Setelah kehancuran dunia, munculah Cubex, pintu dimensi antar planet berikut kemunculan Artefak User yang dapat membuat manusia berubah menjadi Mutan berevolusi. Semua datang bukanlah sebuah kebetulan atau bencana alam semata namun ada rahasia dibalik semuanya itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Cubex
Lima puluh tahun yang lalu, hujan meteor menghantam Bumi dan mengubah segalanya.
Bencana itu tidak dapat dihindari. Dalam hitungan detik, sepertiga umat manusia musnah. Kota-kota besar hancur, negara-negara lumpuh, dan sepertiga dunia berubah menjadi reruntuhan. Setelah hantaman meteor, bencana susulan datang tanpa ampun: tsunami, badai, gempa, dan berbagai kekacauan alam yang membuat manusia seolah sedang menyaksikan akhir zaman.
Namun, yang jatuh ke Bumi bukan hanya batu-batu asing dari luar angkasa.
Di antara pecahan meteor, ditemukan benda-benda kecil dengan ukiran aneh dan bentuk yang berbeda-beda. Tidak ada yang tahu dari mana asalnya, tetapi manusia kemudian menyebut benda-benda itu sebagai Artefak.
Artefak mengubah sejarah manusia.
Benda-benda itu mampu membangkitkan kekuatan luar biasa dalam diri manusia. Setiap artefak memberi kemampuan yang berbeda, tergantung bakat, kecocokan, dan kapasitas orang yang menerimanya. Mereka yang berhasil memperoleh kekuatan dari artefak dikenal sebagai User, atau pengguna Artefak.
Namun, tidak semua orang bisa menjadi User.
Sebagian besar manusia tidak mampu menerima kekuatan itu. Artefak seolah memiliki kehendak sendiri. Benda-benda tersebut memilih siapa yang layak menjadi inangnya, dan menolak sisanya tanpa belas kasihan.
Sebulan setelah kehancuran akibat hujan meteor, fenomena baru kembali muncul di berbagai belahan dunia.
Kubus-kubus raksasa tiba-tiba bermunculan di banyak tempat. Manusia menamainya Cubex.
Tidak ada yang tahu dari mana asal kubus-kubus itu atau bagaimana mereka bisa muncul begitu saja. Yang jelas, di dalam Cubex terdapat makhluk-makhluk asing yang sangat kuat dan mengerikan. Sebagian tampak seperti binatang purba, sebagian lain seperti monster dari dunia lain. Apa pun nama mereka, satu hal menjadi jelas: Cubex bukan bagian dari dunia manusia.
Sejak saat itu, manusia yang selamat hanya punya dua pilihan—bertahan atau lenyap.
Dunia berubah menjadi tempat yang menyerupai neraka. Kota-kota runtuh, lahan subur rusak, dan sistem kehidupan lama perlahan hancur. Mereka yang tidak mampu menyesuaikan diri akan hilang begitu saja, seperti debu yang diterbangkan angin.
Selama lima puluh tahun, manusia berusaha membangun kembali peradaban. Namun, dunia tak pernah benar-benar pulih.
Sebagian kota memang diperbaiki, tetapi sebagian besar dibiarkan hancur apa adanya, seolah biaya untuk membangunnya terlalu mahal dibanding nilainya. Mata uang lokal di banyak negara jatuh tak berharga. Produksi pangan merosot tajam. Angka kematian terus meningkat. Bencana alam menjadi lebih sering terjadi. Di banyak tempat, orang tak lagi percaya pada uang negaranya sendiri. Mereka lebih memilih euro, logam mulia, atau bahkan barter untuk bertahan hidup.
Zaman telah berubah.
Kemunculan para User, kekuatan sihir dari Artefak, dan keberadaan Cubex sebagai wilayah berbahaya yang sekaligus menjadi tempat petualangan, membuat berbagai bangsa terpaksa menyusun undang-undang baru. Lembaga-lembaga khusus dibentuk untuk mengawasi para User, mengatur penggunaan kekuatan super, dan menindak penyalahgunaan yang mengancam masyarakat.
Di sisi lain, para pengusaha melihat peluang besar di tengah kehancuran dunia.
Bermunculanlah bisnis-bisnis yang berhubungan dengan User dan Cubex. Guild-guild dibentuk untuk merekrut, melatih, dan mengelola para manusia berkekuatan super. Eksplorasi Cubex, perburuan monster, pengambilan material langka, hingga jasa pengawalan menjadi sumber keuntungan baru di era yang brutal ini.
