Mengisahkan seorang wanita bernama Rafa Sasmita yang merupakan istri dari Evan Wirya Negara. Rafa menikah dengan Evan karena mencintai pria itu setulus hati namun sayang rumah tangga Evan dan Rafa kandas karena kemunculan Zaskia Mulandari. Tak hanya Zaskia namun masalah muncul dari ibu mertua Rafa yaitu Nena Apriandini yang selalu menghinanya miskin dan tidak beradab. Namun di tengah huru-hara masalah pertemuan Rafa dengan pria tampan bernama Sean Andrew Lee mengubahnya menjadi penuh warna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hinaan Mertua
"Ibu... Tanyakan pada anak kesayangan Ibu apa yang dia perbuat di belakangku!" balas Rafa dengan air mata yang akhirnya tumpah membasahi pipinya. Ia menunjuk ke arah Zaskia yang berdiri menyunggingkan senyum kemenangan di samping Evan.
Plak!
Sebuah tamparan keras yang datang begitu cepat mendarat telak di pipi kiri Rafa.
Kekuatan tamparan dari tangan Nena yang mengenakan cincin berlian besar itu membuat kepala Rafa terpelanting ke samping. Seketika itu juga, rasa panas menjalar di pipinya, disusul rasa amis darah yang langsung mengecap di sudut bibirnya. Tubuh Rafa yang sudah lemas kehilangan keseimbangan; kakinya terlipat dan ia jatuh tersungkur ke lantai marmer yang dingin.
"Dasar perempuan mandul, tidak tahu diri, dan tidak berguna!" jerit Nena melengking meluapkan kebenciannya yang memuncak, berdiri di atas kepala Rafa dengan tatapan penuh hinaan.
"Berani-an kamu menunjuk-nunjuk calon menantu kesayanganku dan menyalahkan anakku?! Evan selingkuh itu karena kamu tidak becus melayani dia! Kamu mandul! Kamu tidak bisa memberikan keturunan untuk keluarga Wirya Negara! Kamu itu cuma parasit yang numpang hidup di rumah ini!"
Zaskia tersenyum puas dari balik punggung Nena, menikmati pemandangan menyedihkan di mana seorang istri sah diinjak-injak harga dirinya di rumahnya sendiri.
Evan hanya berdiri diam mematung. Pria itu tidak berkata sepatah kata pun untuk membela istrinya. Tidak ada uluran tangan untuk membantu Rafa bangkit. Ia malah memasukkan kedua tangannya ke saku jubah mandi, menatap remeh ke arah wanita yang telah menemaninya berjuang dari bawah sebelum ia menduduki singgasana tertinggi di Negara Group.
Rafa mencengkeram lantai marmer dengan jemarinya yang bergetar hebat. Rasa sakit di pipinya tidak sebanding dengan rasa sakit yang mengoyak rongga dadanya. Di titik terendah dalam hidupnya malam itu, di hadapan suami yang dikasihinya dan ibu mertua yang kejam, sebuah kesadaran dingin merasuki benaknya.
Empat tahun pengabdiannya dibayar dengan pengkhianatan menjijikkan, caci maki, dan kekerasan fisik. Cinta yang ia bangun dengan tulus ternyata tidak lebih berharga dari kotoran di bawah sepatu mereka.
Air mata kemarahan berangsur-angsur mengering, digantikan oleh sorot mata tajam yang menyimpan bara api pembalasan. Rafa perlahan menegakkan tubuhnya yang gemetar, menatap satu per satu wajah-wajah penuh kepongahan di sekitarnya—Evan, Zaskia, dan Nena.
Malam ini, Rafa Sasmita yang lemah dan penurut telah mati. Yang tersisa di lantai dingin itu adalah seorang wanita yang siap mengubah seluruh dunia mereka menjadi neraka.
****
Lantai marmer dingin di bawah telapak tangan Rafa terasa membekukan tulang, namun sensasi dingin itu justru membakar habis sisa-sisa kerapuhan di dalam hatinya. Ia perlahan bangkit dari jatuhnya, berdiri dengan postur tegap meski lututnya masih sedikit bergetar. Tangannya yang bebas terulur untuk menghapus jejak darah di sudut bibirnya dengan gerakan pelan, namun sarat akan ketegasan yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.
Sepasang matanya yang tadinya basah oleh air mata kini berubah menjadi sorotan dingin setajam belati. Ia menatap lurus ke arah tiga orang manusia yang berdiri di hadapannya—Evan, sang suami yang telah menjadi pengkhianat; Nena, ibu mertua yang keji dan kejam; serta Zaskia, wanita jalang perusak rumah tangga yang berdiri dengan senyum penuh kemenangan di atas penderitaannya.
"Kalian bertiga," suara Rafa bergetar pelan, namun berhasil menghentikan keheningan yang mencengkeram penthouse mewah itu. "Ingat baik-baik malam ini. Karma tidak pernah salah alamat. Apa yang kalian perbuat padaku malam ini, air mata dan penghinaan ini, akan berbalik menghantam hidup kalian berlipat-lipat ganda. Tuhan tidak pernah tidur."
