NovelToon NovelToon
Royal Bride

Royal Bride

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: AnaDww

Setara untuk segala bibit, bebet, bobot dan kedudukan adalah aturan tak tertulis namun paten dalam pernikahan para bangsawan.

Kerajaan memiliki aturan ketat soal pernikahan, selain harus setara maka hubungan pernikahan harusnya memiliki keuntungan untuk kerajaan. Seperti memperkuat wilayah kerajaan atau membangun relasi yang lebih luas.

Tapi apa jadinya, jika pangeran mahkota memilih calon istrinya sendiri demi memperkuat kekuatan kedudukannya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Vonis Hukuman

Lillyane Jones hanyalah putri seorang juru tulis kerajaan Vardoria.

Ia hanya rakyat jelata biasa yang kebetulan bekerja di perusahaan Event Organizer kecil—dan malam ini, perusahaan mereka mendapat proyek terbesar sepanjang sejarah berdiri.

Jamuan makan malam kerajaan.

Seharusnya, itu menjadi kesempatan emas. Terdengar megah dan mampu memberi efek pada jenjang karirnya.

Namun pada kenyataannya, malam ini justru berubah menjadi awal petaka dalam hidupnya.

Awalnya sederhana, ia hanya ingin membenahi satu helai benang terurai pada pakaian kebesaran Pangeran Mahkota. Benang yang cukup panjang hingga khawatir akan menganggu malam pertunjukkan sempurna sang Pangeran Mahkota.

Lilly sama sekali tidak berniat lancang.

Tetapi tepat ketika tangannya bergerak—

Noah berbalik.

Dan bibir mereka bertemu.

Dalam satu detik yang terasa mematikan, aula megah kerajaan berubah sunyi.

Lalu seolah bom jatuh—meledak karena santapan yang ada di depan mereka.

Bisik-bisik memenuhi ruangan. Para bangsawan menatap ngeri sekaligus haus gosip. Kilatan kamera wartawan menyambar tanpa ampun.

Lilly membeku.

Sedangkan Noah masih menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Tatapan mata keduanya bertemu. Tidak ada lumatan dalam ciuman itu, hanya seperti tempelan bibir.

Dan saat kesadarannya kembali—

Lilly langsung melarikan diri. Tanpa meminta ampun. Ia terlalu malu untuk menghadapi situasi ini.

Itu keputusan terbodoh dalam hidupnya.

Karena beberapa menit kemudian, para penjaga istana berhasil menangkapnya di lorong belakang aula. Ia diseret menuju sebuah ruangan sempit tanpa penjelasan apa pun.

Ruangan itu lembap dan pengap. Hanya cahaya bulan yang masuk melalui celah kecil di dinding batu. Lilly duduk meringkuk di sudut ruangan sambil menahan napas yang tidak stabil.

Ia benar-benar ingin mengumpat namun ketika menyadari mulutnya dibungkam—itu akan sia-sia.

Sementara itu, di aula pesta, musik orkestra kembali dimainkan seolah tidak terjadi apa-apa.

Para tamu melanjutkan dansa dan jamuan makan malam, meski bisikan tentang “gadis rakyat jelata yang berani mencium Putra Mahkota” terus menyebar seperti api.

Dan tentu saja, para wartawan tampak paling bersemangat. Malam ini akan menjadi berita utama.

Di meja utama keluarga kerajaan, Noah duduk tenang di samping Raja dan Permaisuri. Tatapannya mengarah pada para bangsawan yang berdansa di tengah aula.

Beberapa gadis bangsawan diam-diam meliriknya malu-malu. Sisanya ada yang terang-terangan memberi senyum menggoda. Namun perhatian Noah sama sekali tidak berada di sana.

Yang terus muncul di pikirannya justru gadis bergaun warna sand dengan rambut kepang sederhana itu.

Mata hazelnya.

Dan bibir lembut yang sempat menyentuhnya beberapa detik lalu. Bahkan ia memikirkannya hingga beberapa menit kemudian.

Noah mengembuskan napas pelan.

“Apakah kau mengenal gadis tadi?”

Suara Permaisuri terdengar lirih, nyaris seperti bisikan agar tidak terdengar para menteri dan bangsawan di sekitar mereka.

“Tidak.”

Jawaban Noah singkat.

