NovelToon NovelToon
Penulis Terjebak; Tolong, Karakter Gue Ngamuk

Penulis Terjebak; Tolong, Karakter Gue Ngamuk

Status: tamat
Genre:Epik Petualangan / Romansa Fantasi / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ananda Anggit

"Dewa Penulis... kenapa Kau bikin kami hidup, tapi gak kasih kami arti?" — Lord Valgus, Penyihir Jahat

Gue Leon, dan gue yang bikin dunia ini. Gue yang nulis siapa hidup, siapa mati, siapa kuat, siapa lemah. Tapi gue ngelakuinnya santai banget, asal ketik aja di keyboard. Buat gue, ini cuma cerita hiburan doang.

Sampai akhirnya gue malah terjebak masuk ke dalam cerita itu sendiri.

Ternyata, jadi penulis itu gak enak ya kalau ceritanya sendiri berantakan. Kerajaan megah tapi bentuknya aneh, tokoh-tokohnya punya perasaan sendiri di luar naskah, terus musuh utama malah pengen bunuh gue karena ngerasa hidupnya cuma dipermainkan.

Sekarang gue gak cuma nulis cerita lagi. Gue harus hidup di dalamnya, benerin semua kesalahan gue, dan bikin akhir cerita yang adil buat mereka... sebelum gue dihukum sama karya gue sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 25.

Setelah seminggu berada di rumah, kondisi Leon sudah benar-benar pulih. Ia bisa beraktivitas seperti orang biasa, meski kadang masih butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang terasa sedikit asing setelah lima tahun terlewatkan.

Suatu pagi, saat ia sedang duduk di teras sambil membaca buku catatannya, Pak Indra mendekat dengan senyum. “Nak, hari ini ada kabar baik. Teman-temanmu dari sekolah dulu sudah tahu kamu pulang dan membaik. Mereka sudah menelepon berkali-kali, ingin sekali menengokmu. Apakah kamu siap bertemu mereka?”

Leon terdiam sejenak, lalu mengangguk perlahan. Ia memang penasaran, sekaligus sedikit gugup. Dalam ingatannya, ia masih mengingat wajah dan nama-nama sahabatnya, tapi tidak tahu bagaimana keadaan mereka sekarang setelah sekian lama.

Belum lama berselang, terdengar suara kendaraan berhenti di depan rumah. Pintu gerbang terbuka, dan tiga orang pemuda masuk dengan langkah tergesa namun penuh hati-hati. Begitu melihat Leon yang berdiri menyambut di teras, mereka berhenti sejenak, matanya terbelalak tak percaya.

“Leon… ini beneran lo ?” seru salah satu dari mereka, seorang pemuda bertubuh tinggi besar bernama Dimas, yang dulunya paling dekat dengannya.

Leon tersenyum tipis dan melambaikan tangan. “Iya, ini gue. Maaf udah bikin kalian nunggu lama.”

Tanpa ragu, Dimas segera mendekat dan memeluknya erat, diikuti dua orang lainnya Raka dan Bimo. Suasana haru segera menyelimuti mereka. Selama lima tahun, mereka hanya bisa berdoa dan sesekali menjenguk Leon yang terbaring tak sadarkan diri. Hampir saja mereka kehilangan harapan, tapi sekarang sahabat mereka sudah berdiri tegak di hadapan mereka.

“Gue nggak nyangka bisa lihat lo lagi kayak gini,” ujar Raka sambil mengusap sudut matanya yang berkaca-kaca. “Setiap kali kita datang ke rumah sakit, nyokap lo selalu bilang kalo lo masih berjuang. Dan lihat sekarang… lo benar-benar bangun.”

Mereka pun duduk melingkar di teras, saling bertukar kabar. Teman-temannya menceritakan apa saja yang terjadi selama Leon terbaring koma: bagaimana mereka lulus sekolah, melanjutkan kuliah, mulai bekerja, hingga kisah-kisah konyol dan menyenangkan yang mereka alami.

