Aran, seorang pembunuh bayaran yang hidup di balik bayang-bayang, diselamatkan setelah sebuah misi gagal hampir merenggut nyawanya. Takdir membawanya ke Pondok Pesantren Al-Ikhlas, tempat ia bertemu Shanum, seorang wanita kaya yang dingin, tenang, dan sulit didekati.
Ketika ancaman mulai mengincar Shanum, Aran menerima tugas untuk menjaganya. Namun, semakin dekat ia dengan wanita itu, semakin sulit baginya membedakan antara tugas dan perasaan.
Di balik senyum Shanum tersembunyi dunia penuh intrik, pengkhianatan, dan kekuasaan. Sementara di belakang Aran masih menunggu masa lalu kelam yang belum selesai.
Ketika seorang pembunuh ditugaskan menjaga hati seorang wanita, mampukah ia melindunginya tanpa kehilangan hatinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julian rifai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemenangan Diatas Kertas
Suasana di dalam Auditorium Kementerian Pekerjaan Umum terasa dingin dan sarat tekanan. Pencahayaan sorot ruangan tertuju pada panggung utama, tempat layar proyektor raksasa menampilkan maket digital tiga dimensi proyek revitalisasi kawasan Senayan senilai triliunan rupiah. Di hadapan sembilan dewan juri penilai eksekutif dan puluhan perwakilan konsorsium, Shanum Al-Maktoum berdiri tegap.
Blazer biru navynya terpasang sempurna. Tidak ada lagi sisa gemetar atau kecemasan di tangannya. Shanum menggenggam pointer presentasi dengan jemari yang mantap, memancarkan aura pimpinan korporat yang dominan.
Di baris belakang ruangan yang remang, Aran berdiri menyandar pada dinding. Kemeja hitamnya membungkus rapat perban di dadanya. Meski lukanya belum pulih sepenuhnya, tatapan mata Aran tetap tajam mengawasi setiap pergerakan di dalam ruangan. Senyum tipis yang hangat terukir di bibirnya saat melihat wanita yang dikawalnya bertransformasi menjadi sosok yang begitu tangguh.
"Konstruksi tahap tiga pada proyek infrastruktur berskala besar sering kali menjadi lubang hitam pembengkakan anggaran," Shanum membuka suaranya. Intonasinya jernih, bergema memenuhi auditorium tanpa jeda ragu. "Banyak konsorsium terjebak pada estimasi biaya logistik kaku yang mengabaikan fluktuasi rantai pasok global."
Shanum menekan tombol pointer. Layar memunculkan skema grafik arus kas yang sangat mendetail, lengkap dengan algoritma mitigasi risiko operasional.
"Al-Maktoum Group tidak hanya menawarkan efisiensi struktur baja tingkat tinggi, tetapi juga merevaluasi cost-buffer tahap tiga sebesar dua koma dua persen secara presisi," lanjut Shanum seraya melirik singkat ke arah Surya Wijaya yang duduk di jajaran kompetitor utama. "Kami mengintegrasikan sistem distribusi material secara terdistribusi melalui konsorsium lokal yang terkunci harga kontraknya sejak hari pertama. Artinya, proyek ini tidak akan menuntut eskalasi anggaran APBN satu sen pun di tengah jalan."
Beberapa dewan juri senior manggut-manggut, mencatat dengan raut wajah terkesan. Penjelasan Shanum begitu matematis, taktis, dan tidak meninggalkan celah kompromi—sebuah analisis angka luar biasa tajam yang dirumuskan Shanum bersama masukan taktis Aran di ruang rumah sakit dua hari lalu.
Surya Wijaya menegang di kursinya. Pria paruh baya itu berdiri secara menginterupsi, mencoba menyuntikkan keraguan.
"Argumentasi yang manis, Saudari Shanum," potong Surya Wijaya dengan nada meremehkan. "Namun, efisiensi angka di atas kertas sering kali mengorbankan durasi eksekusi dan keamanan tapak proyek. Bagaimana Al-Maktoum Group bisa menjamin zero-accident dan ketepatan waktu jika alokasi pengawasan lapangan ditekan seefisien itu?"
Shanum tidak tersulut. Ia memutar tubuhnya perlahan, menatap lurus ke arah Surya Wijaya dengan senyuman anggun namun dingin.
"Terima kasih atas pertanyaannya, Pak Surya," sahut Shanum tenang. "Pengawasan keamanan yang efektif tidak diukur dari seberapa banyak personel bayaran yang Anda sebar untuk menakut-nakuti pekerja di lapangan. Efisiensi kami terletak pada otomatisasi pemantauan sensor Internet of Things pada struktur beban, dipadukan dengan standar manajemen risiko militer. Kami memangkas birokrasi pengawasan, bukan kualitas keselamatannya. Jika PT Wijaya Karya Utama masih menggunakan metode pengamanan manual abad ke-20 yang memboroskan lima persen anggaran, maka wajar jika proposal Anda membengkak dan tidak kompetitif."
