NovelToon NovelToon
Hasrat Terlarang Bos Suamiku

Hasrat Terlarang Bos Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:13.4k
Nilai: 5
Nama Author: FT.Zira

Thalia Amradita menikah dengan Rendra, pria ambisius yang bekerja di perusahaan besar milik Arkana Dirgantara, CEO muda yang dingin, berkuasa, dan sulit disentuh.

Di luar rumah, Rendra tampak sebagai suami sempurna. Ia memperlakukan Thalia seperti istri cantik yang patut dibanggakan. Namun di balik pintu tertutup, Thalia hanya menjadi alat: dipamerkan, diarahkan, dan perlahan kehilangan suaranya sendiri.

Namun, semua berubah ketika Rendra membawa Thalia terlalu dekat ke dunia Arkana. Awalnya demi karier, proyek, dan ambisi. Tapi Rendra tidak pernah menyangka bahwa Arkana justru melihat luka yang selama ini Thalia sembunyikan.

Dari perhatian yang seharusnya tidak ada, tumbuh hasrat yang semakin sulit ditahan.
Thalia tahu ia masih istri Rendra. Arkana tahu ia adalah bos suaminya. Tapi semakin mereka menjaga jarak, semakin kuat pula takdir menyeret mereka ke arah yang paling berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2. Istri yang Dipamerkan 2.

Arkana Dirgantara masuk dari pintu utama ballroom dengan langkah tenang. Tidak terburu-buru. Tidak perlu mencari perhatian. Namun justru karena itu, perhatian semua orang jatuh kepadanya.

Pria itu mengenakan setelan hitam sederhana yang terlihat terlalu mahal untuk disebut sederhana. Tubuhnya tinggi, tegap, dan pembawaannya memancarkan wibawa yang tidak perlu diumumkan. Rambutnya hitam, tersisir rapi ke belakang dengan beberapa helai jatuh alami di dekat pelipis. Wajahnya tegas. Rahangnya keras. Matanya gelap dan dingin.

Bukan dingin yang kosong. Melainkan dingin yang mampu mengukur, menilai, membaca lawan bicaranya.

Thalia pernah melihat banyak pria berkuasa di sekitar Rendra. Mereka biasanya bicara keras, tertawa lebar, atau sengaja menunjukkan siapa yang paling tinggi posisinya.

Arkana berbeda.

Pria itu tidak perlu membuktikan apa pun.

Justru karena itu, ia tampak lebih berbahaya.

Beberapa orang langsung menghampirinya. Arkana menyambut mereka dengan anggukan singkat. Senyumnya tipis, nyaris tidak ada. Ia berbicara seperlunya, tapi semua orang tampak mendengarkan seolah setiap katanya adalah keputusan final.

“Jangan melamun,” bisik Rendra.

Thalia tersentak pelan, seluruh kesadarannya segera ditarik paksa kembali pada kenyataan. Rendra menatapnya dengan senyum yang terlihat manis dari luar, tapi matanya memberi peringatan.

“Nanti kalau aku ajak kamu mendekat, jangan kaku,” peringat Rendra.

“Aku tidak kaku,” sanggah Thalia.

“Kamu selalu kaku kalau tidak nyaman,” tukas Rendra.

Thalia menoleh kepada suaminya. “Kalau begitu kenapa kamu tetap membawaku?”

Rendra tersenyum lebih lebar saat seorang koleganya lewat dan menyapa mereka. Setelah orang itu pergi, barulah ia menjawab dengan suara rendah.

“Karena malam ini aku butuh kamu.”

Ada yang mencelos di dada Thalia. Dulu, kalimat “aku butuh kamu” pernah membuatnya merasa berarti. Sekarang, kalimat itu terdengar seperti beban.

Rendra membawa Thalia mendekati Arkana beberapa menit kemudian. Semakin dekat mereka, semakin jelas aura pria itu terasa. Tajam. Dingin. Sulit dijangkau.

