NovelToon NovelToon
SEMUA SALAH BUNDA

SEMUA SALAH BUNDA

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Horor / Hantu / Tamat
Popularitas:976
Nilai: 5
Nama Author: Andhig Rosdiana

Di balik senyumnya, Yovana (17) menyimpan rahasia kelam. Seseorang telah merenggut masa depannya, sementara Bunda—orang yang paling ia cintai—terlalu buta untuk menyadari penderitaannya.
​Hingga akhirnya, Yovana memilih menyerah dan mengakhiri hidupnya.
​Penyesalan terlambat meremukkan hati Bunda. Namun, kematian Yovana ternyata bukan akhir dari segalanya.
​Bunga kamboja yang mendadak membusuk menghitam.
Jejak langkah di lorong rumah saat tengah malam.
Dan aroma khas Yovana yang menyeruak di udara.
​Di kota lain, Zain mulai diteror oleh dosa masa lalu yang ia kubur rapat-rapat. Satu per satu orang di sekelilingnya menjadi korban.
​Yovana telah kembali.
Bukan untuk mencari pelukan hangat ibunya, melainkan untuk menagih hutang darah dan keadilan.
​Sementara Bunda hanya bisa meratapi takdir dalam kehancuran. Karena pada akhirnya, penyesalan tak akan pernah mampu menghentikan dendam yang menuntut bayaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

YOVANA

​Pagi itu Yovana terbangun lebih cepat dari biasanya.

​Ia duduk melamun di tepi tempat tidur sambil menatap jam dinding. Baru pukul enam lewat sedikit. Dari luar, samar-samar terdengar suara Bunda menyapu halaman.

​Yovana mengusap wajahnya, lalu berdiri dan membuka pintu kamar. Di halaman depan, Bunda sedang mengumpulkan daun-daun kering yang berguguran dari pohon tetangga.

​"Bun," sapa Yovana pelan.

​Bunda menoleh, menghentikan sapunya sejenak. "Lho, sudah bangun, Yov?"

​"Sudah."

​"Masih pagi. Kalau masih capek, tidur lagi saja. Hari ini kan masuk siang."

​Yovana menggeleng. "Enggak ngantuk lagi, Bun."

​Ia berjalan ke sudut teras dan mengambil sapu lidi yang satu lagi.

​"Biar Yovana bantu."

​"Enggak usah, tinggal sedikit kok. Nanti kamu capek sebelum kerja."

​"Masih lama jam berangkatnya, Bun."

​Bunda akhirnya membiarkan Yovana menyapu area teras depan, sementara ia membersihkan bagian samping dekat selokan.

​Momen seperti ini bukan hal baru. Sejak Yovana masih SD, ia sudah terbiasa melihat Bunda mengurus rumah sendirian. Tanpa mengeluh, tanpa banyak menuntut.

​Kehidupan mereka berubah drastis sejak ayah Yovana pergi.

​Dulu, saat masih kecil, Yovana tidak paham kenapa ayahnya tidak pernah pulang. Bunda hanya bilang kalau Ayah sedang bekerja jauh di luar kota. Namun bertahun-tahun kemudian, barulah Yovana mengerti bahwa ayahnya tidak akan pernah kembali lagi. Ayahnya telah menikah lagi secara diam-diam dan membangun keluarga baru di tanah perantauan.

​Yovana kecil yang belum paham arti pengkhianatan hanya bisa melihat satu hal: sejak hari itu, Bunda sering menangis sendirian mengira Yovana sudah tidur.

​Sejak saat itulah Yovana belajar untuk tidak pernah banyak meminta. Ia tidak mau menambah beban di pundak ibunya. Kebiasaan untuk memendam semuanya sendiri akhirnya terbawa sampai ia dewasa.

​"Yov."

​Suara Bunda menghentikan lamunan Yovana.

​"Iya, Bun?"

​"Kamu... benar-benar enggak mau ikut ujian paket terus kuliah atau kerja yang lain?" tanya Bunda hati-hati.

​Tangan Yovana yang memegang gagang sapu. Pertanyaan itu bukan pertama kali terdengar, tetapi selalu berhasil membuat dadanya tidak nyaman.

​"Enggak, Bun. Yovana sudah nyaman kerja di kafe."

​Bunda menghela napas pendek. "Umur kamu baru tujuh belas tahun, Yov. Masa depan kamu masih panjang."

​"Aku tahu."