Mendengarnya, Leon merasa ada celah yang perlahan terisi kembali. Meskipun ingatannya tentang masa-masa itu masih samar, rasa akrab dan kehangatan persahabatan itu terasa nyata, sama persis seperti yang ia rasakan bersama Zarek dan Valgus di dunia cerita.

“lo nggak ingat sebagian kejadian itu nggak apa-apa,” kata Bimo yang menyadari raut wajah Leon yang sedikit bingung. “Yang penting lo udah ada di sini lagi. kita akan ceritakan semuanya pelan-pelan, sampai lo bisa ingat lagi.”

Leon tersenyum tulus, kali ini tanpa rasa ragu. “makasih, bro. Rasanya seperti baru aja kembali ke tempat yang seharusnya. Gue pikir setelah sekian lama, semuanya akan berubah dan melupakan gue, tapi ternyata kalian masih ada di sini.”

“ngelupain? nggak mungkin!” potong Dimas dengan suara lantang. “Persahabatan kita nggak bisa putus begitu saja, apalagi hanya karena waktu dan keadaan. lo adalah bagian dari hidup kita, Leon.”

Siang itu berlalu dengan penuh tawa dan cerita. Leon mendengarkan dengan saksama, sesekali bertanya hal-hal yang belum ia pahami. Ia menyadari satu hal penting di dunia ini pun, ia memiliki ikatan yang kuat, orang-orang yang menyayanginya dan menunggunya kembali.

Saat matahari mulai condong ke barat, teman-temannya pamit pulang, tapi berjanji akan datang lagi besok dan mengajak Leon berkeliling untuk melihat perubahan yang ada di kota mereka.

Setelah mereka pergi, Leon kembali duduk sendirian, memegang buku catatannya di pangkuan. Ia merasakan kehangatan yang sama baik dari orang tuanya, teman-temannya di dunia nyata, maupun dari sahabat dan Liora di dunia cerita.

“Ternyata gue memang punya dua tempat pulang,” gumamnya pelan sambil tersenyum. “Dan keduanya sama berharga.”

Di halaman kosong buku catatannya, ia menulis satu kalimat baru. Persahabatan dan kasih sayang tidak mengenal batas dunia, waktu, atau kenyataan. Di mana pun kita berada, ikatan itu akan tetap terjaga.

