Dunia pernah berjalan normal, tanpa adanya sihir, tanpa kekuatan di luar nalar. Hingga suatu hari, sebuah fenomena misterius membawa Mana ke bumi dan memutarbalikkan tatanan realitas umat manusia selamanya.
Di tengah kekacauan era baru tersebut, Asosiasi hadir sebagai pilar keadilan. Mereka menertibkan dunia, melindungi yang lemah, dan dipuja sebagai pahlawan.
UNTUK: 13+
"MOHON DILAKUKAN"
-Like&Share
-Berkomentar
-Memberikan Bintang 5
-Favorit
-Follow Akun Pembuat Novel
-Memberikan Saran Untuk Mengembangkan Novel Atau Cerita Selanjutnya
~•KARYA: R14•~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R14, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 : TEST MASUK
ARC 1 : THE PARASITE PROJECT
BAB 1 : TEST MASUK
Meninggalkan ketenangan taman akademi yang rindang, Rey menyusuri lorong panjang menuju stadion indoor utama. Semakin dekat ia melangkah, semakin keras suara bising yang terdengar.
Begitu ia melewati pintu ganda raksasa stadion, gelombang suara sorakan dan kilatan energi sihir langsung menyambutnya. Ratusan calon Guardian duduk di tribun, menatap tegang ke arah lapangan tengah di mana sebuah balok logam hitam raksasa, Mesin Pengukur Mana berdiri kokoh.
BOOOM!
Sebuah ledakan keras bergema, menciptakan gelombang kejut yang membuat rambut Rey sedikit berkibar. Di depan mesin pengukur itu, seorang remaja berpakaian mewah baru saja melepaskan hantaman sihir berelemen api dari telapak tangannya.
Layar hologram di atas mesin berkedip cepat memproses output energi tersebut, sebelum akhirnya menampilkan deretan angka berwarna emas yang menyilaukan: 8.450 (Potensi: Kelas Unggulan).
"Luar biasa! Delapan ribu empat ratus! Dia pasti langsung masuk jajaran top Kelas Unggulan!" seru salah satu peserta di tribun dengan mata berbinar iri.
Remaja elit itu tersenyum angkuh, mengibaskan tangannya yang masih memancarkan sisa-sisa asap magis. Para pengawas ujian dari pihak akademi mengangguk puas, langsung memberikan stempel kelulusan padanya.
Di akademi ini, hierarki adalah segalanya. Sistem telah menetapkan aturan main yang jelas, skor 6.000 ke atas akan membawamu ke Kelas Unggulan atau Kelas Khusus, disiapkan menjadi pahlawan papan atas yang dihormati negara.
Sementara mereka yang hanya mampu mencetak skor di bawah 6.000 akan dilempar ke Kelas Reguler tempat berkumpulnya calon pekerja lapangan yang karirnya ditakdirkan biasa-biasa saja.
Bagi mayoritas orang di sana, ujian ini adalah panggung penentuan hidup dan mati untuk mengangkat derajat sosial mereka. Mereka saling sikut, pamer kekuatan, dan merapal mantra terbaik yang mereka kuasai.
Namun, tidak bagi Rey.
Pemuda itu hanya melirik sekilas ke arah layar hologram, lalu menguap pelan. Ia berjalan santai menaiki anak tangga tribun, mencari tempat duduk paling sepi di barisan belakang. Rey menopang dagunya dengan sebelah tangan, bersandar dengan nyaman, dan menunggu gilirannya tiba dalam kebosanan yang mutlak.
Rey menghela napas, menempatkan dirinya di barisan kursi tribun atas. Ini adalah zona tak kasat mata, tempat berkumpulnya peserta-peserta berwajah tegang yang pesimis duluan sebelum bertanding.
Di sebelah kirinya, Rey menyadari kehadiran dua remaja dengan tingkah laku yang sangat kontras.
Remaja pertama memiliki postur tegap dan berotot. Alih-alih duduk tenang menunggu giliran, ia malah sibuk melakukan push-up dengan satu tangan di celah sempit antara kursi tribun.
Urat-urat di lehernya menonjol, dan tubuhnya mengeluarkan uap tipis dari luapan Mana yang memanas. Matanya berkilat penuh ambisi seolah siap menerkam mesin pengukur di bawah sana.