​"Kalau suatu hari kamu berubah pikiran dan mau sekolah lagi, bilang sama Bunda, ya."

​Yovana tersenyum tipis, mencoba mencairkan suasana. "Memangnya Bunda punya uang buat biayain?"

​Mendengar itu, Bunda menghentikan sapunya dan menatap Yovana lurus-lurus. Nada suaranya berubah tegas. "Jangan pernah ngomong gitu lagi."

​"Kan emang kenyataannya begitu, Bun. Biaya sekolah atau kuliah mahal."

​"Soal biaya itu urusan Bunda. Selagi Bunda masih sanggup jahit, Bunda cari uangnya."

​Yovana terdiam. Tenggorokannya terasa tersumbat. Rasa bersalah langsung menyenggol hatinya. Ia tahu betul Bunda rela melakukan apa saja untuknya—bahkan mengorbankan kesehatannya sendiri. Dan alasan itulah yang membuat Yovana tidak pernah tega menceritakan penderitaannya.

​"Yovana cuma enggak mau Bunda makin capek," cicit Yovana pelan.

​Tatapan Bunda melunak. Ia melangkah mendekati Yovana dan menepuk bahu anaknya lembut.

​"Bunda cape kerja itu biasa, Yov. Tapi Bunda enggak pernah cape berjuang buat kamu."

​Kalimat sederhana itu menusuk tepat di dada Yovana. Ia menundukkan kepala dalam-dalam, tak berani menatap mata ibunya.

​"Sudah, yuk masuk. Kita sarapan," ajak Bunda tenang, lalu berjalan duluan ke dalam.

​Yovana berdiri terpaku beberapa saat di teras, memegangi dadanya yang terasa makin sesak.

​Siang harinya, suasana kafe cukup sibuk. Yovana bergerak lincah mengantar pesanan dari meja ke meja. Saat kembali ke area kasir, ia melihat Rani sedang mengelap meja bar.

​"Yov," panggil Rani.

​"Iya?"

​"Semalam kamu pulang jam berapa?"

​"Sembilan lewat dikit. Kenapa?"

​Rani mengamati wajah Yovana. "Gak tahu ya, dari kemarin muka kamu kelihatan beda. Kayak orang yang kepalanya penuh banget. Ada masalah?"

​Yovana terkekeh pelan, berusaha bersikap biasa. "Kamu terlalu matang merhatiin orang, Ran."

​"Ya habisnya kamu aneh. Ditanyain malah ketawa."

​"Aku kan emang dari dulu begini," sahut Yovana santai sambil mengambil nampan bersih.

​Percakapan mereka terpotong saat lonceng pintu kafe berbunyi menandakan kedatangan pelanggan baru. Yovana kembali sibuk melayani mereka.

​Baru menjelang sore, Yovana mendapat kesempatan istirahat sepuluh menit. Ia duduk di ruang belakang yang agak sepi dan membuka ponselnya. Ada satu pesan masuk dari Bunda:

​Pulang jangan kemalaman ya, Yov. Bunda masak sayur lodeh.

​Yovana mengetik balasan singkat: Iya, Bun. Nanti Yovana langsung pulang.

​Setelahi mengoperasikan pesan, jempolnya tanpa sadar membuka aplikasi galeri foto. Yovana mengusap layar ke atas, melintasi foto-foto lama. Ada foto dirinya saat SD, foto Bunda yang sedang tersenyum di depan mesin jahit tua, dan foto rumah mereka sebelum pagar depannya diganti.

​Namun, gerakan jarinya terhenti pada satu foto.

​Foto itu memperlihatkan Yovana kecil yang memegang es krim, berdiri di antara Bunda dan seorang laki-laki dewasa bertopi.

​Napas Yovana mendadak berat. Tangannya gemetaran dan buru-buru mematikan layar ponsel. Ia memejamkan mata erat-erat, mencoba mengusir ingatan yang mulai berputar liar di kepalanya.

​"Yov!" panggil Rani dari balik pintu dapur.

​Yovana tersentak. "Iya, Ran?"

​"Pesanan meja lima sudah siap, nih!"

​Yovana langsung memasukkan ponselnya ke saku celemek dan berdiri. "Oke,

​Ia merapikan rambutnya sebentar, melempar napas panjang, lalu kembali berakting seolah tidak ada hal buruk yang baru saja terjadi.

​Malam itu Yovana pulang sedikit lebih awal karena pengunjung kafe tidak begitu ramai.

