NovelToon NovelToon
The Light We Found

The Light We Found

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu
Popularitas:96
Nilai: 5
Nama Author: Tr_w

Tirta Adira selalu percaya bahwa perasaan manusia adalah hal yang paling sulit ditebak. Hari ini bisa mencintai, esok bisa memilih pergi. Karena itulah, setelah sebuah hubungan yang melelahkan meninggalkan luka, ia memutuskan untuk berhenti menggantungkan kebahagiaannya pada siapa pun.

Hingga takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang terkenal kasar, keras kepala, dan memilih mengurung dirinya di balik masa lalu yang belum selesai. Pertemuan mereka tidak pernah berjalan mulus, tetapi di antara setiap perdebatan dan perbedaan, tumbuh sebuah chemistry yang tak mampu dijelaskan oleh logika.

Ini bukan kisah tentang cinta yang rumit. Ini adalah kisah tentang dua orang yang saling menemukan di waktu yang tak pernah mereka rencanakan, lalu perlahan belajar bahwa terkadang, cinta hadir bukan untuk mengubah seseorang, melainkan untuk mengajarkan bagaimana menerima dan menyembuhkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tr_w, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 20

Di pagi hari, pria yang semalam bersikap kasar itu masih memeluk erat gadis yang menemaninya sepanjang malam. Bahkan tidurnya begitu pulas, seakan tidak terjadi apa pun kemarin. Rasanya ini adalah pertama kalinya setelah sekian lama dirinya bisa tidur setenang ini.

Mata itu perlahan terbuka. Hal pertama yang dia lihat adalah wajah manis milik Tirta.

Tentu saja dia terkejut.

Mulutnya hendak melontarkan protes, tetapi sebelum itu pandangannya tertuju pada apa yang telah dia lakukan.

Tangannya melingkar erat di pinggang gadis itu, bahkan dirinya menjadikan lengan Tirta sebagai bantal selama tidur.

Seingatnya, semalam gadis itu hanya memindahkannya ke atas ranjang dan membersihkan pecahan vas di kamarnya.

Lalu apa yang membuat Tirta naik ke atas ranjangnya dan memeluknya?

Apa mimpi buruknya kambuh lagi tanpa dia sadari?

Merasa gadis itu mulai menggeliat, Marchel segera memejamkan mata dan tetap mempertahankan posisinya seolah masih tertidur.

Tirta perlahan membuka mata, lalu mengerjapkannya beberapa kali sambil menatap pria yang masih memeluknya erat.

Dengan hati-hati, gadis itu mengangkat tangan besar yang melingkari pinggangnya hingga akhirnya berhasil melepaskan diri dari pelukan tersebut.

Setelah itu, Tirta turun dari ranjang dan berjalan keluar dari kamar. Sebelum pergi, ia terlebih dahulu merapikan selimut yang menutupi tubuh Marchel.

"Kabur sebelum Marchel menyemburkan lava panasnya dan membuat hariku buruk."

Monolognya sembari menggeleng pelan saat mengingat bagaimana pria itu selalu memiliki kata-kata kasar di setiap sudut pikirannya.

Pintu kamar pun tertutup.

Barulah pria blasteran itu membuka matanya.

Tatapannya tertuju pada pintu yang baru saja ditutup Tirta dengan kening sedikit berkerut.

Entah bagaimana perasaannya saat ini.

Namun jika dia boleh jujur, rasanya begitu nyaman dan tenang.

"Aku harus bersikap bagaimana?"

Gumamnya pelan.

Dirinya benar-benar bingung harus menyikapi perhatian gadis itu seperti apa.

Pagi ini Tirta pergi tanpa mengetuk pintu kamar pria itu lagi.

Namun, ia tetap meletakkan sarapan di depan pintu kamar Marchel.

Sejak kemarin pria itu tidak menyentuh makanan sedikit pun, dan Tirta hanya bisa mengkhawatirkannya tanpa berani memaksa.

Untuk pertama kalinya setelah delapan tahun, Marchel membuka pintu kamarnya sebelum masa berkabungnya berakhir.

Sedari tadi dirinya merasa penasaran.

Mengapa hari ini Tirta tidak mengajaknya sarapan ataupun mengetuk pintunya seperti kemarin?

"Susu? Dia pikir aku anak kecil?"

Gumamnya saat melihat sekotak makanan dengan segelas susu di sampingnya. Ia yakin susu itu adalah inisiatif Tirta sendiri.

Meski berkata begitu, justru susu itulah yang pertama kali dia minum hingga tandas.

Tatapannya kemudian beralih pada kotak makanan tersebut.