“Setelah pesta selesai, datang ke ruang kerja ayahmu.”

“Baik.”

Percakapan itu berhenti begitu saja. Di keluarga kerajaan, semakin sedikit bicara semakin baik.

Jamuan berakhir menjelang tengah malam. Satu per satu tamu mulai meninggalkan istana. Hingar bingar kemewahan telah hilang.

Noah berjalan menuju ruang kerja Raja tanpa terburu-buru. Ruangan itu megah dengan dominasi putih dan emas khas keluarga kerajaan Vardoria. Lampu gantung kristal memantulkan cahaya hangat di atas meja panjang penuh dokumen negara.

Raja Valden II duduk di kursi utama. Sedangkan Permaisuri tampak memijat pelipisnya pelan di sisi sampingnya. Noah mengambil duduk di depan Permaisuri.

Pintu ruangan kembali terbuka.

Dua pengawal menyeret Lilly masuk sebelum menjatuhkannya ke atas karpet permadani merah. Lilly hampir kehilangan keseimbangan.

Gaunnya kusut. Rambut kepangnya sedikit berantakan. Wajahnya memerah. Bibirnya mati rasa. Kedua tangannya masih diikat— seolah ia tak lagi bebas.

Ia benar-benar merasa hidupnya tamat.

“Siapa namamu?”

Suara Raja Valden II berat dan tenang.

Tetapi justru itu yang membuat Lilly semakin takut.

Ia menelan ludah susah payah. Tubuhnya gemetar. Jemarinya bahkan basah terasa dingin hingga tak dapat mengepal dengan baik.

“Li-Lillyane Jones, Yang Mulia.” Ucapnya dengan bibir gemetar. Suaranya terdengar parau.

“Jones?”

Permaisuri mengulang nama itu perlahan. Seolah nama tersebut terlalu rendah untuk berada di ruangan ini.

“Siapa orang tuamu?”

“Ayah saya Billy Jones," Lilly menelan ludahnya susah payah, "juru tulis kerajaan.”

Lirikan Permaisuri berubah tipis penuh penilaian.

“Apakah ayahmu yang menyuruhmu melakukan itu?”

“Tidak, Yang Mulia!” Lilly langsung menggeleng panik. “Saya hanya staf EO untuk acara malam ini!”

“Lalu kenapa kau mencium Putra Mahkota?”

Lilly hampir ingin menangis. Tubuhnya menggigil. Di ruangan yang seharusnya sejuk ini terasa semakin dingin. Ia benar-benar dalam masalah besar.

“Saya hanya ingin membenahi benang pakaian Yang Mulia Pangeran. Saya tidak tahu beliau akan berbalik…”

Ruangan mendadak hening. Permaisuri memberi isyarat kecil pada salah satu pengawal. Pengawal itu segera memeriksa Noah yang berdiri tenang saat pengawal memeriksa pakaiannya.

Dan benar saja.

Satu helai benang panjang masih menjuntai di bagian bahu pakaian kebesaran sang pangeran.

“Yang Mulia,” ucap pengawal itu hati-hati, “memang ada benang terurai.”

Ketegangan jatuh diantara mereka.

Raja memijat pangkal hidungnya pelan. Permaisuri tampak menahan frustrasi. Karena masalah terbesar malam ini adalah—

Lilly ternyata tidak bersalah.

Noah sejak tadi hanya diam memperhatikan gadis itu.

Gaun Lilly terlihat sederhana dibanding para wanita bangsawan tadi malam. Tidak ada perhiasan mahal. Tidak ada kain sutra berlapis maupun kristal.

Tapi anehnya—

gadis itu tetap terlihat cantik.

Dan sangat berbeda dari wanita-wanita yang biasa berada di sekitar Noah. Ia menatap Lilly cukup lama. Bertahun-tahun berlalu, tetapi Noah masih mengingat mata itu dengan jelas.

Mata hazel hangat yang mengingatkannya pada keindahan senja musim gugur.

“Aku akan menikahinya saja.”

Suara Noah memecah ruangan begitu saja.

Lilly membeku. Permaisuri langsung menoleh tajam. Raja masih sama datarnya.

“Tidak.”

Penolakan Permaisuri keluar terlalu cepat.

“Kita punya aturan kerajaan,” lanjut Permaisuri tegas. “Calon pasangan Raja tidak bisa dipilih sembarangan.”

