Alexander Kingsley pernah menjadi seluruh dunia bagi Aurora Quinn. Pria itu mencintainya tanpa syarat dan berjanji menjadikannya bagian dari masa depannya.
Namun tanpa peringatan, Aurora
menghancurkan semuanya. Ia berubah, menjauh, menyakiti Alexander, lalu pergi begitu saja. Sejak hari itu, Alexander membencinya.
Lima tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Namun Alexander yang dulu hangat telah menghilang, berganti menjadi CEO muda yang dingin, angkuh, dan tak tersentuh. Tatapan penuh cintanya kini berubah menjadi tatapan penuh kebencian.
Sementara Aurora harus menghadapi pria yang tidak pernah tahu bahwa selama lima tahun ini, ia hidup dengan luka yang sama.
Ada rahasia dan kebenaran yang disembunyikan. Ada alasan mengapa Aurora memilih menjadi wanita paling jahat dalam kisah mereka.
"Jika suatu hari kau mengetahui alasan aku pergi, apakah kau masih sanggup membenciku, Alexander?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zanesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Keesokan paginya.
Aurora Quinn berdiri di balik meja kasir kafe kampus sambil mengikat rambutnya menjadi ponytail sederhana. Hari ini suasana kafe jauh lebih sibuk dibanding biasanya. Mahasiswa keluar masuk tanpa henti, mesin kopi terus berdesis nyaring, dan suara supervisor kafe terdengar mendominasi ruangan.
"Cepat sedikit, Aurora! Pesanan di meja lima belum diantar!" teriak Mrs. Cooper dari arah dapur.
"Iya, Mrs. Cooper! Ini sedang saya siapkan!" sahut Aurora setengah berteriak.
Aurora buru-buru mengambil nampan berisi pesanan. Namun, belum sempat ia mengembuskan napas lega, bel di atas pintu kafe berbunyi nyaring.
Ting!
Seketika itu juga, beberapa mahasiswi yang sedang duduk di dekat pintu langsung menoleh, lalu mulailah terdengar bisik-bisik heboh. Aurora bahkan tidak perlu repot-repot mendongak untuk tahu siapa yang baru saja datang, sebab reaksi para pengunjung wanita di kafe ini selalu sama jika pria itu muncul: penasaran, kagum, dan setengah histeris.
Aurora akhirnya mendongak dan benar saja dugaannya. Alexander Kingsley baru saja melangkah masuk ke dalam kafe. Pria itu tampil kasual namun elegan, mengenakan kemeja putih yang digulung rapi sampai siku dan celana hitam formal. Penampilannya sederhana, tetapi aura yang dipancarkannya tetap membuat Alexander terlihat seperti model yang keluar dari majalah fesyen.
"Ya ampun..." bisik salah satu mahasiswi di dekat meja kasir dengan tatapan memuja.
"Aku rela nggak lulus kuliah kalau dia mau mengajakku makan malam," sahut temannya yang mengangguk setuju dengan ekspresi serius.
Aurora langsung menahan tawa mendengar celetukan hiperbolis itu, lalu ia kembali fokus bekerja. Ia mengira Alexander hanya akan memesan kopi untuk dibawa pulang atau duduk sebentar lalu pergi. Namun beberapa menit kemudian, salah satu rekan kerja pelayan menghampiri Aurora dengan wajah sedikit tegang.
"Aurora," panggil pelayan itu pelan.
"Hm? Ada apa?" tanya Aurora sambil mengelap meja konter.
"Pelanggan di meja nomor tujuh minta dilayani sama kamu," lapor rekan kerjanya itu.
Aurora mengernyitkan keningnya heran. "Kenapa harus aku? Kan kamu yang pegang sif meja area sana?"
Pelayan itu tidak menjawab lewat kata-kata, melainkan menunjuk ke arah jendela besar di sudut ruangan. Aurora mengikuti arah telunjuk temannya, dan sedetik kemudian ia hampir tersedak ludahnya sendiri. Alexander sedang duduk di sana, menatap lurus ke arah meja kasir—tepat ke arahnya.
"Serius?" tanya Aurora memastikan dengan ekspresi tidak percaya.
Rekan kerjanya mengangguk mantap. "Dia bilang, kalau bukan kamu yang datang ke mejanya, dia nggak jadi pesan."
