Menelusuri lorong kota itu setelah sekian lama meninggalkannya mengusik ingatanku.
Beberapa tempat yang tak berubah, mengingatkan sebagian kisah masa laluku yang menempaku menjadi seperti sekarang .... Laki-laki yang masih tetap menjadi dirinya sendiri.
Aku bisa selembut kapas dan berubah sekeras batu padas seiring kedewasaan hidupku yang dikelilingi kepalsuan dan intrik penumpang gelap di sekitarku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.T. Setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Sekolah
Biasanya setiap pagi Aku hanya memberi makan merpati dan ayam peliharaan Bapak di samping rumah dinas.
Sesudahnya, Aku mengambil sarapan pagi yang sudah disiapkan Ibu, lalu hanya bermain main saja di sekitaran rumah.
Sampai suatu pagi, Ibu menyuruhku mandi pagi, mendandaniku dengan pakaian terbaik lalu mengajakku ke tempat yang baru kukenal.
Tentu saja Aku senang, setelah selama ini hanya bermain-main saja dengan adikku dan cucu perempuan bu Mar di rumah.
"Kamu besok mulai sekolah di sini Pras," kata Ibu setelah kami sampai di tujuan.
"Sekolah itu apa Bu ?"
Di tempat yang ramai dengan orang-orang yang belum kukenal, ada perasaan takut yang menggantikan rasa senangku tadi.
Apalagi ada seorang perempuan aneh tinggi besar berkulit putih dengan kerudung di kepalanya yang menyambut kedatangan kami.
"Sekolah itu tempat bermain dengan teman barumu, dan ini suster Brenda yang mulai besok akan menemanimu," Ibu menyebut nama sosok perempuan yang kumaksud tadi.
Aku merapat ke arah Ibu, menggamit erat lengannya. Rasa takutku semakin menjadi ketika suster Brenda tersenyum ke arahku
Senyum dan kerudungnya ditambah hidungnya yang mancung malah mengingatkanku pada sosok si Sirik, penyihir jahat di majalah Bobo yang setiap malam diceritakan bibi Yanti pengasuh adikku menjelang tidur.
"Bagaimana jika dia itu penyihir jahat yang akan membawaku pergi dengan sapu lidi terbangnya ?"
Hatiku semakin tak karu-karuan ketika suster Brenda menjulurkan tangannya untuk menyalamiku.
Alih-alih menyambut uluran tangannya, Aku menyembunyikan mukaku ke lengan Ibu. Tempat yang paling nyaman setiap kali Aku merasakan sesuatu yang mengancam.
***
Mungkin untuk menyenangkan hatiku, Ibu mengajakku naik becak setelah Aku merasa takut dengan sosok suster Brenda.
"Dua puluh lima ya pak."
"Nggih bu, ... monggo."
Kami akhirnya jadi pulang naik becak setelah tawar menawar Ibu yang cukup alot.
Di atas becak yang juga menjadi pengalamanku yang pertama, nama TK Santa Maria yang kudengar saat menguping percakapan Ibu dan suster Brenda tempat Aku akan bersekolah besok terus terngiang.
Dari percakapan itu, Aku masih belum mengerti maksud kata biarawati dari Belanda saat suster Brenda mengenalkan dirinya ke Ibu.
Aku masih menganggap biarawati dari Belanda itu teman si Sirik penyihir jahat yang akan membawaku pergi jika besok Aku ada di sana lagi
Ketakutanku mulai mereda saat becak yang kami tumpangi menjauhi sekolahku itu.
Tanjakan pertigaan Ragasemangsang dan jalan Gatot Subroto yang disebutkan Ibu mengalihkan perhatianku.
"Dari sini kita lewat jalan Ahmad Yani ke pintu belakang rumah sakit, barulah sampai ke rumah kita." Ibu terus runtut mengenalkan nama-nama jalan yang dilewati ke arahku.
Berpesan untuk selalu menghapal arah dan nama-nama yang disebutkannya barusan.
Aku terus memperhatikan kata-kata Ibu, sampai becak berhenti di dekat jembatan yang melintas di atas kali Tanjlig yang melingkari tembok rumah sakit.
Jembatan itu menghubungkan jalan Ahmad Yani dengan pintu belakang rumah sakit.
Banyak orang duduk-duduk di depan pintu gerbang yang masih tertutup saat kami mendekat. Kata Ibu, mereka para pem-bezoek yang akan menengok keluarganya yang dirawat di rumah sakit setelah pintu dibuka saat jam bezoek nanti.
Ibu menggandengku saat menyeberangi jembatan dan mengetuk pintu gerbang yang masih tertutup.
