Langit Janet Mathida seakan runtuh ketika dijadikan alat pembayaran Papanya yang terlilit hutang judi dan pinjol. Dia terpaksa tinggal bersama Devan Gevaro yang tidak menginginkannya.
》Setelah sari masa muda dinikmati dan hamil, dia diminta pergi dari kehidupan Devan. Seketika Janet seperti tebu, habis manis sepah dibuang.
》Apakah Janet terima dan berjuang untuk membalas perlakuan Devan?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Serupa Beda Rasa"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 02. SBR
...~•Happy Reading•~...
Janet makin gemetar ketakutan membayangkan harus meninggalkan apartemen Devan dalam keadaan hamil. Dia masih memandang Devan, berharap ada sedikit belas kasihan untuk membiarkan dia tinggal.
"Segera pergi dari sini, dan tutup mulutmu dengan rapat. Supaya hidup kalian aman." Devan kembali mengancam dengan nada suara keras.
Dia tidak mau membiarkan Janet tinggal di apartemen sebab dia khawatir Maminya datang sewaktu-waktu dan mengetahui Janet hamil. Pemikiran itu membuat dia bergerak cepat untuk menyingkirkan Janet, agar tidak dipaksa menikah.
"Saya belum tentu hamil, Mas. Berikan saya waktu untuk pergi ke rumah sakit untuk memastikan." Janet masih berusaha bertahan dan berharap ada sedikit perasaan sayang di sudut hati Devan, karena sering bersama di atas tempat tidur.
"Kau mau lakukan tawar-menawar untuk mengulur waktu? Segera pergi dari sini." Devan kembali berkata tegas, mengusirnya pergi. "Besok saya tidak mau melihatmu ada di sini." Devan meneruskan keteguhan hatinya.
Tidak ada lagi keinginan untuk meniduri Janet. Hasratnya menguap seketika oleh kesadaran Janet sedang hamil. Dia segera masuk ke kamar meninggalkan Janet yang menatapnya dengan air mata mengalir.
Hati Janet ikut menangisi ketidak beruntungan nasibnya, dibuang pada saat kondisi tidak menentu. 'Aku harus ke mana?' Janet bertanya pada hatinya dengan air mata yang sudah membasahi pipi. Pertanyaan itu mengingatkan, bahwa dia tidak memiliki seorang teman baik yang bisa dimintai tolong.
Semasa sekolah, dia tidak punya waktu untuk berteman, layaknya murid normal. Dia menghabiskan waktu setelah pulang sekolah dengan kerja serabutan untuk mememenuhi kebutuhannya. Karena gaji Papanya yang bekerja sebagai sopir pribadi sering habis untuk berjudi.
'Kembali ke rumah? Tidak !' Janet menolak tegas. Dia khawatir, Papanya akan datang ke Mami Devan dan menjadikan dia sebagai alat tukar atau untuk merongrong orang tua Devan. Sehingga dia terjepit oleh dua pihak dengan kepentingan yang berbeda. Dan akhirnya Devan punya kesempatan melaksanakan ancaman atau menciptakan neraka baginya.
'Mencari Mama? Tidak !' Janet kembali menolak. 'Aku akan menghabiskan waktu dengan sia-sia.' Janet jadi ingat Mamanya yang pergi meninggalkan dia karena tidak tahan hidup menderita dan jadi sasaran tindak kekerasan Papanya. Sejak itu, dia tidak tahu keberadaan Mamanya, hingga dia dibawa ke Mami Devan.
Sambil menopang ke meja, Janet berdiri dan berjalan perlahan masuk ke kamar sambil menahan tangis. Segala usahanya untuk bertahan tidak membuahkan hasil. Dia tidak punya pilihan, namun harus menentukan pilihan. Perjalanan hidupnya yang keras menempah dia untuk harus bertahan.
Setelah berada dalam kamar, dia berdiri dan melihat kamar yang telah menjadi tempat menghabiskan hari penuh rasa was, menunggu Devan masuk ke kamar. Dia selalu berharap Devan memperlakukan dia dengan baik, tidak menyakiti seperti Papanya.
Dalam rasa panik, dia melihat koper yang diletakan di atas lemari setelah pulang berlibur dari villa keluarga Devan atas permintaan Maminya. 'Aku kira dia telah menyukaiku, bahkan mungkin telah jatuh cinta padaku.' Janet ingat perlakuan Devan yang lembut dan mesra padanya di villa. 'Aku berpikir sudah tumbuh rasa cinta di antara kami.' Bisik hati Janet.