​Saat ia melangkah masuk ke rumah, suara mesin jahit Bunda sudah berderu. Kain-kain katun berbagai warna menumpuk di meja kayu.

​"Kok sudah pulang, Yov? Baru jam delapan," tanya Bunda tanpa menghentikan injakan pedalnya.

​"Kafenya sepi, jadi boleh pulang cepat," jawab Yovana sambil meletakkan tasnya di atas sofa. Ia berjalan mendekati meja jahit. "Pesanan orang, Bun?"

​"Iya, ini seragam pengajian tetangga sebelah. Besok sore harus selesai."

​"Banyak banget?"

​"Ada delapan stel lagi."

​Yovana mengambil kursi kecil dan duduk di samping Bunda. "Yovana bantu, ya?"

​Bunda tertawa kecil. "Membantu apa? Kamu kan enggak bisa jahit."

​"Pegangin kainnya atau rapikan benangnya kan bisa," kata Yovana terkekeh.

​"Ya sudah, tolong potongin sisa-sisa benang di baju yang sudah jadi itu. Guntingnya ada di meja."

​Yovana mengambil gunting kecil dan mulai membersihkan benang-benang yang terurai di pinggiran kain.

​Untuk beberapa saat, hanya ada suara deru mesin jahit dan gunting yang beradu. Suasana di ruangan kecil itu terasa begitu hangat dan tenang. Tidak ada pembicaraan berat, hanya kebersamaan sederhana antara ibu dan anak.

​Yovana menatap Bunda dari samping. Bagi orang lain, kehidupan mereka mungkin membosankan. Tapi bagi Yovana, ketenangan seperti inilah yang paling ingin ia pertahankan.

​Ia ingin hidupnya tetap seperti ini saja. Bunda tetap menjahit, Yovana tetap bekerja di kafe, dan mereka makan malam bersama setiap hari. Tanpa perlu ada yang bertanya soal masa sekolahnya, dan tanpa perlu ada yang membongkar rahasia kelam yang selama ini ia kunci rapat-rapat.

​"Bun..." panggil Yovana lirih di antara suara mesin jahit.

​"Iya?"

​"Kalau... suatu hari Yovana pergi jauh, Bunda gimana?"

​Injakan kaki Bunda di pedal mesin jahit mendadak berhenti. Jarum jahit tertahan di atas kain. Bunda menoleh dengan dahi berkerut.

​"Kenapa tiba-tiba nanya begitu?"

​"Enggak apa-apa, cuma nanya aja."

​Bunda menatap mata Yovana cukup lama, lalu menghela napas. "Bunda pasti sedih lah, Yov. Rumah ini cuma ada kita berdua. Tapi kalau pergi kamu buat kebaikan atau masa depan kamu, Bunda bakal berusaha merelakan."

​Yovana tersenyum tipis. "Bunda harus tetap sehat dan bahagia ya, walau nanti Yovana enggak di rumah."

​"Hus, ngomongnya kok kayak mau kemana aja," kata Bunda sambil mengetuk jidat Yovana pelan memakai ujung jarinya. "Sudah, cepat selesaikan potongan benangnya."

​Yovana tertawa pelan, lalu kembali memotong benang kain. Namun begitu Bunda kembali fokus menunduk pada mesin jahitnya, senyum di wajah Yovana perlahan memudar.

​Dada Yovana kembali terasa sesak. Rahasia yang ia sembunyikan selama bertahun-tahun rasanya semakin hari semakin menekan dari dalam. Ia ingin sekali jujur, tetapi ia terlalu takut membayangkan hancurnya senyum Bunda jika tahu hal mengerikan apa yang pernah terjadi padanya.

​Yovana menghembuskan napas pelan. Ia memilih memendamnya rapat-rapat sekali lagi.

​Ia hanya belum tahu bahwa ada beberapa hal di dunia ini yang tidak bisa disembunyikan selamanya—dan rahasia itu sedang mengintai, siap menghancurkan ketenangan mereka kapan saja.

1
andhig Rosdiana
terimakasih udah mampir dikarya aku jangan lupa udah rilis karya terbaru aku ya ...tumbal prewangan.😍
andhig Rosdiana
novel aku bab nya nggak banyak ya ringkas jelas padat dan selesai 🥰
andhig Rosdiana
yuk say ...udah mulai rilis LG novel genre misteri horor aku ya ... jangan lupa👍dan komentar ya say ...supaya bisa semngat update nya 🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!