Amir adalah seorang pemuda yatim piatu yang selama bertahun-tahun hidup menderita sebagai menantu yang sama sekali tidak dianggap oleh keluarga istrinya, meskipun ia sudah bekerja keras banting tulang dari pagi hingga larut malam setiap harinya. Kesabarannya diuji hingga batas maksimal ketika ibu mertua dan adik iparnya dengan kejam menendangnya ke dalam danau saat ia sedang memancing, hanya demi memaksanya menceraikan istrinya yang hendak dijodohkan dengan pria kaya. Namun, di saat Amir tenggelam dan hampir kehilangan nyawanya, ia justru membangkitkan [Sistem Check-in Memancing] yang akan mengubah jalan hidupnya yang menyedihkan menjadi seorang legenda yang bergelimang harta dan kekuatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Amir menadahkan tangannya meminta pena kepada Rendy.
Rendy mendecak kesal lalu melemparkan sebuah pena murahan ke arah dada Amir.
Amir menangkap pena itu dengan sigap dan langsung membubuhkan tanda tangannya di atas materai.
Srek srek srek.
"Ini yang kalian inginkan, ambil saja Siska dan kekayaannya."
"Mulai detik ini, aku tidak punya urusan lagi dengan keluarga benalu ini."
Amir melemparkan kembali surat itu tepat ke wajah Rendy.
Kertas itu melayang dan jatuh ke atas genangan lumpur di dekat sepatu Rendy.
"Berani-beraninya kau melempar surat ini ke wajahku!"
Rendy berteriak marah sambil memungut surat itu dengan tergesa-gesa.
Ia berusaha membersihkan noda lumpur di ujung kertas agar tanda tangannya tidak rusak.
Bu Rina mendengus kasar melihat kelakuan Amir yang tiba-tiba menjadi berani.
"Gaya bicaramu selangit untuk ukuran pengemis yang baru saja diusir."
"Cepat kembali ke rumah dan kemasi barang rongsokanmu."
"Jangan sampai aku menyuruh satpam komplek untuk menyeretmu keluar dengan paksa."
Bu Rina mengibaskan tangannya dengan ekspresi jijik di wajah tuanya.
Amir membalikkan badan tanpa membalas ucapan ibu mertuanya lagi.
Ia berjalan menjauhi tepian danau dengan langkah tegap meski pakaiannya masih basah kuyup.
Tidak ada lagi rasa sedih atau penyesalan di dalam hatinya yang tersisa.
Hanya ada rasa lega yang luar biasa seolah sebuah rantai besi yang membelenggu lehernya telah terlepas.
Tap tap tap.
Suara langkah kakinya menggema di sepanjang jalan setapak menuju kawasan perumahan elite tersebut.
Sesampainya di rumah mewah bercat putih itu, Amir langsung menuju ke kamar kecil di dekat dapur.
Itu bukan kamar utama, melainkan kamar pelayan yang disulap menjadi kamar tidurnya selama tiga tahun terakhir.
Siska tidur di kamar utama di lantai dua, sementara ia selalu diusir ke bawah dengan alasan Siska tidak tahan dengkurannya.
Amir menarik sebuah koper lusuh dari bawah ranjang kayunya yang keras.
Sret.
Debu tipis beterbangan saat koper itu dibuka dari resletingnya yang sudah sedikit macet.
Ia hanya memasukkan beberapa potong pakaian murah dan dokumen penting miliknya.
Semua barang berharga seperti jam tangan atau pakaian bagus sudah ia jual untuk biaya pengobatan Siska tahun lalu.
Dan ironisnya, istrinya itu seolah lupa akan pengorbanan yang telah ia berikan.
"Cepat sedikit, jangan sampai kau mencuri barang-barang berharga di rumah ini!"
Suara cempreng Bu Rina terdengar menggelegar dari ambang pintu kamar.
Rendy berdiri di belakang ibunya sambil mengawasi setiap gerak-gerik Amir dengan tatapan curiga.
Amir menutup resleting kopernya dengan kasar lalu berdiri menghadap mereka.
"Kalian bisa memeriksa koperku kalau kalian memang curiga aku mengambil sesuatu."
"Aku tidak sudi membawa satu jarum pun yang dibeli menggunakan uang haram kesombongan kalian."
Amir mendorong kopernya ke arah Rendy dengan tatapan menantang.
Rendy yang tidak mau kalah gengsi langsung menendang koper itu menjauh.
"Bawa saja koper sampahmu itu pergi dari sini sekarang juga."
"Dan jangan pernah menampakkan wajah miskinmu itu di depan rumah ini lagi sampai kapan pun."
Amir meraih gagang kopernya dan berjalan melewati mereka berdua tanpa menoleh lagi.
Brak!
Suara pintu depan yang dibanting dengan keras menjadi tanda perpisahan Amir dengan rumah neraka tersebut.
Amir menyeret kopernya di sepanjang trotoar jalanan kota yang mulai memanas oleh terik matahari siang.
Perutnya berbunyi pelan meminta diisi karena ia memang belum sarapan sejak pagi tadi.
Ia memutuskan untuk duduk di sebuah halte bus yang sepi untuk beristirahat sejenak mengatur napas.
"Sekarang aku sudah resmi bercerai dan menjadi gelandangan sungguhan."
"Lalu apa yang harus kulakukan selanjutnya dengan sistem aneh ini."
Amir bergumam sendiri sambil menatap jalanan aspal yang lengang.
