Pada hari ia terbangun kembali tujuh tahun lalu, Wulan Ardani sadar bahwa pernikahannya dengan Panglima Senja, Nalendra, akan menimbulkan tragedi. Dalam hidup sebelumnya, ia menolak, keluarga hancur, dan sang pria yang menolongnya gugur di Lembah Sigar. Kini ia menerima takdir itu, menyimpan rahasia sebagai putri malam dari Paguyuban Niskala. Saat intrik istana, racun mematikan, dan perebutan takhta mengejar, Wulan harus memilih: menebus masa lalu atau menulis takdir baru bersama lelaki yang pernah mati demi menyelamatkannya.
note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22 - ADA ORANG YANG MENYINARI
Pangeran Panji menahan kata-kata yang nyaris keluar dari tenggorokannya. Sangat sulit bagi seorang gadis untuk membuat ekspresi serumit itu dalam sekali waktu — satu sisi wajahnya menampilkan rasa takut yang lembut dan polos, sementara matanya yang tajam mengirimkan ancaman yang bisa membunuh kepada orang yang berdiri di seberangnya. Ia benar-benar ingin bertanya bagaimana Wulan bisa bersikap manis dan berminyak di hadapan Nalendra, namun pada saat yang bersamaan mengancamnya dengan tatapan penuh niat membunuh. Sungguh, wajah yang sama bisa menampung dua karakter yang bertolak belakang, dan Pangeran Panji untuk pertama kalinya merasa bahwa gadis kecil di hadapannya ini bukanlah orang yang sederhana.
Melihat Wulan yang berusaha sekuat tenaga memeluknya, Nalendra ingin tertawa di dalam hatinya. Ia tidak membongkar akting Wulan, malah memeluknya dengan kooperatif dan berkata sambil tersenyum rendah, "Ya, rubah salju benar-benar menakutkan." Suaranya rendah dan lembut, seolah benar-benar meyakini ketakutan tunangannya itu, padahal jauh di lubuk hatinya ia tahu betul gadis itu sedang berpura-pura demi sebuah keinginan.
Namun, ketika Wulan mendengar kata-kata itu, ia berhenti sejenak. Hah — harus bekerja sama dengan aktingnya sebaik ini? Sungguh aneh dan janggal mendengar kata-kata manis semacam itu keluar dari mulut pria yang biasanya dingin dan menjaga jarak ini, sehingga Wulan sempat tidak yakin apakah itu ejekan atau pujian. Betapa seringnya pria ini membuat langkah-langkahnya sendiri menjadi tak terduga.
Tapi karena Nalendra tidak membongkarnya, Wulan dengan senang hati terus berakting sebaik mungkin. "Ya, ya, benar-benar menakutkan. Cepat peluk aku." Suaranya dibuat cempreng dan kekanak-kanakan, dengan tangan yang masih merenggut erat lengan jubah sang pangeran.
Nalendra memeluknya lebih erat, seolah menuruti semua permintaannya tanpa syarat. Hangatnya dada itu terasa menenangkan, dan untuk sesaat Wulan lupa bahwa ia seharusnya sedang berakting. Dari balik lengannya, ia bisa merasakan betapa kokoh dan amannya pelukan itu, seolah tidak ada bahaya yang bisa menembusnya.
Pangeran Panji membeku di tempatnya, tak mampu mengeluarkan satu kata pun.
Ia mengangkat alis, menunggu apakah ada yang akan menjelaskan apa pun tentang adegan di depannya, tetapi tidak ada seorang pun yang meliriknya.
Ada orang yang menyinari. Ya, itulah dirinya — lentera yang dinyalakan dengan sia-sia di tengah ruangan yang penuh cahaya.
Pangeran Panji melihat kedua orang itu bersikap seolah tidak ada orang lain di sekitarnya, dan merasa dirinya seperti lentera yang bersinar terang namun tak dipedulikan siapa pun. Ia yang tadinya masih mencoba bersabar akhirnya tidak tahan lagi, lalu mengetukkan kaki untuk menarik perhatian. "Hei, ada seorang lelaki tua yang kesepian di sini. Bisakah kalian berhenti bersikap seperti ini? Itu keterlaluan, setidaknya hargailah perasaan seorang pria lajang sepertiku." Ucapannya mungkin terdengar bercanda, tetapi ada nada nyata di baliknya, dan ia melambaikan tangan di depan wajah mereka berdua agar mereka benar-benar memperhatikannya.
"Aku sangat takut, Nalendra. Kau bisa makan siang bersamaku nanti, kalau tidak aku mungkin terlalu takut untuk makan." Wulan menatap Nalendra dengan penuh semangat, sama sekali mengabaikan Pangeran Panji yang "bersinar" itu, bahkan mendekatkan wajahnya semakin dekat ke arah sang pangeran.
Pangeran Panji mengumpat dalam hati pada wanita bermuka dua ini, sambil menahan hasrat untuk menoleh dan pergi meninggalkan ruangan itu.
"Baiklah." Nalendra juga menutup matanya dan hanya tersenyum pada Wulan, seolah setuju dengan seluruh permintaan yang diajukan tanpa perlu berpikir panjang.
Pangeran Panji terus menangis di dalam hatinya, merasa keberadaannya benar-benar terlupakan oleh pasangan di depannya yang saling bertatapan mesra.
Kedua orang ini benar-benar... mengabaikannya sepenuhnya, seakan ia hanyalah furnitur yang menghiasi ruangan tanpa suara dan tanpa arti.
Malam semakin larut, dan Waskita tidak diutus untuk menjemput. Nalendra mengirim Wulan pulang ke kediaman Adipati Ardani secara pribadi. Saat itu, Adipati Pramana sedang duduk meringkuk karena marah sambil memegang kemoceng di tangannya, memarahi Waskita dengan suara menggelegar yang menggema di seluruh halaman depan. "Aku memintamu untuk mengawasi adikmu. Lebih baik kau langsung saja membawanya keluar rumah daripada membiarkannya berkeliaran sepanjang hari seperti ini tanpa kabar!" Kemoceng itu berayun ke sana ke mari, dan Waskita harus mundur beberapa langkah untuk menghindarinya.
Waskita memegangi kepalanya, menghindari ayunan kemoceng sang ayah yang menyambar-nyambar di udara, lalu membela diri dengan lemah. "Wuri pergi ke Puri Senja." Kata-kata itu keluar dengan suara kecil, seolah berharap ayahnya tidak mendengarnya dengan jelas.
"Berani sekali kau bicara omong kosong!" Adipati Pramana kembali menamparnya dengan kemoceng. Ia adalah seorang ayah yang selama bertahun-tahun memperhatikan segala perbuatan putrinya yang mengejar-ngejar Pangeran Cendana ke sana ke mari. Bagaimana mungkin putrinya tiba-tiba pergi ke Puri Senja tanpa alasan yang masuk akal? Ini sama sekali tidak masuk di akal.
"Kau benar-benar mengira aku orang tua yang bodoh, mudah sekali untuk dibodohi! Jika Wuri pergi ke Puri Senja seperti yang kau katakan, besok aku akan memenggal kepalamu dan menjadikannya mainan!" Kemoceng di tangannya terangkat tinggi, siap diayunkan sekali lagi, dan Waskita refleks menutupi kepalanya dengan kedua tangan sambil menunduk.
"Ayah!" Waskita mendengar kata-kata sang ayah lalu melirik ke arah Nalendra yang berdiri di sampingnya dengan ekspresi tenang di wajahnya. Kelopak matanya berkedut tanpa bisa ditahannya. Kepala ayahnya ini benar-benar rumit — bagaimana ia bisa mempercayai kata-katanya yang jujur namun tetap keras kepala dan mudah marah?
"Wuri! Ke mana lagi kau lari hari ini...?" Mata tajam Adipati Pramana tiba-tiba berubah lembut saat ia melihat sosok Nalendra berdiri di balik bahu putranya. "Na... Pangeran Nalendra?" Suaranya tersendat, dan kemoceng di tangannya nyaris jatuh.
"Wuri!" Waskita melepaskan tangan yang memegang kepalanya, diam-diam menunjuk ke arah Adipati Pramana, lalu membuat gerakan memenggal dengan gigi terkatup, memberi isyarat diam-diam bahwa kepala ayahnya nyaris lepas dari lehernya karena salah bicara. Ia mengerutkan hidungnya sambil menahan tawa, geli melihat tingkah konyol ayahnya yang kehabisan akal.
Wulan melihat kedipan mata Waskita dan tidak bisa menahan diri untuk menundukkan kepala sambil tersenyum diam-diam, geli melihat tingkah kakaknya yang konyol namun penuh perhatian.
"Tuan Adipati." Nalendra sedikit mengangguk melihat ekspresi terkejut sang Adipati yang baru saja sadar dari keterpanaannya, lalu memberi salam dengan sopan dan tenang.
"Ini, ini, ini... Wuri, Wuri benar-benar berada di Puri Senja hari ini?" Adipati Pramana linglung sejenak, seolah-olah masih belum bisa menerima kenyataan yang dikatakan Waskita, lalu meminta konfirmasi tanpa mau menyerah, matanya berpindah-pindah antara putrinya dan pangeran yang berdiri di hadapannya, masih berharap semua ini hanya mimpi buruk. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan jantungnya yang berpacu, namun pertanyaan yang sama tetap meluncur dari bibirnya. "Sungguh, di Puri Senja?"