BUMI, OKTOBER 2125.
LIMA PULUH TAHUN SETELAH HUJAN METEOR.
++++++++++
Angin gurun bertiup kering, membawa debu yang berputar-putar di antara puing-puing sebuah kota mati.
Gedung-gedung bertingkat yang dahulu menjulang kini hanya tinggal rangka beton dan besi berkarat. Beberapa pondasi pencakar langit masih bertahan seperti tulang belulang raksasa yang menolak rebah. Tempat ini dulu disebut kota—pusat perputaran uang, perdagangan, dan kekuasaan. Sekarang, yang tersisa hanyalah lautan pasir dan reruntuhan.
Pasir telah menelan jalan-jalan, gedung, sejarah, dan kehidupan yang pernah ada di sana. Seolah gurun muncul dari entah mana dan memutuskan untuk mengubur kota itu perlahan-lahan.
Orang-orang yang masih bertahan di daerah tersebut kebanyakan hanyalah para pemulung. Mereka hidup dari mengumpulkan rongsokan: besi tua, kabel, botol plastik, dan apa pun yang masih bisa dijual. Tidak ada lagi kehidupan megah di tempat itu. Yang tersisa hanya sisa-sisa dunia lama yang dipereteli sedikit demi sedikit.
Di tengah bekas kota itu berdiri sesuatu yang jauh lebih mencolok daripada semua reruntuhan di sekitarnya.
Sebuah kubus raksasa.
Ukurannya sangat besar, kira-kira mencakup lima belas persen dari wilayah kota. Permukaannya berwarna hijau transparan seperti akuarium raksasa, tetapi tak seorang pun dapat melihat dengan jelas apa yang ada di dalamnya. Kubus itu berdiri diam, sunyi, sekaligus mengintimidasi, seperti gerbang menuju dunia lain.
Itulah salah satu Cubex.
Di sekelilingnya, banyak orang berlalu-lalang. Ada kelompok-kelompok kecil yang tampak sedang bersiap, ada pedagang dadakan, ada pula orang-orang yang hanya berdiri memandang kubus itu dari kejauhan. Aktivitas di sekitar Cubex selalu ramai. Tempat seperti ini berbahaya, tetapi juga menjanjikan keuntungan besar bagi mereka yang berani masuk.
Jika dilihat dari langit, akan tampak pemandangan yang lebih mengerikan: kubus-kubus serupa tersebar di berbagai negara, menutupi Bumi seperti luka warna-warni. Ada yang merah, biru, hijau, hitam, dan warna-warna lain yang belum pernah dikenal manusia sebelumnya.
Cubex bagi manusia adalah penjara sekaligus perbatasan.
Makhluk-makhluk buas di dalamnya tidak bisa keluar ke dunia nyata, tetapi manusia dari Bumi bisa masuk ke dalam. Karena itulah banyak orang meyakini bahwa Cubex adalah semacam penghubung antarplanet, atau bahkan antardimensi.
“Mengapa orang itu belum datang juga? Sangat menjengkelkan. Tidak ada integritas sama sekali.”
Seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahun berdiri sambil memandang arlojinya dengan wajah kesal. Entah sudah berapa kali ia melakukan hal yang sama sejak sepuluh menit terakhir.
“Aku percaya dia pasti datang, Pak Ketua,” jawab seorang pria lain dengan suara gemetar.
Rambutnya keriting dan tubuhnya tampak gelisah, seolah berdiri diam pun membuatnya tak nyaman.
“Arman, kau dapat Healer ini dari mana?” tanya sang ketua rombongan dengan nada tidak sabar.
“Pak Roji yang mengajaknya,” jawab seorang wanita berusia sekitar dua puluh empat tahun sambil menunjuk pria keriting itu.
“Sudahlah, tak usah diperdebatkan,” sahut Arman cepat, berusaha membela diri. “Lagipula kita memang butuh seorang Healer. Di mana lagi kita bisa menyewa Healer dengan bayaran murah?”
“Arman benar,” kata wanita itu, membenarkan.
“Roji, apakah kau yakin Healer itu akan datang?” tanya Arman, kali ini menekan pria keriting tersebut.
