“Menikah denganku artinya bebas menyentuh siapa saja di luar sana, kecuali hatiku.”
Bagi Narendra, CEO muda berego tinggi, kesepakatan open marriage adalah solusi kejenuhan rumah tangganya bersama Alika. Sebagai praktisi PR ternama, Alika menelan kepedihan itu rapat-rapat demi menjaga citra sempurna mereka di depan publik. Namun, sandiwara power couple ini mulai retak saat tubuh Alika perlahan digerogoti penyakit autoimun akibat tekanan batin yang ia pendam sendiri. Di kala Narendra sibuk mencari kesenangan luar, Alika justru bertaruh nyawa dalam kesunyian. Akankah ego Narendra runtuh saat menyadari nafas sang istri perlahan menjauh dari batas waktunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: Batas yang Mulai Goyah
Cahaya pagi yang keemasan perlahan menyelinap masuk melalui celah gorden beludru tebal di kamar utama, memantul di atas lantai pualam yang dingin.
Namun, seberkas kehangatan dari sinar matahari itu sama sekali tidak mampu menyentuh Alika.
Wanita itu terbangun dengan napas yang tertahan di tenggorokan, merasakan seluruh persendian di tubuhnya mengeras layaknya semen yang mengering semalaman.
Setiap kali ia mencoba bergerak, rasa ngilu yang menusuk seolah merambat dari ujung jari hingga ke sumsum tulang belakangnya.
Butuh perjuangan yang menguras air mata dan waktu hampir sepuluh menit hanya untuk sekadar menggerakkan kakinya agar bisa turun dari ranjang king size tersebut.
Sisa obat pereda nyeri dosis tinggi yang terpaksa ia telan semalam dalam keputusasaan kini meninggalkan efek samping yang menyiksa; sebuah rasa mual yang pekat dan terus bergejolak hebat di ulu hatinya, seolah mengancam akan memuntahkan isi perutnya yang kosong.
Dengan sisa tenaga yang merosot tajam, Alika memaksakan diri untuk berdiri dan menyeret langkahnya ke kamar mandi.
Di depan cermin wastafel, ia menatap pantulan dirinya yang memprihatinkan. Kulitnya pucat pasi tanpa rona kehidupan, dengan bayangan kehitaman yang menggantung di bawah matanya.
Menggunakan jari-jarinya yang masih kaku dan gemetar, ia menutupi wajah rapuhnya itu dengan riasan make-up yang dipulas jauh lebih tebal dari biasanya. Lapis demi lapis foundation dan concealer ia aplikasikan bak sebuah topeng pelindung, sebelum akhirnya ia membalut tubuhnya dengan setelan blazer formal berwarna navy yang elegan.
Hari ini ada agenda yang sangat krusial; sebuah konferensi pers berskala besar di kantornya. Sebagai seorang Head of Public Relations untuk salah satu korporat ternama, ia memiliki pantangan mutlak: ia tidak boleh membiarkan satu celah kelemahan pun terlihat di bawah sorotan lampu publik.
Langkah Alika yang tertatih-tatih namun berusaha ia tegakkan perlahan tertahan saat ia tiba di ambang pintu ruang makan
Narendra sudah duduk di kursi kebesarannya di ujung meja kayu mahoni yang panjang.
Pria itu tengah menyesap kopi hitamnya yang mengepulkan aroma pekat, matanya fokus menekuni rentetan kurva dan tumpukan berkas digital di layar iPad miliknya.
Narendra tampak sangat rapi dan paripurna dengan kemeja kerja putih bersih yang dicetak pas di tubuh tegapnya. Pria itu terlihat begitu segar dan berkuasa, seolah ia sama sekali tidak menghabiskan waktu di luar rumah hingga menjelang subuh untuk urusan yang tak pernah ingin Alika ketahui.
Menyadari suara ketukan pantofel dan langkah kaki yang mendekat, Narendra mendongak. Sepasang mata tajam bak elang milik sang CEO itu langsung memindai penampilan istrinya dengan saksama, menelisik dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Sudah baikan?" tanya Narendra dengan nada yang kelewat datar, hampir terdengar seperti formalitas bisnis belaka.
Namun, di balik wajah kakunya itu, sorot mata Narendra diam-diam tidak lepas dari jemari Alika yang memucat karena mencengkeram pinggiran meja makan dengan sangat kuat, berusaha menopang berat tubuhnya sendiri.