Arkana sedang berbicara dengan seorang investor asing ketika Rendra menunggu di sisi mereka dengan sikap hormat yang nyaris berlebihan. Thalia berdiri di samping suaminya, menjaga senyum tetap tipis di bibir.

Begitu percakapan Arkana selesai, Rendra langsung maju setengah langkah.

“Selamat malam, Pak Arkana.”

Arkana menoleh. Tatapannya jatuh ke wajah Rendra lebih dulu.

“Rendra.”

Satu kata. Datar. Tapi cukup untuk membuat Rendra tampak puas karena dikenali.

“Saya senang Bapak hadir malam ini,” kata Rendra.

“Ini acara perusahaan saya,” jawab Arkana tenang. “Saya memang seharusnya hadir.”

Senyum Rendra sedikit tertahan.

Thalia hampir menunduk untuk menyembunyikan reaksi kecil di wajahnya. Namun sebelum ia sempat melakukannya, tatapan Arkana bergeser ke arahnya.

Dunia Thalia seperti berhenti setengah detik.

Mata Arkana tidak menyapu tubuhnya seperti pria-pria lain yang sejak tadi membuatnya tidak nyaman. Tatapan pria itu langsung berhenti di wajahnya. Lebih tepatnya, di matanya.

Dan entah kenapa, Thalia merasa seperti sesuatu dalam dirinya terbuka paksa. Seolah senyum yang ia pakai sejak tadi tidak cukup kuat untuk menipu pria itu.

Rendra berdeham pelan.

“Pak, perkenalkan. Ini istri saya.” Tangannya kembali menekan pinggang Thalia. “Thalia Amradita.”

Thalia mengulurkan tangan dengan sopan.

“Selamat malam, Pak Arkana.”

Arkana menatap tangan itu sebentar, lalu menyambutnya.

Sentuhan mereka singkat. Namun cukup untuk membuat Thalia menyadari betapa hangat telapak tangan pria itu, sangat berlawanan dengan tatapan dingin yang pria itu miliki.

“Arkana Dirgantara,” ucapnya.

Suaranya rendah. Tenang. Dan dalam.

Thalia menarik tangannya kembali lebih cepat dari yang seharusnya.

“Saya tahu,” jawab Thalia, lalu menyadari kalimatnya terdengar terlalu spontan, ia segera menambahkan, “Maksud saya, Rendra sering membicarakan Bapak.”

Sudut bibir Arkana bergerak sedikit. “Semoga yang baik-baik.”

Rendra tertawa terlalu cepat. “Tentu saja, Pak. Saya selalu bilang pada Thalia bahwa Bapak adalah pemimpin terbaik yang pernah saya temui.”

Arkana tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertahan pada Thalia.

“Begitu?”

Thalia merasa Rendra menegang di sampingnya.

Ia tahu seharusnya ia mengiyakan. Seharusnya ia menjadi istri manis yang mendukung suaminya. Seharusnya ia tersenyum, memuji, lalu membiarkan Rendra bersinar.

Tapi tatapan Arkana membuat kebohongan terasa sulit keluar.

Akhirnya Thalia hanya tersenyum tipis. “Rendra sangat mengagumi Bapak.”

Jawaban aman. Tidak berbohong. Tidak juga sepenuhnya menjilat.

Arkana memperhatikannya beberapa detik lebih lama dari yang pantas. Lalu ia mengalihkan tatapannya kepada Rendra.

“Istri Anda pandai memilih kata,” ucap Arkana.

Rendra tertawa kecil. “Dia memang pintar, Pak. Hanya saja sedikit pemalu.”

Thalia menahan napas. Pemalu. Itu bukan dirinya.

Rendra selalu punya cara untuk mengecilkan Thalia di depan orang lain dengan nada yang terdengar seperti pujian.

Arkana memandang Rendra. Kali ini tatapannya sedikit berubah. Masih tenang, tapi lebih tajam.

“Pemalu?” ulang Arkana.

“Iya. Thalia lebih nyaman di rumah. Urusan bisnis seperti ini biasanya saya yang tangani,” jawab Rendra.

Thalia merasakan panas naik ke dadanya.

