Kisah cinta yang terjadi antara Pilot muda dan seorang mahasiswi magang yang menjadi dekat dengan cara pendekatan si Pilot yang agak lain!
Mampir dong👉👈
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeje Jennifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan pertama
Jesika menatap layar laptopnya, jari-jarinya bergerak cepat menyesuaikan angka dan diagram praktikum. Suara ketukan keyboard mengisi ruang lab yang sunyi, hanya sesekali terdengar desahan ringan dari teman-temannya. Rambut panjangnya yang curly diikat kencang di atas kepala agar tidak mengganggu pandangan saat memeriksa instrumen. Penampilannya yang tomboy-kaos, jaket, dan celana jeans-membuatnya merasa nyaman, meski ibunya sering menasehati agar tampil lebih feminin.
Hari itu terasa panjang, tapi penuh dengan ritme keseharian yang biasa. praktikum, catatan, dan diskusi kelompok. Teman-teman Jesika sering datang menghampiri untuk ngobrol atau bertanya tentang tugas.
"Jes, alat ini kok nggak nyala ya? Aku udah coba dua kali," keluh Andina sambil menunjuk salah satu instrumen.
Jesika menoleh dan tersenyum sambil berjalan mendekat. "Coba cek kabelnya, kayaknya ada yang belum nyambung. Kalau mau, aku bantu."
Jovan, yang duduk di meja lain, ikut nimbrung. "Eh, jangan sampai kamu bikin short-circuit lagi ya, Jes!"
Jesika tertawa ringan. "Tenang, Van. Aku nggak segoblok itu kok."
Mereka tertawa bersama, dan suasana lab terasa hidup. Sesekali, salah satu eksperimen gagal, dan Jesika ikut menertawakan dirinya sendiri ketika tabung kaca jatuh dan membuat bunyi keras.
Sore itu kompleks penerbangan mendadak lebih ramai dari biasanya. Beberapa teknisi berdiri di halaman, sebagian anak magang mengintip dari kejauhan. Sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah bergaya barat terbesar di kompleks. Dari dalam keluar seorang pria berpostur tegap, mengenakan jaket penerbangan dengan emblem negara asing di lengannya.
Adrian Jonathan Bennet seorang pilot muda. Mungkin baru mau jalan dua puluh enam tahun ini. Baru kembali dari penugasan selama tiga tahun di Peru. Semua orang mengenalnya sebagai pilot andalan yayasan penerbangan. Tampan, tenang, karismatik, dan jarang berbicara. Tidak banyak yang tahu kalau ia juga punya keterampilan mekanik yang mumpuni. baginya, lebih baik orang hanya menganggapnya pilot. Itu menjaga citra, sekaligus menyembunyikan kelebihan yang kadang ia tidak ingin pamerkan.
Jesika yang baru pulang dari hanggar sempat berhenti di jalan setapak depan rumahnya. Dari posisinya, ia bisa melihat jelas kerumunan kecil menyambut Adrian. Ia tidak ikut mendekat, hanya menatap dari kejauhan sambil menggenggam helm kerja yang masih penuh noda minyak.
Adrian hanya berjabat tangan dan mengangguk sopan, lalu mengangkat koper hitamnya sendiri menuju rumah. Sejenak, matanya terarah ke arah jalan setapak dan bertemu pandang dengan Jesika. Hanya sebentar, sebelum ia kembali melangkah tanpa banyak bicara.
Malam itu, lampu rumah Adrian menyala terang, terdengar samar suara tawa dari beberapa tamu yang datang menyambut kepulangannya. Dari jendela rumah nya, Jesika bisa melihat bayangan orang-orang lewat. Ia menarik tirai, duduk di meja, dan menulis di buku catatannya. Nama “Adrian” hanya ia tulis sekali, lalu ia coret kembali, seolah bukan bagian dari pikirannya.
Jesika duduk di balkon rumah, memandang langit yang mulai gelap. Lampu kota menyala, tapi pikirannya melayang pada hal-hal yang jarang ia bicarakan. mimpi, harapan, dan sesuatu yang selalu membuat hatinya berdebar. Sesuatu yang hanya ia temui sesekali, tapi meninggalkan kesan mendalam setiap kali hadir. Jesika tersenyum tipis.
Dia membayangkan hari libur nanti. momen yang selalu dia tunggu. Orang tuanya yang akan turun dari pedalaman, bersama orang yang selama ini dia sukai diam-diam.
.
.
.
