Kinan dan Darwin bertemu pada malam hujan yang penuh bahaya. Untuk menghilang dari masa lalu mereka, keduanya pindah ke sebuah desa dan berpura-pura menjadi suami istri.
Di balik kehidupan sederhana sebagai guru TK dan petugas kebersihan puskesmas, mereka menemukan berbagai kejanggalan yang merugikan warga. Saat berusaha mengungkap kebenaran, perasaan yang awalnya hanya sandiwara mulai berubah menjadi nyata.
Namun tidak ada yang tahu bahwa Kinan adalah bos mafia yang ditakuti, dan Darwin adalah CEO yang sengaja menghilang dari dunia bisnis.
Ketika rahasia mereka terbongkar, mana yang lebih sulit dipertahankan: penyamaran, atau perasaan yang terlanjur tumbuh?
Pernikahan 2 Rahasia: Antara CEO dan Bos Mafia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka di Bahu
"Dingin atau biasa?" tanya Darwin.
"Biasa."
Darwin mengangguk lalu menuangkan air ke dalam gelas. Suara hujan masih terdengar samar dari balik jendela apartemen. Lampu-lampu kota memantul tipis di kaca yang basah. Ia mendorong gelas itu ke tepi meja.
"Kau bisa minum. Gratis."
Kinan tetap berdiri di dekat pintu. Bahunya bersandar pada dinding. Dari sana ia bisa melihat seluruh ruangan sekaligus mencapai pintu keluar dalam beberapa langkah. Ia tidak bergerak.
Darwin menunjuk gelas di atas meja. "Biasanya bagian itu membuat orang lebih tenang."
"Biasanya aku tidak menerima minuman dari orang asing, racun juga dicampur ke dalam minuman."
"Biasanya aku tidak cukup rajin untuk meracuni seseorang. Aku tidak mengenalmu." ujar Darwin.
"Aku juga tidak mengenalmu."
"Tepat." Darwin mengambil gelas untuk dirinya sendiri lalu duduk.
Ruangan kembali sunyi. Hanya suara hujan dan dengung kulkas dari dapur kecil di sudut ruangan.
Kinan memperhatikan pria itu diam-diam. Sejak tadi tidak ada pertanyaan penting yang keluar dari mulutnya. Tidak ada pertanyaan tentang nama, asal-usul, atau alasan ia dikejar. Padahal kebanyakan orang pasti sudah membanjirinya dengan rasa ingin tahu.
"Kau tidak penasaran?" akhirnya Kinan bertanya.
Darwin mengangkat pandangan. "Soal apa?"
"Soal diriku."
"Kau akan menjawab?" tanya Darwin.
"Tidak."
"Nah." Jawaban itu datang begitu saja. Darwin mengangkat bahu lalu kembali minum.
Kinan menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya meraih gelas di atas meja. Airnya masih hangat.
Darwin melihat gerakan itu dan tersenyum kecil.
"Kemajuan."
"Jangan besar kepala."
"Aku cuma mencatat perkembangan."
Belum sempat Kinan membalas, nyeri di sisi tubuhnya kembali menusuk. Ia menahan napas sesaat.
Gerakan kecil itu tidak luput dari perhatian Darwin. "Kau terluka cukup parah."
"Aku baik-baik saja."
"Kau berdarah di lantai."
"Aku masih bisa berdiri."
Darwin melirik bercak merah yang mulai terlihat di keramik. " Kalau lantai bisa bicara, ia punya pendapat berbeda."
Kinan menghela napas panjang. Pria ini memang menyebalkan.
Darwin berdiri lalu berjalan ke arah lemari dapur.
Refleks Kinan bergerak lebih cepat daripada pikirannya. Sebilah pisau kecil sudah berada di tangannya.
Darwin berhenti. Tatapannya turun ke pisau itu lalu kembali ke wajah Kinan. Setelah beberapa detik, ia membuka lemari dan mengeluarkan kotak P3K.
"Kau tahu," katanya sambil meletakkan kotak itu di meja, "aku mulai merasa tidak dihargai."
"Aku tidak mengenalmu."
"Aku juga tidak mengenalmu."
"Tapi setidaknya aku tidak mengarahkan benda tajam ke tamuku."
"Siapa bilang aku tamumu?"
Darwin menoleh ke sekeliling apartemen. "Kalau ini bukan rumahku, berarti kita sama-sama masuk tanpa izin."
Kinan akhirnya menyimpan pisaunya kembali.
Darwin mengembuskan napas lega. "Syukurlah."
" Kenapa, Kau takut?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Aku baru mengepel lantai minggu lalu."
Sudut bibir Kinan bergerak tipis sebelum ia sempat menahannya.
Darwin memilih berpura-pura tidak melihat. Ia membuka kotak P3K. "Duduk."
"Tidak."
"Duduk."
"Tidak."
Darwin menutup kembali kotak itu. "Baik."
Kinan mengernyit. "Itu saja?"
"Aku tidak memaksa orang asing." Darwin kembali ke kursinya dan mengambil ponsel. Seolah urusan itu selesai.
Beberapa saat berlalu.
Darah masih merembes dari luka di sisi tubuh Kinan. Nyeri yang tadi tertahan mulai menjalar.
Sementara Darwin benar-benar mengabaikannya.
Akhirnya Kinan berjalan ke meja dan menarik kursi.
Darwin tidak mengangkat kepala. "Sikap yang bijaksana."
"Diam !"
"Baik."
Kinan membuka resleting jaketnya. Jaket hitam itu bergeser dari bahu kirinya. Kain di bagian sana sudah basah oleh darah yang mengering. Sobekan memanjang terlihat di dekat bahu, meninggalkan jejak merah gelap pada pakaian yang dikenakannya.
Darwin meletakkan ponselnya. Raut santainya sedikit memudar saat melihat luka itu lebih jelas.
"Itu lebih parah dari yang kukira."
"Aku masih hidup."
"Ya." Darwin menarik kursi sedikit lebih dekat.
"Bagian itu yang membuatku heran."
Kinan mendengus pelan.
Darwin membuka kotak P3K lalu mengeluarkan antiseptik dan kasa.
"Ini seperti bekas peluru?"
"Serempetan."
"Beruntung sekali kamu."
Kinan menyandarkan punggungnya ke kursi. "Kalau beruntung, aku tidak akan berada di sini."
"Kalau tidak beruntung," sahut Darwin sambil membasahi kapas dengan antiseptik, "aku tidak akan menemukanmu hidup."
Kinan tidak menanggapi.
"Lengan kirimu masih bisa digerakkan?"
"Masih."
"Bagus."
Kinan meliriknya. "Kau terdengar kecewa."
"Aku hanya ingin tahu seberapa keras kau akan memukulku kalau tidak suka hasil pekerjaanku."
Kinan mendecih, "Lakukan saja !"
Saat kapas menyentuh luka, bahu Kinan menegang. Jari-jarinya mencengkeram tepi meja.
Namun tidak ada keluhan yang keluar.
Darwin melirik sekilas. "Kau boleh mengumpat."
"Tidak perlu."
"Kalau aku di posisimu, seluruh penghuni lantai ini sudah bangun."
"Aku tidak suka membuang tenaga."
Darwin menggeleng kecil. Ia membersihkan darah yang mengering di sekitar luka dengan hati-hati. Semakin jelas luka itu terlihat, semakin sulit baginya memahami perempuan di depannya.
Luka seperti itu seharusnya membuat seseorang mencari rumah sakit. Bukan berlari di tengah hujan, menghindari pengejar, lalu mengancam orang asing dengan pisau dapur.
"Sudah berapa lama?" tanya Darwin.
"Beberapa jam."
Darwin berhenti sesaat. "Dan selama itu kau belum mendapat perawatan?"
"Tidak."
"Keputusan yang buruk."
"Aku masih hidup."
"Kau sering memakai kalimat itu."
"Karena itu fakta."
Darwin memasang kasa pada bahu Kinan lalu merapikan perbannya. "Fakta yang cukup keras kepala."
Kinan meliriknya.
Darwin mundur satu langkah untuk melihat hasil pekerjaannya. "Selesai."
"Terima kasih." Kalimat itu keluar begitu pelan hingga Darwin hampir mengira dirinya salah dengar.
Sebelum suasana berubah semakin aneh, ponsel Darwin bergetar di atas meja.
Nama yang sama kembali muncul.
Ayah.
Darwin mendecih pelan. Panggilan pertama ia abaikan. Panggilan kedua juga. Namun kali ini layar terus menyala. Akhirnya ia mengangkat telepon. "Apa?"
Suara dari seberang terdengar cukup keras hingga samar-samar sampai ke telinga Kinan.
"Kau menghilang lagi."
"Aku sedang sibuk."
"Kau selalu sibuk."
Darwin menyandarkan tubuh ke kursi. "Kita sudah pernah membahas ini."
"Belum selesai."
"Tidak malam ini." Darwin menjauhkan ponselnya dari telinganya sesaat.
Kinan tidak berniat mendengarkan lebih jauh.
Namun ketika Darwin menggeser ponselnya dari telinga, layar yang masih menyala sempat menghadap ke arahnya.
Sebuah foto kontak muncul di sana. Seorang pria paruh baya berjas rapi. Wajah yang sangat tidak asing. Jari Kinan perlahan menegang di atas meja. Napasnya tertahan sesaat. Tidak mungkin.
Darwin masih berbicara di telepon tanpa menyadari apa pun.
"....kamu masih mendengarku, Darwin ?"
"Iya, aku sedang sibuk. Bisa lain kali tidak mengagguku?"
Kinan mengangkat pandangan.
Tok.
Tok.
Tok.
Darwin mengakhiri panggilan dan menoleh ke pintu. Sementara Kinan langsung berdiri.