Ia ingin berkata bahwa sebelum menikah, ia pernah bekerja di firma konsultan. Ia ingin berkata bahwa ia paham percakapan bisnis jauh lebih banyak daripada yang Rendra izinkan orang lain tahu. Ia ingin berkata bahwa ia bukan perempuan kosong yang hanya tahu memilih gaun dan tersenyum.

Namun tangan Rendra di pinggangnya menekan lagi, bahkan lebih kuat dari sebelumnya. Peringatan.

Thalia diam.

Namun Arkana melihat gerakan kecil itu. Mata pria itu turun sebentar ke tangan Rendra yang berada di pinggang Thalia, lalu kembali ke wajah Thalia.

“Apakah Anda nyaman berada di sini, Nyonya Thalia?” tanya Arkana.

Pertanyaan itu terdengar biasa.

Tapi bagi Thalia, rasanya seperti seseorang tiba-tiba membuka jendela di ruangan yang pengap.

Rendra menjawab cepat. “Tentu saja nyaman, Pak. Thalia hanya belum terbiasa dengan acara besar seperti ini.”

Arkana tidak melihat Rendra. Ia tetap menatap Thalia.

“Saya bertanya pada istri Anda.”

Senyum Rendra membeku. Thalia pun tanpa sadar melakukan hal yang sama. Beberapa detik berlalu dalam diam yang terlalu padat.

Thalia tahu jawaban yang diharapkan suaminya.

Ya, saya nyaman.

Ya, saya senang berada di sini.

Ya, saya bangga mendampingi Rendra.

Namun yang keluar dari bibirnya hanya, “Saya baik-baik saja.”

Bukan jawaban yang sama. Dan Arkana menangkap perbedaan itu.

“Baik-baik saja bukan berarti nyaman,” ucap Arkana pelan.

Jantung Thalia berdetak lebih keras.

Rendra tertawa, kali ini terdengar lebih dipaksakan. “Pak Arkana memang tajam sekali. Thalia hanya sedikit lelah. Kami tadi agak terburu-buru dari rumah.”

“Begitu.”

Arkana akhirnya melepaskan tatapannya dari Thalia. Ia mengambil segelas minuman dari pelayan yang lewat, lalu berkata kepada Rendra, “Saya ingin bicara sebentar dengan Pak Darmawan. Kita lanjutkan nanti soal proposal Anda.”

Wajah Rendra langsung cerah. “Tentu, Pak. Terima kasih banyak.”

Arkana mengangguk tipis. Namun sebelum pergi, ia menatap Thalia sekali lagi.

Tidak lama. Tidak begitu jelas. Tapi cukup membuat napas Thalia tertahan singkat. Lalu pria itu pergi, meninggalkan aroma maskulin dan pertanyaan yang masih menggantung di udara.

Apakah Anda nyaman berada di sini?

Thalia menatap punggung Arkana yang menjauh.

Untuk pertama kalinya malam itu, seseorang menanyakan kenyamanannya. Bukan penampilannya. Bukan perannya. Bukan kegunaannya bagi Rendra. Melainkan dirinya.

“Thalia.”

Suara rendah Rendra membuat Thalia segera tersadar. Ia menoleh.

Rendra masih tersenyum, tapi rahangnya mengeras.

“Apa?” tanya Thalia.

“Jangan pura-pura bodoh.” Rendra mendekatkan wajahnya, suaranya rendah agar tidak terdengar orang lain. “Kenapa tadi kamu menjawab seperti itu?”

“Jawab seperti apa?” tanya Thalia pura-pura tak mengerti.

“‘Saya baik-baik saja’?” Rendra menirukan dengan nada sinis. “Kamu mau membuat Pak Arkana berpikir aku memaksamu datang?”

Thalia menatap suaminya. “Bukankah memang begitu?”

Mata Rendra menggelap. Amarah merayap ke wajahnya. “Jaga mulutmu.”

Thalia merasakan sesuatu di dadanya menciut. Tapi kali ini, ia tidak langsung menunduk.

