Kanaya Tabitha adalah definisi wanita sempurna. Cantik, pintar, dan mandiri, dia sukses membangun bisnisnya dari nol. Di balik keanggunannya, Kanaya adalah sosok wanita tangguh yang menguasai seni bela diri tingkat tinggi, dan jangan harap ada pria yang bisa mendekatinya dan mengusik hidup tenang nya, hubungan dan cinta tidak ada di dalam daftar hidup nya.
Namun, dunia indahnya runtuh saat sebuah rahasia besar mendadak memutarbalikkan hidupnya. Tubuhnya mengalami perubahan aneh yang tak masuk akal. Bagaimana bisa dia hamil tanpa pernah disentuh pria mana pun?
Kanaya tidak tahu bahwa setiap malam, rahimnya telah diklaim oleh Alexander Giorge, Raja Vampir yang posesif dan berbahaya di balik kegelapan.
"Kamu milik ku, Kanaya. Berlari lah sejauh apa pun, darah daging ku akan selalu membimbingku kembali ke tempat tidurmu. Jika ada pria lain yang berani menyentuhmu, ku pastikan namanya tinggal sejarah."_ Alexander Giorge.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA TITIK MERAH
"Tapi kondisi Non begini, gimana mau nyetir? Muka Non Naya pucat banget lho, Bibi jadi takut," ucap Bi Sumi, matanya menatap cemas ke arah wajah majikannya yang biasanya selalu terlihat segar dan tegas.
Naya memaksakan sebuah senyuman tipis, mencoba mengembalikan citra dirinya yang kuat dan mandiri.
"Saya gak apa-apa, Bi. Cuma pusing bentar tadi, sekarang udah mendingan kok setelah di muntahin," ucap Naya, meyakinkan.
Naya berjalan keluar dari kamar mandi, melangkah kembali ke meja makan untuk mengambil tasnya yang sempat tergeletak.
Sementara Bi Sumi mengikuti dari belakang dengan perasaan yang masih mengganjal.
"Beneran ya, Non? Nanti kalau di kantor makin parah, langsung pulang saja, atau minta antar supir, biar Non gak usah nyetir sendiri," saran Bi Sumi, masih mencoba membujuk.
Naya memakai kacamata hitamnya untuk menutupi matanya yang agak sembap akibat muntah tadi.
"Gak usah, Bi, saya bisa nyetir sendiri, pelan-pelan saja," tolak Naya, menggeleng kan kepala nya.
"Ya sudah kalau Non Naya maunya begitu. Hati-hati di jalan ya, Non, jangan lupa minum air putih yang banyak di kantor," ucap Bi Sumi sambil mengantar Naya sampai ke pintu depan.
Naya hanya mengangguk sebagai jawaban, lalu melangkah keluar menuju mobil nya yang terparkir di garasi.
Begitu masuk ke dalam mobil dan menutup pintu, keheningan langsung menyergapnya.
Naya menyandarkan kepalanya ke setir mobil, membiarkan dahinya menyentuh permukaan kulit setir yang dingin.
Rasa mualnya memang sudah berkurang, tapi ada satu ketakutan aneh yang tiba-tiba melintas di pikirannya, ketakutan yang langsung dia tepis jauh-jauh karena terasa sangat tidak masuk akal.
"Gak mungkin, aku bahkan gak punya pacar, gimana bisa..." bisik Naya pada diri sendiri, suaranya sedikit bergetar.
Naya menggeleng kuat-kuat, mengusir pikiran gila nya.
Naya langsung menyalakan mesin mobil, menginjak pedal gas, dan membelah jalanan pagi kota yang mulai padat, mencoba melupakan mimpi buruk, noda di seprai, dan rasa mual yang aneh itu demi tender besar yang sudah menantinya.
Naya mencengkeram setir mobil miliknya dengan sangat erat, meskipun pendingin ruangan sudah dinyalakan cukup dingin, keringat dingin tampak bercucuran di pelipisnya.
"Sialan, kenapa mualnya nggak hilang-hilang sih?" umpat Naya pelan sambil memukulkan tangan kanannya ke setir mobil.
Naya mencoba mengalihkan fokusnya pada jalanan di depan, namun kepalanya terasa semakin berat dan berdenyut-denyut.
Naya yang biasanya sangat fokus saat menyetir, kali ini harus berulang kali menghela napas panjang hanya untuk mempertahankan kesadarannya.
Begitu sampai di gedung perusahaan mewah miliknya, Naya melangkah keluar dari mobil dengan sisa-sisa kekuatan yang dia miliki.
Punggungnya tetap ditegakkan, ekspresi wajahnya kembali dingin dan datar, menyembunyikan rasa sakit yang sedang menyiksa tubuhnya.