Tawa halus bercampur tepuk tangan apresiasi terdengar dari beberapa dewan juri. Wajah Surya Wijaya merah padam. Argumennya patah total di depan publik.
Satu jam kemudian, ketua dewan penilai melangkah ke podium utama untuk membacakan hasil evaluasi akhir.
"Berdasarkan penilaian komprehensif pada aspek teknis, efisiensi anggaran, dan analisis mitigasi risiko..." suara ketua dewan bergema. "Posisi pertama dan hak pengelolaan utama proyek revitalisasi Senayan resmi dianugerahkan kepada Al-Maktoum Group."
Gema tepuk tangan riuh memenuhi auditorium. Shanum menghembuskan napas lega yang panjang. Ia menoleh ke belakang ruangan, menemukan mata Aran yang menatapnya penuh rasa bangga.
Saat acara pembubaran usai, Shanum dan Aran melangkah menyusuri lorong VIP gedung kementerian menuju area parkir khusus. Langkah Shanum terasa ringan, kejayaan korporat berada di tangannya.
"Mbak Shanum," panggil Aran santai yang melangkah dua titik di sampingnya. "Presentasi yang sangat dominan. Skala serangan verbal Anda pada Pak Surya tadi memiliki tingkat kerusakan sembilan puluh persen pada reputasi bisnisnya."
Shanum terkekeh lepas, melirik pengawalnya dengan wajah jahil. "Itu semua berkat revisi dua persen yang kamu sarankan waktu di rumah sakit, Aran. Ternyata otak taktis perangmu berguna juga di meja tender."
"Saya hanya menyumbang kalkulasi sederhana, Mbak. Eksekusinya tetap ada pada ketegasan Anda," balas Aran, menyunggingkan senyum tulus yang tidak lagi kaku.
Namun, kehangatan itu terputus saat sosok Surya Wijaya melangkah keluar dari balik pilar lorong, menghadang jalan mereka. Wajah pria tua itu dipenuhi amarah yang membara, kedua tangannya mengepal di samping tubuh.
"Jangan berpuas diri dulu, Shanum!" geram Surya dengan suara serak menahan murka. "Kemenangan di atas kertas ini tidak akan bertahan lama jika Al-Maktoum Group hancur dari dalam!"
Shanum menghentikan langkahnya, menatap Surya dengan dagu terangkat. "Permainan sudah selesai, Pak Surya. Dewan juri sudah memutuskan. Sebaiknya Anda fokus merapikan sisa-sisa anggaran perusahaan Anda yang bocor."
Surya hendak maju melangkah mengancam Shanum, namun Aran dengan cepat mengikis jarak. Pria bertubuh kekar itu pasang badan di depan Shanum. Aran tidak menarik senjata, ia hanya berdiri tegap, menatap Surya lurus-lurus dengan pandangan mata yang mendadak berubah menjadi kilatan es yang asing.
Aran menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman dingin bercampur intrik yang sangat spesifik.
Surya Wijaya terpaku. Saat matanya bertemu dengan tatapan kelam Aran dari jarak dekat, bayangan malam berdarah beberapa bulan lalu mendadak menghantam ingatannya dengan kekuatan dahsyat. Malam ketika seorang pembunuh bayaran legendaris menyusup ke kediaman mewahnya, menempelkan laras senjata berperedam tepat di keningnya, sebelum pembunuhan itu mendadak gagal karena gangguan sinyal operasi.
Napas Surya tertahan di tenggorokan. Wajahnya yang semula merah padam berubah pucat pasi seperti mayat. Pria tua itu melangkah mundur dua langkah dengan tubuh gemetar hebat, jarinya menunjuk ke arah Aran dengan rasa kaget yang luar biasa.
"K-kamu..." bisik Surya dengan suara melengking ketakutan. "Kamu... bayangan malam itu! Kamu bajingan yang dikirim untuk membunuhku!"
Aran tidak menjawab. Ia hanya miringkan kepalanya sedikit, memberi isyarat mata yang sarat akan ancaman mematikan jika Surya berani melangkah satu senti lagi mendekati Shanum.
"Mbak Shanum, mobil kita sudah menunggu di depan," ujar Aran santai, membalikkan badan membelakangi Surya yang masih terpaku ketakutan. "Mari."
Shanum menatap Surya yang gemetaran bingung, lalu menatap Aran. Meski menyadari ada teka-teki besar dari masa lalu antara Aran dan Surya, Shanum memilih mengangguk dan berjalan berdampingan di samping pengawalnya.
Di balik punggung mereka, Surya Wijaya terduduk lemas di lantai lorong. Pria itu baru saja menyadari bahwa lawan yang dihadapinya kini bukan lagi sekadar CEO muda Al-Maktoum Group, melainkan sesosok malaikat pencabut nyawa paling mematikan yang kini berdiri kokoh sebagai pelindung utamanya.
saling support sabi kali thor🤭