Sementara itu, remaja kedua yang duduk tepat di sebelahnya memiliki fisik yang jauh lebih kurus dan berkacamata. Secara melihat dari mata tampak tenang, tapi mulutnya terus merapalkan kata-kata tanpa henti seperti sedang membaca mantra kutukan. Matanya terpaku pada layar tablet di tangannya, memancarkan kepanikan tingkat tinggi.
"Enam ribu... Minimal untuk Kelas Unggulan itu enam ribu," gumam remaja berkacamata itu dengan napas tersengal, seolah sedang menghitung sisa umurnya.
"Menurut data sensorikku, pelat pelindung mesin hitam itu terbuat dari kristal mana padat. Berdasarkan fluktuasi Mana rata-rata peserta di barisan kita. probabilitas kita menembus angka itu hanya 4,2 persen. Kita semua akan berakhir jadi ampas pemungut sampah di Kelas Reguler!"
Mendengar ocehan pesimis itu, remaja berotot yang sedang push-up akhirnya berhenti. Ia bangkit, mengusap keringat di dahinya, lalu membusungkan dada dengan bangga.
"Oi, Kawan! Santai saja, jangan tegang begitu!"
sapa remaja berotot itu dengan suara lantang. Ia tiba-tiba menepuk pundak Rey dengan keras hingga Rey nyaris tersedak ludahnya sendiri.
"Perkenalkan, namaku Raka Radit! Calon penghuni Kelas khusus yang akan mengukir sejarah hari ini! Kau siapa?"
Rey memijat pelipisnya perlahan, menyesali keputusannya duduk di barisan ini.
"Rey,"
jawabnya singkat, tanpa minat sama sekali.
"Bagus, Rey! Mulai sekarang kita adalah kawan seperjuangan!"
Seru Raka sambil tertawa lebar, sebuah kesimpulan sepihak yang sama sekali tidak masuk akal bagi Rey.
Setelah puas menyapa Rey, perhatian Raka kini beralih pada remaja berkacamata yang masih terus bergumam soal probabilitas dan kehancuran masa depan. Raka merangkul leher remaja kurus itu dengan santai tapi bertenaga.
"Dan kau, Kacamata! Berhentilah mengoceh yang tidak-tidak. Analisismu itu cuma bikin mental ciut!" tegur Raka dengan semangat berapi-api.
"Otot tidak pernah berbohong! Selama fisikmu kuat, Mana akan mengikuti! Siapa namamu?"
Remaja berkacamata itu tersentak kaget, tabletnya nyaris terlepas dari genggaman. Ia membetulkan letak kacamatanya dengan tangan gemetar.
"R-Rico... Rico Fernando. T-tapi secara statistik, otot tidak akan berpengaruh jika kontrol Mana-mu buruk..."
"Hahaha! Teori macam apa itu, Rico? Lihat saja nanti pukulanku!"
Potong Raka sambil memukul dadanya sendiri hingga terdengar bunyi dentuman pelan.
Di tengah-tengah perkenalan sepihak dan penuh semangat itu, Rey hanya menyandarkan punggungnya kembali ke kursi. Ia menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong.
Kenapa aku harus terjebak di antara si gila otot dan kalkulator berjalan ini? batin Rey merana.
Belum sempat Rey membuka novelnya lagi untuk menulikan telinga, suara dari pengeras suara tiba-tiba memotong percakapan mereka.
"Peserta nomor 2401! Raka Radit! Silakan maju ke area pengujian!"
"Yosh! Itu panggilanku!" seru Raka sambil melompat dari kursinya, nyaris menendang botol minum Rico. Ia membusungkan dada dan menunjuk ke arah Rey dan Rico bergantian.
"Perhatikan baik-baik, kalian berdua! Ini adalah langkah pertamaku menuju puncak!"
Tanpa menunggu balasan, Raka berlari menuruni anak tangga tribun layaknya banteng yang siap menyeruduk.
Dari atas tribun, Rey menopang dagu, sementara Rico buru-buru mengangkat tabletnya untuk merekam. Di lapangan, Raka mulai mengambil kuda-kuda. Ia mengaktifkan kekuatannya.
Otot-otot di lengan dan punggungnya membesar drastis hingga merobek sedikit jahitan seragamnya. Aura Mana meledak keluar dari tubuhnya, terlihat mengintimidasi dan panas.
