Sir Leonardo, Komandan Militer Inggris, memburu pemberontak yang membunuh orang tuanya. Setelah berhasil menemukan si pemberontak dan membunuhnya beserta istri tapi menyisakan putri mereka. Balas dendam Leo tidak berhenti hanya dengan kematian pembunuh kedua oran tuanya, namun menjadikan putri si pemberontak sebagai pelampiasan amarah, nafsu, gairah dan perasaan lainnya. Apa yang terjadi dengan putri si pemberontak kemudian? Apakah dia akan bertahan atau menyerang balik seorang Leonardo?
Cerita lainnya :
1. Putri Jenderal bersama Mafia (Haile & Antonio)
2. Putri Duke bersama Bos Wine (Katy & Terios)
3. Cinta saudara Tiri (Eliza & Zane)
Mana cerita pemaksaan cinta yang paling kalian sukai? Jangan lupa dukung author yaaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SariRani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
WANITA YANG TERNODA
"Aaaakh!! LEPASKAN AKU BAJINGAN!!" teriak Agatha saat berusaha melepaskan diri dari kungkungan Leo di dinding.
"Jangan harap" lirih Leo dengan senyuman smirk lalu membungkam lagi bibir wanita itu dengan bibirnya.
Gret!
"Awwk! Berani sekali kamu mengigit bibirku" gumam Leo sambil menyentuh bibirnya yang berdarah.
Bukannya marah, namun pria ini malah tertawa.
"Hahahahahahhaa...sepertinya wanita pemberontak sepertimu suka dengan yang kasar kasar" ucapnya, kembali mendekat lalu kedua tangannya mencengkram rahang Agatha kuat hingga wanita itu kesakitan.
Gret!
Leo membalas menggigit bibir Agatha hingga berdarah sepertinya.
"BRENGSEK!!!" teriak wanita itu.
"Hahahaa memang aku brengsek dan aku pastikan akan semakin brengsek jika bersamamu" sahut Leo.
Bruk!
Leo mendorong tubuh Agatha jatuh ke lantai lalu ia melepas sabuk celananya, membuka resletingnya.
Wanita didepannya memundurkan diri hingga bersandar di dinding.
"JANGAN MENDEKAT AKU BILANG!!" teriak Agatha.
"Tenagamu sungguh luar biasa ya..dari tadi berteriak tiada habisnya" sindir Leo yang sudah terlihat menurunkan celana seragam militernya hingga lutut dan menampakan kain pembungkus senjata pribadi miliknya.
Leo semakin mendekat. Agatha semakin mendelik ngeri saat pria didepannya mulai menurunkan kain yang tadi tersisa saat celana seragam turun.
Lalu wanita itu memilih memalingkan wajah kesamping saat senjata pribadi milik Leo sudah terlihat jelas didepannya.
"Kenapa diam hah? Berteriak lah lagi" suruh Leo yang masih berdiri didepan Agatha dengan bagian tubuh bawahnya sudah terpampang jelas didepan mangsa.
"SIALAN!! BRENGSEK! BAJINGAN!!" teriak Agatha.
Leo tersenyum smirk lalu jongkok didepannya.
"Ya, terima kasih atas pujiannya" ucapnya lalu tanpa aba aba, tangannya yang kuat menolehkan wajah Agatha lagi dengan mencengkram wajah cantik wanita itu.
Lalu yaaa begitulah, mulut Agatha dibungkam oleh sesuatu yang membuatnya tidak bisa berteriak.
Leo benar benar membungkam mulut wanita itu sekaligus merasakan sensasi baru yang belum pernah ia coba.
Selama hidup dewasa diusia 20 tahun, Leo fokus membangun karir di militer Inggris hingga mengejar pemberontak dan tidak peduli dengan wanita manapun termasuk tunangannya sejak setahun lalu.
Apalagi saat orang tuanya dibunuh, semakin dingin dan mati rasa kehidupannya.