“Aku jamin dia pasti datang,” jawab Roji terburu-buru. “Dia temanku. Dia tidak pernah membohongiku.”
Kelompok itu terdiri dari empat orang.
Yang pertama adalah pria yang dipanggil Pak Ketua. Tidak seorang pun benar-benar tahu nama aslinya. Penampilannya rapi, wajahnya cukup tampan, tetapi sorot matanya menunjukkan bahwa ia bukan orang yang mudah dipercaya.
Yang kedua adalah Arman, pria bertubuh kekar dengan pembawaan tenang. Ia terlihat seperti orang yang jarang bicara, tetapi sekali berbicara nadanya selalu berat dan tegas.
Yang ketiga adalah Jasmin, satu-satunya wanita dalam rombongan itu. Wajahnya cantik, ekspresinya tajam, dan dari cara ia berdiri di dekat sang ketua, terlihat jelas bahwa hubungan mereka lebih dari sekadar rekan satu tim.
Yang terakhir adalah Roji, anggota baru yang paling mencolok justru karena tampak paling lemah. Ia selalu gemetar, suaranya tidak mantap, dan sorot matanya seperti orang yang hidup dalam ketakutan berkepanjangan.
“Arman, dari mana kau kenal Roji?” tanya Pak Ketua.
Pertanyaan itu bukan tanpa alasan. Selama ini kelompok mereka hanya bertiga. Orang-orang tambahan biasanya direkrut dari mana saja demi memenuhi kuota minimal lima orang untuk masuk ke Cubex tertentu.
“Teman seperjuangan,” jawab Arman singkat.
Jawaban itu justru membuat Pak Ketua mengerti lebih banyak daripada yang diucapkan.
Arman bukan orang bersih. Ia dikenal sering berurusan dengan masalah, pelanggaran, dan pekerjaan yang tidak sepenuhnya legal. Jika Roji adalah “teman seperjuangan”, maka kemungkinan besar masa lalunya pun tak jauh berbeda.
“Ada beberapa pekerjaan yang bisa membuatku cocok bekerja sama dengan Roji,” tambah Arman datar.
“Pekerjaan?” Jasmin tersenyum sinis. “Maksudmu pekerjaan kotor?”
Arman tidak menjawab.
Bagaimanapun, mengambil anggota dari kalangan bawah memang sering dianggap paling aman. Jika sesuatu terjadi di dalam Cubex, tidak akan banyak tuntutan, tidak banyak penyelidikan, dan tidak banyak orang yang peduli. Pak Ketua dan Jasmin sama-sama memahami logika kejam itu dengan sangat baik.
“Roji, lalu dari mana kau kenal Healer ini?” tanya Pak Ketua, tampaknya tidak ingin memperpanjang pembahasan tentang masa lalu Arman.
Roji menggaruk kepalanya dengan canggung.
“A-ah... dia teman main kartu.”
“Teman judi?” Jasmin mengangkat alis.
“Iya... kurang lebih begitu,” jawab Roji. “Dia tidak menyelesaikan sekolahnya. Sekarang dia kerja sebagai satpam di sebuah perusahaan. Kami sering bertemu di tempat perjudian. Orang-orang memanggilnya penjudi tunggal.”
“Penjudi tunggal?” Jasmin tampak tertarik mendengar julukan itu.
Pak Ketua menyeringai tipis, seolah sudah bisa menebak artinya.
“Hidup sendirian, ya?” katanya. “Tak punya keluarga, tak punya tempat pulang, lalu menghabiskan hidup dengan judi.”
Roji mengangguk cepat. “Dia sebatang kara. Orang tuanya sudah meninggal. Dia hidup sendiri dan memang suka berjudi, jadi orang-orang memanggilnya begitu.”
Pak Ketua terdiam sejenak.
Di balik wajahnya, ada kilatan licik yang nyaris tak disembunyikan. Sosok seperti itu memang cocok untuk dimasukkan ke tim. Orang tanpa keluarga, tanpa perlindungan, dan tanpa siapa-siapa akan mudah dipakai—dan lebih mudah lagi dikorbankan bila keadaan memburuk.
Angin gurun kembali bertiup, membawa debu tipis melewati kaki mereka.
Di hadapan mereka, Cubex hijau raksasa itu berdiri tanpa suara, seperti mulut dunia lain yang siap menelan siapa saja.
Dan Healer yang mereka tunggu... masih belum juga datang.