NovelToon NovelToon
Beda Dua Puluh Tahun, Om Bramantyo Memujaku Seorang

Beda Dua Puluh Tahun, Om Bramantyo Memujaku Seorang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Beda Usia
Popularitas:103
Nilai: 5
Nama Author: Luna Widy

Malam itu, dengan kaki telanjang menembus jalanan Jakarta, Sekar nekat menghentikan sebuah mobil mewah… dan takdirnya berubah selamanya.

**Bramantyo Adiwangsa.** Empat puluh tahun, konglomerat paling disegani di ibu kota. Pria yang dingin pada dunia—tapi memungut gadis malang itu, memberinya rumah, nama, dan perlindungan yang tak pernah ia punya. Bertahun-tahun Om Bram menjaganya seperti harta paling rapuh miliknya.

Sampai gadis kecil itu tumbuh menjadi wanita. Dan berani mengucap kalimat yang mengubah segalanya:

*"Om… aku mencintaimu."*

*"Ini salah,"* tolaknya dingin. *"Om dua puluh tahun lebih tua darimu."*

Tapi bagaimana kalau pria yang paling keras menolaknya… justru pria yang paling tak sanggup melepaskannya?

Di antara gunjingan tetangga, penghinaan karena ia "cuma gadis pungut", mantan yang kembali dari 'kematian' untuk membalas dendam, dan satu kecelakaan yang merenggut sesuatu dari tubuh Om Bram selamanya—cinta mereka harus melewati badai yang tak pernah mereka bayangkan.

Dulu, Om yang menyelamatkannya. Kini, giliran Sekar yang bersumpah menyembuhkan pria itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 31

Berkuda Lagi

Dua minggu setelah Nabra berganti nama menjadi Namira, Om Bram mengajakku berkuda di Bogor.

"Kencan?" tanyaku melalui pesan.

Balasannya datang tiga menit kemudian.

`Olahraga.`

Aku tersenyum sendiri sebelum mengetik.

`Kalau begitu aku ajak Dinda.`

Ponselku langsung berdering.

"Kenapa harus mengajak Dinda?" tanyanya tanpa salam.

"Karena ini olahraga, bukan kencan."

Ada keheningan singkat. "Ini kencan."

Aku membuatnya mengulang sekali lagi sebelum setuju.

Sejak pindah kembali ke Puri Cendana, kami menjalankan tiga syarat dengan lebih serius daripada perkiraanku. Kamarku tetap di lantai berbeda. Aku berangkat kuliah seperti biasa dan masih membayar kos selama pemeriksaan kerusakan selesai. Di rumah, kami lebih sering bertemu di meja makan dengan Mbok Nah berada tidak jauh.

Kami juga belum mengulang ciuman malam hujan itu.

Kadang tangan kami bersentuhan saat mengambil piring, lalu Om Bram menarik diri lebih cepat daripada tersentuh api. Aku tidak memaksanya. Janji kami adalah waktu dan usaha, bukan hak mengambil kedekatan kapan saja.

Karena itu, pengakuannya bahwa hari ini adalah kencan terasa seperti kemajuan yang sengaja dipilih, bukan kecelakaan karena hujan.

Sabtu pagi, kami berangkat tanpa Fikri atau Deni. Om Bram mengemudi sendiri dan mengatakan Fikri tahu jadwal serta lokasi kami. Tidak ada rombongan keamanan, hanya dua orang yang ingin menghabiskan setengah hari tanpa rapat, kampus, atau orang yang membicarakan perbedaan usia.

Arena berkuda itu sama dengan tempat kami datang bertahun-tahun lalu. Udara Bogor lebih sejuk daripada Jakarta. Bau rumput basah, tanah, dan jerami langsung membawa kembali ingatan tentang kuda bernama Bintang serta Om Bram yang berdiri di sisi arena memastikan aku tidak jatuh.

Kami sarapan di warung kecil dekat arena lebih dulu. Om Bram memesan bubur ayam tanpa sambal untukku meski masa pemulihanku sudah selesai. Aku menambahkan satu sendok sambal saat dia tidak melihat.

"Saya lihat," katanya tanpa mengangkat kepala dari kopi.

"Dokter nggak melarang selamanya."

"Kalau perutmu sakit, jangan menyalahkan perjalanan."

"Om mengajak kencan lalu mengawasi sambal. Romantis sekali."

Dia akhirnya menatapku. "Saya masih belajar bagian romantisnya."

"Nilainya enam dari sepuluh."

"Tadi di telepon delapan."

"Dikurangi karena bubur tanpa sambal."

Percakapan remeh itu membuatku tersenyum sepanjang jalan menuju kandang.

"Kali ini Om nggak perlu memegang tali kudaku terus," kataku.

"Kita lihat setelah pelatih menilai kemampuanmu."

"Aku sudah pernah belajar."

"Empat tahun lalu."

"Om masih ingat semua hal yang kulakukan empat tahun lalu."

"Itu bukan pujian untuk ingatanmu."

Setelah pemeriksaan perlengkapan dan pemanasan singkat, seorang pelatih mengizinkanku menunggang sendiri di arena tertutup. Om Bram tetap memeriksa helmku, menarik tali dagu, lalu meminta izin sebelum merapikannya.

"Terlalu longgar," katanya.

"Om sengaja mencari alasan menyentuhku."