Tapi saat bertemu Agatha, anak pemberontak yang membunuh orang tuanya, kebengisan dan kemurkaannya seketika memuncak. Seakan akan menemukan mangsa yang pas untuk ia nikmati sampai puas.
Hingga beberapa saat Leo mengerang puas dan menarik kembali senjata pribadinya.
"Uhuk uhuuuk...hoeeeeek" Agatha langsung batuk dan muntah setelah mulutnya terbuka.
"Ayo berteriak lah lagi dan aku akan terpuaskan olehmu lagi" pancing Leo.
Agatha yang sudah sangat marah tapi tidak bisa ia luapkan, matanya berkaca kaca dan memerah, menatap tajam kearah pria didepannya.
"Mungkin saat ini aku hanya bisa diam dan tidak memprovokasi pria bajingan ini lagi" batin wanita itu.
"Aku harus bisa menaklukkannya untuk membalaskan dendam" lanjutnya dalam hati.
Beberapa saat tak ada tanggapan dari Agatha, membuat Leo semakin terpancing untuk menyiksa wanita itu.
Langsung saja ia menyingkap dress Agatha dan mulai mengarahkan senjata pribadinya di tempat yang semestinya. Kedua tangan Agatha yang diborgol diangkat keatas oleh Leo.
"Baiklah kalau kamu memilih diam. Memang diam lebih baik daripada kamu berteriak tidak guna" ujar Leo
"Biar aku rasakan milikmu apakah sering dipakai kekasihmu" lanjutnya sebelum melancarkan aksi sepenuhnya.
"Maafkan aku Callum, aku tidak bisa menjaga diriku sepenuhnya untukmu" batin Agatha dengan tangisan yang tak terlihat.
Ia buat dirinya mati rasa dengan semua perlakukan dari musuh.
Tapi saat miliknya dibobol oleh Leo, ternyata tubuhnya tidak bisa mati rasa.
Ia mengingit bibirnya agar tidak bersuara apalagi berteriak, meremas kedua tanggannya kuat.
"Apakah wanita ini masih gadis?" batin Leo dalam diam saat merasakan beberapa detik sebelumnya ia merasakan seperti merobek sesuatu dibawah sana.
"Ka..kamu.." lirihnya sambil menatap Agatha yang memalingkan wajahnya ke samping sambil menggigit bibir hingga berceceran darah.
Beberapa detik saat sadar bahwa wanita yang dibawahnya ini benar benar masih perawan, Leo langsung menarik kembali senjata pribadi miliknya, membenarkan celananya hingga memakai kembali sabuk.
Leo menatap Agatha yang meringkuk dilantai san enggan menatapnya.
Terngiang ngiang perkataan sang ibu sebelum meninggal saat mereka sedang bersantai di rumah.
"Kamu harus menghargai dan menghormati wanita, Leo. Ibu tidak ingin kamu menjadi bajingan yang menyia nyiakan wanita, meskipun kepada pemberontak sekalipun. Lebih baik kamu membunuhnya daripada menghina atau merendahkan seorang wanita jika dia musuhmu" pesan sang ibu (Abigail Elliot-Davarza) 3 tahun lalu, ketika Leonardo Davarza berumur 24 tahun saat setelah dilantik menjadi komandan pasukan militer muda.
"Apa aku harus membunuhnya?" batin Leo mendadak melow dan berperasaan.
Tapi seperkian detik, ucapan ayahnya gantian terngiang ngiang di otak serta hatinya.
"Kamu adalah calon jenderal, komandan senior militer Inggris. Kamu akan menggantikan ayah memimpin pasukan kerajaan. Jangan mudah iba atau melemahkan diri sendiri dengan perasaan kasian. Jika ada pemberontak yang melawanmu, beri mereka pelajaran hingga menyesali perbuatannya. Jangan bunuh mereka dengan mudah" pesan ayah Leo (Lazuar Davarza) saat putranya semata wayang menyelesaikan prajurit militer diusia 20 tahun.