Namun, dari kacamata orang yang mengerti, itu adalah pemandangan yang menyedihkan. Energi Raka bocor ke segala arah. Terlalu banyak Mana yang terbuang sia-sia ke udara sebelum serangannya bahkan dimulai.
Dengan raungan keras yang menggema di seluruh stadion, Raka meninju mesin itu menggunakan seluruh sisa tenaganya.
BAAAM!
Suara benturannya terdengar sangat keras, membuat beberapa peserta di tribun tersentak dan menahan napas. Layar di atas mesin berkedip memproses output energi tersebut, lalu memunculkan angka yang membuat Raka mematung.
Skor: 4.850 (Potensi: Kelas Reguler)
Hening sejenak. Raka menatap layar itu dengan pandangan kosong. Hanya kurang seratus lima puluh poin lagi untuk menembus batas 5.000 dan masuk ke Kelas Unggulan. Usaha kerasnya berbulan-bulan kandas hanya karena selisih angka yang begitu tipis.
Satu menit kemudian, remaja berotot itu kembali menaiki tangga tribun menuju kursi mereka. Bahunya merosot tajam, wajahnya pucat pasi, dan aura suram yang sangat pekat menyelimuti tubuhnya, bertolak belakang dengan semangat berapi-apinya tadi.
"B-berapa skormu, Raka?" tanya Rico pelan, padahal ia sudah melihatnya dengan jelas.
Raka menjatuhkan diri ke kursi, menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
"...Empat ribu delapan ratus lima puluh," bisiknya menahan tangis.
"Sedikit lagi, padahal sedikit lagi...Sial!..."
Rico menghela napas pasrah, mencatat angka itu di tabletnya, sementara Rey hanya diam dan mengabaikan mereka.
"Peserta nomor 2402! Rico Fernando! Silakan maju!"
Mendengar namanya dipanggil, Rico tersentak. Ia meletakkan tabletnya, lalu berjalan menuruni tribun dengan lutut gemetar. Di depan mesin, Rico terlihat sangat rapuh. Ia memejamkan mata, mengaktifkan Data Analysis & Sensory miliknya.
Selama sepuluh detik, ia memindai struktur pelat mesin itu. Setelah menemukan titik lemah pantulan yang paling optimal, Rico mengambil ancang-ancang dan memukul mesin itu menggunakan seluruh momentum berat tubuhnya.
Takk!
Bunyinya terdengar canggung, tapi layar merespons kalkulasi presisi Rico dengan cukup baik.
Skor: 3.120 (Potensi: Kelas Reguler)
"Lulus. Masuk Kelas Reguler," gumam pengawas ujian sambil mencentang nama Rico.
Rico menghela napas yang luar biasa panjang. Ia kembali ke tribun dengan kaki lemas, menjatuhkan diri di sebelah Raka.
"Syukurlah, Aku bisa mendongkrak skor hingga tiga ribu," gumam Rico bersyukur.
"Selanjutnya... Peserta nomor 2404! Rey Arkan! Silakan maju ke area pengujian!"
Mendengar namanya, Rey bangkit berdiri. Wajahnya datar, matanya memancarkan rasa bosan. Ia menepuk sedikit debu dari celananya dan berjalan gontai menuruni tribun. Dan teman yang dia temukan hari ini mulai memperhatikan Rey dan memberikan sedikit semangat kepadanya.
"Semangat Rey, Kamu pasti bisa masuk kelas Unggulan" Ucap Raka yang masih sedikit sedih
Sementara Rico sudah mulai tenang, mungkin dia sudah mengetahui hasilnya jadi tidak terlalu mengkhawatirkan kelas mana dia tempatkan.
"Semoga kamu bisa" Ucap Rico dengan Canggung.
Rey Hanya bisa membalas mereka dengan datar.
"Iya, terimakasih"
Rey mulai berjalan dan dimana kepalanya, ia sama sekali tidak memikirkan cara pamer kekuatan. Ia sedang melakukan kalkulasi untuk skenario terbaiknya.
Batas bawah masuk akademi adalah 1.000, batas Kelas Unggulan adalah 5.000, batin Rey saat ia berdiri di depan bantalan logam hitam itu. Raka mendapat skor nyaris 5.000 di batas atas, sementara Rico mencetak 3.000 di angka menengah.