Aurora memejamkan mata sesaat sambil memijat pelipisnya. "Kenapa hidupku jadi serumit ini..." keluh Aurora meratapi nasib.
Beberapa menit kemudian, dengan berat hati Aurora berjalan menuju meja nomor tujuh sambil membawa buku catatan pesanan kecil dan sebatang pena. Saat ia mendekat, Alexander tampak santai memainkan ponselnya. Namun begitu menyadari kehadiran Aurora, pria itu langsung mengangkat kepala dan senyuman tipisnya yang menawan kembali muncul.
"Halo, Coffee Girl," sapa Alexander membuka percakapan.
Aurora langsung menghela napas panjang lalu berkata, "Kita ketemu lagi, Mr. Kingsley."
Alexander mengangguk santai. "Aku juga senang bisa bertemu denganmu lagi hari ini," sahut Alexander.
"Aku nggak bilang kalau aku senang," balas Aurora ketus.
"Tapi raut wajahmu bilang begitu," goda Alexander sambil menopang dagunya.
Mendengar itu, Aurora langsung melotot sebal. Sementara Alexander justru tertawa kecil melihat respons tersebut. Entah kenapa bagi Alexander, mengganggu gadis di hadapannya ini terasa sangat menyenangkan dan menyegarkan.
Aurora segera membuka buku catatannya untuk mengalihkan pembicaraan. "Mau pesan apa?" tanya Aurora formal.
Alexander mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja, berpura-pura berpikir keras. "Hm..." gumam Alexander sengaja menjeda kalimatnya.
"Apa?" desak Aurora yang mulai tidak sabar.
"Aku lupa," jawab Alexander singkat dengan wajah tanpa dosa.
Aurora mengernyitkan alisnya heran. "Lupa?" ulang Aurora.
"Iya," jawab Alexander mantap.
"Lalu kenapa kamu datang ke kafe kalau lupa mau pesan apa?" tanya Aurora mulai gemas.
Alexander tersenyum santai tanpa beban. "Mungkin karena aku memang ingin minum kopi saja," kilah Alexander.
Aurora memandangnya dengan tatapan penuh curiga. "Aku nggak percaya alasan itu," cetus Aurora.
Alexander terkekeh geli melihat ketajaman insting gadis itu. "Kamu pintar juga," puji Alexander.
Karena merasa dipermainkan, Aurora sengaja menuliskan sesuatu secara asal di buku catatannya. "Oke. Pesananmu sudah dicatat," ucap Aurora tegas.
Alexander mengerutkan keningnya heran. "Aku bahkan belum memesan apa-apa, Aurora."
"Aku menulis satu gelas air putih untukmu," sahut Aurora dengan senyum kemenangan.
Alexander kembali tertawa mendengar balasan berani itu. Dari sini Aurora mulai menyadari satu hal: pria kaya raya di hadapannya ini ternyata jauh lebih jahil dan menyebalkan daripada apa yang terlihat di permukaan.
"Aurora," panggil Alexander tiba-tiba dengan nada yang sedikit lebih serius.
Gerakan tangan Aurora yang sedang pura-pura menulis langsung berhenti. "Hm? Ada apa?" tanya Aurora menyahut.
"Aku penasaran akan suatu hal," ujar Alexander.
"Apa itu?" tanya Aurora balik.
"Kamu memang selalu bersikap jutek begini ke semua pelanggan kafe?" tanya Alexander menyelidiki.
Aurora menatap wajah tampan di depannya dengan ekspresi datar. "Nggak," jawab Aurora singkat.
"Jadi... sikap ketus ini cuma berlaku untukku saja?" tanya Alexander lagi dengan sebelah alis terangkat.
Aurora mengulas senyum manis yang dipaksakan. "Iya, tepat sekali," jawab Aurora jujur.
Alih-alih tersinggung, Alexander malah terlihat semakin senang mendengarnya. "Menarik," gumam Alexander pelan.
"Kamu aneh," komentar Aurora jujur.
"Kamu baru sadar kalau aku aneh?" tanya Alexander balik sambil terkekeh.
Aurora menggelengkan kepalanya pelan, lalu tanpa sadar seulas senyuman tulus terbit di wajahnya. Senyuman spontan itu rupanya membuat Alexander terpaku dan memperhatikannya selama beberapa detik lebih lama. Senyuman Aurora terasa sangat sederhana, namun di mata Alexander, itu jauh lebih tulus dan indah dibanding senyuman semua wanita yang pernah ditemuinya selama ini.