Leo langsung menghilangkan perasaan iba dihatinya. Ia tidak peduli jika harus mengabaikan pesan sang ibu karena memang tugas negara sekaligus misi balas dendam terselesaikan.
Ia pun mengabaikan pandangannya saat melihat bercak darah dibagian dress bawah Agatha yang ia yakini juga darah itu berada di senjata miliknya.
"Aku akan memberikan waktu 5 menit berpamitan kepada orang tuamu" ucap Leo lalu keluar kamar dan membiarkan pintu terbuka.
Agatha berusaha untuk berdiri dan mendekat kearah orang tuanya.
"Aku akan bertahan untuk membalaskan dendam kalian. Ayah Ibu tenanglah di keabadian. Tunggu aku untuk merayakan kemenangan kita" batinnya dengan meneteskan air mata yang tadi sempat tertahan untuk menyembunyikan kelemahan didepan musuh.
Saat prajurit yang berjaga di depan pondok mengetahui komandannya sudah keluar kamar, ia pun berlari menghampiri untuk memberikan laporan.
"Lapor komandan! Misi sudah hampir selesai. Hampir semua pondok sudah terbakar dan hanya tinggal pondok ini yang belum di bumihanguskan. Semua pria sudah dieksekusi lalu wanita dan anak anak sudah kami berikan obat bius" ucap prajurit tersebut.
"Bagus. Pastikan lagi di bawah tanah atau didalam lemari dan tempat tempat yang bisa dijadikan persembunyian para pemberontak" perintah Leo.
Klotak!
Terdengar suara di kamar sebelah. Leo, prajurit, dan Agatha langsung fokus kesuara itu.
"CARI SUARA APA ITU!" suruh Leo kepada sang prajurit.
Agatha langsung panik, ia berdiri dengan sisa tenaganya dan menghampiri Leo didepan kamar.
"Jangan! Jangan cari apapun di kamar itu!!" serunya makin membuat Leo curiga.
Brak!!!
Terdengar suara keras barang jatuh di kamar lainnya.
"KAKAK!!! TOLONG AKUUU!!!" teriak seorang anak perempuan yang ditemukan oleh prajurit.
Agatha hendak berlari menuju kamar sebelah namun tubuhnya ditahan oleh Leo.
"BAWA DIA KESINI, BETRAND!" teriak sang komandan kepada prajuritnya.
Prajurit yang bernama Betrand itu keluar kamar sambil menyeret anak perempuan yang kira kira berusia 10 tahunan.
"KAKAK!!" teriak anak itu.
"Komandan, ternyata memang ada anak yang bersembunyi di pondok ini" jelas Betrand.
"Suruh semua prajurit memastikan lagi tidak ada seorang pun yang lolos dari setiap pondok yang terbakar! Pastikan tidak ada pemberontak yang tersisa di wilayah ini" perintah Leo.
"Siap Komandan!" seru Betrand mengikuti arahan pimpinannya lalu keluar pondok dan menginfokan hal yang sama kepada prajurit lainnya, sedangkan prajurit yg masih berjaga didepan pondok tetap memastikan pandangannya terfokus kearah sang komandan di dalam pondok.
Leo melepaskan cekalannya di tubuh Agatha dan membiarkan wanita itu memeluk anak perempuan yang baru ditemukan.
"Lepaskan dia, aku mohon" permintaan Agatha tiba tiba sambil menangis pilu bersama sang adik.
"Dia adikmu?" tanya Leo memastikan.
"Ya dia adikku. Dia tidak mengerti apa apa tentang semua ini. Tolong lepaskan dia" jawab Agatha.
Leo malah tersenyum menyeringai.
Agatha sudah sangat ketakutan jika adiknya akan dibunuh oleh Leo karena hanya tinggal sang adik keluarga yang bisa ia lindungi.
cerita nya seru👍