NovelToon NovelToon
Separuh Nyawa Suamiku

Separuh Nyawa Suamiku

Status: tamat
Genre:Janda / CEO / Tamat
Popularitas:26.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dayang Rindu

Menjadi janda karena suaminya meninggal dalam sebuah kecelakaan.

Dan takdir membawanya kepada seorang CEO muda yang kemudian sangat memperhatikan semua kebutuhan hidupnya, menyayangi anaknya seperti almarhum suaminya.

Waktu berlalu, kebersamaan yang tanpa mereka sadari membuat keduanya jatuh cinta. Tapi fakta yang sengaja di tutupi selama ini terkuak dan membuat keduanya sama-sama terpukul ketika keduanya sudah menikah..

"Sekalipun kau memberikan dunia ini untuk Ku, tetap saja tidak bisa menggantikan separuh nyawa Suamiku." ungkapnya dengan air mata.

"Tapi sekarang aku juga suamimu. Dan separuh nyawaku ada padamu."


Bagaimanakah kisah mereka selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dayang Rindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sedang Berhutang

Lepas Subuh di pagi ke dua.

Tubuh menggemaskan Arafah bergerak-gerak mencari sesuatu, kaki kecilnya mengayun kesana-kemari belum juga menemukan penyangga seperti pagi-pagi sebelumnya.

"Ayah..." lirihnya kemudian berbalik tengkurap meraih bantal di sisi kirinya.

Sungguh pemandangan itu semakin memperdalam luka di hati seorang ibu yang baru saja menjadi janda. 'Andaikan Mas Azzam masih ada...'

"Ayah." panggil Ara kemudian tak menemukan apa yang ia cari.

"Ara." Hafizah segera melepaskan mukena dan meletakkannya terburu-buru.

"Ibu..." rengeknya dengan mulut kecilnya tertarik kebawah, dapat di pastikan sebentar lagi dia akan menangis.

"Ara mau main ya?" ucap Hafizah dengan hati yang semakin nyeri, membawa tubuh kecil itu. Biasanya di pagi seperti ini Azzam yang menggendongnya, sedangkan ia sibuk menyiapkan sarapan untuk mereka. Tapi berbeda di pagi kedua ini.

'Kami tidak akan menemui kehangatan itu lagi.'

"Hek....hek...emmmm..." Ara masih merengek dengan mata mulai basah, menoleh ke mana-mana mencari keberadaan Ayahnya.

Tak urung jua, air mata hangat itu turun lagi...

***

"Kak, bagaimana dengan uang santunan itu? Apakah sebaiknya Kak Fiza berdamai saja dengan mereka, bahkan pengendara mobil tersebut belum sadar hingga hati ini." Ahmad mengajak berbicara.

Fiza terdiam sejenak, dia tahu Achmad sedang menghawatirkan dirinya dan Ara.

Dan sepertinya hati Fiza masih saja membatu jika mengingat peristiwa yang menewaskan Azzam.

"Lusa aku harus kembali ke batalyon. Tentu jarak dan tugas membuatku tidak bisa mengurus Ara dan Kakak setiap waktu." ujarnya lagi.

Tentu maksud Ahmad adalah jika uang itu sudah di terima, dia tidak khawatir lagi dengan kehidupan Ara.

Riwayat Hafizah yang merupakan anak seorang kiyai yang semuanya adalah penghafal Alqur'an, membuat Azzam selalu mengistimewakannya. Meskipun uang yang ia dapat terbilang pas-pasan tapi untuk pekerjaan rumah dia selalu meminta seseorang untuk mengerjakannya dengan alasan istrinya tidak boleh terlalu lelah, takut ayat-ayat yang sudah di hafal hapus perlahan dari dari ingatan. Begitu ucapan Azzam selalu terdengar ketika Fiza menolak memakai asisten rumah tangga.

Mengingat itu, membuat ia semakin tak ikhlas atas kepergian Azzam.