Sadar sedang dipandangi secara intens, Aurora mulai salah tingkah. "Kenapa kamu melihatku begitu?" tanya Aurora gugup.
Alexander yang tertangkap basah segera berdehem dan mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela. "Nggak ada apa-apa," jawab Alexander berbohong.
"Jelas-jelas tadi kamu melihatku," desak Aurora tidak percaya.
"Nggak," elak Alexander singkat.
"Kamu bohong," tuduh Aurora.
"Dan kamu cerewet," potong Alexander sambil tersenyum tipis.
Aurora akhirnya tertawa kecil mendengar balasan itu. Bagi Alexander, untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di kampus ini, sebuah percakapan biasa bisa terasa begitu menyenangkan. Di sini, tidak ada yang berpura-pura untuk mengesankan siapa pun. Aurora tidak berusaha mendekatinya hanya karena nama besar keluarga Kingsley yang disandangnya. Itu hanya sebuah obrolan santai yang jujur, dan Alexander sangat menyukainya.
"Jadi?" tanya Aurora berusaha kembali fokus pada pekerjaannya. "Mau pesan apa yang sebenarnya, Mr. Kingsley?"
Alexander akhirnya menyerah dan menunjuk ke arah papan menu di atas konter. "Aku pesan Cappuccino," ujar Alexander.
Aurora segera mencatatnya dengan rapi. "Oke, satu Cappuccino. Ada lagi?" tanya Aurora menawarkan.
Alexander tersenyum penuh arti. "Lalu... aku minta nomor teleponmu," ucap Alexander tenang.
Mendengar permintaan tak terduga itu, Aurora terkejut hingga hampir menjatuhkan buku pesanannya ke lantai. "Hah?!" seru Aurora tertahan.
"Nomor telepon," ulang Alexander dengan artikulasi yang sangat jelas.
"Nggak," tolak Aurora instan.
Alexander melipat kedua tangannya di atas meja. "Kenapa tidak boleh?" tanya Alexander menuntut penjelasan.
"Kita bahkan nggak saling kenal dengan baik," jawab Aurora masuk akal.
Alexander bersandar santai ke sandaran kursinya. "Kita sudah pernah menumpahkan kopi bersama kemarin, itu sebuah awal," sanggah Alexander.
"Itu bukan cara kerja sebuah pertemanan, Mr. Kingsley," balas Aurora ketus.
"Bisa jadi itu cara kerjanya bagi kita," ucap Alexander tidak mau kalah.
Aurora menggelengkan kepalanya mantap. "Tetap nggak boleh," tegas Aurora.
Alexander terdiam beberapa saat, otaknya memikirkan strategi lain, lalu sebuah senyuman licik terukir di bibirnya. "Oke, kalau begitu," ucap Alexander pasrah.
Melihat perubahan sikap yang mendadak itu, Aurora justru menjadi curiga. "Oke kenapa?" tanya Aurora menyelidiki.
"Aku akan datang lagi besok untuk meminta nomor teleponmu lagi," ancam Alexander dengan nada santai namun penuh keyakinan.
Aurora seketika terdiam. Pria ini ternyata sangat keras kepala dan pantang menyerah. Namun jauh di dalam lubuk hatinya, untuk pertama kalinya Aurora merasa bahwa kehidupannya yang biasanya berjalan membosankan dan monoton, perlahan-lahan mulai berubah menjadi sedikit lebih berwarna sejak kehadiran pria itu.
Namun, kebersamaan mereka rupanya tidak luput dari perhatian orang lain. Di lantai dua kafe, seseorang sedang memperhatikan interaksi mereka dengan saksama dari balik pagar pembatas.
Seorang wanita cantik berambut pirang dengan pakaian bermerek dari atas hingga bawah berdiri di sana. Tatapan matanya tertuju lurus pada sosok Aurora, dan raut wajahnya perlahan berubah menjadi sangat dingin dan penuh kilat kecemburuan. Sebab untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia melihat seorang Alexander Kingsley bisa tertawa se lepas itu bersama seorang gadis—dan ia sama sekali tidak menyukai pemandangan tersebut.