1
Sarah
Ini karya yang bagus sih, Kak Anggita. Aku suka sama pesan tentang menerima takdir dan Leon yang akhirnya sadar tempatnya itu di dunia nyata. Aku juga suka sama endingnya yang kerasa adem banget terus penuh dengan pesan saling memaafkan juga. Aku juga suka sama proses tentang sihir Reza itu yang akhirnya beneran ditunjukkan awal mulanya. Saran aku sebagai pembaca bener-bener ditampung dan dipertimbangkan. Ceritanya santai dan ringan banget. Aku pasti bakal rate sih, Kak. Meski bukan sekarang. 👍
Sarah
Nah ’kan~
Aku sudah mencium baunya. /Doge/
Sarah
Laki-laki juga boleh nangis, kok. Kalian kan juga manusia. Cuma turun-turunin ego aja~
(Dan jangan di tempat umum juga sih~) 😌
Sarah
Ia, tempatmu di sini, Leon. Kecuali kalau kamu bener-bener mati di dunia nyata terus isekai. Jodohmu cari yang satu dimensi aja. 😂
Sarah
Sejak awal juga sebenarnya aku bingung...
Nanti kalau Leon jadi sama Liora... gimana??
Tinggalnya dimana?
Terus kalaupun ada jembatan antara dua dunia... bingung juga sih...
maksudku...
Di dunia cerita dia beristri, putri dari kerajaan cahaya pula.
Sementara di dunia nyata ibu-ibu masih suka nanya, “Leon kapan nikah?” 😭
Sarah
Baru tau kekuatan dukun bisa untuk isekai... mau juga dong... 😭
Sarah
Meskipun aku kritik bukan berarti aku benci yah.
Semangat yah, aku kasih 2 bunga deh./Rose/👍
Sarah
Sayangnya kematian Liora masih terasa kurang emosional. Kurang pendalaman emosi sama reaksi karakter lain (selain Leon. Zarek, Valgus, Raja, semuanya juga orang terdekat Liora. Padahal mereka orang yang bahkan lebih lama bersama Liora, Tapi yang di highlight paling terpukul... Leon doang. Zarek reka Liora sejak lama, Valgus... dulunya musuh tapi sekarang temannya juga, Raja... ya... bayangin aja, putri kesayangan lu satu-satunya mati di hadapan lu. Harusnya yang paling terpukul gak cuma Leon doang. Reaksi karakter lain gak langsung tegar dan suruh Leon balik. Masih ada tahap renungan dulu pasca tubuh Liora memudar.)
Mana scene pas matinya itu kayak masih berada cepet banget.
Paling kekurangan besar cerita ini... dramanya sih.
(Ya... lain kali aja aku jabarkan lebih jelas soal ini.)
Sarah
Aku jadi bertanya-tanya lagi, Leon ini sebenarnya penulis hebat atau amatir sih? Kalau di bilang yang udah jago rasanya gak mungkin deh. Karena ya... dunia cerita dia ajak se-gak jelas itu. Dan jujur tokoh-tokoh di dunia ceritanya Leon masih kerasa kaku kurang natural dan ada vibe klise nya juga. Tapi, dipuji guru yah?... bagus dong tulisannya.
Atau apakah gini...
Tulisan yang dimaksud kayak tulisan yang tugas-tugas gitu, tapi kalau buat nulis novel masih belum...?
Sarah
Gue pikir bakal di bogem. Untung kagak. Biasanya kan gitu di cerita-cerita film/novel. 😂
Ya... meskipun emang salah, kalau dia langsung nge-bogem juga Dimas jadi ikutan salah. Bayangin aja baru bangun, masih di RS, terus dipukul. /Facepalm/
Sarah
Kamu masih punya ortu dan temen-temenmu, Leon...
Sarah
Wait, meskipun aku gak terlalu sedih sih tapi... agak gak nyangka juga dia bakal mati sekarang. 😦😮
Sarah
Jangan lupa mie instan, Bang~ 😌
Sarah
Mon maap, Leon udah berapa hari di dunia cerita yah? Takut gak bisa balik eyy. Asaan udah lamaa. /Scowl/
Sarah
Nama, thor. Biasakan huruf awal kapital.
Sarah
Masa selamanya? Nanti layu dong. 😂
Wulandari Ayuningtyas
Semangat thor💪
Ananda Anggit: semangat💪💪
total 1 replies
Sarah
Kalau menurutku... Bimo emang gak sejahat itu sih, dia iri aja itu mah. Coba pikirin deh, 5 tahun koma... tidak sadarkan diri, titik paling tak berdaya, itu bukan waktu yang singkat lho. Dalam jangka waktu itu kalau Bimo mau, dia bisa aja bunuh Leon. Diam-diam tinggal cabut alat-alat rumah sakit yang ada badannya, atau bisa lewat cara apa aja asal diam-diam. Udah deh, bisa wassalam itu Si Leon. Tapi meski 5 tahun, tapi dia gak ada niatan bunuh Leon. Padahal itu waktu yang panjang banget untuk merencanakan sesuatu...
Sarah
Tapi, aku masih bertanya-tanya... soal Leon yang awalnya ingetnya dia anak kost dan sebelum masuk cerita dia lagi di kamar kost-an. Padahal nyatanya dia sama sekali gak pernah nge-kost?
Sarah
Nah, mulai lebih make sense nih. Good job. 👍😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!