"Aku tidak akan menerimanya." ucap Hafizah pada akhirnya.

"Kak, bukankah sesama manusia harus saling memaafkan. Allah saja maha pengampun."

"Aku sudah memaafkannya, bukankah dengan tidak menuntut apa-apa sudah membuktikan aku tidak ingin membalas?" ucap Hafizah yang tidak mungkin kalah jika sudah berbicara perihal ikhlas.

'Hah! Sungguh ikhlas yang mana yang sedang ku bicarakan, sulit sekali aku mengerti bahwa ikhlas yang sebenarnya bukanlah tidak membalas.'

"Baiklah, jika kakak tetap tidak mau menerima maka aku tak juga bisa memaksa. Setiap bulan aku akan mengirimkan uang untuk Arafah, sebagai nafkah dari keluarga Mas Azzam atas anaknya, dan aku adalah wali satu-satunya." ucap Ahmad akhirnya menyerah, dan ia cukup dewasa dalam memahami tanggung jawab dan kewajiban.

"Kakak tidak mau membebankan Ara padamu, kau sendiri baru bekerja." ucap Hafizah merasa bahu Ahmad masih terlalu muda.

"Ara tanggung jawabku Kak." ucapnya kemudian menghembus nafas lega.

***

Tapi, hari-hari yang berlalu tak sesuai dengan harapan. Entah karena rindu terpendam kepada ayahnya, atau memang Hafizah sedang di uji. Hari setelah dua Minggu Azzam meninggal, Ara sakit. Demam yang tak kunjung sembuh itu membuat Fiza panik setengah mati, mau tak mau ia mengajaknya ke rumah sakit pada malam itu, beruntung seorang tetangga bersedia membantu.

"Ayah..." lirih Arafah yang sungguh semakin hari semakin kurus. Makan tak lahap, tidurpun tak begitu nyenyak. Mungkin tak nyaman dengan guling yang hanya bisa dipeluk, tapi tak bisa membalas.

"Sayang... Ara." Fiza sungguh bingung, bagai mana cara agar Ara bisa mengerti bahwa ayahnya sudah tak ada, ia hanya bisa mengelus dan memeluknya.

"Ini resepnya Bu, silahkan di tebus di depan." Dokter berkaca mata itu memberikan kertas bertuliskan beberapa macam obat.

"Baiklah Dok." ucap Fiza setelah melihat Ara mulai tenang, tentu setelah dokter menyuntikkan obat tidur di dalam infusnya.

Jarak yang lumayan jauh, berjarak beberapa kamar dan harus berbelok.

"Suster, aku ingin menembus obat ini." memberikan kertas dari dokter.

"Tunggu sebentar ya." jawabnya yang kemudian mengangguk.

"Sembilan ratus empat puluh lima ribu." ucap suster tersebut mengeluarkan beberapa obat yang sudah di bungkus dengan plastik bening.

"Iya." sedikit gugup mendengar jumlah tersebut, lupa menghitung uang di dompet yang Fiza sendiri yakin jumlahnya tidak sampai dengan hitungan itu.

Dan benar. "Suster, uangku hanya ada enam ratus ribu saja. Bisakah aku mengambil obat ini dan nanti aku akan melunasi semuanya."

"Maaf Bu, untuk obat tidak bisa, ini belum termasuk biaya rumah sakit lainnya." jawab Suster itu dengan sopan.

"Tapi Suster, aku datang terburu dan lupa membawa uang." Fiza masih berusaha, ingin Suster itu mengerti dan memberikan obatnya.

"Maaf Bu, saya_"

"Biar saya yang membayarnya."

Seseorang membuatnya menoleh, laki-laki muda itu berdiri tepat di samping Hafizah sibuk mengeluarkan card dari dompetnya.

"Ah, tidak Mas, aku hanya lupa membawa uang." Tentu Hafizah menolak, ia tidak kenal siapa laki-laki itu.

