Sejak kecil, Josh memiliki teman yang tak bisa dilihat siapa pun. Tiga belas tahun kemudian, teman itu kembali. Bersama Veron, Brandon, dan Gibran, ia mengungkap misteri yang telah terkubur selama puluhan tahun. Namun semakin dekat pada kebenaran, semakin dekat pula mereka pada kematian. Karena... tidak semua teman yang tak terlihat datang dengan niat baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CRZ CREW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 — Hari yang Biasa
Suara alarm ponsel berbunyi pelan, tapi Josh sudah lebih dulu terjaga, menatap langit-langit kamarnya yang masih temaram oleh cahaya subuh yang menyusup tipis dari celah gorden. Ia mematikan alarm sebelum bunyinya sempat mengganggu siapa pun, lalu berbaring sejenak, menikmati beberapa menit terakhir sebelum rutinitas pagi yang biasa dimulai—mandi, sarapan, seragam, dan langkah kaki menyusuri jalan menuju sekolah yang sudah ia hafal setiap tikungannya.
Bagi kebanyakan orang, pagi hari mungkin terasa membosankan. Tapi bagi Josh, ada semacam ketenangan dalam keteraturan itu, sesuatu yang membuatnya merasa aman. Ia suka hal-hal yang bisa diprediksi—jadwal kereta, urutan mata pelajaran, bahkan posisi awan di langit yang selalu ia amati dan foto setiap sore sepulang sekolah.
Satu-satunya hal yang belakangan ini sedikit mengusik keteraturan itu adalah bayangan hitam yang sesekali berkelebat di ujung penglihatannya—berlari melintas begitu cepat hingga ia tidak pernah benar-benar yakin apa yang baru saja ia lihat. Kadang di halaman sekolah saat sore mulai turun, kadang di gang dekat rumahnya. Setiap kali ia menoleh untuk memastikan, tidak ada apa-apa di sana. Ia sudah membiasakan diri untuk mengabaikannya, menganggapnya sekadar efek lelah setelah seharian penuh pelajaran.
Koridor sekolah pagi itu ramai seperti biasa, dipenuhi suara obrolan, derap sepatu, dan aroma khas kantin yang mulai menyeruak dari ujung lorong. Josh berjalan dengan earphone tersemat di telinga kiri, satu tangan menggenggam ponsel yang menampilkan foto langit senja kemarin—gradasi jingga dan ungu yang menurutnya lebih indah dari kebanyakan foto yang pernah ia ambil.
"Josh! Woy, Josh!"
Suara Gibran memecah lamunannya. Sahabatnya itu duduk di bangku belakang kelas XI IPA 2, melempar bola kertas ke arah tempat sampah dengan gaya seperti pemain basket profesional yang sedang berlatih free throw. Bola ketiga masuk mulus, membuat Gibran mengangkat kedua tangan merayakan kemenangan kecilnya sendiri—sebelum bola keempat justru melenceng dan mendarat telak di kepala Brandon yang baru saja melangkah masuk kelas dengan tas tersampir di satu bahu.
"WOY!"
Brandon mengaduh keras, mengusap kepalanya sambil melotot ke arah Gibran.
"Sialan lo, kena kepala gue!"
"Maaf, maaf!" Gibran tertawa,
sama sekali tidak terlihat menyesal.
"Lumayan kan, latihan refleks pagi-pagi."
"Latihan refleks kepala gue jadi korban," gerutu Brandon,
meski akhirnya ikut tertawa juga sambil menjatuhkan diri ke kursi di samping Gibran. Josh hanya tersenyum tipis menyaksikan keributan kecil itu, meletakkan tasnya di bangku dekat jendela—tempat favoritnya sejak kelas sepuluh. Dari situ, ia bisa melihat halaman sekolah, deretan pohon trembesi tua di sudut lapangan, dan sepotong langit biru yang selalu menjadi pengalih perhatiannya di sela-sela pelajaran yang membosankan.
