Siap, ini deskripsi singkat yang diambil dari naskah yang kamu kirim (lebih sesuai dengan konflik, karakter, dan tensinya):
Dalam sebuah perjanjian yang tak bisa dihindari, Talia harus menerima takdirnya untuk menikah dengan Etnan—pria dingin, penuh kuasa, dan menyimpan banyak sisi yang tak terduga.
Di balik hubungan yang terlihat formal, terselip ketegangan, kecemburuan, dan rahasia yang perlahan terungkap. Kehadiran Sophia yang obsesif, serta perasaan tersembunyi dari orang-orang di sekitar mereka, membuat hubungan itu semakin rumit.
Namun di antara sindiran, sentuhan yang tak diinginkan, dan emosi yang saling ditahan—perlahan tumbuh sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kewajiban.
Cinta yang seharusnya tidak ada… justru mulai mengikat mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri novianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Menikah adalah fase hidup yang diimpikan oleh hampir setiap orang. Sebuah muara di mana dua hati memilih untuk saling mengikat janji secara sukarela. Namun, apa jadinya jika sebuah pernikahan terjadi bukan atas kehendak kedua belah pihak? Apa jadinya jika selembar dokumen sakral diletakkan di atas meja, bukan sebagai simbol cinta, melainkan sebagai tumbal dari sebuah takdir masa lalu yang tidak pernah mereka pilih?
Hal inilah yang dialami oleh seorang gadis cantik bernama Natalia Oliver Smith.
Sebagai putri bungsu dari keluarga terpandang yang dihormati di kalangan elite, Natalia harus merelakan masa lajangnya berakhir bukan karena pilihan hatinya sendiri, melainkan atas perintah mutlak kedua orang tuanya. Kehidupan bebasnya yang tenang seketika runtuh ketika sebuah rahasia besar berusia satu abad dikuliti di hadapannya. Ternyata, keluarganya memiliki sebuah perjanjian damai dengan keluarga Taylor. sebuah sumpah darah kuno yang ditulis oleh generasi buyut mereka terdahulu untuk meredam permusuhan berdarah yang hampir menghancurkan dinasti kedua belah pihak.
Di dalam piagam dekret kuno tersebut, terukir pasal-pasal takdir yang mengikat garis keturunan mereka: Jika generasi penerus di kedua keluarga melahirkan anak dengan jenis kelamin yang sama, maka mereka akan dianggap sebagai saudara sekutu. Namun, jika terdapat anak perempuan di satu pihak dan anak laki-laki di pihak lain, maka wajib diadakan pernikahan di antara keduanya, dengan mempertimbangkan perbedaan usia sebagai salah satu syarat mutlak.
Ketika Natalia dilahirkan, roda gigi perjanjian pernikahan itu pun mulai bergerak di balik layar. Hal ini dikarenakan dari rahim keluarga Taylor telah lahir seorang anak laki-laki lima tahun sebelumnya. Seorang putra mahkota tunggal yang dipersiapkan dengan besi dan darah sebagai penerus tunggal kejayaan keluarga tersebut.
Gadis yang akrab disapa Talia itu sama sekali tidak mengetahui adanya perjanjian mengerikan tersebut. Selama bertahun-tahun, yang ia pahami hanyalah bahwa keluarganya memiliki hubungan bisnis yang sangat dekat dengan keluarga Taylor. Ia tidak pernah menyangka bahwa di masa lalu, kedua keluarga ini merupakan musuh bebuyutan yang saling menumpahkan darah.
Selama puluhan tahun, perjanjian itu tertidur karena belum memenuhi kriteria usia calon pengantin. Hingga akhirnya, sang waktu berputar tepat pada porosnya. Hari ini, saat usia keduanya telah matang, perjanjian kuno itu siap diwujudkan.
“Aku tidak bisa menerima ini, Bu!” ujar Talia dengan napas yang memburu, matanya berkaca-kaca menatap kedua orang tuanya di ruang keluarga Smith yang hangat.
“Ayah tidak meminta persetujuanmu, Talia. Ayah hanya memberitahumu,” potong sang ayah, Oliver Smith, dengan suara baritonnya yang tegas dan tak terbantahkan.