"Tidak apa-apa, aku juga sedang membayar tagihan rumah sakit untuk kakak perempuanku. Sekalian saja semua tagihanmu." jelasnya seraya meminta kepada Suster yang kemudian mengangguk mengerti.

"Tapi Suster."

"Sudah, anggaplah sebagai permintaan maaf ku atas pertemuan tak sengaja tempo lalu." ucapnya tersenyum lembut.

"Kita?" Hafizah mencoba mengingat.

"Ya, kita bertemu di kantor polisi dan kita bertabrakan tidak sengaja." ungkapnya tersenyum lebar.

"Oh, maaf. Harusnya aku minta maaf saat itu. Aku ingat, tapi sebenarnya akulah yang tidak melihat jalan."

"Tidak masalah. Waktu itu kau sedang menangis." ucapnya memperhatikan wajah Hafizah.

Hafizah menunduk karena memang tak biasa mendapatkan tatapan dari laki-laki asing selain Ayahnya dan Azzam suaminya.

"Ini Pak, sudah selesai." suster itu membuat ia sadar bahwa sekarang ia sedang berhutang kepada seseorang.

"Baiklah, terimakasih." pria muda itu menyimpan card hitam miliknya lagi. Dan ia malah pergi tanpa mengucapkan apa-apa.

"Mas, tunggu." Hafizah sedikit mengejarnya.

Dia menoleh. "Ya."

"Aku harus mengembalikan uangmu." ucap Hafizah tak merasa ragu, kali ini dia sendiri menatap wajah pria itu.

"Itu tidak perlu." ucapnya tersenyum sangat tipis.

"Tidak, aku sedang berhutang dan itu harus ku bayar." tentu ia tak menyerah. "Berapa nomor ponselmu?" Hafizah sudah siap dengan ponsel yang menyala di tangannya.

"A..." Dia terlihat ragu.

"Aku mohon, aku tidak mau berhutang kepada siapapun." ucap Hafizah lagi.

"Baiklah." Laki-laki itu tersenyum lebar, lalu meraih ponsel di saku celananya, dan memperlihatkan layar lumayan besar itu.

"Terimakasih, nomormu bagus." ucap Hafizah sedikit tersenyum.

"Tentu saja." dia seperti terkagum dengan senyum yang setelah beberapa waktu tak terlihat.

"Sekali lagi terimakasih, aku permisi. Assalamualaikum."

"Ya." jawabnya mematung hingga Fiza menjauh dan sedikit menolehnya.

"Awal yang bagus." gumam pria itu tersenyum berkali-kali.

1
mama yogi
Luar biasa
Dayang Rindu: terimakasih kak. mampir di karya baru ku... 🙏
total 1 replies
Arkan_fadhila
kok gak ada kelanjutanx....
Arkan_fadhila: ditunggu thorr....kangen Fiza Andra...

