Bagi Bara Mahendra, lima belas tahun lalu adalah malam jahanam yang merenggut segalanya. Di bawah guyuran hujan lebat, ia dipaksa menyaksikan kematian tragis kedua orang tuanya akibat sabotase keji.
Sebuah nama yang dibisikkan sang ibu sebelum mengembuskan napas terakhir melekat abadi di kepala Bara: Darma Amartya. Sejak detik itu, Bara bersumpah akan menukar masa mudanya demi satu tujuan tunggal—balas dendam.
Kini, Bara kembali sebagai pengusaha muda yang dingin, genius, dan penuh taktik. Baginya, kematian terlalu instan dan mudah untuk seorang Darma.
Pria tua itu harus merasakan penderitaan yang jauh lebih menyiksa, yaitu melihat permata paling berharga dalam hidupnya hancur berkeping-keping: Senja Amartya, putri tunggalnya.
Senja adalah perwujudan dari namanya sendiri, hangat, tulus, dan murni. Ia tidak tahu-menahu tentang dosa masa lalu sang ayah. Ketika perusahaan ayahnya berada di ambang kebangkrutan, Bara hadir layaknya seorang kesatria penyelamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nafsienaff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengorbanan untuk Hidup
Hujan turun rintik-rintik di luar jendela kamar hotel mewah tempat Senja menginap. Di atas ranjang, sebuah gaun pengantin berwarna putih gading terhampar anggun. Gaun itu sangat indah, namun bagi Senja, kain sutra itu terasa seperti kain kafan yang siap membungkus kebebasannya esok pagi.
Dua minggu telah berlalu sejak lamaran gila dari Bara Mahendra di ruang kerja ayahnya. Dua minggu yang penuh air mata, perdebatan, hingga akhirnya kepasrahan.
Senja berdiri di depan cermin besar, menatap bayangan dirinya sendiri. Matanya sembap. Di ranjang rumah sakit beberapa hari lalu, sang ayah, Darma Amartya, menangis hebat sembari memegang tangannya. Pria tua itu merasa gagal melindungi putri tunggalnya dan mengutuk dirinya sendiri karena harus membiarkan Senja "dijual" demi menyelamatkan nama baik keluarga.
"Maafkan Papa, Senja... Papa tidak berguna," bisikan lirih ayahnya kembali terngiang, membuat dada Senja sesak.
Senja menghapus setitik air mata yang kembali jatuh di pipinya. "Ini demi Papa," bisiknya pada refleksi di cermin, mencoba menguatkan hati. Ia tidak mengenal Bara Mahendra. Bagi Senja, Bara adalah sosok pebisnis kejam, dingin, dan penuh teka-teki yang tiba-tiba datang memerasnya menggunakan jerat utang.
Namun, Senja tidak punya pilihan. Menikah dengan pria asing yang menakutkan jauh lebih baik daripada melihat ayahnya meninggal dalam kondisi terpuruk dan miskin di sisa usianya.
Sementara itu, di tempat yang berbeda, atmosfer yang jauh lebih dingin menyelimuti ruang kerja Bara Mahendra.
Bara berdiri di balkon apartemen penthousenya, membiarkan angin malam yang menusuk menerpa wajahnya. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah kalung perak usang dengan liontin berbentuk hati satu-satunya peninggalan ibunya yang berhasil ia selamatkan 15 tahun lalu.
Pintu kaca di belakangnya bergeser terbuka. Rian, asisten pribadinya, melangkah masuk dengan sopan.
"Semua persiapan untuk akad nikah dan resepsi besok pagi sudah 100 persen siap, Pak Bara. Media sudah dikondisikan untuk meliput ini sebagai 'Pernikahan Dongeng' antara penyelamat bisnis dan putri konglomerat," lapor Rian.
Bara tidak menoleh. Matanya tetap menatap gemerlap lampu kota Jakarta yang tampak seperti hamparan bara api di matanya.
"Bagaimana dengan kondisi Darma?"
"Kesehatannya menurun drastis setelah menandatangani surat perjanjian pranikah. Tim medis mengatakan jantungnya terlalu lemah untuk menghadiri acara besok. Beliau akan menyaksikan lewat siaran langsung dari ruang perawatan," jawab Rian ragu, tahu betul bahwa kondisi ini adalah bagian dari skenario yang diinginkan atasannya.
Bara mengepalkan tangannya yang memegang kalung ibunya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Bagus. Biarkan dia menonton dari ranjang pesakitannya. Biarkan dia melihat bagaimana putri kesayangannya melangkah masuk ke dalam sangkar yang kubuat."
Rian terdiam sejenak, lalu memberanikan diri bertanya, "Pak Bara... apakah Anda yakin Nona Senja tidak terlibat dalam kejadian 15 tahun lalu? Dia masih sangat kecil saat itu."
Bara membalikkan badannya, menatap Rian dengan tatapan elang yang sanggup menghentikan detak jantung seketika. Atmosfer ruangan langsung turun beberapa derajat.
"Dia anak Darma Amartya, Rian. Darah seorang pembunuh mengalir di tubuhnya," ucap Bara, suaranya pelan namun terdengar seperti vonis mati.
"Darma membunuh orang tuaku dan merenggut masa kecilku tanpa ampun. Jadi, sangat adil jika aku menggunakan anaknya sendiri untuk membalas setiap tetes darah yang tumpah malam itu."
Bara berjalan masuk ke dalam ruangannya, meletakkan kalung ibunya di atas meja kerja, tepat di samping dokumen legalitas aset Amartya Group yang kini sudah berpindah tangan atas namanya.
"Besok adalah awal dari akhir bagi keluarga Amartya. Aku tidak akan melepaskan mereka sampai Darma merasakan hancur yang sesungguhnya," pungkas Bara dingin.
Malam itu, di dua tempat yang berbeda, dua orang manusia menatap langit malam yang sama dengan perasaan yang bertolak belakang. Senja yang berdoa meminta kekuatan untuk menghadapi pernikahan yang ia kira adalah pengorbanan suci, dan Bara yang tersenyum puas karena jaring pembalasan dendamnya siap ditarik esok hari.
Bersambung