Pintu gerbang itu cukup tinggi untuk dipanjat. Berangka besi dengan plat seng menutupinya. Berdiri kokoh dipayungi kanopi lebar pohon angin yang tinggi dan besar di sebelahnya. Membuat banyak pem-bezoek berkerumun disitu menghindari sengatan panas matahari siang.
Tak lama, pak Darso sosok berkumis tebal berkacamata penjaga pintu gerbang yang sudah mengenal kami membukakan pintu, lalu menutupnya lagi setelah kami masuk menuju ke arah rumah.
***
Boi mengibaskan ekornya menyambutku saat melihat kedatanganku.
"Boi .... Boi .... sini ... " Seperti biasa, Aku akan mengelus kepalanya
Tidak sepertiku, Boi sudah punya banyak teman di komplek rumah dinas Bapak.
Bu Mar juga memelihara banyak anjing. Mungkin lebih dari empat ekor ketika Aku mengintip rumahnya.
Kelihatannya anjing yang ada di dalam rumah bu Mar galak dan mau menggigit orang yang tidak dikenalnya.
Saat Bapak dan Ibu memperkenalkan diri ke bu Mar, anjing-anjing itu ribut menggonggong dan dirantai ketika Bapak dan Ibu ada di rumah bu Mar.
Siang hari hanya Bleki, anjing hitam bu Mar yang dibiarkan berkeliaran di halaman depan menjadi teman Boi. Lainnya baru akan dikeluarkan dari rumah setelah malam hari.
"Pras kamu dari mana ?"
Elsi bocah perempuan sebayaku cucu bu Mar keluar dari dalam rumah neneknya mendengar suaraku yang ribut bermain sambil mengelus kepala si Boi dan Bleki.
"Sekolah," jawabku ke arah Elsi yang sudah ada di sampingku.
"Aku juga besok mau sekolah," kata Elsi menanggapi jawabanku.
Aku mulai bercerita tentang nenek Sihir yang kutemui di sekolah baruku.
Dia memelukku kencang ketika Aku menceritakan sosok suster Brenda yang bisa saja membawaku pergi jika besok Aku tak menemukan cara untuk meloloskan diri.
Sekolah Elsi yang berbeda denganku membuatnya tak bisa membantuku besok jika Aku harus menghadapi suster Brenda.
Itulah yang membuatnya cemas dan menganggap hari itu adalah hari terakhir pertemuan kami.
Dia tak bisa membayangkan jika besok kehilangan Aku, lalu menyuruhku mematahkan sapu lidi jika melihatnya di sekolahku, supaya Aku tak bisa dibawa pergi penyihir jahat.
Cukup lama kami menyiapkan rencana yang harus kulakukan besok, sampai teriakan Ibu yang memanggilku menyuruh makan siang menghentikan semua perandaian yang ada di pembicaraan kami.
***
Ibu menyuruhku untuk tidur siang setelah puas mengepaskan baju seragam baruku yang akan dipakai besok.
"Cuci muka dan kakimu dulu Pras !" Walau tak terbiasa tidur siang, toh Aku tak berani membantah Ibu.
Mengikuti kata-katanya, Aku beringsut merebahkan diri di kamar setelah mengeringkan muka dan kaki dengan handuk.
Ada tiga kamar tidur di rumah dinas Bapak. Dua kamar besar ada di dalam, dan satu kamar kecil ada di belakang.
Satu kamar besar di dalam untuk tidur kami. Satu kamar yang lain untuk tamu saudara Bapak atau Ibu dari kampung yang menginap. Kamar kecil yang ada di belakang dipakai untuk tidur bibi Yanti.
Aku paling suka tidur dan bermain di kamar tamu. Di sana ada tempat tidur susun yang sering kupanjat untuk mengintip ruang makan di belakang rumah lewat lubang jaluzi kayu yang ada.
Dari situ Aku bisa tahu apa saja yang tersaji di meja makan besar untuk makan malam yang selalu menjadi malam spesial buatku, karena kami semua lengkap berkumpul di meja itu.
Walau kantor kerja Bapak ada di sebelah rumah dinas, tidak setiap jam sarapan atau makan siang dia ada bersama kami.
Seperti siang itu, Aku sudah menyelesaikan makan siangku dan sudah berada di dalam kamar, saat kudengar suara Bapak yang baru pulang.
Aku sempat menguping pembicaraan Bapak dan Ibu di hari pertama jam tidur siang-ku karena sulit memejamkan mata ... Wajah si Sirik terus memenuhi isi kepalaku.
Untungnya tak lama kemudian, Bapak yang selalu makan siang di rumah, menyusulku ke kamar tidur dan mengelus punggungku.
Elusan yang membuat kantukku tak tertahan .... Menghilangkan sosok si Sirik dari kepalaku yang berganti menjadi gelap melenakan ....
***
*Pem-Bezook : Pengunjung pasien