Pagi itu hanggar masih sepi. Bau oli bercampur debu logam memenuhi udara. Jesika, dengan rambut panjangnya yang diikat asal dan jaket lusuh kebesaran, sibuk memeriksa catatan magangnya. Tangannya sudah mulai kotor oleh noda oli, tapi matanya tetap fokus pada komponen yang ia pelajari.
Suara langkah berat dari pintu hanggar. Jesika menoleh cepat. Seorang pria berseragam pilot berdiri di sana, posturnya tegap, wajahnya terlihat letih tapi senyumnya hangat.
“Permisi,” katanya datar tapi sopan. “Di samping ini ruang perlengkapan, kan?”
Jesika buru-buru menutup catatannya. “Iya, benar, Pak. Tapi hanggarnya belum terlalu ramai, masih pagi. Maintenance yang pegang kuncinya belum datang.” Suaranya sedikit kaku, tapi tegas.
Pria itu menaikan alisnya. Tatapannya dingin “Jangan panggil saya ‘Pak’. Adrian saja. Saya belum setua itu”
Jesika mengangguk pelan, mencoba menutupi rasa canggung. Ia jarang sekali berhadapan langsung dengan pilot yang masih muda. Dia dekat dengan pilot senior saja.
Adrian menatap tangan Jesika yang kotor oleh oli “Tanganmu kotor, tapi matamu penuh semangat. Itu bagus. Pesawat butuh orang-orang teliti seperti kamu.”
Ucapan dingin itu membuat Jesika terdiam sejenak. Lelaki itu langsung pergi dari sana membuat Jesika menatap nya dengan sedikit bingung.
Suara riuh terdengar dari kejauhan.
“Jes! Kau duluan lagi?!” teriak Jovan sambil setengah berlari, membawa helm safety yang belum dipakai. Nafasnya terengah-engah, tapi senyumnya lebar.
Di belakangnya, Andina berjalan santai dengan ransel kecil di punggung. Ia menggeliat malas, lalu berkata, “Jesika kan tinggal disini. Wajar kalau dia selalu datang lebih cepat.”
Aja, yang baru masuk , menunduk sopan. “Aku malah masih sering salah jalan,” katanya polos. “Untung Andina jemput aku tadi.”
Jesika menoleh, tersenyum lebar melihat mereka bertiga. “Kalian akhirnya datang juga. Ayo, kita mulai. Hari ini katanya ada pengecekan mesin cadangan.”
Jovan langsung menjatuhkan diri ke bangku sebelah Jesika, pura-pura kelelahan. “Astaga… aku rasa aku belum siap hidup ala hanggar.”
Andina menepuk pundaknya sambil nyengir. “Kau memang nggak pernah siap, Van. Tapi tenang saja, Jesika sudah terbiasa. Tinggal kita ikuti saja dia, dia kan ketuanya”
Mereka tertawa mendengar celetukan Andina. Aja hanya tersenyum kecil, matanya berkilat penuh rasa ingin tahu. Ia memang baru seminggu, tapi semangatnya jelas terlihat.
Jesika menatap mereka bertiga dengan rasa hangat. Tadi malam ia sempat merasa sepi setelah VC dengan orang tuanya. Tapi pagi ini, dengan kehadiran teman-teman magang, hanggar kembali terasa hidup.
Setelah hari magang yang panjang, tibalah waktu pulang. Jesika membereskan semua peralatan yang tadi dipakainya. Ketiga temannya sudah pulang duluan. Rumah mereka agak jauh, makanya mereka sangat bersyukur memiliki teman yang tinggal dalam kompleks penerbangan sehingga membuat mereka sangat terbantu dengan kehadiran Jesika.
Disebuah ruangan yang juga mengarah ke hanggar, berdiri seorang laki-laki tinggi menatap apa saja yang dilakukan Jesika. Dia tidak beranjak dari sana sejak kepergian ketiga teman gadis itu.
"Kok aku merinding, ya" Jesika bergidik ngeri. Dia sering sendiri di hanggar maupun rumah, tapi tak pernah merasa semerinding ini.
Malam nya, sendirian lagi di rumah, Jesika menulis di catatannya. Tentang pekerjaan hari ini, betapa cerewetnya Aja, tentang Andina yang mulai bisa membaca sistem avionik, dan tentang Jovan yang masih saja ceroboh. Ia tersenyum kecil. hidup di kompleks penerbangan memang sunyi, tapi tak pernah benar-benar sepi, karena banyak yang menemaninya.
Adrian Jonathan Bennett