Tangannya langsung berhenti. "Kalau kamu tidak nyaman, pelatih yang atur."

Aku menahan senyum. "Aku nyaman. Lanjutkan."

Dia mengencangkan tali satu tingkat. Wajahnya tetap datar, tetapi telinganya sedikit merah.

Kami memulai dengan berjalan mengelilingi arena. Om Bram terlihat jauh lebih santai di atas kuda. Bahunya tidak setegang saat di kantor, dan untuk beberapa menit dia bahkan tertawa ketika kudaku berhenti karena tertarik pada rumput di luar pagar.

"Dia tahu penunggangnya mudah disuap makanan," katanya.

"Fitnah lagi."

"Fakta yang didukung banyak bukti."

Pelatih meminta kami melakukan dua putaran lagi. Aku belajar mengatur tumit, menjaga punggung, dan memberi tekanan ringan pada tali tanpa menarik mulut kuda. Om Bram tidak lagi meneriakkan instruksi dari sisi arena. Dia menunggu sampai aku bertanya, lalu menjawab singkat.

"Om benar-benar belajar tidak mengendalikan," kataku saat kami berpapasan.

"Saya sedang menahan dua belas instruksi."

"Simpan semuanya."

"Sebelas. Satu harus disampaikan. Jangan terlalu maju di pelana."

Aku memperbaiki posisi dan menjulurkan lidah ketika dia sudah lewat. Pelatih menahan tawa.

Setelah istirahat, seorang petugas kandang membawa dua kuda lain untuk jalur luar yang lebih panjang. Kartu namanya bertuliskan Sarno.

"Yang cokelat untuk Mbak Sekar," katanya. "Tenang dan sudah biasa dipakai pemula."

Tangannya gemetar sedikit ketika menyerahkan tali kekang.

"Mas baru kerja di sini?" tanyaku.

Sarno menunduk. "Sudah beberapa bulan."

"Kudanya sehat?"

"Sehat, Mbak. Tadi sudah diperiksa."

Om Bram mendekat dan mengusap sisi leher kuda. Hewan itu tenang, telinganya bergerak mengikuti suara.

"Kita tetap di jalur pendek," katanya. "Kalau hujan turun, kembali."

"Baik, Pak Pengawas."

Seorang pelatih memanggil Om Bram dari sisi lain untuk menandatangani formulir penggunaan jalur. Saat dia menjauh, Sarno berjongkok di samping pelana kudaku.

"Ada yang longgar?" tanyaku.

"Saya cek sabuknya sekali lagi."

Tubuhnya menutupi tangannya dari pandanganku. Aku hanya melihat bahunya bergerak dan mendengar bunyi kecil seperti logam menyentuh pengait. Ketika berdiri, wajahnya berkeringat meski udara sejuk.

Sebuah benda kecil sempat berkilat di antara jemarinya sebelum hilang di bawah bantalan. Aku mengira itu bagian dari gesper. Sarno menekan lapisan kain, merapikan ujungnya, lalu menarik sabuk seperti orang yang memastikan semua terlihat biasa.

Kuda cokelat itu menggeser kaki belakang dan mendengus. Sarno menepuk lehernya terlalu cepat.

"Tenang," gumamnya, tetapi suaranya sendiri tidak tenang.

"Sudah aman," katanya terlalu cepat.

Dia menyerahkan tali, lalu mengusap telapak tangan pada celana.

Perasaan tidak nyaman muncul, tetapi seorang petugas lain langsung memanggilnya untuk membantu di kandang. Sarno pergi tanpa menoleh.

Aku sempat mempertimbangkan meminta pelana diganti seluruhnya. Namun suasana pagi begitu tenang, kuda tidak menunjukkan luka, dan pemeriksaan kedua akan segera dilakukan. Kecurigaanku terasa berlebihan dibandingkan bukti yang kumiliki saat itu.

Om Bram kembali membawa formulir.

"Kenapa?" tanyanya saat melihatku masih berdiri.

"Petugas tadi kelihatan gugup."

Dia mengikuti arah pandanganku. "Namanya siapa?"

"Sarno. Mungkin cuma takut dimarahi Om karena memeriksa terlalu lama."

Om Bram memeriksa sabuk pelana dari luar. Semuanya tampak terpasang benar. Dia kemudian memanggil pelatih untuk melakukan pemeriksaan kedua. Pelatih menarik pengait, memeriksa sanggurdi dan bantalan yang terlihat, lalu menyatakan aman.

Tidak seorang pun membuka lapisan dalam bantalan karena tidak ada alasan mencurigai sesuatu disembunyikan di sana.

"Masih mau naik?" tanya Om Bram.

Aku mengangguk. "Kalau pelatih bilang aman."

"Saya naik dulu. Kamu tunggu sampai saya ada di samping."

"Om terlalu khawatir."

"Itu bukan informasi baru."

Dia membawa kudanya beberapa meter ke depan, lalu menaiki pelana dengan gerakan mudah. Aku meletakkan kaki kiri di sanggurdi. Pelatih memegang tali sementara aku mengangkat tubuh dan duduk perlahan.

Pada detik berat badanku menekan pelana, kudaku menegang.

Seluruh tubuhnya bergetar. Kepalanya terangkat, telinganya menempel ke belakang, dan suara ringkik gelisah memotong udara pagi.

Om Bram langsung menoleh dengan wajah yang sangat tegang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!