“Malam ini acara penting, kan?” tanyanya pelan. “Jangan rusak hanya karena kamu terlalu sensitif.”

Wajah Rendra menegang. Untuk pertama kalinya malam itu, Thalia menggunakan kalimatnya sendiri. Dan ia tidak menyukainya.

Tangannya kembali mencengkeram pinggang Thalia. Kali ini lebih keras disertai geraman tertahan. “Jangan main-main denganku.”

Thalia meringis kecil, sebisa mungkin tidak menarik perhatian, tetapi cukup terlihat oleh sepasang mata gelap yang berdiri di seberang ruangan.

Arkana.

Pria itu berdiri di dekat pilar marmer, berbicara dengan seorang pria tua. Namun fokusnya tidak sepenuhnya berada di sana.

Pria itu melihat tangan Rendra. Dia melihat wajah Thalia. Dan dia melihat bagaimana senyum Thalia perlahan kembali dipasang, seperti topeng yang dipaksa menutup retakan.

Thalia buru-buru memalingkan wajah.

Ia tidak ingin ditatap seperti itu. Ia tidak ingin dikasihani. Terutama oleh Arkana Dirgantara.

Namun semakin ia berusaha mengabaikan, semakin kuat perasaan aneh itu menekan dadanya.

Malam itu, Thalia datang sebagai istri yang dipamerkan. Tapi di hadapan Arkana, untuk pertama kalinya, ia merasa dilihat sebagai wanita.

Dan entah kenapa, hal itu jauh lebih berbahaya daripada tatapan pria mana pun yang pernah ia terima.

Tatapan Arkana tidak berhenti di tubuhnya, melainkan menyentuh sesuatu yang jauh lebih dalam. Sesuatu yang selama ini Thalia sembunyikan bahkan dari dirinya sendiri.

Luka.

. . . .

. . ..

To be continued...

1
Patrick Khan
deg deg kan bacanya..😄
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
aq deg2an loh, kirain mau hiatus ini novel. trauma aq tuh
mery harwati
Tuan? Arkana kah itu? Atw Saka? Karena Arkana tipe orang yang bergerak di belakang layar 🤔
Dewi Payang
Blencek si Rendra......
Dewi Payang
Rwndra selingkih sama Clara?
W I 2 K
makin keren Thor ceritanya....., puas mataku dimanjakan karyamu... 😍😍😍
Zhu Yun💫
Padahal emaknya Thalia memberikan dukungan penuh, mungkin Thalianya saja yang tidak pernah mau terbuka. Dalam kasus yang lebih berat, sudah banyak tuntutan dari pihak suami dan keluarga suami, ditambah keluarga sendiri tidak memberikan dukungan... disini kewarasan benar-benar sangat diuji, belum lagi cemoohan dari lingkungan sekitar.... 🤧🤧🤧 eh malah curhat ini /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Zhu Yun💫
Lebih tepatnya tekanan batin ya, Thal...
MamDeyh
Lanjuuuutttt😁
MamDeyh
Lanjutt kak
Endah Puji Lestari
😍
Zhu Yun💫
Lanjut yuk lanjut /Determined//Determined//Determined/
Zhu Yun💫
Nanti kalau sudah cerai dari Rendra, jangan langsung mau sama Arkana ya, Thal 🤭🤭🤭 Biar si Ar punya gebrakan dulu 🤧🤧🤧
Zhu Yun💫
Semakin kesini aku malah lebih kepincut dengan sosok Rendra... meskipun dia licik, jahat dan endingnya sudah pasti tidak enak buat Rendra... tapi dia lebih banyak gebrakannya 🤭🤭💃💃💃
Dewi Payang
Berkilah mulu, binimu lebih pintar Ren....
Dewi Payang
Jangan ngelak...
Dewi Payang
Gue yang oanas hati dah jadinya😄😄😄
Dewi Payang
Ayo Thalia.... bertindaklah......
Dewi Payang
Blencekkk memang si cuami ini.....
Zenun
bisa jadi ini sudah dipalsukan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!