"Sudah, Mas. Hanya kelelahan biasa," jawab Alika dengan ketenangan yang dipaksakan, seraya menarik kursi dan mengambil tempat duduk di seberang Narendra.
Ia hanya mengambil sepotong roti tawar dari keranjang rotan, lalu perlahan memotongnya menjadi bagian kecil-kecil menggunakan pisau selai, tanpa benar-benar berniat memasukkannya ke dalam mulut. Rasa mual itu masih terlalu dominan mencengkeram perutnya, membuat aroma makanan apa pun terasa memuakkan.
Mendengar jawaban singkat itu, Narendra meletakkan iPad-nya ke atas meja dengan gerakan agak kasar. Ego tingginya merasa terusik, menganggap Alika sengaja mengabaikan pertanyaannya semalam dan kini bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
"Lain kali, kalau sakit itu langsung temui dokter. Jangan sampai kejadian kamu hampir pingsan di acara publik terulang lagi dan memicu media membuat berita gosip yang aneh-aneh soal hubungan rumah tangga kita," cibir Narendra tajam.
Gerakan tangan Alika yang sedang memotong roti seketika terhenti.
Hening menyergap meja makan itu.
Ia mengangkat wajahnya, menatap lurus ke dalam netra Narendra.
Pria di hadapannya ini adalah pria yang dahulu—sebelum semuanya menjadi begitu dingin—selalu memeluknya erat dan memijat tengkuknya tiap kali ia mengeluh pusing karena tumpukan tugas kuliah. Kini, sosok yang sama justru jauh lebih mencemaskan selembar citra publik dan reputasi perusahaannya dibandingkan kondisi kesehatan istrinya sendiri.
"Kamu tidak perlu khawatir, Mas," ucap Alika lirih.
Suaranya terdengar sangat lembut, tanpa sedikit pun riak emosi, namun sarat akan nada mati rasa yang membekukan udara. "Aku mengerti di mana batasan kita. Selama kontrak open marriage ini masih berlaku, aku pastikan tidak akan ada satu pun urusan pribadiku—termasuk masalah kesehatanku—yang akan menjadi beban atau mengganggu reputasi sempurnamu."
Kalimat itu diucapkan tanpa intonasi amarah sedikit pun, mengalir begitu saja layaknya fakta yang tak terbantahkan.
Namun entah mengapa, kata-kata datar itu justru terasa seperti hantaman godam tak kasatmata yang menghantam dada Narendra.
Pria itu diam-diam mengepalkan tangannya kuat-kuat di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih. Sisi kepeduliannya yang selama ini terkubur dalam-dalam di bawah tumpukan ego meronta ingin sekali membalas, ingin bertanya dengan frustrasi mengapa Alika harus bicara seformal dan sedingin itu padanya.
Namun, gengsi raksasa yang selalu memenjarakannya justru membungkam lidahnya rapat-rapat.
"Bagus kalau kamu paham," sahut Narendra akhirnya, memaksakan nada suaranya tetap beku.
Pria itu berdiri dengan cepat, merapikan kerah jasnya dengan kasar, lalu melangkah pergi begitu saja meninggalkan ruang makan tanpa berpamitan, mengabaikan dadanya yang tiba-tiba terasa sesak.
Begitu punggung tegap Narendra menghilang di balik pintu utama, Alika perlahan meletakkan pisau rotinya. Tangannya kembali bergetar hebat tak terkendali, dan kali ini, sebuah sekat pertahanan tak kasatmata di dalam dadanya terasa benar-benar telah retak dan patah seutuhnya.
Siang harinya, atmosfer di kantor Alika berjalan dengan tempo yang sangat padat dan mencekik.
Sebuah krisis komunikasi yang cukup fatal tengah melanda salah satu anak perusahaan Artha Group, memaksa Alika harus turun tangan langsung.
Ia berdiri mematung selama hampir dua jam penuh di podium media center untuk memimpin konferensi pers, menghadapi dan menjawab rentetan pertanyaan tajam dari puluhan jurnalis yang haus akan berita.
Di bawah sorotan lampu kilat kamera yang panas menyilaukan dan jepretan lensa yang tak henti-hentinya menyambar, Alika tampil memukau tanpa cela.