Semua karyawan yang berpapasan dengannya langsung menunduk hormat, tidak ada satu pun yang berani menegur karena aura intimidasi Naya yang begitu kuat.
"Selamat pagi, Nona Muda, jadwal rapat dengan para investor negara G, satu jam lagi," sapa Siska, sekretaris pribadi Naya, yang langsung mengekor di belakangnya begitu Naya keluar dari lift lantai teratas.
Naya tidak langsung menjawab, dia terus berjalan menuju ruang kerjanya yang luas dengan desain modern-minimalis yang mendominasi.
Setelah pintu ruangannya tertutup, barulah Naya menghentikan langkah dan berbalik menatap Siska.
"Siska, tolong ambilkan saya air hangat sekarang. Sama minyak angin kalau kamu punya," perintah Naya dengan suara yang terdengar agak serak.
Siska seketika tertegun mendengar perintah bosnya.
Selama tiga tahun bekerja menjadi sekretaris Naya, dia tahu betul kalau wanita di depannya ini hampir tidak pernah mengeluh sakit, apalagi sampai meminta minyak angin di pagi hari.
"Baik, Nona, Anda kelihatan pucat sekali, apa rapatnya perlu kita undur dulu?" tanya Siska dengan nada penuh kekhawatiran sambil memperhatikan wajah Naya yang tidak sefres biasanya.
Naya langsung mengangkat satu tangannya di udara, mengisyaratkan penolakan yang mutlak atas saran dari sekretarisnya itu.
"Nggak perlu diundur. Investor kita itu tipe orang yang sangat menghargai waktu, saya nggak mau reputasi perusahaan rusak cuma karena masalah sepele begini. Cepat ambilkan airnya," jawab Naya dingin, tidak ingin didebat lebih lanjut.
Siska hanya bisa mengangguk patuh lalu segera keluar dari ruangan untuk memenuhi perintah bosnya, dia tahu kalau Naya sudah bersikap keras kepala, tidak akan ada satu orang pun yang bisa mengubah keputusannya.
Di dalam ruangannya, Naya langsung menghempaskan tubuhnya ke kursi kebesaran miliknya, menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi sambil memejamkan mata.
Rasa mual itu kembali datang, membuat Naya terpaksa membekap mulutnya sendiri.
"Ada apa sebenarnya sama badanku hari ini? Nggak biasanya aku selemah ini cuma karena telat makan atau masuk angin," gumam Naya heran sambil memijat pelipisnya sendiri yang berdenyut kencang.
Tak lama kemudian, Siska kembali masuk ke dalam ruangan sambil membawa segelas air hangat dan sebotol kecil minyak angin sesuai dengan permintaan Naya sebelumnya.
"Ini air hangatnya, Nona, dan ini minyak anginnya," ucap Siska sambil meletakkan kedua benda tersebut dengan hati-hati di atas meja kerja Naya.
Naya meraih gelas tersebut dan meminum air hangatnya perlahan-lahan.
Glek
Sensasi hangat yang mengalir di tenggorokannya sedikit mengurangi rasa mual yang melilit perutnya sejak pagi tadi.
"Terima kasih, Siska. Kamu bisa keluar sekarang dan siapkan semua berkas yang perlu saya tanda tangani setelah rapat selesai nanti," ucap Naya setelah meletakkan kembali gelas yang sudah kosong itu ke atas meja.
"Baik, Nona. Saya permisi dulu," pamit Siska seraya membungkuk sopan sebelum akhirnya melangkah keluar dari ruangan kerja Naya.
Setelah Siska keluar, Naya meraih botol minyak angin, mengoleskannya sedikit ke bagian pelipis dan lehernya, berharap rasa pening nya bisa segera berkurang.
Namun, saat jemarinya menyentuh kulit leher bagian samping, Naya merasakan sesuatu yang aneh, kulit lehernya terasa agak perih, seperti ada luka kecil di sana.
"Kenapa dengan leher ku," batin Naya, mengernyitkan keningnya.
Naya segera bangkit dari kursinya dan berjalan menuju cermin besar yang terpasang di salah satu sudut ruang kerjanya, dia menurunkan sedikit kerah blazer hitamnya untuk memeriksa leher bagian kanan.
Deg
"Apa ini?" bisik Naya terkejut saat melihat bayangan dirinya di dalam cermin.
Di lehernya yang jenjang nya, terdapat dua titik merah kecil yang jaraknya sangat berdekatan, mirip seperti bekas gigitan atau tusukan sesuatu yang tajam.
Luka itu tampak masih baru, namun anehnya tidak mengeluarkan darah sama sekali, hanya menyisakan warna kemerahan di sekitarnya.
Naya menyentuh titik merah itu dengan ujung jarinya, dan seketika rasa nyeri yang aneh menjalar hingga ke dadanya, membuat jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya.