembali menjauh. Lebih dingin dari sebelumnya. Dan Nayla tahu alasannya.
Bagus.
Papah mereka.
Sejak Jevan mengetahui alasan Bagus membenci Nayla, semuanya berubah.
Jevan mulai ikut menjaga jarak.
Mulai melihat Nayla sebagai sumber masalah. Dan meski tidak pernah mengatakannya langsung, Nayla bisa merasakannya.
"Lo jadi orang jangan jahat-jahat bisa gak sih?" sindir Devan.
Nayla menatap cowok itu datar.
"Kalau udah selesai nuduhnya, gue pergi dulu."
"Woi tanggung jawab lo!" bentak Devan.
Nayla tidak peduli.
Ia berjalan cepat meninggalkan mereka.Namun baru beberapa langkah, suara peluit terdengar.
"Nayla!"
Pak Dinar.
Guru olahraga mereka berjalan mendekat sambil mengernyit curiga.
"Kamu gak ikut olahraga katanya sakit?"
Nayla langsung memegangi perutnya.
"Eh aduhh sakit pak... sakit banget ini..." rintihnya dramatis.
Dalam hati Nayla terus berdoa agar kebohongannya dipercaya.
Pak Dinar menatap Nayla penuh selidik.
"Kata Deviana kamu bohong. Dia bilang kamu sehat-sehat aja."
Nayla langsung melirik Deviana tajam.
Gadis itu pura-pura polos di belakang Devan.
"Dia yang bohong pak," bela Nayla cepat. "Saya beneran sakit perut kok."
"Bohong pak."
Suara Jevan membuat Nayla langsung menoleh. Cowok itu akhirnya bicara. Dan kalimat pertama yang keluar justru menghancurkannya.
"Saya lihat sendiri dia dorong Deviana sampai jatoh."
Mata Nayla membesar.
"Jevan?"
Namun Jevan tetap memasang ekspresi dingin.
"Dia juga keliatan sehat dari tadi."
Nayla tercekat.
Dadanya terasa sesak.
Pak Dinar langsung menghela napas kesal.
"Nayla, kamu ini siswi berprestasi. Kenapa tingkahnya begini?"
"Pak, saya gak sengaja!" bela Nayla cepat.
"Saya cuma nyuruh dia minggir!"
"Yasudah," potong Pak Dinar tegas. "Cepat ganti baju lalu ikut praktik renang."
Nayla langsung panik.
"Tapi pak—"
"Jangan membantah."
Nayla mengepalkan tangan.
Sial.
Semuanya benar-benar berantakan.
Dan semua itu karena Jevan.
Cowok itu bahkan tidak terlihat bersalah sedikit pun.
...
Area kolam renang sekolah sudah ramai oleh suara murid-murid.
Nayla duduk di ujung bangku sambil memandangi air kolam dengan wajah muram.
Ia sebenarnya takut air.
Bukan takut berenang.
Tetapi takut tenggelam.
Waktu kecil Nayla pernah hampir tenggelam saat liburan keluarga. Dan sejak kejadian itu, ia selalu merasa sesak setiap berada terlalu lama di air.
Tidak banyak yang tahu soal itu.
Termasuk Jevan. duduk di ujung bangku sambil memandangi air kolam dengan wajah muram.
Nayla menatap permukaan air yang berkilau terkena sinar matahari.
Kepalanya mulai pusing.
"Kenapa belum masuk?"
Suara Pak Dinar membuat Nayla tersentak.
"Saya masih sakit pak..."
"Dari tadi juga alasan kamu sakit terus."
Nayla menggigit bibir.
Pak Dinar jelas sudah tidak percaya padanya.
Di sisi lain kolam, Deviana sedang tertawa kecil bersama Devan.
Sesekali gadis itu melirik Nayla dengan senyum menang.
Nayla benar-benar muak.
"Cepat pemanasan!" teriak Pak Dinar lagi.
Dengan malas Nayla berdiri.
Saat itulah ia menyadari Jevan sedang berdiri tidak jauh darinya.
Cowok itu tampak sibuk memainkan ponsel.
Seolah kejadian tadi bukan masalah besar.
Nayla berjalan mendekat.
“Lo puas sekarang?” Nayla melontarkan pertanyaan itu dengan suara serak, dingin seperti es yang menggigit tulang.
Jevan menunduk, tak langsung menjawab, bibirnya mengeras. “Gue cuma ngomong apa yang gue lihat,” ujarnya dengan nada datar, tapi matanya berkilat dingin.
Nayla melepas tawa kecil, sinis, menusuk hingga ke hati. “Bullshit.”
Jevan akhirnya menatapnya dengan tatapan beku, seperti badai yang siap mengamuk. “Lo memang yang dorong dia, kan?”
“Pelan!” Nayla membentak pelan tapi penuh amarah yang tersimpan dalam dada.
“Lo pikir itu gak separah yang dia omongin?” Jevan terdiam, napasnya berat.
Nayla menatapnya, kecewa menghujam dalam. “Kenapa sekarang lo jadi kayak gini?”
“Apa maksud lo?” Suara Jevan serak, rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol.
“Dulu, lo gak kayak gini,” Nayla berkata sambil menahan getir dalam suara.
Jevan membalas dingin, “Orang bisa berubah.”
Nayla tertawa pahit, suaranya seperti deru angin malam yang membawa kehampaan. “Atau karena sekarang lo mulai percaya omongan papah?”
Sejurus, tubuh Jevan menegang seperti kaku, rahang yang mencengkeram kuat, kemarahan yang mendidih di balik matanya. Nayla tahu dia benar mengena seperti panah beracun.
“Hati-hati sama omongan lo,” Jevan berucap dengan suara rendah yang dingin, hampir seperti ancaman yang terselubung.
“Kenapa?” Nayla menantang, suaranya meninggi, bergetar oleh campuran luka dan kemarahan. Jevan mengepalkan tangan sampai tulang di jemarinya nyaris retak.
“Nayla, gak semua orang bisa terus sabar sama lo.” Kalimat itu seperti pukulan keras di wajah Nayla.
Napasnya tertahan, jantungnya terasa tercekat. “Oke,” jawabnya lirih, suaranya berderak di antara kegetiran dan penyerahan diri.
Lalu ia pergi sebelum Jevan melihat matanya yang mulai berkaca-kaca.