Berdasarkan pemikiran itu, setelah kembali dari villa, dia mulai pergunakan fasilitas gratis yang disediakan apartemen untuk menjaga kebugaran dan memperindah bentuk tubuh. Semua dilakukan karena dia menyadari, sikap baik dan sopan saja tidak bisa membuat Devan senang dan membiarkan dia tetap tinggal.
Perasaan sayang yang timbul di hatinya setelah berlibur di villa membuat dia tidak mau mengecewakan Devan. Dia berharap, apa yang dikatakan Maminya terjadi suatu hari. Dia bisa hamil dan akan dinikahkan dengan Devan.
'Ternyata semua hanya ilusi oleh pemandangan indah, sejuk dan romantis.' Bisik Janet sambil menangis, ingat malam yang dihabiskan bersama Devan di villa.
'Berhenti menangisi yang sudah terjadi. Sudah tidak berguna dan kau tidak bodoh.' Bentak Janet saat membuka pintu lemari dan melihat bayangannya di cermin pintu lemari.
Dia menghapus air mata dengan punggung tangan lalu mengeluarkan pakaian yang biasa dipakai. 'Aku tidak akan pergi dengan tangan kosong seperti aku datang. Semua ini tidak sebanding dengan harga diriku.' Janet mengingatkan untuk membawa yang bisa membuatnya bertahan di luar.
Ketika membuka laci dalam lemari, dia mengambil perhiasan emas yang diberikan Mami Devan saat dia berulang tahun ke 20 dan beberapa perhiasan lain untuk mengikatnya. 'Ini sudah jadi milikku.' Janet mengatakan pada dirinya, agar tidak berpikir dia mencuri.
Semua uang yang diberikan Devan dan Maminya dia masukan ke dalam tas tangan yang akan dibawah. 'Semoga ini bisa menghidupiku sampai dapat kerja.' Tercetus harapan dalam hatinya. Dia lupa, bisa saja hamil.
Sambil menyeret koper sedang dan berat, Janet keluar meninggalkan Devan. 'Semoga kita tidak bertemu lagi. Atau kau akan....' Janet tidak meneruskan rasa geramnya. Dia yakin, Devan sedang mengawasinya lewat cctv. Sehingga dia menegakan punggung untuk menunjukan, bahwa dia masih keluar dengan kepala tegak. Walau anggota tubuhnya gemetar akan hadapi sendiri dunia yang gelap.
Setelah tiba di lobby, dia naik mobil online yang dipesan. "Sesuai titik, Mba?" Tanya sopir setelah Janet masuk ke dalam mobil.
"Iya, Pak." Janet menjawab setelah berdehem beberapa kali untuk melonggarkan tenggorokannya yang serak. Dia merasa seluruh tubuhnya lemas, seperti tidak bertulang.
Walau dia sudah menguatkan hati dan berusaha tegar, dia tetap goyang setelah masuk ke dalam mobil. Jantungnya berdekat kuat setelah diingatkan sopir akan tujuannya.
Sopir merasa heran dengar jawaban Janet, sebab dia membawa koper tidak umum untuk pergi ke rumah sakit. Lebih tepatnya ke hotel atau rumah atau apartemen lain.
"Apa ada keluarga yang sakit, Mba?" Sopir coba mengajak bicara, karena mendengar suara tersedak dari belakang.
Ketika tidak ada jawaban, sopir mengatur kaca spion untuk melihat keadaan penumpangnya. Dia jadi khawatir melihat penumpangnya berbaring ke samping dan tidak bergerak. "Apa orangnya sakit?" Sopir jadi takut dan langsung mempercepat laju mobil ke rumah sakit.
Ketika tiba di depan UGD, dia segera keluar melihat kondisi Janet. "Mba, kita sudah di rumah sakit." Sopir membangunkan dengan menyentuh bahu Janet.
Ketika Janet tidak merespon, sopir segera berlari minta tolong. "Sakit apa, Pak?" Tanya perawat yang keluar bersamanya.
"Saya tidak tahu. Tiba-tiba pingsan di belakang..." Sopir membuka pintu mobil dan memperlihatkan Janet yang meringkuk di jok.
"Bapak ikut kami." Ucap perawat setelah meletakan Janet di ranjang darurat.
"Saya parkir mobil dulu." Sopir jadi panik dan bingung. Dia tidak bisa meninggalkan Janet, karena kopernya masih dalam bagasi.
Setelah parkir mobil, dia segera masuk ke ruangan UGD. "Suster, bagaimana kondisi Mba yang dibawa masuk tadi?"
"Kami sedang menunggu bapak. Mari ikut kami." Suster mengajak sopir ke bagian administrasi.
"Tidak usah khawatir, Pak. Ibu sedang hamil. Mungkin banyak pikiran atau kelelahan."
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~▪︎○¤○▪︎~...