“Ayah... aku ini anakmu!” Talia meremas jemarinya sendiri, menolak menyerahkan kebebasannya begitu saja.
“Siapa yang bilang kamu bukan anakku?”
“Ayah tega menikahkanku dengan pria yang bahkan tidak aku kenal? Pria yang tidak pernah kutemu seumur hidupku?!”
“Itu sebabnya, kenalan dulu,” sahut Oliver terlampau santai, mencoba mencairkan ketegangan putrinya.
“Aku tidak mau!”
“Kau bahkan belum melihat wajahnya, Nak. Dia sangat tampan, kau tidak akan menyesal,” bujuk Oliver lagi.
“Kalau begitu, Ayah saja yang menikah dengannya!” cetus Talia frustrasi.
“Teganya kamu menyuruh ayahmu meninggalkan ibumu, Nak!” sahut sang ibu, Emma Smith, menyela dengan pura-pura merengut.
“Eh... bukan begitu, Bu,” ucap Talia panik.
Gadis itu segera bangkit, menghampiri Emma di sofa. Ia meraih lengan wanita paruh baya itu dan menyembunyikan wajah polosnya di pundak sang ibu dengan manja, mencari pembelaan. Emma hanya tersenyum hangat, lalu mengelus lembut rambut halus putrinya yang terurai bebas.
“Bu...” rengeknya pelan.
“Ibu harap kamu bisa mengerti, Nak. Ini bukan sekadar perjodohan bisnis,” jelas Emma dengan nada selembut beludru, namun sarat akan beban sejarah. “Rapat antara kedua keluarga besar juga akan segera diadakan. Setidaknya sebelum pertemuan resmi itu, kamu dan Ethan harus mencapai kesepakatan.”
Oliver hanya duduk tenang, kakinya disilangkan dengan elegan. Lengan kanannya disandarkan di atas sandaran sofa marun, sementara tangan kirinya berada di pangkuan. Ia memperhatikan interaksi ibu dan anak itu dengan tatapan mata yang dalam, menyimpan kekhawatiran tersendiri di balik ketegasannya.
Di sudut sofa lainnya, seorang pria tampan berambut gelap duduk santai sambil menikmati teh melatinya yang mengepulkan asap tipis.
“Ibu, kenapa bukan Kak Reymond saja yang menikah dengan keluarga Taylor?” ujar Talia tiba-tiba, matanya berbinar mendapat ide instan sambil menunjuk kakak laki-lakinya.
Uhuk!
Reymond Smith yang sedang memasukkan kue kering ke dalam mulutnya langsung tersedak hebat mendengar ucapan ngawur adiknya. Ia terbatuk beberapa kali sebelum menatap Talia dengan pandangan horor.
“Kau gila?! Aku bukan gay!” seru Reymond tidak terima, meletakkan cangkir tehnya dengan dentingan keras. “Lagipula, keluarga Taylor hanya memiliki satu anak laki-laki. Artinya, mau tidak mau, secara silsilah dan hukum buyut, kamulah yang harus—”
“Tutup mulutmu!” bentak Talia, wajahnya memerah menahan kesal.
“Jaga bicaramu, Talia. Begitu caramu berbicara pada kakak laki-lakimu?” potong Oliver dengan tatapan mata yang mendadak menajam, memberikan aura intimidasi khas kepala keluarga Smith.
Talia seketika menciut. “Maaf, Ayah.”
“Bukan padaku.”
Talia melirik kakaknya yang kini sudah menyilangkan tangan di dada dengan wajah penuh kemenangan yang menyebalkan. Namun, Talia tahu ia salah. Dengan malas dan bibir yang sedikit mengerucut, ia bangkit dari samping ibunya, mendekat ke arah sofa Reymond. Talia menundukkan kepala.
“Maafkan aku, Kak. Aku sudah membentakmu tadi,” ucap Talia lirih.
“Give me a hug!” balas Reymond, senyum jahilnya seketika merekah lebar saat merentangkan kedua tangannya.