Ia merangkai kata demi kata, menjawab setiap pertanyaan jebakan dengan lugas, tenang, dan tingkat profesionalisme yang luar biasa. Tak ada satu pun pasang mata di ruangan itu yang menyadari bahwa di balik senyum tenang dan postur tegaknya, kedua lutut Alika sudah bergetar hebat di balik celana bahan navy-nya.
Sendi-sendi di kaki dan punggungnya terasa panas terbakar, seolah disiram oleh cairan asam. Tekanan kerja yang ekstrem berpadu dengan beban batin yang bertubi-tubi sejak pagi telah memicu serangan flare-up autoimunnya meledak secara brutal dari dalam.
Begitu kalimat penutup konferensi pers akhirnya diucapkan dan para wartawan mulai membubarkan diri untuk mengetik berita, Alika bergegas membalikkan badan, berjalan menyusuri koridor panjang menuju ruang kerjanya dengan sisa tenaga yang nyaris menyentuh angka nol.
Langkahnya terasa seringan kapas, namun kepalanya seberat timah. Baru saja ia berhasil masuk dan menutup pintu ruangannya rapat-rapat, pandangannya mendadak buram.
Titik-titik hitam menari liar di pelupuk matanya. Kegelapan menyergap dunianya dalam sekejap tanpa aba-aba.
Bruk!
Tubuh ramping Alika ambruk menghantam lantai berkarpet tebal di ruang kerjanya. Kesadarannya putus, meninggalkannya terbaring tak sadarkan diri dalam kesunyian ruangan.
Di tempat yang berbeda, di lantai tertinggi gedung utama Artha Group, Narendra baru saja menyudahi rapat pemegang saham yang alot saat ponsel pribadinya yang tergeletak di atas meja bergetar kencang dan menyala.
Nama asisten Alika, seorang sekretaris PR yang biasanya hanya menghubungi untuk urusan formal dan selalu menjaga kesopanan tingkat tinggi, tertera di layar. Narendra mengernyitkan dahi, sebuah firasat buruk tiba-tiba berdesir di tengkuknya, sebelum ia menggeser tombol hijau.
"Halo?" sapanya berat.
"Pak... Pak Narendra! Maaf mengganggu waktu Bapak," suara di seberang telepon terdengar sangat panik, tersengal-sengal, dan bergetar hebat menahan tangis. "Ibu Alika... Ibu pingsan di lantai ruangannya setelah memimpin konferensi pers tadi. Wajahnya sangat pucat! Sekarang kami sedang membawanya ke Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Medika Utama. Kondisinya sangat mengkhawatirkan, Pak, badannya tiba-tiba panas tinggi sekali dan nadinya lemah..."
Narendra tidak lagi menyimak deretan kalimat penjelasan selanjutnya. Telinganya berdenging keras. Jantungnya mendadak berdegup kencang dengan ritme yang tidak wajar, memompa darah dengan kecepatan yang menyakitkan. Rasa panik yang sangat asing, murni, dan tak terkendali tiba-tiba menjalar liar ke seluruh rongga dadanya, mencekik paru-parunya hingga ia kesulitan bernapas.
"Saya ke sana sekarang. Pastikan dia ditangani dokter terbaik!" potong Narendra cepat dengan suara yang tak lagi bisa menyembunyikan getarannya.
Egonya yang selama ini selalu berdiri tegak mendominasi di atas segalanya, kini mendadak runtuh dan lumpuh total, digantikan oleh gelombang ketakutan gelap yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Tanpa memedulikan berkas-berkas rapatnya, Narendra menyambar jas kerja dan kunci mobilnya dari atas meja, lalu berlari keluar ruangan bak orang kesetanan.
Ia mengabaikan panggilan sekretarisnya dan tatapan heran bercampur syok dari para staf direksi di koridor kantor Artha Group.
Sepanjang jalan membelah kemacetan kota menuju rumah sakit, tangan Narendra yang mencengkeram setir kemudi mobil kulitnya bergetar hebat hingga buku jarinya memutih.
Rahangnya mengeras menahan gejolak emosi.
Pria arogan itu terus merapalkan doa-doa putus asa di dalam hatinya, tiba-tiba tersentak oleh sebuah pencerahan kejam yang selama ini tertutup rapat oleh lapisan egonya: ia tidak pernah siap, dan tidak akan pernah siap, jika harus benar-benar kehilangan Alika.