Bel tanda masuk berbunyi. Tidak lama kemudian, Pak Ian melangkah masuk membawa map berisi kertas ulangan yang sudah dikoreksi, wajahnya seperti biasa—datar, tenang, sedikit sulit ditebak. Namun pagi itu, ada sesuatu di sorot matanya yang membuat beberapa siswa di baris depan langsung menegakkan punggung, seolah insting mereka membaca sinyal bahaya sebelum kata-kata sempat diucapkan.
"Nilai kalian secara umum menurun dibanding ulangan sebelumnya,"
kata Pak Ian sambil mulai membagikan kertas satu per satu, suaranya datar namun tegas.
"Saya harap ini bukan karena kalian mulai malas belajar menjelang ujian tengah semester."
Satu per satu nama dipanggil. Ketika gilirannya tiba, Josh menerima kertasnya dengan tangan yang terasa sedikit dingin. Angka 68 tertera di pojok kanan atas, dilingkari tinta merah yang terasa seperti sindiran diam-diam. Bukan angka yang buruk-buruk amat, tapi jauh dari standar biasanya yang selalu di atas delapan puluh.
Ia menatap angka itu cukup lama, jauh lebih lama dari yang seharusnya diperlukan untuk sekadar membaca sebuah nilai. Sebenarnya, ia tahu persis alasannya—beberapa malam terakhir, tidurnya selalu terganggu. Bukan karena begadang menonton atau bermain game seperti kebanyakan remaja seusianya, melainkan karena ia selalu terbangun di jam yang nyaris sama setiap malam, tanpa alasan yang bisa ia jelaskan, tanpa alarm yang ia pasang untuk itu.
Sepulang sekolah, Gibran menawarkan tumpangan motor seperti biasa, tapi Josh menolak dengan alasan ingin jalan kaki—alasan yang sebenarnya juga tidak sepenuhnya salah, karena berjalan kaki memang caranya untuk berpikir jernih.
"Lo aneh deh akhir-akhir ini," celetuk Gibran,
sambil menyeimbangkan motornya di pinggir trotoar, menatap Josh dengan alis terangkat.
"Jarang ngobrol, mukanya kayak abis begadang mulu tiap hari."
"Gue cuma capek," jawab Josh singkat, mencoba terdengar senormal mungkin.
"Capek atau ada masalah?" Gibran menyipitkan mata, curiga.
Josh tidak menjawab. Ia hanya melambaikan tangan sekilas dan berjalan menjauh, meninggalkan Gibran yang menatap punggungnya dengan raut wajah campuran antara khawatir dan tidak sepenuhnya percaya pada jawaban sahabatnya sendiri.
Di rumah, suasana terasa hangat seperti biasa. Ibunya menyambut dari dapur dengan senyum lebar, menanyakan bagaimana harinya di sekolah sambil sibuk menyiapkan makan malam, sementara ayahnya—seperti kebanyakan hari kerja lainnya—belum juga pulang dari kantor. Josh naik ke kamarnya, melempar tas ke sudut ruangan, lalu merebahkan diri di kasur sambil menatap langit-langit yang perlahan menggelap seiring senja yang mulai surut di luar jendela.
Ia memejamkan mata, berusaha tidur lebih awal malam itu, berharap bisa melewati satu malam penuh tanpa gangguan aneh seperti hari-hari sebelumnya. Ia bahkan sempat berharap dalam hati—semoga malam ini berbeda, semoga tubuhnya bisa beristirahat sepenuhnya tanpa terbangun tiba-tiba di tengah kegelapan. Namun jauh sebelum matanya benar-benar terpejam sempurna, sesuatu di dalam kamarnya berbunyi pelan—bukan alarm, bukan notifikasi ponsel, melainkan detak jam dinding tua di sudut kamar yang selama ini nyaris tak pernah ia perhatikan. Detaknya melambat, seolah waktu itu sendiri mulai enggan bergerak maju. Dan Josh, tanpa sepenuhnya menyadarinya, membuka mata sekali lagi malam itu—jauh lebih cepat dari yang pernah ia bayangkan.
...****************...