Semua orang bilang Dokter Sebastian Wijaya itu suci tanpa cela—dingin, jaga jarak, pewaris Amerta Medika yang tak pernah tersentuh perempuan mana pun.
Hanya Amaya yang tahu: pria itu bersih selama tiga puluh tahun, dan semua "kotornya" cuma untuk dia.
Amaya terlahir kembali sebagai tokoh utama sebuah novel siksaan—perempuan yang ditakdirkan dihancurkan pelan-pelan oleh kakak angkatnya, Selena, lalu mati mengenaskan. Kali ini, ia menolak jadi domba yang disembelih. Wajahnya manis seperti anak baik-baik; isinya, penata ulang permainan yang tak kenal ampun.
Masalahnya: tunangan hasil perjodohan keluarga adalah Nathan, si adik. Tapi yang membuatnya jatuh justru **kakak iparnya sendiri**—dokter bedah yang seharusnya tak boleh ia sentuh.
Di depan umum: "Koh Sebas." Di balik pintu: milik satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13
Nama yang Terucap Tanpa Sadar
Undangan yang dikunci Sebastian di dalam laci membawanya ke Hotel Grand Amerta pada Jumat petang.
Ia tiba pukul enam lewat empat puluh. Rapat internal selesai sesuai jadwal baru, meski dua direktur harus memindahkan agenda makan malam mereka. Sebastian mengatakan perubahan itu demi efisiensi.
Ivan tidak menanyakan efisiensi macam apa yang mengharuskan atasannya datang dua puluh menit lebih awal ke pesta ulang tahun mitra.
Di area masuk ballroom, Sebastian menyapa Robert dan beberapa tamu bisnis. Namun setiap kali pintu lift terbuka, matanya bergerak ke arah yang sama.
Amaya belum terlihat.
"Koh Sebas?"
Seorang perempuan bergaun hijau gelap berdiri di depannya. Jessica Wanandi mengangkat tangan, memastikan dirinya tidak sedang diabaikan.
"Ci Jess," sapa Sebastian.
"Nyari siapa, sih? Dari tadi lihat lift terus."
"Nggak siapa-siapa."
Pintu lift kembali terbuka. Sebastian melihat ke sana sebelum sempat menahan diri.
Jessica mengikuti arah tatapannya. "Nungguin siapa?"
"Amaya."
Nama itu keluar begitu saja.
Sebastian langsung menutup mulut. Terlambat.
Mata Jessica membesar, lalu menyipit penuh kegembiraan. "Oh. Amaya."
"Dia bagian proyek. Saya perlu bicara soal kerjaan."
"Di pesta ulang tahun mamanya?"
"Senin ada agenda."
"Berarti bicara Senin. Kenapa Koh nunggu di sini?"
Sebastian menatapnya dingin. Jessica sama sekali tidak terpengaruh.
Ia memang satu-satunya orang yang tidak perlu direbut Amaya dari siapa pun.
Mereka berteman sejak sebelum Amaya hilang. Jessica kecil menangis hampir sebulan ketika teman bermainnya tidak ditemukan. Bertahun-tahun kemudian, tanpa mengetahui hubungan mereka, ia dipindahkan ke kelas yang sama dengan Amaya yang baru kembali ke keluarga Halim.
Jessica menjadi teman sebangku, pelindung, juru bicara, dan orang pertama yang berdiri ketika murid lain mengejek Amaya. Setelah mengetahui gadis pendiam itu adalah teman masa kecilnya, ia menempel lebih erat lagi.
Ibunya merupakan kerabat dekat keluarga Nirwana, membuat Jessica tumbuh di lingkaran bisnis Adrian. Namun ia lebih suka makan di warung setelah sekolah daripada duduk diam di acara sosial, dan paling tidak tahan melihat orang menginjak mereka yang tidak bisa membalas.
Malam ini, naluri pelindung tersebut berubah menjadi naluri mak comblang.
"Koh tahu nggak," katanya, "nama yang keluar tanpa sadar biasanya yang paling jujur."
"Tidak ada apa-apa antara kami."
"Aku belum bilang ada apa-apa."
Sebastian terdiam.
Jessica memperhatikannya dari atas sampai bawah. "Datang lebih awal, berdiri dekat lift, terus langsung jawab Amaya. Kalau ini audit, buktinya sudah cukup buat pemeriksaan lanjutan."
"Kamu terlalu banyak menonton drama."
"Aku juga terlalu lama kenal Maya. Seminggu ini dia pura-pura santai, tapi tiap nama Koh muncul di grup proyek, dia baca dua kali."
Itu tidak sepenuhnya benar. Jessica belum pernah melihat grup proyek. Namun perubahan kecil di wajah Sebastian membuatnya tahu umpan tersebut mengenai sasaran.
"Jangan mengarang tentang pekerjaan yang tidak kamu pahami."