Kalau aku mencetak angka 1.000 atau terlalu rendah, aku malah akan terlihat mencolok sebagai murid terlemah dan jadi bahan rundungan. Itu sangat merepotkan.
Rey menatap layar mesin itu dengan tenang. Aku butuh angka yang sangat medioker. Angka di mana tidak ada yang peduli memujiku, tapi tidak ada juga yang peduli untuk merundungku.
Targetku di kisaran 2.O00.
Rey mengangkat tangan kanannya dengan santai. Tidak ada kuda-kuda bersiap. Ia hanya mengayunkan kepalan tangannya ke depan dan mendaratkan pukulan ringan yang sangat terukur.
Buk...
Bunyinya hambar. Layar hologram berkedip sebentar memproses benturan tersebut, lalu memunculkan angka redup berwarna abu-abu.
Skor: 2.135 (Potensi: Kelas Reguler)
"Peserta 2404. Lulus. Masuk Kelas Reguler," ucap pengawas itu tanpa minat, langsung mencentang nama Rey dan memanggil nama peserta berikutnya tanpa jeda. Tidak ada sorakan, tidak ada ejekan. Rey benar-benar dilupakan dalam hitungan detik.
Di balik wajahnya yang datar, sebuah senyum tipis kepuasan terukir di dalam batin Rey. Sempurna. Sesuai perhitungan.
Ia membalikkan badan dan berjalan gontai meninggalkan arena pengujian. Tidak ada tatapan curiga dari pengawas, tidak ada alarm yang berbunyi, dan layar hologram itu tetap menampilkan angka 2.135 yang membosankan.
Sesampainya kembali di barisan kursi tribun atas, Raka langsung merangkul pundak Rey dengan tatapan penuh rasa senasib sepenanggungan.
"Tidak apa-apa, Rey! Dua ribu seratus tiga puluh lima itu bukan angka yang buruk untuk ukuran kasta bawah!" hibur Raka, meski matanya sendiri masih sedikit sembab karena gagal masuk Kelas Unggulan.
"Mulai sekarang, kita bertiga akan merangkak dari dasar bersama-sama di Kelas Reguler!"
"Ya, setidaknya fluktuasi Mana-mu cukup stabil untuk tidak merusak sendi tanganmu sendiri saat memukul alat pengukur mana itu," tambah Rico sambil mendorong letak kacamatanya, mencoba memberikan pujian berbasis data yang canggung
Rico kemudian menatap layar tabletnya dan berdeham pelan.
"Tapi soal merangkak bersama, sebaiknya kau jangan terlalu berharap, Raka. Akademi ini menampung ribuan murid. Mereka akan membagi tingkatan kita menjadi beberapa sub-kelas lagi agar efektif."
"Maksudmu?" tanya Raka dengan dahi berkerut.
"Kelas Reguler, Unggulan, maupun Khusus tidak dijadikan satu ruangan raksasa," jelas Rico, kembali ke mode ensiklopedia berjalannya.
"Nanti akan ada Kelas Reguler 1, Reguler 2, Reguler 3, dan seterusnya. Begitu juga dengan tingkatan yang lain. Secara statistik, probabilitas kita bertiga diundi dan masuk ke ruangan kelas yang persis sama sangatlah kecil."
Raka mengerang frustrasi, seketika lemas mendengar analisis logis yang mematahkan semangat persahabatannya.
Mendengar simpati dan perdebatan dari dua orang yang jauh lebih lemah darinya itu, Rey hanya bisa membalas dengan anggukan pelan.
"Ya. Terima kasih," balas Rey singkat.
Rey kembali duduk, menyandarkan punggungnya ke kursi stadion yang keras, dan memejamkan mata dengan tenang. Di sekelilingnya, suara ledakan, teriakan ambisius, dan kilatan sihir masih terus berlanjut seiring peserta lain memperebutkan posisi puncak.
Namun bagi Rey, ujian ini sudah selesai. Rencana masa depannya untuk menjadi murid biasa yang tidak dipedulikan siapa pun benar-benar telah aman di genggaman.
Ia hanya seorang Rey Arkan, murid berpotensi rendah dengan dua kenalan baru yang cukup merepotkan.
BAB 1 SELESAI
~•TERIMAKASIH YANG SUDAH BACA •~
~•DITUNGGGU BAB SELANJUTNYA •~
~•KARYA : R14•