Tiba-tiba, suara mekanis yang dingin itu kembali menggema jelas di dalam kepalanya.
[Selamat, Tuan telah menyelesaikan Misi Pemula dengan sangat baik]
[Hadiah 500 Poin dan Satu Kail Keberuntungan Tingkat Rendah telah ditambahkan ke dalam inventaris Tuan]
Mata Amir berbinar terang mendengar suara pemberitahuan tersebut.
"Jadi ini bukan halusinasi semata, Sistem ini benar-benar nyata ada di tubuhku!"
"Sistem, bisakah kau menjelaskan bagaimana cara kerjamu secara detail?"
Amir bertanya di dalam hatinya dengan penuh rasa penasaran yang menggebu-gebu.
Sebuah panel layar transparan berwarna biru muda tiba-tiba muncul melayang di depan wajahnya.
Amir sedikit terkejut dan memundurkan tubuhnya bersandar ke sandaran bangku halte.
Namun ia segera sadar bahwa beberapa orang yang lewat dengan sepeda motor tidak bereaksi sama sekali melihat layar itu.
"Sepertinya layar ajaib ini hanya bisa dilihat olehku saja."
Amir kembali fokus membaca deretan teks yang muncul berurutan di layar transparan tersebut.
[Sistem Check-in Memancing dirancang untuk membantu Tuan menjadi dewa pemancing di seluruh alam semesta]
[Tuan bisa melakukan Check-in harian di lokasi memancing mana pun untuk mendapatkan Poin atau Item misterius secara acak]
[Poin bisa didapatkan dari Check-in, menyelesaikan misi, atau menukarkan ikan hasil tangkapan kepada Sistem dengan harga yang sesuai]
[Poin dapat digunakan di Toko Sistem untuk membeli Umpan, Kail, Joran, Keterampilan magis, hingga ditukar dengan Mata Uang Dunia Nyata]
Nafas Amir menjadi sedikit lebih cepat dan memburu saat membaca kalimat terakhir di layar.
"Mata uang dunia nyata?"
"Sistem, bisakah aku menukarkan Poin milikku dengan uang Rupiah sekarang juga ke rekeningku?"
Amir langsung menanyakan hal yang paling krusial bagi kelangsungan perut dan hidupnya saat ini.
[Tentu saja bisa, Tuan]
[Nilai tukar saat ini adalah 1 Poin sama dengan 10.000 Rupiah dan bebas pajak]
[Apakah Tuan ingin melakukan penukaran Poin sekarang?]
Amir melakukan perhitungan matematika sederhana di kepalanya dengan cepat.
Saat ini ia memiliki total 600 Poin, yaitu 100 Poin awal dan 500 Poin hadiah dari misi pemula.
Jika ia menukarkan semuanya, ia akan mendapatkan uang tunai sebesar enam juta Rupiah.
Jumlah itu memang cukup untuk bertahan hidup selama sebulan dan menyewa kamar kos yang sangat layak.
Tapi Amir bukanlah pria yang bodoh dan serakah akan kenikmatan sesaat.
"Tunggu dulu, jika aku tukarkan semuanya, aku tidak punya modal poin untuk membeli peralatan memancing dari Sistem."
"Sistem, buka halaman Toko Sistem sekarang juga."
Layar biru itu berkedip sekilas lalu berubah menampilkan deretan gambar barang dengan harga poin di bawahnya.
Ada Umpan Cacing Wangi seharga 10 Poin per bungkus yang menjamin tangkapan kecil.
Ada Joran Bambu Hitam lentur seharga 200 Poin yang tidak akan patah.
Dan ada juga berbagai macam keterampilan pasif seperti Mata Elang yang harganya mencapai puluhan ribu Poin.
Amir kemudian mengalihkan pandangannya pada menu Inventaris di pojok atas layar.
Ia melihat ikon sebuah kail berwarna perak yang bersinar redup dengan aura magis.
[Kail Keberuntungan Tingkat Rendah]
[Deskripsi: Kail pancing yang telah diberkati dengan sedikit keberuntungan magis dari dewi laut]
[Efek: Meningkatkan peluang mendapatkan ikan langka atau item berharga sebesar dua puluh persen saat memancing di perairan mana pun]
[Daya Tahan: 10 kali lemparan penggunaan]
Amir tersenyum sangat puas melihat efek kail gratisan tersebut.
"Dengan kail ini, aku tidak perlu menghabiskan poin untuk beli joran mahal dulu."
"Aku bisa menggunakan joran murahan milikku yang kutinggalkan di danau tadi, semoga saja belum diambil orang lewat."
"Sistem, tukarkan 100 Poin dengan satu juta Rupiah dan transfer langsung ke rekening bank pribadiku."
[Terkonfirmasi]
[Menukarkan 100 Poin, sisa saldo Poin Tuan saat ini adalah 500 Poin]
Ting!
Ponsel butut di saku celana Amir berbunyi nyaring menandakan ada pesan singkat masuk.
Ia segera merogoh sakunya dan membuka layar ponsel yang pelindung kacanya sudah retak di beberapa bagian.
Pesan notifikasi dari bank menyatakan bahwa ada transfer masuk sebesar satu juta Rupiah tanpa nama pengirim.
Tangan Amir sedikit gemetar memegang ponselnya melihat angka nol yang banyak itu.
"Ini benar-benar uang sungguhan yang bisa kugunakan!"
"Aku bisa menjadi orang kaya raya hanya dengan duduk memancing!"
Amir tertawa lepas di halte yang sepi itu bagaikan orang gila.