Cerita di bumbui 21++. Harap bijak dalam membaca❤
Albian Yunanda, terlahir dengan segala kesempurnaan dan kekayaanya, namun tidak prihal asmara. Sebab, lelaki berusia 26 tahun itu harus menerima kenyataan pahit, bahwa Aluvi Tiana alias Vivi wanita yang sangat dirinya cintai justru tega berkhianat dengan menjalin hal tak terpuji dengan Narendra, sahabat Bian sendiri. Vivi rela memberikan seluruh jiwa dan raganya demi Rendra sementara statusnya sebagai tunangan Bian.
Hal itulah yang menimbulkan luka yang amat dahsyatnya dan memakasa Bian harus membalas rasa dan luka hati yang kini dirinya rasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shanty fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecupan Terima Kasih.
🕊
Hari hari terus berganti, waktu pun terus berlalu. Vivi dan Bian menjalani hari tak ubah layaknya teman satu kosan, Bian lebih banyak diam dan jarang pulang, sedangkan Vivi menikmati hari-harinya sendiri dengan perut yang mulai berisi, karena usia kandunganya kini sudah memasuki empat bulan.
🕊
Kring. Kring. Kring
Telpon rumah berdering, dengan sigap Vivi segera mengangkatnya, dan terdengar suara seseorang yang sangat dia rindukan.
"Vivi, apa kabar sayang?"
"Mama." Ucapnya lirih saat mendengar suara lembuat si mama dari seberang panggilan telponya. "Kabarku, baik. Mama apa kabar?"
"Baik, sayang. Bagaimana kandunganmu?"
"Sudah 4 bulan ma, kemaren Bian baru saja mengantarkanku priksa ke klinik," Vivi menjelaskan.
Karena memang kenyataan, meski tak begitu tampak perduli, masalah kandungan Bian tetap siap siaga.
"Syukurlah, kalau suami perduli."
"Iya, ma. Bian juga sayang dan perhatian, bahkan dia selalu memintaku mangirim uang untuk mama setiap bulan," Vivi menjelaskan padahal uang tersebut hasil kerja kerasnya sendiri bekerja di kantor sang suami.
"Syukurlah." Lagi-lagi, kata itu yang keluar dari bibir Amira.
"Mama, Vivi rindu," ucapnya sendu.
"Mainlah ke rumah sayang, mama juga merindukanmu," jawab Amira dengan segenap rasa rindunya.
"Ma, maafkan aku, belum bisa pulang ke rumah mama sekarang, karena kata dokter aku tak boleh melakukan perjalanan jauh, karena usia kandunganku masih cukup rentan," Vivi berbohong, semua ucapan baik-baik saja adalah bohong.
Karena ternyata, Vivi kini berada dalam tekanan yang cukup melelahkan. Bahkan Vivi mencari beribu cara dan alasan agar si mama tak datang menjenguknya, karena Vivi tak mau jika si mama tau bahwa hubunganya dengan Bian tak seindah yang dia ceritakan.
"Jika mama ke sini, dia akan tau kalau hubunganku bermasalah dan Bian jarang pulang kerumah," batin Vivi sendu, terpaksa harus berbohong pada Amira.
Sepanjang percakapanya dengan sang mama dan sandiwaranya yang pura-pura baik-baik saja. Selama itu pula Bian mendengarkan percakapan keduanya, bagaimana pintarnya Vivi menutupi ke bobrokanya.
"Bi_bian, kau di sana?" tanya Vivi setelah menutup panggilan telponya dengan sang mama, dan menyadari kehadiran Bian.
"Kau rupanya pandai bersandiwara ya?" pujian atau ejekan yang keluar dari bibir si tampan.
Vivi terdiam sesaat, menatap lekat-lekat padangan tajam Bian kepadanya.
"Kau mendengar percakapanku dengan mama?" telisik Vivi lagi.
"Ya. Aku bahkan mendengar dari awal sampai akhir, bahwa istriku ini sangat baik hati telah menutupi keburukan suaminya sendiri," jelasnya namun terdenger seperti ejekan.
Vivi kembali terdiam, terlebih lagi Bian kini melangkahkan kakinya secara pelan ke arah dimana dirinya berada.
Sorot tajam dan menghujam menatap tajam wajah si cantik yang juga mundur pelan dan perlahan.
"Bi_bian. Kau mau apa?" tanyanya gemetar.
"Mengucapkan terima kasih, karena kau telah berbaik hati membelaku dan menutupi semua keburukanku," jawabnya dengan sorot mata antara tulus dan pura-pura.
Vivi tak bisa membaca sikap Bian kini, apakah dia benar-benar akan berterima kasih atau akan mencacinya dengan kata-kata yang menyakitkan lagi.
Kini Bian benar-benar berada di hadapan istrinya. Tubuh Vivi terasa panas dingin, hembusan nafas Bian seolah mengenai wajah cantiknya.
Bian mendekatkan wajahnya, tepat di wajah Vivi, hingga debaran di jantung si cantik kian berlomba. Nafasnya seolah terasa sesak seketika.
"Bolehkah aku menciumu?" tanya Bian tanpa ragu dengan tatapan yang seolah siap membunuh.
"A_apa, maksudmu?"
"Ini pertama kalinya aku meminta hakku, setelah 4 bulan usia pernikahan kita," jelas Bian lagi.
"Haaaaah," Vivi melotot tak percaya mendengarnya.
"Anggap ucapan terima kasih karena kebaikanmu tadi,"
"Apa harus menciumku?"
Mendengar itu Bian kian mendekatkan wajahnya, hingga satu gerakan saja bibir keduanya saling bersentuhan.
Pfffffff
Bian benar-benar mengecup bibir Vivi dan perasaan aneh menyerang tubuh keduanya. Vivi hanya mampu diam dan memejamkan mata.
"Eeemmm." suara itu keluar dari bibir Bian.
Nafas keduanya kian memburu menderu dan semakin mempercepat kecupan. Vivi tetap diam dan membiarkan Bian melakukan apa yang diinginkan, karena nyata adanya, selama 5 bulan bersama Bian tak pernah sekali pun minta haknya.
Dua menit berlalu, Vivi yang masih terpejam tak merasakan apapun lagi yang Bian lakukan. Bahkan nafas hangat tadi tak Vivi rasa lagi.
Perlahan Vivi membuka mata dan menatap ke sekelilingnya. Tak ada siapa pun di hadapan wanita cantik tersebut.
"Bi. Bian," panggilnya pelan seraya memegangi bibirnya yang masih merasakan hangatnya kecupan Bian.
Sorot matanya menatap seluruh ruangan, namun tetap tak dirinya temukan keberadaan, Bian. Vivi hanya membuang nafas lirih, lagi-lagi Bian pergi tanpa permisi dan teganya meniggalkan di tengah-tengah kecupan pertama yang mereka berdua lakukan.
.
.
🐒Otak tolong di kondisikan😭🐒
🕊
kalo bisa coba di ubah jgn kasar SM wanita.
hmm cinta itu bukan hanya sekadar aku dan kamu namun bagaimana caranya agar aku dan kamu menjadi kita, bagaimana caranya agar aku dan kamu bukan lagi 2 melainkan 1, dan aku dan kamu apa lagi kak 😂😂😂😂😭😂
aku dan kamu dan kita selamanya gitu wae ya 🏃♀🏃♀
gak balas komen ini sombong
🛴😂💨💨💨💨