“Tapi menghukumnya juga tidak adil.” Noah tetap tenang. “Ia tidak melakukan kesalahan.”

“Menikahi rakyat jelata akan menjadi skandal baru.”

“Skandal malam ini sudah cukup besar.”

Raja terdiam cukup lama sebelum akhirnya berbicara.

“Besok aku akan membahas ini dengan Perdana Menteri.”

Tatapan beliau jatuh pada Lilly.

“Sementara itu, gadis ini tetap berada di istana.”

Dan keputusan Raja adalah titah mutlak.

Lilly bahkan tidak sempat membela diri ketika para pengawal kembali membawanya keluar. Kali ini ia ditempatkan di kamar tamu kecil di area dalam istana. Jauh lebih layak dibanding ruangan lembap sebelumnya.

Begitu pintu tertutup, Lilly langsung menjatuhkan tubuh ke atas ranjang.

“Akhirnya…”

Lilly menghela nafasnya panjang. Tanpa sadar, ia kembali mengingat Noah. Pria itu cukup impulsif masih sama dengan pemuda sepuluh tahun lalu. Belum sempat ia menikmati ketenangan, suara ketukan terdengar dari balik pintu.

Seorang pelayan datang membawa pakaian tidur, perlengkapan mandi, dan tas ranselnya.

“Yang Mulia memerintahkan ini untuk Anda.”

Lilly hampir ingin menangis haru melihat tasnya kembali. Semua hal penting baginya berada disana.

“Terima kasih…”

Pelayan itu membungkuk lalu pergi.

Namun sebelum pintu tertutup sepenuhnya— sebuah sepatu pantofel hitam menahannya.

Tubuh Lilly langsung menegang. Dahinya berkerut, tidak mungkin ada tindak kejahatan dalam istana.

Dan ketika pintu terbuka kembali—

Noah berdiri di sana. Masih mengenakan pakaian kebesarannya. Pria itu terlihat terlalu tenang dalam situasi yang genting seperti sekarang.

“Ada yang ingin kubicarakan.”

Suaranya rendah dan tenang.

Lilly refleks mundur memberi jalan.

Noah masuk ke dalam kamar lalu menutup pintu perlahan. Mendadak ruangan itu terasa terlalu sempit untuk mereka.

“Kau sebaiknya tidur sekarang,” ucap Noah sambil menatapnya lekat. “Besok mungkin akan menjadi hari paling melelahkan dalam hidupmu.”

Lilly mengernyit bingung.

“Maksud Anda?”

“Perdana Menteri tidak akan menyukai ideku.”

Noah melangkah mendekat sedikit. Lilly mundur. Tetap berusaha menjaga jarak tersebut.

“Kalau beruntung, kau hanya diminta meminta maaf di depan publik meski akan terasa tidak adil,”

Netra gelap Noah turun menatap mata hazel Lilly.

“Kalau tidak…”

Lilly menahan napas.

“Kau bisa dipenjara.”

Jantung Lilly terasa jatuh.

“Tapi jika rencana pernikahan itu diterima…” Noah tersenyum samar, “semuanya akan jauh lebih mudah.”

Lilly benar-benar tidak mengerti apakah pria ini sedang bercanda atau serius. Rasanya ia ingin mengungkapkan satu kalimat, 'Hei aku masih ada disini'.

Seolah keputusan dalam hidupnya ditentukan tanpa persetujuannya.

Noah berbalik menuju pintu.

“Tetaplah di sini malam ini.”

Tangannya berhenti di gagang pintu.

“Dan tidurlah nyenyak.”

Noah menoleh sedikit ke arahnya. Sebelum benar-benar pergi, ia menatap Lilly sekali lagi.

“Besok hidupmu mungkin akan berubah sepenuhnya.”

Lalu ia pergi. Meninggalkan Lilly yang mengernyit kebingungan, tanpa penjelasan lagi.

*****

1
dysa
AAA NOAH MANIS BANGET😍😍
Ana Dww: Noah adalah impian para gadis 👻
total 1 replies
dysa
😍
dysa
Semangat up teruss ya kaaaa❤️❤️❤️
Ana Dww: Terimakasih untuk dukungannya kak ❣️❣️❣️
total 1 replies
Ana Dww
🤭🤭🤭
dysa
asbun bangt noah😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!