Tim gabut generasi delapan dan tim gabut generasi sembilan
Sambungan GD 2, GD 3 dan The Buwono Family.
Tiga sepupu yang satu sekolah dan satu kelas di SMP PRC, dikenal memiliki jiwa kepo tinggi. Seperti hal para ayah mereka, Sheva Sasono, Kenzie Buwono dan Zane Sihasale, sering tidak sengaja terlibat ( melibatkan diri ) dalam kasus kriminal. Bersama tim ayah mereka, ketiganya saling bahu membahu memecahkan misteri.
Generasi ke delapan klan Pratomo
Generasi ke sembilan klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tim Kasus Dingin
Sheva duduk di bangku penonton dengan wajah manyun. Bibirnya yang merah alami itu tampak dimajukan lima senti, kesal karena dua sepupunya tidak datang-datang.
"Kemana dua kadut itu!" gerutu Sheva.
"Aku perlu cari tahu?" tawar Mbak Lilis.
"Iya Mbak. Gemas aku!" pinta Sheva. Ponselnya berbunyi dan tampak nama 'Oom Victor' di layar. "Halo Oom ... Pada masih di kamar mandi, Oom. Bertapa mungkin ... Biasa lah ... Iya Oom. Kami segera ke halaman sekolah."
Mbak Lilis segera mencari dua remaja laki-laki itu. Abraham menatap Sheva.
"Mereka baik-baik saja kan?" tanya Abraham ke Sheva yang memasukkan ponselnya ke dalam tasnya.
"Paling bebelen!" cebik Sheva membuat Abraham tertawa.
"Casing bule tapi tetap bilang bebelen," kekeh arwah bocah Belanda itu.
"Njelehi!"
Introducing Selvarina 'Sheva' Kristal de Luca Sasono
***
Kenzie dan Zane berjalan mengendap-endap mengikuti orang-orang itu. Terbiasa latihan bela diri dari kecil dan mulai diperkenalkan latihan menembak, membuat kedua remaja itu menjadi lebih percaya diri.
"Mereka kemana ya?" gumam Kenzie.
"Baru tahu aku ada pintu ke belakang seperti itu," bisik Zane.
"Ada enam orang. Eh ada yang bawa kardus besar. Kok pipih ya?" Kenzie semakin curiga. Terbiasa mendengar cerita kedua orang tuanya yang bekerja di RS Bhayangkara dan Medical Examiner rumah sakit yang sama, belum Oom-oomnya anggota tim gabut di Polda Metro Jaya, pikirannya kemana-mana.
"Mereka pergi." Zane dan Kenzie berjalan dari balik tembok lalu bergegas ke pintu belakang sekolah. Keduanya melihat dua mobil Van hitam pergi dengan tergesa-gesa.
"Kamu catat nomor polisinya?" tanya Zane.
"Done!" jawab Kenzie sambil menulis diatas kertas nota beli burger. Kebiasaan seperti ayahnya, dokter Lucky, Kenzie selalu membawa bolpoin dan kertas.
"Kalian berdua ngapain?"
"Ya Tuhan Yesus!" seru Zane.
"Astaghfirullah!" timpal Kenzie.
"Ayo pulang. Pak Victor sudah menunggu di halaman." Mbak Lilis menatap dua remaja itu.
"Yuk pulang. Biar kita rundingan sama Sheva dulu," ajak Kenzie. "Yang penting, kita sudah dapat nomor polisinya meskipun aku tidak yakin ini asli."
Kedua remaja dengan satu Kunti comel itu pun kembali ke tempat Sheva sudah menunggu dengan wajah sebal.
"Kalau kalian bertapa, jangan lama-lama dong!" sungut Sheva sebal.
"Kita bukan bertapa Sheva. Ada sesuatu!" balas Kenzie. Dia dan Zane mengambil tas masing-masing.
Sheva menaikkan sebelah alisnya. "Apaan?"
Mereka bertiga berjalan keluar dari lapangan basket itu. Tampak masih ada beberapa siswa disana.
"Sepertinya kita akan ada kasus," bisik Kenzie.
Mata hijau Sheva terbelalak. "Kasus apa?"
"Nanti saja," sahut Zane.
"Haaaaiii Zaannneee! Lihat sini dong!"
"Zaneeee!"
Zane hanya melirik dan wajahnya tampak sebal karena digoda para remaja perempuan yang bersekolah di SMP ini.
"Banyak yang naksir elu tuh," goda Kenzie.
"Kenziiieeee!"
"Lha?" Kenzie menoleh dan tampak seorang remaja dengan wajah dibuat sok imut, melambaikan tangannya.
"Astagaaa ...." Sheva menggelengkan kepalanya.
Ketiganya pun segera masuk ke dalam mobil milik Brigjen Victor.
"Zane, siapa itu?" tanya Brigjen Victor.
"Groupies!" jawab Zane judes.
"Groupies? Kamu punya groupies?" Brigjen Victor menaikkan sebelah alisnya.
"Fansnya Zane banyak Oom," kekeh Sheva.
"Masa? Duh, mamamu bisa ngereog ini," gumam Brigjen Victor.
Zane hanya mendengus. "Bukan selera aku. Aku tidak suka cewek centil dan sok iyeee gitu!"
Brigjen Victor hanya tertawa. "Kita pulang ya. Papa mau bayar hutang tidur."
Note
Groupie adalah penggemar fanatik suatu grup musik (biasanya band rock) yang sangat mengidolakan sang artis hingga rela mengikuti mereka ke mana pun saat tur.