"Nah, sekarang marahnya bukan karena aku bilang kalian ada apa-apa. Marahnya karena aku bilang Maya memperhatikan Koh."
Sebastian mengangkat gelas air tanpa minum. Berdebat dengan Jessica hanya memberi perempuan itu lebih banyak bahan.
Jessica tersenyum lebar. "Selebrasi shipper nomor satu se-Jakarta resmi mencium sesuatu."
"Jangan bicara sembarangan. Dia calon istri Nathan."
"Justru itu yang bikin seru. Kakak ipar sama calon adik ipar."
"Jessica."
"Koh Adrian dulu juga pintar pura-pura nggak peduli. Sekarang di rumah jadi anjingnya istrinya sendiri. Koh lebih jago akting dari dia, tapi nama yang keluar tetap Amaya."
"Adrian akan senang mendengar sepupunya memakai dia sebagai contoh buruk."
"Dia sudah tahu."
Ponsel Jessica berdering. Nama `Maya` muncul di layar.
"Di mana?" tanyanya begitu menerima.
"Parkiran bawah. Lift penuh. Aku naik sekarang."
"Cepat. Ada orang yang hampir membuat lubang di pintu lift karena ditatap terus."
Sebastian mengambil satu gelas air dari nampan pelayan dan berjalan dua langkah menjauh.
Sepuluh menit sebelumnya, Amaya masih berada di mobil. Ia meninggalkan kantor lebih awal untuk mengambil hadiah Karina dari sebuah studio kerajinan, lalu terjebak kemacetan Mega Kuningan.
Kotak hadiah panjang terletak di kursi belakang. Di dalamnya ada bagian terakhir dari sesuatu yang sudah ia rancang beberapa minggu lalu. Ia memeriksa pitanya dua kali sebelum turun.
Studio tersebut menghabiskan hampir satu bulan untuk menyusun pesanan berdasarkan bahan yang Amaya bawa dari rumah. Ia memilih setiap potongan sendiri, menolak dua hasil cetak yang warnanya terlalu dingin, dan meminta bingkainya dibuat tanpa logo mahal.
Karina bisa membeli perhiasan apa pun. Hadiah yang dibutuhkan perempuan itu bukan benda yang bisa ditaksir tamu dalam satu pandangan.
Amaya belum tahu apakah usaha tersebut akan membuka jarak delapan tahun di antara mereka atau malah memperlihatkan betapa sedikit kenangan yang tersisa. Namun untuk pertama kali sejak datang ke dunia ini, ia menyiapkan sesuatu tanpa menghitung keuntungan setelahnya.
Perasaan itu membuatnya sedikit tidak nyaman.
Ia menyentuh pita pada kotak, lalu menerima telepon Jessica sebagai pengalih perhatian.
Ketika pintu lift ballroom terbuka, Amaya melangkah keluar dengan gaun pendek warna merah muda berkabut. Bahunya terbuka, pinggangnya tegas, dan kain lembut itu bergerak mengikuti setiap langkah.
Sebastian melihatnya.
Napas pria itu berhenti sepersekian detik. Tatapannya menyala, lalu segera meredup ketika ia menyadari terlalu banyak orang lain juga menoleh.
Gaun tersebut bukan untuknya. Senyum Amaya juga dibagikan kepada seluruh ruangan.
Ia membenci reaksi tubuhnya sendiri yang selalu datang lebih cepat daripada logika.
Jessica berlari kecil dan mencubit pipi Amaya. "Akhirnya! Cantik banget."
"Sakit, Jess. Makeup-ku geser."
"Koh Sebas nyariin kamu, tuh."
Amaya mengalihkan tatapan kepada Sebastian. Selama seminggu ia mengabaikan pesan pria itu. Kini ia tersenyum seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
"Ada apa, Koh?"
"Soal pekerjaan."
"Senin saja. Ini pesta Mama."
Jawaban itu sama persis dengan logika yang dipakai Jessica tadi.
Sebastian meneguk air. "Saya juga berpikir begitu."
"Kalau begitu masuk, yuk." Jessica meraih lengan Amaya, lalu tanpa izin menyangkutkan tangan lain pada siku Sebastian. "Tante Karina pasti senang lihat kita datang bareng."
Sebastian melepaskan lengannya dengan halus, tetapi tetap berjalan di sisi mereka.
Jessica melirik kedua wajah yang sama-sama berpura-pura tidak peduli.
Ia mengenal Amaya cukup lama untuk tahu senyum setenang itu biasanya muncul sebelum seseorang masuk perangkap. Sebastian juga terlalu kaku untuk laki-laki yang benar-benar tidak punya perasaan apa-apa.
Malam ini ia akan membuat mereka berada di satu tempat cukup lama.
Sisanya bisa diserahkan kepada kecemburuan, keluarga besar, dan dua orang keras kepala itu sendiri.
Malam ini.
Kalau perlu, ia akan mengatur agar mereka mendapat tontonan besar.