Talia melotot tak percaya melihat kakaknya memanfaatkan situasi untuk menggodanya. Namun, dengan helaan napas pasrah, ia melangkah masuk ke dalam dekapan hangat Reymond. Begitu tubuh mungil adiknya berada di dalam rengkuhannya, ekspresi jahil di wajah Reymond seketika luruh, berganti dengan kilat protektif yang amat pekat.
“Aku akan menjagamu, Tata. Selalu,” bisik Reymond teramat lirih, tepat di dekat telinga adiknya.
Talia tersentuh. Ia membalas pelukan kakaknya dengan erat, seolah menemukan benteng perisai dan rasa aman yang paling kokoh di sana dari badai takdir yang siap menerjangnya.
Sementara itu, di sudut lain kota metropolitan yang berkilau, sebuah atmosfer yang bertolak belakang sedang tercipta.
Di dalam sebuah ruangan privat bernuansa gotik minimalis dengan pencahayaan yang teramat temaram, seorang pria duduk bersandar di sofa panjang berlapis kulit buaya. Aroma keras dari alkohol jenis whiskey mahal menguar pekat di udara, bercampur dengan wangi maskulin yang mengintimidasi. Sebatang rokok yang menyala merah terselip malas di antara jemari tangannya yang kokoh dan berurat.
Pria itu menghisapnya dalam-dalam, membiarkan nikotin membakar kerongkongannya, lalu menghembuskan asap kelabu itu secara kasar ke udara. Tatapannya kelam, dingin, dan kosong menatap langit-langit ruangan, mengingat kembali percakapan berat dengan kedua orang tuanya, Noah dan Isabella Taylor, beberapa jam yang lalu.
“Perjanjian damai kuno? Sumpah darah para buyut? Huh... ini benar-benar lelucon yang konyol,” gumam pria itu dengan suara baritonnya yang berat, serak, dan berbahaya.
Dia adalah Ethan Noah Taylor.
Bagi dunia luar, ia adalah sosok CEO muda jenius yang mengendalikan Taylor Group, konglomerat raksasa yang disegani di dunia bisnis internasional. Namun di balik dinding pencakar langit itu, di dalam kegelapan malam, ia adalah seorang ketua mafia tertinggi yang memegang kendali atas jaringan dunia hitam metropolis. Kesuksesannya dalam bisnis dan kekejamannya di dunia bawah membuat namanya dihormati sekaligus ditakuti layaknya malaikat maut. Dalam dunia gelapnya, Ethan tidak pernah mengenal kata ampun; ia tak segan menyingkirkan siapa pun—atau apa pun—yang berani merugikan atau mengusik wilayah kekuasaannya.
Kini, di usianya yang menginjak 30 tahun, sang singa dunia gelap harus menghadapi kenyataan bahwa kebebasan mutlaknya terusik oleh selembar kertas tua berdebu peninggalan leluhur. Perjanjian damai seratus tahun lalu itu menuntutnya untuk tunduk.
Dengan ekspresi frustrasi yang mengeras, Ethan mematikan rokoknya ke dalam asbak kristal. Tangan kekarnya bergerak anggun namun sarat ketegangan, meraih sebuah berkas rahasia yang tergeletak di atas meja. Dengan gerakan yang penuh kalkulasi, ia membuka map biru beludru tersebut perlahan, menampilkan selembar foto instan sekaligus seluruh profil dari seorang wanita.
Mata kelam sang mafia terkunci pada sepasang manik mata indah dan senyuman manis gadis di dalam foto tersebut.
“Natalia Oliver Smith...” eja Ethan pelan, menyebut nama itu dengan penekanan yang teramat dingin di setiap suku katanya.
Seringai tipis yang kejam dan penuh arti perlahan terukir di sudut belahan bibirnya yang sekeras batu. Jemari telunjuknya yang kokoh bergerak mengetuk-ngetuk foto wajah Talia yang sedang tersenyum tanpa dosa, seolah sedang mengunci target buruan baru yang tidak akan pernah bisa lolos dari cengkeramannya.
“Welcome to hell, Wifey.”
jangan lupa berikan dukungannya readerz