Meskipun pada awalnya kental dengan konotasi seksual dan stereotip perempuan tanpa kekuasaan, banyak yang melihat peran ini lebih kompleks. Saat ini, istilah tersebut juga kerap dipakai secara lebih luas untuk menggambarkan penggemar yang sangat antusias terhadap atlet, penulis, atau tokoh publik lainnya. Sumber Google.
***
Keesokan paginya, ketiganya pulang dari sekolah dengan sepeda karena rumah mereka dekat dengan sekolah. Sheva sudah diceritakan Kenzie dan Zane, auto penasaran.
"Kita cari mobilnya?" tanya Sheva sambil mengayuh sepedanya. Mereka bertiga memakai helm dan sepeda yang canggih.
"Mau cari ke ...." Mata hazel Kenzie melihat mobil itu di depan galeri seni yang sudah tutup dekat sekolah mereka. "Itu mobilnya!"
Kedua sepupunya menoleh dan mobil itu pun pergi keluar dari galeri seni.
"Kejar!" seru Kenzie.
"Mau kejar gimana Kenz! Pengkor nih kaki! Mesin mereka pakai Mercedes! Kita mersikil!" omel Sheva. "Mending lapor ke Papa deh!"
Kenzie hanya mengangguk. Ya kali dia mau jadi atlet balap sepeda.
***
Ruang Kerja Brigjen Victor Sihasale, bekas ruang kerja Irjen Dean Thomas yang sudah pensiun ( delapan tahun kemudian )
Brigjen Victor Sihasale melihat dua kakak beradik kembar di depannya. Dia pun membaca data mereka berdua.
"Cristiano dan Casey ... Santoso? Kalian anaknya Indrawan Santoso kan? Pemilik pabrik baja dan jalan tol?" tanya Brigjen Victor Sihasale.
"Benar," jawab Iptu Cristiano.
"Kenapa kalian jadi polisi? Lulusan terbaik Akpol Semarang pula." Brigjen Victor tampak bingung karena dua anak konglomerat yang kayanya minta ampun malah jadi ... Polisi?
"Kami gabut Pak Victor," jawab Iptu Casey.
Brigjen Victor menggeleng bingung. "Lalu, kalian ditempatkan di sini karena ... Indigo? Kalian berdua indigo?"
"Benar Pak Victor," jawab keduanya.
"Oke. Kalau begitu, aku test." Brigjen Victor pun berdiri dan memberikan kode ke dua Iptu itu untuk mengikuti dirinya.
Iptu Cristiano dan Iptu Casey pun mengikuti calon komandannya. Mereka masuk ke dalam ruang kerja dimana sudah ada tiga anak ABG sedang ribut dengan Kombes Steven dan Kombes Arief.
"Tapi itu beneran Papa!" seru remaja ABG perempuan berambut pirang panjang.
"Sheva, Papa tidak mungkin memeriksa sekolah itu kalau tidak ada buktinya," ucap Kombes Steven dengan sabar.
"Tapi Pa ...."
"Sheva. Papa kan banyak pekerjaan jadi tidak mungkin periksa kesana."
"Ehem!"
Semua orang menoleh. Remaja ABG dengan wajah dingin segera menghampiri Brigjen Victor.
"Pa. Ada mayat di sekolah XX tempat aku tanding basket sama Kenzie," lapor Zane Sihasale.
"Masa di sekolah itu ada mayat?" tanya Brigjen Victor.
"Beneran Oom!" sahut ABG pria satu lagi yang terlihat blasterannya. Mata hazelnya adalah warisan dari ibunya.
"Kenz ... Kamu tahu dari mana?" tanya AKP Rosita.
"Tante, kan Mama selalu kasih ilmu ke aku dan dik El. Siapa tahu kita mau jadi dokter," jawab Kenzie Buwono.
"Itu memang mayat."
Sekarang semua orang menoleh ke sosok asing di belakang Brigjen Victor.
"Eh .. Halo, aku Iptu Casey," cengir gadis berambut pendek itu. "Ini saudara kembar aku, Iptu Cristiano. Kami dipindahkan kemari karena ... "
"Hiiyyyaaahhh! Mbak Kunti!" seru Iptu Cristiano sambil loncat di belakang saudara kembarnya.
"Mas Cristiano ganteng ih! Aku suka!" seru Mbak Lilis sambil cekikikan. "Namaku Lilis, Mas. Bukan Mbak Kunti."
"Mbak Lilis, tolong," pinta Iptu Casey dengan wajah tegas.
Semua orang melongo melihat kejadian itu. "Eh Gaban, perasaan kita kalah gede sama si Cristiano bukan Ronaldo itu tapi nggak sampai jejeritan gitu ya?" gumam AKP Samsudin.
"Kayaknya tim kita makin plenger deh!" balas AKP Ghafar sambil makan roti.
"Aku setuju!"
Kedua sahabat itu menoleh dan tampak Tole bersila sambil melayang dan makan popcorn.
"Hiiyyyaaahhh!"
New Member
***
Yuhuuu up Pagi Yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
semangat berkarya mbak Hana...jangan lupa istirahat dan healing..
Hajar aja lah Dok Lucky 😄😄
udh kthuan aibnya,msih usaha buat jd pebinor.....cckkk....ga tau malu....🙄🙄🙄
blm tau dia kl mslh aib mh urusn gmpang,tnggal mnta tlong sm kluarganya....wasalam dehhh.....😛😛😛