Kalimat itu meluncur tajam, membawa beban sumpah yang membuat suhu ruangan mendadak terasa pengap.
Namun, alih-alih merinding atau menunjukkan secuil rasa bersakit hati karena nurani mereka terpukul, reaksi yang keluar dari ketiganya justru di luar dugaan. Suasana yang tadinya tegang tiba-tiba dipecahkan oleh ledakan suara tawa yang memuakkan.
Zaskia adalah orang pertama yang terkekeh, menutup mulutnya dengan sebelah tangan yang dihiasi kuku lentik berwarna merah, seolah-olah apa yang baru saja diucapkan Rafa adalah sebuah lelucon paling konyol di abad ini.
"Dengar itu, Ev? Dia ngomongin karma!" Zaskia mendengus mengejek, menatap Evan dengan tatapan menggoda. "Kasian ya, sudah diusir secara tidak langsung, masih saja sempat-sempatnya jadi dukun ramal dadakan."
****
Tawa Zaskia yang melengking disambut oleh tawa yang jauh lebih keras dan menggelegar dari Nena Apriandini. Wanita paruh baya itu bahkan mendadak membungkuk sedikit sambil memegangi perutnya yang berbalut gaun tidur mewah bermerek internasional. Ia tertawa begitu hebat, bahunya bergoncang-goncang hebat, menertawakan keputusasaan Rafa dengan nada yang begitu merendahkan derajat kemanusiaan.
"Ha-ha-ha! Ya Tuhan, Rafa! Karma kamu bilang?!" Nena tertawa terbahak-bahak hingga air matanya sendiri keluar akibat terlalu geli. Ia menegakkan kembali tubuhnya, menunjuk-nunjuk wajah Rafa dengan jari telunjuknya yang bergetar hebat—bukan karena rasa takut atau iba, melainkan karena gelombang kebencian yang teramat sangat tanpa dasar.
Nena melangkah maju mendekati Rafa, matanya melotot tajam dengan urat-urat leher yang menegang. Jari yang bergetar itu nyaris menyentuh ujung hidung Rafa, menunjukkan betapa besar rasa jijik sang mertua terhadap menantunya sendiri.
"Kamu dengar ya, perempuan sialan!" teriak Nena di hadapan muka Rafa, suaranya melengking memekakkan telinga. "Jangan berani-an kamu membawa-bawa nama karma atau Tuhan di hadapan keluarga besar Wirya Negara! Kamu itu siapa, hah?! Di dunia ini, hukum itu tunduk pada kekuasaan dan uang, bukan pada sumpah serapah wanita miskin sepertimu!"
****
Nena mendengus kasar, napasnya memburu karena emosi yang meluap-luap. "Kamu sadar diri sedikit! Kamu itu wanita mandul! Wanita miskin yang datang dari keluarga entah berantah, yang kalau bukan karena belas kasihan anakku, kamu tidak akan pernah menginjakkan kaki di lantai marmer mewah ini! Keberadaanmu di keluarga kami selama empat tahun ini saja sudah menjadi sebuah aib besar yang memalukan!"
Jari Nena masih terus menunjuk-nunjuk dengan liar, gemetar menahan amarah yang membara. "Wanita mandul sepertimu tidak punya hak untuk menuntut apa pun! Kamu tidak sebanding dengan keluarga Wirya Negara yang terhormat ini! Darah kotor dan rahim mandulmu itu cuma jadi benalu yang menghambat kemajuan keluarga kami!"
"Makanya," lanjut Nena dengan nada suara yang merendahkan, menarik tangannya kembali dan melipatnya di dada dengan angkuh. "Daripada kamu di sini memasang muka melas dan sok teraniaya, lebih baik kamu sadar diri. Tidak ada gunanya kamu bertahan di rumah ini lebih lama lagi. Tanda tangani saja surat cerai sekarang juga!"
Nena menoleh ke arah Evan, memberikan gestur mata agar anaknya segera mengambil tindakan nyata.
****
Rafa menatap tajam ke arah Evan, pria yang pernah bersumpah di hadapannya. Tanpa gentar sedikit pun, sudut bibir Rafa terangkat membentuk sebuah senyuman tipis yang dingin—sebuah senyuman yang justru membuat Evan sedikit mengerutkan keningnya, merasa ada sesuatu yang janggal dari ekspresi istrinya itu.
"Surat cerai?" ucap Rafa dengan suara yang tenang, kontras dengan situasi panas di sekelilingnya. Ia melirik sekilas ke arah meja kerja di sudut ruangan tempat beberapa berkas penting biasanya diletakkan. "Tanpa perlu kamu suruh teriak-teriak seperti orang kesurupan, Nyonya Nena... Asal kamu tahu, aku pun sedetik pun tidak akan pernah mau sudi bertahan dengan laki-laki menjijikkan yang sudah berkhianat seperti anakmu ini."