Namun tak lama kemudian, ia memutar kursi rodanya dan kembali masuk ke dalam kamar.

Makanan itu tidak menarik baginya.

Dirinya sudah terlalu bosan dengan masakan katering yang setiap hari disajikan.

Berbeda dengan Marchel yang kembali mengurung diri di kamar setelah meminum susu, Tirta kini sedang bergulat dengan pekerjaannya yang semakin menumpuk.

Audit keuangan proyek baru perusahaan benar-benar menguras tenaga dan pikirannya.

"Tirta, saya ingin laporan ini selesai hari ini. Besok saat rapat dengan atasan, saya sudah harus membawa rekap pengeluaran minggu kemarin."

Perintah manajer akuntansi.

Tirta yang baru saja menerima setumpuk berkas pengeluaran setebal buku sejarah itu langsung menatap syok.

"Kenapa baru sekarang dibawa ke sini, Pak? Kemarin saya sudah bertanya, kata Bu Susi tidak ada pengeluaran. Kenapa tiba-tiba sebanyak ini?"

Protesnya jujur.

Manajer itu sudah sangat mengenal sifat Tirta, sehingga hanya tersenyum mendengar keluhannya.

"Kamu tahu sendiri Bu Susi sudah lansia, jadi wajar kalau beliau lupa masih ada beberapa berkas yang belum dibawa ke sini. Tolong ya, Tirta. Sebagai gantinya nanti saat makan siang kamu pakai kartu saya saja."

Reward seperti ini memang sering diberikan oleh manajernya sebagai bentuk apresiasi.

Itulah salah satu alasan mengapa Tirta sangat menghormati pria tersebut.

"Kalau begitu, saya akan membawa pekerjaan ini pulang dan mengirimkan laporannya paling lambat tengah malam lewat email. Terima kasih, Pak. Selamat siang."

Jawab Tirta penuh semangat.

Baginya, kartu itu bisa dipakai membeli makanan apa pun yang dia inginkan.

Keluar dari ruangan manajer, Tirta langsung disambut oleh pemandangan Lala yang sedang duduk murung di kursi kerjanya.

Tidak ada celotehan seperti biasanya.

Segera Tirta menghampiri dan duduk di samping sahabatnya.

"Kenapa? Kalian masih bertengkar?"

Tanya Tirta sembari meletakkan berkas di atas meja.

Lala hanya menoleh lalu memeluk sahabatnya erat.

Melihat sikap itu, Tirta semakin yakin pasti ada masalah dengan kekasih gadis tersebut.

"Hmmm...."

Helaan napas berat itu menandakan kalau pikirannya sedang benar-benar penuh.

"Katakan, apa yang kalian perdebatkan kali ini?"

Tanya Tirta lembut sambil menepuk pelan pundak Lala.

"Dia bilang tidak akan pernah berbohong tentang apa pun. Tapi akhir-akhir ini aku sering melihat dia berbohong. Bahkan kami sampai berdebat hanya karena masalah kecil."

Curhatnya sambil mengembuskan napas panjang berkali-kali.

"Kamu sudah bertanya langsung soal ini? Komunikasi adalah kunci dalam sebuah hubungan."

Jelas Tirta dengan tenang.

Ia menahan dirinya agar tidak ikut terpancing emosi dan memengaruhi keputusan sahabatnya.

"Aku takut, Ta.... Kalau nanti dia jujur, aku tidak bisa mengendalikan emosiku dan malah memperburuk hubungan kami."

"Kamu sebenarnya sudah tahu apa yang dia sembunyikan, bukan?"

Tebak Tirta tepat sasaran.

"Aku yakin itulah alasan kenapa kamu bicara seperti ini. Kamu hanya butuh kejujuran dari mulutnya untuk memastikan bahwa apa yang kamu ketahui selama ini memang benar."

Lala terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk pelan.

"Aku sudah tahu sejak tiga bulan lalu. Tapi selama ini aku terus menyangkalnya karena tidak percaya dengan kenyataan itu. Aku belum bisa menceritakannya sekarang. Tapi kalau nanti dia benar-benar jujur saat aku bertanya, baru setelah itu aku akan menceritakan semuanya kepadamu."

Jelasnya mantap.

Tirta hanya mengangguk mengerti.

Setelah percakapan itu berakhir, keduanya kembali bergulat dengan pekerjaan masing-masing.

Sementara Tirta sudah memutuskan bahwa malam nanti ia akan membawa semua berkas itu pulang untuk diselesaikan di rumah.

...****************...

💌 Terima kasih sudah menemukan dan membaca kisah ini bersama. Sampai jumpa di halaman berikutnya. Tr_w 💜

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!