sehat selalu author kami tersayang
total 2 replies
Arkan_fadhila
aq tahu ikhlasmu sakit Fiza
tp cobalah posisikan dirimu PD Andra...dia sdh membuatmu anakmu bahagia jgn LG kau ungkit atian suamimu....tak mudah melupakan cinta pertama yg mungkin TDK ada cela....namun semua TDK luput dr qodarullah....sebaik apapun sesempurna apapun kamu ingin mewujudkan impian mu bersama Azzam kalo Kun nya Allah yg berlaku maka fayakun ...
Arkan_fadhila: sempat terpikir kasian si Andra aq thor
total 2 replies
yamink oi
up
Ai Emy Ningrum: iyah pasti ada notif nya kalok kak Oi membalas komentar ku 🤣🤣🤣🤣
total 8 replies
Arkan_fadhila
Fiza ....hanya kecewa ndra
Andra...kejujuran diawal memang menyakitkan namun hubungan dgn kejujuran akan lebih cepat mengikis luka hati
Ai Emy Ningrum
Betul...
Jujur itu lebih gagah dan terhormat dari pada muter muter gak jelas dan bersikap sok polos 😒😒
Ai Emy Ningrum: oleng kesana , oleng kesini 😁😁
total 13 replies
Arkan_fadhila
jodohx nur kayakx sdh DTG....dan Ahmad akan terlambat
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandini💘🦉☆⃝𝗧ꋬꋊ
oppa mingho kena jebakan betmen! silau akan senyum manis dek ningrum sampai mata jadi buram 😂😂
Ai Emy Ningrum: wow 😮😳 abis gajian nih 😍🤩🥳
total 18 replies
Ai Emy Ningrum
Jgn mati dulu oppa😳😳 !! tunggu sampai kisah cintamu berakhir dgn indah ,bukn dgn si Indah tp dgn dek Ningrum 😍😍
Ai Emy Ningrum: ya Allah 🙈🙈🙈
total 20 replies
Arkan_fadhila
jujurlah Andra sblm Fiza tahu dr org lain
yamink oi
apakah fiza akan memaafkannya.....
tunggu kisah dan kelanjutannya.jangan lupa like dan komennya 🤪🤪🤪
Ai Emy Ningrum: geje 😒😒
total 12 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandini💘🦉☆⃝𝗧ꋬꋊ
wow.. akhirnya pecah bisul! tapi ini Andra beneran ngomong atau cuma ngebatin doang? 😁😁
Ai Emy Ningrum: serta ciri masing2 😎😎
total 10 replies
Ai Emy Ningrum
sampai disini ya ,aku lebih suka dgn kisah oppa Mingho yg masih berusaha mendekati dek Ningrum..bnr kata Andra ,knp tidak bs mngiklhlaskan nya ?? Marah ,sakit hati hny akan mngotori pikiran mu,mngusik ketenangan rumh tangga kalian..lupakan tnpa hrus membenci,kenanglah yg sudah tiada dlm doa...😔😔😌😌
Ai Emy Ningrum: spechless 😔😔
total 10 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandini💘🦉☆⃝𝗧ꋬꋊ
*klik..!!
*dddrrrttt... ddrrttt.. ngenggggg..
*mulai loading
*kak indri... mas azam..
*aha!! 💡
#mulaibuatkesimpulan
Ai Emy Ningrum: iyeee ..kacau lah skenario nya 🤣🤣🤣🤣
total 7 replies
Ai Emy Ningrum
knp sih kalok masih belasan tahun 🤔😳 toh ,age just a number...bnyak kok cewek2 yg belasan tahun tp pikiran nya udh dewasa ato anak2 sekarang yg umur belasan taun tp dandanan dan kelakuan kek tante2 ..contoh nya kasus anak pejabat yg MDS sama pacar nya AG..itu pacar nya masih 15 taun lhoh..😳😳
Ai Emy Ningrum: ga sesuai mahar ya ceu 🤭
total 30 replies
Arkan_fadhila
laki2 berpendidikan malah menchat mantan kakak iparx yg sdh menikah LG dgn org lain???yakin Ahmad itu berpendidikan agama??
Ai Emy Ningrum: muka perang 😤😤
total 9 replies
Ai Emy Ningrum
"Modus" gumam Ningrum...
Jaman sekarang emang susah bedain mana yg modus mana yg tulus...
susah bedain nya ..😒😒
Ai Emy Ningrum: mobil antik 😁😁
total 41 replies
yamink oi
Ningrum up
Ai Emy Ningrum: up mbak Nur 😹😹
total 7 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandini💘🦉☆⃝𝗧ꋬꋊ
jangan kan jadi pahlawan bertopeng, jadi badut mpang pun oppa mingho rela, demi dek ningrum 😍😍😚😚
Ai Emy Ningrum: mantap lah 😚 👍🏻👍🏻
total 13 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandini💘🦉☆⃝𝗧ꋬꋊ
duuh.. sampai Bibik pun ikut2an sport jantung karena menyimpan bom waktu 😲😲
Ai Emy Ningrum: iyah pokok nya pengabdi setia lah 😂😂😂
total 7 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!